Tetap Berdiri

CAPITA SELECTA
SERI NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA – Oleh N.P. Basuki Ismael
Capita Selecta: Refleksi Sabda Tuhan Harian – Edisi Buku
Ut Omnis Meditatio Corda ad Christum Ducat – Semoga Setiap Renungan Mengantar Hati kepada Kristus
Peringatan Wajib: Santa Perawan Maria Berdukacita
Selasa, 15 September 2026, Warna Liturgi: Putih
Peringatan: Santa Katarina Frieschi
TETAP BERDIRI
Sta Firmus

PENGANTAR

Ada penderitaan yang tidak dapat kita hindari.

Ada kehilangan yang tidak dapat kita cegah.

Ada doa yang belum memperoleh jawaban dan luka yang belum juga sembuh.

Pada saat seperti itu, kita ingin bertanya:

“Mengapa Tuhan mengizinkan semua ini?”

Namun, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita mengajukan pertanyaan yang lebih dalam:

“Apakah aku masih mau berdiri bersama Kristus?”

Maria berdiri di bawah salib.

Ia tidak dapat menghapus penderitaan Putranya.

Ia tidak dapat menghentikan jalan menuju Golgota.

Tetapi ia dapat melakukan satu hal:

ia tetap tinggal.

Maria tidak berdiri karena ia tidak merasakan sakit.

Justru karena ia mengasihi, ia terluka.

Justru karena ia percaya, ia tetap tinggal.

Inilah wajah iman yang sering kita lupakan:

Iman bukan berarti kita tidak mempunyai air mata.

Iman berarti kita tidak membiarkan air mata membuat kita meninggalkan Tuhan.

Banyak orang tampak kuat di luar, tetapi diam-diam membawa salib yang berat di dalam hati.

Karena itu, kepada mereka kita tidak selalu perlu memberikan penjelasan panjang.

Kadang-kadang, yang paling mereka butuhkan hanyalah seseorang yang mau tetap hadir.

Sebab ada saat ketika Tuhan tidak segera mengangkat salib kita.

Ia justru menguatkan kita agar mampu memikulnya bersama-Nya.

PESAN UTAMA BACAAN

Ketiga bacaan hari ini membawa kita dalam satu perjalanan:

penderitaan — penyerahan — kesetiaan — keselamatan.

Surat kepada Orang Ibrani memperlihatkan Yesus yang berdoa dengan air mata dan seruan yang kuat. Ia sungguh mengalami penderitaan, tetapi tetap taat kepada Bapa.

Karena itu, penderitaan bukan tanda bahwa Allah meninggalkan kita.

Kristus telah lebih dahulu berjalan di jalan itu.

Mazmur 31 memberi kita doa sederhana:

“Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku.”

Menyerahkan diri bukan berarti menyerah.

Menyerahkan diri berarti percaya bahwa hidup kita berada dalam tangan Allah, bahkan ketika kita tidak memahami jalan-Nya.

Kemudian Injil membawa kita ke kaki salib.

Maria berdiri di sana.

Dan Yesus, dalam penderitaan-Nya, masih memberikan perhatian kepada mereka yang dikasihi-Nya:

“Ibu, inilah anakmu.”

“Inilah ibumu.”

Di bawah salib, lahirlah sebuah relasi baru.

Maria yang berdukacita menjadi ibu bagi para murid.

Di sinilah kita menemukan makna yang lebih dalam:

penderitaan yang diserahkan kepada kasih Allah tidak harus menjadi kepahitan.

Luka dapat membuat kita lebih peka terhadap luka orang lain.

Air mata dapat membuat kita lebih memahami tangisan sesama.

Kesepian dapat membuat kita belajar hadir bagi mereka yang kesepian.

Karena itu, mengenang Maria yang Berdukacita bukan berarti mencari penderitaan.

Kita dipanggil untuk setia di dalam penderitaan yang harus kita jalani, sekaligus menjadi penghiburan bagi mereka yang sedang memikul salibnya.

Maria mengajarkan:

Sta cum Christo — tetaplah bersama Kristus.

Jangan lari ketika jalan menjadi berat.

Jangan kehilangan iman ketika doa belum terjawab.

Jangan kehilangan harapan ketika masa depan belum terlihat.

Santa Katarina Fieschi dari Genoa mengingatkan kita bahwa kasih kepada Kristus harus menjadi tindakan nyata. Ia berdoa, tetapi juga melayani orang miskin dan orang sakit.

Kita pun dipanggil melakukan hal yang sama:

kita memandang Kristus yang tersalib, lalu mendekati mereka yang terluka.

Maka, ketika berdiri di bawah salib kehidupan kita, jangan hanya bertanya:

“Kapan penderitaan ini berakhir?”

Tetapi juga:

“Tuhan, melalui hidupku, siapakah yang dapat Engkau hibur?”

Mungkin kita tidak dapat mengubah salib seseorang.

Tetapi kita dapat berdiri di sampingnya.

Kita dapat mendengarkan.

Kita dapat mendoakan.

Kita dapat membantu.

Kadang-kadang, kehadiran kita sendiri sudah menjadi jawaban doa.

Maria tidak menghapus salib Kristus.

Ia hanya tetap berdiri di sana.

Dan kesetiaannya menjadi kesaksian:

kasih tidak selalu harus melakukan sesuatu yang besar.

Kadang-kadang kasih hanya perlu:

tetap tinggal.

Karena itu, Mater Dolorosa mengajarkan kepada kita:

Jangan lari.

Jangan menyerah.

Jangan kehilangan harapan.

Tetap berdiri bersama Kristus.

Sebab salib bukan akhir.

Air mata bukan akhir.

Penderitaan bukan akhir.

Di dalam Kristus,

kasih selalu mempunyai kata terakhir.

NATA PIKIR — MELIHAT DENGAN IMAN

Jangan hanya bertanya:

“Mengapa Tuhan membiarkan ini terjadi?”

Cobalah bertanya:

“Tuhan, bagaimana Engkau menghendaki aku bertumbuh melalui semua ini?”

Tidak semua yang kita alami dapat kita mengerti.

Tetapi kita dapat belajar melihat bahwa Kristus tidak meninggalkan kita di dalam penderitaan.

Nata Pikir:
ubah cara pandang

dari mencari semua jawaban, menjadi belajar percaya kepada Dia yang memegang kehidupan kita.

NATA RASA — MENYERAHKAN HATI

Maria tidak menyangkal dukanya.

Ia tidak menyembunyikan air matanya.

Tetapi ia tidak membiarkan penderitaan memisahkannya dari Tuhan.

Kita pun boleh berkata:

“Tuhan, aku tidak memahami semuanya.

Tetapi aku tetap percaya.

Aku tidak kuat.

Tetapi aku mau tetap bersama-Mu.”

Bawalah satu luka ke dalam doa.

Jangan terus menggenggamnya sendirian.

Serahkanlah kepada Tuhan:

“Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku.”

Biarkan kecemasan berubah menjadi harapan.

Biarkan luka berubah menjadi kasih.

NATA RAGA — HADIR DAN MELAYANI

Iman harus menjadi tindakan.

Hari ini, carilah satu orang yang sedang terluka.

Teleponlah.

Kunjungilah.

Dengarkanlah.

Bantulah.

Doakanlah.

Jangan selalu merasa harus mempunyai jawaban.

Kadang-kadang seseorang hanya membutuhkan seseorang yang mau tetap hadir.

Seperti Maria yang berdiri di bawah salib, kita pun dipanggil untuk hadir di tengah penderitaan sesama.

Nata Raga:

Datanglah.

Dengarkanlah.

Ulurkanlah tangan.

Berikanlah waktu.

Jadilah penghiburan.

Sebab kasih Kristiani bukan hanya sesuatu yang kita rasakan.

Kasih harus menjadi sesuatu yang kita lakukan.

DEVOSI

Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:

​1. Devosi dalam Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita
​(Memorial of Our Lady of Sorrows)

​Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita (Mater Dolorosa) dirayakan tepat satu hari setelah Pesta Salib Suci. Peringatan ini menegaskan bahwa Maria bersatu secara erat dalam sengsara dan karya penebusan Putranya, Yesus Kristus.

​Makna Spiritual Devosi

​Persatuan Hati: Maria tidak melarikan diri dari penderitaan. Hatinya yang murni menjadi “cermin” penderitaan Kristus.

​Penggenapan Nubuat:
Memenuhi nubuat Santo Simeon di Bait Allah: “Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Lukas 2:35).

​Bunda Penghibur: Maria mengerti arti penderitaan, dukacita, dan kehilangan. Oleh karena itu, ia menjadi tempat perlindungan bagi siapa saja yang sedang memikul salib penderitaan.

​Tujuh Duka Bunda Maria (Septem Dolorum)
​Dalam tradisi Gereja Katolik, terdapat 7 peristiwa dukacita utama yang dikontemplasikan dalam devosi ini:

​Nubuat Simeon di Bait Allah (Lukas 2:34–35).

​Pelarian ke Mesir untuk menyelamatkan Kanak-kanak Yesus dari pembantaian Herodes (Matius 2:13–15).

​Hilangnya Yesus di Yerusalem selama tiga hari (Lukas 2:41–50).

​Perjumpaan Maria dengan Yesus saat Yesus memikul salib ke Golgota.

​Maria berdiri di kaki Salib menyaksikan kematian Yesus (Yohanes 19:25–27).

​Tubuh Yesus diturunkan dari salib dan di pangkuan Maria (Pietà).

​Pemakaman Yesus di dalam kubur batu.

​Bentuk Praktik Devosi

​Rosario Tujuh Duka Maria (Coronilla of the Seven Sorrows): Mendoakan 1 Bapa Kami dan 7 Salam Maria untuk setiap poin dari Tujuh Duka Bunda Maria.

​Stabat Mater: Menyanyikan atau mendoakan madah Stabat Mater Dolorosa (“Bunda Duka Berdiri”) untuk mengenang kesetiaan Bunda Maria di kaki Salib.

​Novena Mater Dolorosa:
Doa permohonan khusus selama sembilan hari dengan memohon perantaraan Bunda Maria yang Berdukacita untuk kesembuhan, penghiburan, dan ketabahan iman.

​2. Santa Katarina Fieschi dari Genoa (1447–1510)

​Siapa Beliau?
​Santa Katarina Fieschi (dikenal juga sebagai Santa Katarina dari Genoa) adalah seorang wanita awam, mistikus Katolik, dan pelaku karya amal dari Genoa, Italia.

​Latar Belakang: Lahir dari keluarga bangsawan Fieschi yang berpengaruh. Pada usia 16 tahun, atas alasan politik keluarga, ia dinikahkan dengan Giuliano Adorno, seorang pria yang tidak setia, tidak bertanggung jawab, dan gemar berfoya-foya.

Pertobatan & Pengalaman Mistik:
Selama 10 tahun pertama pernikahan, Katarina hidup dalam penderitaan batin yang mendalam. Pada tahun 1473, saat melakukan pengakuan dosa, ia mengalami kebangunan rohani yang dahsyat: penglihatan mistis tentang Kasih Allah dan buruknya dosa. Pengalaman ini mengubah seluruh hidupnya.

​Transformasi Suami: Keteladanan dan doa Katarina akhirnya melunakkan hati suaminya. Giuliano bertobat, bergabung dengan Ordo Ketiga Fransiskan, dan bersama-sama Katarina membaktikan hidup melayani orang miskin dan sakit.

​Pelayanan:
Beliau menjadi direktur Rumah Sakit Pammatone di Genoa dan merawat para penderita wabah penyakit menular dengan pengabdian luar biasa hingga akhir hayatnya.

​Teladan Hidup

​Pemurnian Jiwa Lewat Penderitaan Pernikahan:
Ia tidak menyerah atau membalas kejahatan suaminya, melainkan menjadikan penderitaan batinnya sebagai sarana penyerahan diri total kepada Allah.

​Keseimbangan antara Mistik dan Aksi Kasih (Contemplatio in Actione):

Katarina memiliki pengalaman persatuan mistis yang sangat tinggi dengan Allah, namun hal itu tidak membuatnya melarikan diri dari dunia. Ia menerjemahkan pengalaman rohaninya ke dalam pelayanan konkret merawat penderita wabah dan orang miskin.

​Pengajaran tentang Api Pencucian (Purgatorium): Melalui karya tulisnya (Treatise on Purgatory), ia mengajarkan bahwa Api Pencucian bukanlah siksaan dendam Allah, melainkan “api kasih ilahi” yang membersihkan jiwa agar siap bersatu sempurna dengan Kasih Sejati.

​Bentuk Devosi & Doa Perantaraan

​Pelindung:
Santa Katarina dari Genoa diangkat menjadi Pelindung Rumah Sakit, Para Perawat, Pekerja Sosial, serta Pasangan Suami-Istri yang Menghadapi Masalah Rumah Tangga.

Devosi:
​Memohon doa perantaraannya untuk pertobatan pasangan hidup atau pemulihan keretakan rumah tangga.
​Mendoakan jiwa-jiwa di Api Pencucian (Purgatorium) dengan merenungkan pengajaran mistisnya tentang Kasih Allah yang memurnikan.
​Meneladani semangat Ora et Labora dalam pelayanan sosial dan perawatan orang sakit.

PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN

Bacaan Pertama
(Surat kepada Orang Ibrani 5: 7-9)
Intisari Bacaan:
Meskipun Dia Anak Allah, Dia belajar ketaatan dari apa yang telah dideritaNya. Setelah mencapai kesempurnaan melalui penderitaan, Ia menjadi sumber keselamatan abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.

Romo Willem Pau, Pr (Pastor Paroki Kebondalem, Semarang, Gereja Santo Franciscus Xaverius):

Berdiri Teguh dalam Duka dan Kesetiaan Iman

​1. Ketaatan Kristus dan Kedalaman Duka Bunda Maria
Dalam Surat kepada Orang Ibrani diceritakan bagaimana Yesus mempersembahkan doa dengan ratap tangis serta air mata di tengah penderitaan manusiawi-Nya. Penderitaan yang dialami-Nya secara nyata itu tidak pernah melunturkan penyerahan diri dan ketaatan-Nya yang sempurna kepada kehendak Bapa. Pada Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita, kita diajak membayangkan kedalaman duka Bunda Maria yang berdiri setia di dekat kayu salib Putranya. Sebagai seorang ibu, Maria tidak melarikan diri melainkan menanggung duka tak terperi saat menyaksikan Putra yang dikasihinya disiksa hingga wafat.

​2. Teladan Ketabahan dan Persatuan Penderitaan
Maria mengajarkan bahwa beriman tidak selalu berarti memahami seluruh misteri kehidupan, melainkan keberanian untuk tetap bertahan dan percaya. Ketika persoalan keluarga menghimpit atau doa terasa belum terjawab, kita dipanggil untuk belajar dari ketabahan Maria yang senantiasa berada di dekat Tuhan. Santo Yohanes Paulus II dalam Salvifici Doloris menegaskan bahwa dukacita Maria yang dijalani dalam persatuan dengan penderitaan Kristus tidak pernah berujung sia-sia. Penderitaan memang bukan sesuatu yang kita cari, namun kehadiran Kristus dan kesetiaan Maria menunjukkan bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian.

​3. Kepasrahan Hati dan Misi Kehadiran yang Menguatkan
Di tengah cobaan hidup, kita diajak merenungkan apakah hati kita masih sanggup berpasrah dan mengikrarkan kepercayaan penuh kepada Tuhan. Teladan iman Maria membuktikan bahwa air mata kesedihan dan kesetiaan yang murni dapat berjalan berdampingan secara indah. Melalui doa perantaraan Bunda Maria Berdukacita, kita memohon pendampingan agar senantiasa dimampukan untuk tetap percaya dan setia dalam segala keadaan. Langkah nyata iman ini kita wujudkan hari ini dengan hadir mendengarkan serta mendoakan sesama yang sedang berduka tanpa harus menghakimi.
​Santa Maria Berdukacita, dampingilah kami ketika menghadapi penderitaan. Ajarlah kami tetap percaya kepada Tuhan dan setia dalam setiap keadaan. Amin.

​Niat konkret:
Hari ini saya akan menemani atau menguatkan satu orang yang sedang mengalami kesedihan, dengan hadir, mendengarkan, dan mendoakannya tanpa banyak memberi nasihat.

​Laurentius Elyas Nugraha ​(Pewarta Lumen Mundi, Paroki Karangpanas, Semarang, Gereja Santo Athanasius Agung):

Stabat Mater: Bunda Tetap Berdiri

​1. Misteri Penderitaan dan Penyerahan Diri yang Membawa Keselamatan
Surat kepada orang Ibrani menampilkan Kristus sebagai Imam Agung yang belajar taat melalui penderitaan, di mana ratap tangis dan doa-Nya menjadi ungkapan kasih sempurna kepada Bapa. Sebagaimana dirumuskan oleh Santo Thomas Aquinas, Per passionem ad gloriam — melalui penderitaan menuju kemuliaan — ketaatan yang lahir dari kasih menghasilkan keselamatan bagi orang yang percaya. Doa Mazmur meneguhkan keyakinan bahwa Allah tetap menjadi gunung batu perlindungan ketika penderitaan datang, bukanlah sikap pasrah tanpa harapan melainkan keyakinan akan kasih setia-Nya. Dalam penyerahan diri yang utuh ini, kita diajak menghidupi doa Santo Agustinus, In Te, Domine, speravi — Pada-Mu, ya Tuhan, aku berharap.

​2. Nubuat Pedang Dukacita dan Ketabahan Stabat Mater
Dalam Injil, nubuat Simeon bahwa pedang akan menembus jiwa Maria menyingkapkan bagaimana sejak awal ia dipersiapkan untuk mengambil bagian dalam misteri penderitaan Putranya. Dukacita Maria lahir dari kasih yang amat mendalam kepada Kristus dan seluruh umat manusia yang ditebus-Nya di atas kayu salib. Santo Bernardus dari Clairvaux merenungkan misteri ini dengan ungkapan Stabat Mater — Bunda tetap berdiri teguh — melukiskan ketabahan Maria yang tidak pernah meninggalkan Putranya. Dari Maria kita belajar bahwa air mata yang dipersatukan dengan Kristus tidak pernah sia-sia, melainkan menjadi benih pengharapan dan kehidupan baru bagi Gereja.

​3. Panggilan Kesetiaan di Tengah Salib Kehidupan Modern
Sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa jalan iman tidak selalu bebas dari penderitaan, baik dalam keluarga, Gereja, dunia kerja, pendidikan, maupun media digital. Ketika penolakan, kesalahpahaman, dan luka batin terasa seperti pedang yang menembus hati, Maria menunjukkan bahwa kekuatan sejati lahir dari hati yang tetap melekat kepada Allah. Sebagaimana diajarkan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 964), Maria tetap setia bersatu dengan Putranya sampai di kaki salib dan mengambil bagian dalam karya Penebusan. Bersama Bunda Maria, kita diutus untuk berdiri bersama Kristus (Sta cum Christo), belajar kesetiaan (Disce a Maria fidelitatem), tidak pernah kehilangan harapan (Spem numquam amitte), dan tetap setia memikul salib (In Cruce permane).

TRANSITUS:
(Mazmur 31: 2-3a-3b.4-6.15-16.20):
Mazmur Tanggapan:
Selamatkanlah aku, ya Tuhan, oleh kasih setia-Mu

Romo Mike Schmitz (Pewarta _The Bible in a Year, Pastor Mahasiswa di Universitas Minnesota, Keuskupan Duluth, AS):

Menyerahkan Jiwa di Gunung Batu Keselamatan

​1. Mazmur Penderitaan sebagai Doa Penyerahan Kristus
​Dalam Mazmur 31, pemazmur berseru memohon perlindungan kepada Allah yang menjadi gunung batu dan benteng pertahanannya. Seruan “Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku” bukan sekadar ungkapan keputusasaan, melainkan puncak iman yang melandasi seluruh karya keselamatan. Penulis Surat kepada Orang Ibrani (Ibr 5:7-9) menegaskan bahwa Yesus mempersembahkan doa dengan ratap tangis dan air mata kepada Bapa yang sanggup menyelamatkan-Nya. Ketaatan Kristus yang sempurna dimatangkan melalui penderitaan nyata di atas kayu salib hingga Ia menghembuskan napas terakhir. Dengan demikian, Mazmur 31 menjadi doa nubuat yang mengikat penderitaan manusiawi Yesus dengan ketaatan-Nya yang membawa keselamatan abadi.

​2. Pedang Dukacita Bunda Maria di Kaki Salib
​Kedalaman duka yang terungkap dalam Mazmur 31 juga terpancar sempurna dalam hati Bunda Maria saat berdiri di dekat salib Putranya (Yoh 19:25-27). Nubuat Santo Simeon dalam Lukas 2:35 bahwa “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” menemukan penggenapannya yang paling nyata di Kalvari. Maria menyaksikan dari dekat bagaimana Yesus dihina dan disiksa, namun ia memilih untuk tidak melarikan diri dari misteri salib. Sebagai seorang ibu, jiwanya terluka mendalam, tetapi hatinya tetap bersatu teguh dalam penyerahan diri Kristus kepada kehendak Bapa. Di kaki salib itulah, persatuan antara duka Bunda Maria dan ketaatan Putranya menjadi teladan tertinggi iman yang tidak tergoyahkan.

​3. Gunung Batu Perlindungan di Tengah Gelombang Ujian
​Seruan Mazmur 31 mengingatkan kita bahwa Allah menyediakan kebaikan yang melimpah bagi orang yang berlindung pada-Nya di masa-masa sulit. Ketika kita menghadapi penderitaan, kesedihan yang mendalam, atau ketakutan, kita diajak untuk tidak menanggung beban tersebut sendirian. Kita dipanggil untuk belajar dari ketaatan Yesus dan ketabahan Bunda Maria yang tetap percaya meski jalan kehidupan terasa amat gelap. Menyerahkan hidup ke dalam tangan Bapa berarti percaya bahwa setiap air mata dan salib yang kita pikul memiliki makna penebusan. Pada akhirnya, pertolongan Tuhan akan selalu menjadi benteng yang kokoh bagi setiap jiwa yang setia berharap kepada-Nya.

​AC Eko Wahyono (Pewarta Lectio Divina, Paroki Jember, Gereja Santa Maria Tak Bernoda):

Ia Sehati dengan Murid-Nya

​1. Ketaatan Kristus dan Persekutuan Anggota Tubuh-Nya
Dalam Perayaan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita, Sabda Tuhan mengajak kita menyadari persatuan hidup kita sebagai anggota tubuh Kristus (1Kor 12). Kristus sebagai Imam Agung (Ibr 5:7-9) tidak memuliakan diri-Nya sendiri, melainkan belajar taat melalui penderitaan dan doa yang dipersembahkan dengan ratap tangis. Ketaatan Kristus yang sempurna dimatangkan di atas salib demi menghadirkan keselamatan abadi bagi semua orang yang percaya. Melalui persatuan ini, setiap duka dan penderitaan yang kita alami senantiasa berada dalam dekapan kasih dan persekutuan tubuh Kristus.

​2. Seruan Mazmur dan Perjumpaan Kehidupan di Gerbang Nain
Mazmur Tanggapan menyuarakan kebaikan Allah yang abadi bagi setiap orang yang berlindung pada-Nya di tengah pergumulan. Kasih setia Mazmur itu menemukan wujud nyatanya saat Yesus tiba di pintu gerbang kota Nain dan melihat iring-iringan duka seorang janda yang kehilangan anak tunggalnya. Perjumpaan di pintu gerbang tersebut menjadi lambang iring-iringan kehidupan yang dipimpin Yesus bertemu dengan iring-iringan kematian. Demi membela orang yang lemah, Yesus melampaui aturan hukum kenajisan Yahudi dengan menghampiri usungan mayat sembari bersabda “Jangan menangis” (Noli flere).

​3. Misericordia dan Kebangkitan yang Memuliakan Allah
Ketika melihat janda itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan (misericordia motus). Kata misericordia melambangkan hati (cor) yang turut menanggung kesengsaraan (miser) sesama, sebab Yesus memahami janda tersebut telah kehilangan seluruh jaminan hidupnya. Dengan menyentuh pemuda itu dan menyerukan “Bangkitlah” (Surge), Yesus membuktikan bahwa Dialah Wajah Allah orang hidup yang menghendaki kehidupan. Peristiwa heran ini memicu ketakutan kudus sehingga seluruh orang banyak memuliakan Allah yang telah melawat umat-Nya, serta mengutus kita untuk bertindak nyata menjadi perpanjangan tangan kasih bagi mereka yang menderita.

Injil Suci
(Yohanes 19: 25-27)
Intisari Bacaan:
Yesus berkata, “Ibu inilah anakmu” dan “Inilah ibumu!” Tindakan ini menunjukkan kasih dan kepedulian-Nya kepada Bunda-Nya.
Atau:
Lukas 2: 33-35
Intisari Bacaan
Maria dan Yusuf menjalankan tradisi Yahudi, yakni mempersembahkan anak Yesus di Bait Suci. Pada saat itu, tampak nubuat misteri inkarnasi dan gambaran apa yang akan terjadi pada Maria.

Romo Hans Wijaya, Pr​(Pastor Paroki Nusa Dua Bali, Gereja Maria Bunda Segala Bangsa):

Tujuh Kedukaan Santa Perawan Maria

​1. Hati yang Terluka oleh Nubuat dan Perjalanan Duka
Pesta Santa Perawan Maria Berdukacita mengajak kita memandang Maria bukan hanya sebagai Bunda yang mulia, melainkan Bunda terluka yang tetap berdiri di kaki salib ketika yang lain menjauh. Kedukaannya terbentang sejak nubuat Simeon bahwa pedang akan menembus hatinya, pelarian mengungsi ke Mesir dari kejaran Herodes, hingga kecemasan mendalam saat mencari Yesus yang hilang di Bait Allah. Di sepanjang jalan salib hingga menyaksikan Putranya disalibkan dan wafat, Maria tidak pernah melarikan diri dari kenyataan yang menyakitkan. Bahkan ketika menerima jenazah Yesus di pangkuannya dan mengantarkannya ke makam, ia menanggung perpisahan terdalam sebagai seorang ibu dengan hati yang tetap bertahan.

​2. Puncak Kesetiaan Iman di Kaki Salib
Maria memilih untuk tetap bertahan, hadir, dan senantiasa percaya bahwa Allah terus bekerja bahkan di saat segala sesuatu tampak hancur. Sebagaimana Yesus menunjukkan bahwa keselamatan lahir dari kesetiaan dalam penderitaan, Maria pun menghidupi ketaatan yang sama secara sempurna. Di saat paling pahit dalam hidupnya tersebut, ia dengan lapang dada menerima peran baru yang dipercayakan kepadanya sebagai Bunda Gereja. Inilah puncak iman Bunda Maria, yakni tetap setia dan berdiri teguh ketika tidak ada lagi yang bisa dipegang selain janji Allah.

​3. Keteladanan Kasih dan Misi Menemani Sesama
Di kaki salib, Maria mengajarkan kepada kita bahwa kasih sejati tidak pernah lari dari luka, melainkan berani menemani, menanggung, dan mempercayakan segalanya kepada Allah. Ketika kita memikul salib kehidupan berupa sakit hati, kehilangan, kegagalan, atau pergulatan keluarga, Maria menunjukkan cara menghadapinya bukan dengan kekuatan diri sendiri, melainkan dengan hati yang senantiasa terbuka pada rencana Ilahi. Kita dipanggil untuk belajar hadir dalam penderitaan orang lain, tetap percaya saat hidup terasa gelap, serta menyerahkan seluruh pergumulan harian kepada pendampingan Bunda Maria. Melalui keteladanannya, kita dikuatkan untuk tidak lari dari sesama yang terluka dan dimampukan untuk setia memikul salib harian kita.

Romo A. Joko Purwanto, Pr (Pewarta Puncta, Pastor Paroki Wonogiri, Gereja Santo Yohanes Rasul):

Mater Dolorosa

​1. Keheningan Hati dalam Nubuat dan Awal Pengungsian Duka
Ketika memasuki Gereja Makam Kudus (The Holy Sepulchre Church), di sebelah kanan altar utama penyaliban terdapat patung Santa Perawan Maria yang dadanya tertembus oleh pedang. Hal ini menghadirkan kenangan mendalam akan nubuat Simeon di Bait Allah tiga puluh tiga tahun sebelumnya, bahwa suatu pedang akan menembus jiwa Maria sendiri. Sejak pernyataan itu diucapkan, Maria telah memanggul derita salib di dalam hatinya bahkan sebelum Putranya sendiri menderita di Golgota. Dukacita itu kian nyata saat ia bersama Yusuf harus berjuang menyelamatkan bayi Yesus mengungsi ke Mesir dari ancaman pembunuhan Herodes, serta kecemasan mendalam saat mencari Yesus yang hilang di Bait Allah.

​2. Kesetiaan Sempurna di Puncak Salib Golgota
Tujuh peristiwa kedukaan Maria mencapai puncaknya ketika ia menyaksikan Yesus memikul salib menuju Golgota dan berdiri teguh di bawah kayu salib hingga Putranya menghembuskan napas terakhir. Penderitaan itu terukir abadi saat tubuh Yesus yang tak bernyawa diturunkan dan dipangku oleh Maria, sebuah momen kesedihan mendalam yang diabadikan secara indah dalam karya Pieta Michelangelo. Derita yang sempurna itu ditutup ketika Maria bersama Yusuf dari Arimatea, Nikodemus, dan para wanita setia mengantarkan jenazah Yesus ke liang makam. Di tengah kepedihan yang menyayat hati tersebut, Maria tidak pernah beranjak atau lari dari perutusan yang dipercayakan Allah kepadanya.

​3. Keteladanan Iman dan Keteguhan dalam Ujian
Melalui seluruh pengalaman pahit Mater Dolorosa, Bunda Maria menghadirkan keteladanan iman yang paling nyata bagi hidup kita sehari-hari. Ia mengajar setiap orang beriman untuk senantiasa setia kepada Tuhan, tidak hanya saat berada dalam sukacita, tetapi juga di kala diterpa duka dan penderitaan berat. Peringatan hari ini mengajak kita merenungkan kesiapan diri untuk tetap bertahan dan percaya walau harus memikul salib kehidupan. Mari meneladani ketekunan dan kesetiaan Maria yang senantiasa menyandarkan seluruh hidupnya pada kehendak serta rahmat Allah yang tak pernah meleset.
​Dengan lutut jalan di Fatima,
Tertatih-tatih sampai di basilika.
Maria teladan ibu yang setia,
Tekun hadapi duka dan derita.

Paulus Krissantono (Paroki Kranji, Bekasi, Gereja St. Mikael) / Ign. Harry Respatyo (Paroki Sukatani, Depok, Gereja Bunda Maria Ratu, Pewarta RAGI):

Maria Dolorosa

​1. Kepedihan Hati Sang Bunda di Bawah Salib
Betapa pedih hati Sang Bunda menyaksikan penderitaan dan kematian Anak kebanggaannya yang tergantung lemas di atas kayu salib. Sosok pujaan yang bertahun-tahun hidup bersamanya dalam keluarga bahagia di Nazaret kini harus mengucapkan kata-kata perpisahan yang memilukan. Sang Anak menghembuskan napas terakhir di atas kayu salib, bukan di dalam pangkuan lembut Bunda yang melahirkannya. Maria tetap taat dan setia mengikuti Anaknya memikul Salib Suci keselamatan sampai ke puncak Golgota.

​2. Tujuh Kedukaan dan Kesetiaan Iman Maria
Gereja mencatat ada tujuh kedukaan utama yang dialami Bunda Maria sepanjang perjalanan hidup dan perutusan Putranya. Di samping itu, Maria juga menanggung banyak kesedihan lain saat Yesus difitnah, dihina, dan ditolak di kampung halaman-Nya sendiri. Semua peristiwa pahit tersebut disimpan dalam hati dan dibawanya ke dalam doa dengan penuh kerendahan hati. Maria senantiasa konsisten dan pasrah serta taat pada seluruh rencana dan kehendak Tuhan.

​3. Penyerahan Diri di Kalvari dan Keteladanan Keutamaan
Dari atas salib, Yesus menatap kagum pada Sang Bunda lalu menyerahkannya menjadi Bunda bagi para murid dan Bunda Gereja. Dalam keadaan tak berdaya sekalipun, Ibu dan Anak ini tetap saling menguatkan serta menyadarkan panggilan perutusan mereka masing-masing. Melalui gelar Mater Dolorosa, Gereja mengajak kita belajar menanggung setiap dukacita kehidupan dalam iman, harapan, dan kasih. Ketiga keutamaan kristiani tersebut menjadi dasar yang kokoh bagi kita dalam mengarungi dunia yang dipenuhi penderitaan dan kesulitan.

TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING

Romo Nico Liem Tjay, OMI (Pastor Katedral Purwokerto, Gereja Kristus Raja):

Ibu Duka Cita Sekaligus Ibu Penghiburan

​1. Penderitaan Sang Bunda dan Makna Iman yang Nyata
Setiap orang tua tentu merasakan duka yang mendalam saat menyaksikan kesengsaraan buah hatinya dan rindu untuk menggantikan posisinya. Penderitaan tak terperi itulah yang dialami Bunda Maria saat menyaksikan penderitaan Puteranya dengan ketabahan yang melahirkan teladan iman. Kehidupan Bunda Maria membuktikan bahwa kedekatan dengan Allah yang dipenuhi rahmat tidak membuat seseorang bebas dari masalah hidup. Maria Mater Dolorosa mengingatkan kita bahwa penderitaan bukanlah tanda ketidakhadiran Allah, sebab di puncak Kalvari rencana keselamatan-Nya justru sedang bekerja.

​2. Keteguhan Berdiri di Dekat Salib Kristus
Maria memilih untuk tetap berdiri di dekat salib sebagai bentuk kesetiaan, ketegaran, dan ketahanan rohani yang amat mendalam di tengah duka cita. Ia tidak melarikan diri saat Yesus dihina dan disiksa, melainkan menghadapi cobaan terberat hidupnya dengan iman yang teguh kepada Allah. Melalui keteladanannya, iman mengajak kita untuk menerima keadaan apa adanya tanpa ragu walau situasi tampak begitu gelap. Dalam semangat Mater Dolorosa, hati kita diajak berbisik: “Tuhan, aku mungkin tidak memahami semuanya, tetapi aku tetap setia bersama-Mu.”

​3. Seni Kehadiran dan Keheningan dalam Empati Kasih
Bunda Maria mengajar kita cara menemani orang yang sedang menderita bukan melalui khotbah yang panjang, melainkan melalui kehadiran yang sunyi. Sering kali orang yang berduka dan menderita tidak membutuhkan rangkaian penjelasan, hiburan semu, atau keceriaan yang dipaksakan. Maria memberi keteladanan dengan hadir secara utuh, diam, dan tetap tinggal bersama mereka yang sedang memikul penderitaan. Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita menjadi panggilan bagi kita untuk lebih peka dan berempati menghadirkan kasih yang nyata bagi sesama.

​Romo Y. Gunawan, Pr ​(Pewarta Percik Firman, Pastor Formator Tahun Orientasi Rohani Keuskupan Agung Semarang, Bumi Jangli):

Teladan Wanita yang Tangguh

​1. Ketabahan dan Kesetiaan Kasih di Kaki Salib
Setiap tanggal 15 September Gereja merayakan Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita untuk mengenangkan sapta dukacita yang dialaminya. Di kaki salib Yesus, Bunda Maria berdiri bersama para wanita beriman sebagai teman-teman yang berbela rasa serta setia kawan di tengah penderitaan. Wajah Maria tetap memancarkan ketangguhan dan kekuatan seorang hamba Tuhan yang mengasihi Putranya serta mengerti perjalanan perutusan-Nya. Maria hadir dengan kepasrahan yang utuh tanpa mengeluh atau memprotes Tuhan, melainkan menatap derita Yesus dengan balutan kasih yang mendalam.

​2. Penyerahan Perutusan dan Kehadiran Ibu Jemaat Beriman
Dalam keheningan derita di salib, Yesus bersabda untuk mempercayakan Bunda Maria kepada murid yang dikasihi-Nya dan demikian pula sebaliknya. Melalui sabda tersebut, Yesus menyerahkan Maria perutusan untuk mendampingi para murid sebagaimana dahulu ia mendampingi Yesus sepanjang hidup-Nya. Bunda Maria lantas menjadi ibu bagi seluruh jemaat beriman yang dipanggil untuk mencintai Kristus secara tulus. Tidak ada alasan bagi para murid Yesus di zaman sekarang untuk tidak menapaki jalan kasih yang telah ditempuh oleh Yesus dan Maria.

​3. Kepasrahan Hamba dan Mahakarya Ketangguhan Iman
Setelah Yusuf dari Arimatea menurunkan jenazah Yesus, Bunda Maria menerima dan memangku jenazah Putranya dengan iman yang amat kuat. Peristiwa iman yang menyentuh hati ini diabadikan oleh Michelangelo pada tahun 1498–1499 dalam mahakarya patung marmer Pieta yang kini bertakhta di Basilika Santo Petrus. Keindahan karya tersebut memancarkan keteladanan Maria sebagai pribadi beriman yang tabah, pasrah, dan tegar dalam menghadapi duka kehidupan. Dari Bunda Maria kita diundang untuk belajar memaknai salib serta menempa diri menjadi pribadi yang tangguh di tengah tantangan zaman.

​Refleksi:
Jalan salib” macam apa yang sedang atau pernah kita hadapi? Pengalaman mana yang membuat kita menjadi pribadi yang tangguh?

Romo Danang Sigit Koesworo, Pr (Pastor Paroki Tasikmalaya, Gereja Hati Kudus Yesus):

Ketulusan dan Kerelaan Berkorban demi Kebaikan

​1. Derita Akut Orang Tua di Kaki Salib Penebusan
Derita paling akut bagi seorang ibu atau ayah adalah bila anak yang dilahirkan dengan penuh harapan serta dibesarkan dalam cinta dan pengorbanan rela mati demi kebaikan. Penderitaan tak terperi inilah yang dialami Bunda Maria saat menyaksikan Yesus, Putra tunggal-Nya, wafat memikul salib keselamatan di Golgota. Maria tidak melarikan diri, melainkan tetap berdiri menanggung duka mendalam saat melihat pengorbanan terbesar Putranya bagi penebusan dosa manusia. Duka cinta orang tua ini menjadi cermin betapa mahalnya harga sebuah kebaikan dan kasih yang sejati.

​2. Ketulusan Kasih dan Pengorbanan yang Mempersatukan
Cinta tulus dari seorang ibu atau ayah adalah ketulusan dan kerelaan berkorban demi kebaikan serta ikatan kasih di antara anak-anaknya. Dari atas kayu salib, Yesus mempercayakan Bunda Maria kepada murid terkasih-Nya, dan menyerahkan murid-Nya kepada sang Bunda untuk saling mengasihi. Pengorbanan Kristus di Golgota dan ketabahan Maria tidak hanya menghadirkan penebusan, tetapi juga melahirkan persaudaraan baru di dalam Gereja. Ketulusan kasih orang tua senantiasa memancar untuk menyatukan dan menguatkan anak-anaknya dalam ikatan cinta yang tak terputuskan.

​3. Kenangan Abadi dan Penghormatan Sepanjang Hayat
Merenungkan wujud ketulusan dan kerelaan berkorban demi kebaikan mendorong hati kita untuk senantiasa berucap: “Ibu/ayah, nama dan pribadimu kukenang sepanjang hidupku, I Love You.” Rasa terima kasih yang mendalam ini terwujud dalam komitmen kita untuk melanjutkan warisan iman, kesetiaan, dan pengorbanan yang telah mereka tanamkan. Di bawah naungan Bunda Maria Berdukacita, kita dipanggil untuk melatih diri berani berkorban demi kebaikan sesama di dalam keluarga maupun masyarakat. Kasih tulus orang tua menjadi teladan abadi yang menginspirasi kita untuk terus mengamalkan kebaikan sepanjang hayat.

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK (KGK)

​Ketaatan dan Doa Kristus dalam Penderitaan (KGK 615 & 2606)
​“Oleh ketaatan-Nya sampai mati di kayu salib, Yesus menggenapi perutusan Penderita yang Menyelamatkan” (KGK 615).
Sejalan dengan Ibrani 5:7-9, Katekismus mengajarkan bahwa doa dan ratap tangis Yesus di masa hidup-Nya menyatukan seluruh penderitaan umat manusia. Ketaatan-Nya yang sempurna mengubah penderitaan menjadi jalan keselamatan abadi bagi semua orang yang percaya kepada-Nya.

​Persatuan Hati Bunda Maria dalam Karya Penebusan (KGK 618 & 964)
​“Maria bersatu secara khusus dengan salib Putranya… Ia mengambil bagian dengan kasih keibuannya dalam karya Penebusan” (KGK 964).
Katekismus menegaskan bahwa nubuat Simeon (Lukas 2:35) tentang pedang yang menembus jiwa Maria merupakan panggilan bagi Bunda Suci untuk menyatukan seluruh dukacitanya dengan ketaatan Kristus. Di kaki salib (Yohanes 19:25-27), ketabahan Maria menjadi bentuk keikutsertaan paling murni seorang manusia dalam misteri keselamatan.

​Peran Maria sebagai Bunda Para Murid dan Bunda Gereja (KGK 969 & 2677)
​“Dalam duka cita di bawah kaki salib, Maria menerima perutusan baru sebagai Bunda dari seluruh anggota Tubuh Mistik Kristus” (KGK 969).
Ketika Yesus menyerahkan Maria kepada Murid Terkasih, Gereja menerima Maria sebagai teladan iman dan doa (KGK 2677). Di tengah kegelapan, duka, dan air mata, Maria mengajarkan kita untuk tetap berdiri teguh (Stabat Mater) dan mempercayakan seluruh hidup ke dalam tangan Bapa.

MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA

​1. Nata Raga (Menata Tubuh & Kehadiran Fisik)

​Sikap Kehadiran Nyata:

Meneladani Bunda Maria yang Stabat Mater (tetap berdiri teguh) di kaki salib. Kehadiran fisik yang hening, ramah, dan hadir sepenuhnya tanpa gestur terburu-buru saat menemani orang yang berduka, menderita, atau sakit.

​Kedisiplinan Tubuh:
Menjaga kesehatan, keteraturan napas, dan kesederhanaan hidup harian sebagai sarana jasmani untuk menopang ketahanan rohani dalam memikul salib harian.

​Tindakan Konkret Kasih:
Melatih pancaindra untuk peka melihat air mata sesama, mendengarkan tanpa menyela, serta mengulurkan tangan bantuan tanpa perlu banyak bicara.

​2. Nata Pikir (Menata Pikiran & Budi)

​Penjernihan Pemahaman: Memahami penderitaan bukan sebagai tanda ketidakhadiran Allah, melainkan sebagai ruang perjumpaan dengan ketaatan Kristus dan pemurnian iman (Per passionem ad gloriam).

​Perenungan Sabda (Lectio Divina): Mengolah teks Kitab Suci, ajaran Gereja (Katekismus), dan pemikiran para kudus dengan cermat agar budi dituntun oleh hikmat Ilahi, bukan oleh asumsi atau prasangka pribadi.

​Penguasaan Diri: Menolak kecenderungan untuk menghakimi, mengeluh, atau menghibur secara dangkal dengan kata-kata kosong. Pikiran difokuskan pada janji keselamatan Allah yang melampaui logika manusiawi.

​3. Nata Rasa (Menata Hati & Kedalaman Jiwa)
​Bela Rasa (Misericordia & Compassio): Membuka hati agar turut merasakan kesengsaraan sesama—menyatukan rasa sakit pribadi dan duka sesama ke dalam luka-luka Kristus di atas kayu salib.

​Pengheningan Batin:
Mengolah kecemasan, rasa takut, dan pedihnya kepahitan hidup menjadi penyerahan diri yang tulus ke dalam tangan Bapa (“Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku”).

​Transformasi Kasih:
Mengingat pesan spiritual St. Paus Yohanes Paulus II bahwa dengan memandang Perawan Suci Maria, kecemasan diubah menjadi harapan, dan kepedihan dibimbing menjadi cinta yang memulihkan.

NIAT KONGKRET

​1. Nata Raga (Aksi Nyata Fisik)

​Hadir Utuh Tanpa Gadget: Saat mengunjungi atau mendampingi keluarga, kawan, atau sesama yang sedang sakit, berduka, atau menghadapi kesulitan, saya akan menyimpan ponsel dan hadir secara utuh—mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.

​Tindakan Kasih Sederhana: Memberikan bantuan fisik yang nyata dan langsung dibutuhkan (misalnya menyedikan makanan, membantu pekerjaan rumah, atau mengantar berobat) tanpa perlu banyak obrolan atau publikasi foto di media sosial.

​2. Nata Pikir (Pengolahan Budi & Sikap Hidup)

​Menghentikan Keluhan:
Ketika menghadapi beban kerja, masalah keluarga, atau situasi yang tidak sesuai harapan, saya menahan diri untuk tidak langsung mengeluh atau menyalahkan orang lain.

​Melihat Salib sebagai Ruang Pemurnian:
Setiap kali merasakan penolakan atau kesalahpahaman, saya akan membatin: “Tuhan, aku tidak selalu memahami jalan-Mu, tetapi aku percaya Engkau sedang memurnikan kasih dan imanku.”

​3. Nata Rasa (Olah Batin & Doa)

​Keheningan Doa Bersama Bunda Maria: Mengalokasikan waktu 5–10 menit di malam hari untuk berhening di depan salib atau gambar Bunda Maria, menyerahkan seluruh kecemasan, luka hati, dan penderitaan harian ke dalam tangan Bapa.

​Memohon Hati yang Berempati (Misericordia): Mendoakan secara khusus nama orang-orang yang sedang menderita, kesepian, atau berkonflik dengan saya, agar kecemasan mereka diubah menjadi harapan dan kepedihan mereka dipulihkan oleh cinta Tuhan.

LAGU ROHANI PENGANTAR DOA

Lagu atau Musik Instrumentalia yang hening dan teduh

​DOA HENING

Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.

Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.

PERUTUSAN

​1. Menjadi Saksi Keteguhan di Kaki Salib
Diutus untuk tidak melarikan diri dari penderitaan dan pergumulan hidup harian, melainkan tetap berdiri teguh (Stabat Mater) membawa terang iman, harapan, dan kasih di tengah keluarga, komunitas, dan lingkungan kerja.

2. Menghadirkan Belas Kasih yang Nyata (Misericordia)
Diutus untuk menjadi perpanjangan tangan dan hati Kristus bagi sesama yang tersingkir, sakit, berduka, atau kehilangan harapan—bukan dengan kata-kata manis yang kosong, melainkan lewat kehadiran yang empati, tulus, dan penuh perhatian.

​3. Membawa Pengharapan dan Pemulihan Cinta

Diutus untuk membagikan semangat Perawan Suci Maria: mewartakan bahwa penderitaan yang dipikul bersama Kristus tidak pernah sia-sia, melainkan diubah menjadi benih kebangkitan yang mengubah kecemasan menjadi harapan, dan kepedihan menjadi cinta.

​Sta cum Christo. Disce a Maria fidelitatem. Spem numquam amitte. In Cruce permane.
(Berdirilah bersama Kristus. Belajarlah kesetiaan dari Maria. Jangan pernah kehilangan harapan. Tetaplah setia memikul salib bersama Tuhan.)

DOA PENUTUP

Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.

Allah Bapa yang Maharahim, kami bersyukur atas Sabda-Mu yang menuntun dan menguatkan langkah hidup kami. Melalui teladan Bunda Maria Berdukacita, ajarilah kami untuk tetap setia berdiri di bawah kaki salib, memikul setiap duka dan pergumulan dengan teguh dalam iman. Jamahlah hati kami agar senantiasa memiliki rasa empati dan belas kasih kepada sesama yang sedang menderita, sakit, dan kesepian.

Ubahlah segala kecemasan kami menjadi harapan yang hidup, dan ubahlah setiap kepedihan kami menjadi cinta yang memulihkan.

Semoga hidup kami sehari-hari menjadi kesaksian nyata akan kasih-Mu yang tak pernah meninggalkan kami.

Semua doa dan permohonan ini kami serahkan kepada-Mu, dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami.
Umat: Amin.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.

Berkah Dalem, Salam Takzim.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *