CAPITA SELECTA
SERI NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA – Oleh N.P. Basuki Ismael
Capita Selecta: Refleksi Sabda Tuhan Harian – Edisi Buku
Ut Omnis Meditatio Corda ad Christum Ducat – Semoga Setiap Renungan Mengantar Hati kepada Kristus
Kamis, 17 September 2026, Warna Liturgi: Hijau
Peringatan: Santo Albertus dari Yerusalem, Santa Hildegardis, Santo Lambertus, Santo Robertus Bellarmino, Santo Satyrus
KASIH LAHIR DARI PERTOBATAN
Caritas Ex Paenitentia Nascitur
PENGANTAR
Jangan terlalu sibuk mencari tahu siapa perempuan itu.
Dalam tradisi Gereja, perempuan dalam kisah ini pernah dihubungkan dengan Maria Magdalena. Namun Injil Lukas sendiri tidak menyebutkan namanya. Karena itu, kita tidak perlu berhenti pada pertanyaan tentang siapa dia.
Mungkin justru karena namanya tidak disebut, kita dapat menaruh nama kita sendiri di sana.
Perempuan itu adalah aku.
Aku yang mempunyai masa lalu. Aku yang pernah jatuh, mengecewakan Tuhan dan sesama, bahkan mungkin diriku sendiri.
Orang-orang dapat sibuk bertanya: Dosanya apa? Seberapa berat dosanya? Tetapi Yesus tidak membawa kita ke sana.
Di hadapan kasih Tuhan, pertanyaan yang lebih penting bukanlah “Seberapa besar dosaku?”, melainkan:
“Apakah aku mau bertobat?”
Perempuan itu datang kepada Yesus tanpa pembelaan. Ia membawa air mata. Namun pertobatannya tidak berhenti pada penyesalan. Ia memberikan yang terbaik: air matanya, rambutnya, ciumannya, dan minyak wangi yang mahal.
Pertobatan sejati tidak hanya membuat kita menyesali dosa; pertobatan membuat kita ingin memberikan yang terbaik kepada Tuhan.
Karena itu, jangan melihat perempuan itu dari kejauhan.
Yang sedang dibicarakan bukan hanya dia.
Yang sedang disentuh Yesus adalah aku.
Bacaan pertama mengingatkan bahwa semuanya bermula dari rahmat: Kristus telah wafat karena dosa-dosa kita dan telah bangkit. Kebangkitan membuka harapan dan kemungkinan hidup yang baru.
Mazmur mengajak kita menjawab rahmat itu dengan syukur:
“Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik, kekal abadi kasih setia-Nya.”
Dan Injil membawa kita kepada puncaknya: hati yang mengalami pengampunan akan melahirkan kasih.
Dari rahmat lahirlah syukur.
Dari pertobatan lahirlah kasih.
Dari kasih lahirlah persembahan hidup.
Maka pertobatan bukanlah akhir perjalanan.
Pertobatan adalah pintu menuju kasih.
PESAN UTAMA BACAAN
Bacaan Pertama (1Kor 15:1–11) mewartakan pusat iman: Kristus telah wafat karena dosa-dosa kita dan telah bangkit. Rahmat kebangkitan mengubah hidup dan memberi harapan baru.
Mazmur 118 mengajak kita menjawab kasih Tuhan dengan syukur:
“Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik, kekal abadi kasih setia-Nya.”
Injil (Luk 7:36–50) memperlihatkan puncaknya: perempuan yang datang dengan pertobatan menerima pengampunan, dan dari hati yang diampuni mengalirlah kasih yang memberikan yang terbaik.
Rahmat → syukur → pertobatan → kasih → persembahan hidup.
“Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat.”
(Luk 7:50)
NATA PIKIR
Berhenti Menghakimi, Mulai Melihat dengan Belas Kasih
Pertobatan mengubah cara kita melihat.
Kita mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sering lupa bercermin pada diri sendiri. Simon melihat perempuan itu sebagai orang berdosa; Yesus melihat manusia yang sedang kembali kepada kasih.
Maka bertobat berarti berhenti menggali masa lalu orang lain dan mulai bertanya:
“Apa yang perlu Tuhan ubah dalam cara pandangku?”
Pikiran yang bertobat belajar melihat sesama melalui belas kasih Tuhan.
NATA RASA
Menerima Pengampunan dan Belajar Mengampuni
Perempuan itu berani membiarkan air matanya berbicara.
Pertobatan berarti berani berkata:
“Tuhan, inilah aku. Ampunilah aku.”
Tetapi menerima pengampunan juga berarti belajar mengampuni.
Hati yang sungguh mengalami belas kasih Tuhan tidak mudah menghakimi, karena ia tahu betapa besar belas kasih yang telah diterimanya.
Maka tanyakan dalam keheningan:
“Siapa yang masih kusimpan dalam kepahitan?”
Serahkanlah ia kepada Tuhan, dan mulailah melepaskan.
Hati yang bertobat menerima pengampunan dan belajar mengampuni.
NATA RAGA
Membuktikan Pertobatan dengan Memberikan yang Terbaik
Pertobatan tidak boleh berhenti sebagai perasaan.
Perempuan itu tidak hanya menangis. Ia bertindak. Kasihnya menjadi nyata dalam persembahan.
Demikian pula pertobatan kita harus mempunyai bentuk: meminta maaf, mengampuni, menghentikan kebiasaan buruk, menolong, berbagi, melayani, atau melakukan satu kebaikan yang selama ini kita tunda.
Tidak harus besar.
Tetapi harus nyata.
Sebab pertobatan sejati selalu meninggalkan jejak kasih.
BENANG MERAH
Rahmat kebangkitan memberi harapan.
Harapan melahirkan syukur.
Syukur membuka hati kepada pertobatan.
Pertobatan melahirkan kasih.
Dan kasih memberikan yang terbaik.
Ada masa lalu yang tidak dapat kita ubah. Tetapi rahmat Tuhan dapat mengubah cara kita menjalani hari ini.
Karena itu, jangan berhenti pada penyesalan.
Biarkan pertobatan mengubah pikiran, melembutkan hati, dan menggerakkan tangan untuk mengasihi.
Sebab orang yang sungguh bertobat tidak hanya meninggalkan dosa.
Ia mulai memberikan yang terbaik.
DOA
Tuhan Yesus,
aku datang kepada-Mu bukan sebagai manusia yang sempurna, tetapi sebagai manusia yang membutuhkan belas kasih-Mu.
Ampunilah aku atas dosa, kesombongan, penghakiman, dan kasih yang masih sering berhitung.
Ubahlah cara pandangku, lembutkan hatiku, dan gerakkan langkahku agar pertobatanku menjadi kasih yang nyata.
Karena Engkau telah lebih dahulu mengasihiku, ajarilah aku memberikan yang terbaik bagi-Mu melalui sesamaku.
Biarlah hidupku meninggalkan jejak-jejak kecil kasih-Mu di jalan kehidupan. Amin.
ELING
Jangan hanya menyesali dosa;
biarkan pertobatan melahirkan kasih,
dan kasih memberikan yang terbaik.
DEVOSI
Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
1. Santo Albertus dari Yerusalem
Siapa Beliau:
Uskup Vercelli yang kemudian diangkat menjadi Patriark Yerusalem pada awal abad ke-13. Beliau dikenal sebagai penyusun Regula (Aturan Hidup) Pertama untuk para rahib Ordo Karmel (Ordo Saudara-Saudara Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel).
Teladan:
Kebijaksanaan dalam memimpin, semangat keheningan, keteguhan dalam memelihara doa, serta kerendahan hati dalam merangkul komunitas monastik.
Devosi:
Memohon persatuan dan kedamaian dalam komunitas/keluarga, ketekunan dalam doa dan keheningan batin, serta hikmat dalam kepemimpinan.
2. Santa Hildegardis dari Bingen
Siapa Beliau:
Seorang Biarawati Benedictina asal Jerman, penglihatan ilahi (mystic), komponis, penulis, pakar pengobatan alami, serta Pujangga Gereja (Doctor of the Church). Beliau adalah salah satu tokoh wanita paling jenius dan berpengaruh pada Abad Pertengahan
Teladan:
Keterbukaan hati pada karunia Roh Kudus, pengabdian total pada keindahan ciptaan Allah melalui seni dan ilmu pengetahuan, serta keberanian mewartakan kebenaran kepada para pemimpin Gereja dan dunia.
Devosi:
Memohon kesembuhan dan kesehatan fisik-rohani, pengenalan akan kehendak Allah melalui karunia-Nya, serta kepekaan dalam merawat alam ciptaan.
3. Santo Lambertus
Siapa Beliau:
Uskup Maastricht (Belanda) pada abad ke-7 yang berani mempromosikan nilai-nilai Injil dan menentang imoralitas di kalangan pejabat istana Kekaisaran Franka. Beliau wafat sebagai martir demi membela kesucian perkawinan dan keadilan.
Teladan:
Keberanian moral tanpa kompromi, keteguhan membela kebenaran ajaran Gereja di hadapan penguasa duniawi, serta kesetiaan pelayanan pastoral hingga akhir hayat.
Devosi:
Memohon keberanian dalam mempertahankan integritas moral, perlindungan atas martabat sakramen perkawinan, serta kekuatan saat menghadapi ketidakadilan.
4. Santo Robertus Bellarmino
Siapa Beliau:
Seorang Imam Serikat Yesus (Jesuit), Kardinal, teolog ulung, dan Pujangga Gereja. Beliau memainkan peran kunci dalam Pembaharuan Katolik (Kontra-Reformasi) serta penyusunan katekismus yang memperjelas ajaran iman Katolik.
Teladan:
Kerendahan hati di tengah tingginya kecerdasan akademis, kedalaman doa di tengah kesibukan hirarki Gereja, serta kesederhanaan hidup meski menjabat sebagai kardinal.
Devosi:
Memohon terang Roh Kudus dalam mempelajari dan mengajarkan iman Katolik, ketajaman akal budi, serta kerendahan hati bagi para pengajar/katekis.
5. Santo Satyrus
Siapa Beliau:
Saudara kandung (kembar) dari Santo Ambrosius (Uskup Milan) pada abad ke-4. Beliau adalah seorang awam yang setia, jujur, serta ahli dalam mengelola administrasi dan keuangan demi mendukung pelayanan keuskupan saudaranya.
Teladan:
Kesetiaan hidup beriman sebagai kaum awam, kejujuran dalam mengelola urusan duniawi/keuangan, serta kasih dan dukungan persaudaraan yang tulus.
Devosi:
Memohon integritas dan kejujuran dalam pekerjaan/bisnis sehari-hari, kesetiaan pelayanan bagi kaum awam, serta kerukunan dan persaudaraan dalam keluarga.
PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN
Bacaan Pertama
(Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus 15: 1-11)
Intisari Bacaan:
Paulus mengingatkan tentang Injil yang ia beritakan, yaitu bahwa Kristus yang mati karena dosa kita, dimakamkan dan dibangkitkan pada hari ketiga sesuai Kitab Suci. Kebenaran sentral ini adalah dasar iman kita.
Romo Willem Pau, Pr (Pastor Paroki Kebondalem, Semarang, Gereja Santo Franciscus Xaverius):
Rahmat yang Mengubah dan Memberi Pengharapan Baru
1. Kebangkitan Kristus sebagai Dasar Utama Pengharapan Iman
Santo Paulus mengingatkan umat bahwa inti iman Kristiani berakar pada peristiwa nyata di mana Kristus wafat, dikuburkan, dan dibangkitkan pada hari ketiga. Kebangkitan ini menjadi bukti utama bahwa dosa serta kematian bukanlah kata terakhir, melainkan pintu menuju kehidupan baru yang penuh harapan. Tanpa kebangkitan Kristus, penderitaan serta pengorbanan Yesus hanya akan berakhir sebagai sebuah tragedi belaka.
2. Kuasa Rahmat Allah dalam Membarui Masa Lalu
Paulus dengan penuh kerendahan hati mengakui ketidaklayakannya sebagai rasul karena pernah menganiaya jemaat Allah, namun ia menegaskan bahwa oleh kasih karunia Allah ia menjadi sebagaimana ia ada sekarang. Pengalaman hidup Paulus membuktikan bahwa masa lalu yang kelam, kesalahan, maupun kegagalan kita tidak pernah menjadi penghalang bagi besarnya rahmat Tuhan untuk mengubah hidup. Hal ini dipertegas oleh nasihat Santo Agustinus, “Jangan putus asa; salah seorang pencuri diselamatkan di salib. Jangan terlalu percaya diri; salah seorang rasul jatuh,” yang mengingatkan agar kita tidak berputus asa atau sombong karena kita semua membutuhkan rahmat Allah.
3. Kesaksian Hidup dan Perutusan dalam Sukacita Kebangkitan
Iman akan Kristus yang bangkit hendaknya tidak berhenti sebagai wacana, melainkan terwujud nyata dalam keberanian untuk mengampuni, bangkit dari kegagalan, dan membawa sukacita bagi sesama. Melalui doa, kita memohon agar Tuhan mengubah segala kelemahan kita menjadi kesempatan untuk bertumbuh serta menjadikan hidup kita sebagai kesaksian kasih-Nya. Niat konkret kita hari ini adalah berhenti menyalahkan diri atas kegagalan masa lalu dan segera mengambil satu langkah nyata untuk memulai kembali sesuatu yang baik
AC Eko Wahyono (Evangelizer Lectio Divina, Paroki Jember, Gereja Santa Maria Tak Bernoda):
Hati Yang Berbelas Kasih
1. Kuasa Rahmat dan Kebangkitan Kristus Mengubah Masa Lalu Pewartaan Santo Paulus dalam 1 Korintus 15:1–11 menegaskan inti iman Kristiani bahwa Kristus telah mati demi dosa-dosa kita, dikuburkan, dan dibangkitkan sesuai dengan Kitab Suci. Rahmat kebangkitan inilah yang membarui kehidupan para saksi iman, termasuk Paulus sendiri yang diubah dari seorang penganiaya jemaat menjadi pewarta Injil yang penuh semangat. Pembaruan batin akibat rahmat Allah ini tidak diraih atas kesombongan diri sendiri, melainkan atas dorongan kasih karunia Tuhan yang senantiasa bekerja di dalam jiwa manusia. Sebagaimana ditegaskan oleh Santo Agustinus dalam De Gratia Et Libero Arbitrio, “Bukan melulu karena kasih karunia Allah, atau karena diriku sendiri, tetapi karena kasih karunia Allah dan diriku.”
2. Pujian Syukur atas Perlindungan dan Kasih Setia Allah
Mazmur Tanggapan (Mzm 118) mengumandangkan sorak-sorai pujian atas kebaikan Allah karena kasih setia-Nya bertahan untuk selama-lamanya di tengah kesesakan manusia. Tangan kanan Tuhan yang teracung tinggi memberikan kekuatan dan penyelamatan, sehingga orang beriman tidak akan mati melainkan hidup untuk menceritakan perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib. Pengalaman akan kasih setia yang kekal ini menjadi dasar utama bagi setiap pribadi untuk menggantungkan seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Ketika manusia menyadari betapa besarnya pemeliharaan Allah, hatinya akan senantiasa dipenuhi oleh luapan syukur dan iman yang teguh.
3. Pertobatan Tulus dan Pengampunan yang Membebaskan
Injil Lukas 7:36–50 memperlihatkan kontras yang tajam antara Simon si Farisi yang sibuk menghakimi dan seorang perempuan berdosa yang datang membawa air mata pertobatan serta minyak wangi di kaki Yesus. Melalui perumpamaan penghapusan utang, Yesus menunjukkan bahwa belas kasih Allah yang maharahim selalu terbuka untuk merengkuh dan memulihkan jiwa yang remuk redam. Kesadaran akan besarnya ampunan yang diterima mendorong perempuan tersebut untuk meluapkan kasih yang besar, sebagaimana ditegaskan oleh Santo Ephrem bahwa “Di luar, Ia membangkitkan Lazarus dari kematian; di dalam, Ia memberi hidup pada jiwa perempuan yang berdosa itu.” Katekismus Gereja Katolik turut mengajarkan bahwa iman yang direngkuh dalam kerendahan hati akan menyelamatkan dan mengutus kita untuk hidup dalam damai sejahtera.
TRANSITUS:
(Mazmur 118: 1-2.16.ab-17.28):
Mazmur Tanggapan:
Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik.
Romo Mike Schmitz (Pastor Mahasiswa di Universitas Minnesota, Keuskupan Duluth, AS):
Keabadian Kasih Setia Tuhan dan Pengampunan yang Membebaskan
1. Pujian Kemenangan atas Kasih Setia yang Kekal
Mazmur 118 mengumandangkan sorak-sorai kemenangan umat beriman yang bersyukur atas kebaikan Allah karena kasih setia-Nya bertahan untuk selama-lamanya. Tangan kanan Tuhan yang teracung tinggi memberikan kekuatan di tengah himpitan, sehingga pemazmur menyatakan dengan mantap bahwa ia tidak akan mati, melainkan hidup untuk menceritakan perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib. Pengakuan iman ini menjadi fondasi yang kokoh bahwa dalam setiap situasi kelam, rahmat dan perlindungan Tuhan selalu lebih besar daripada kuasa kematian dan keputusasaan.
2. Kebangkitan Kristus sebagai Puncak Penyataan Kasih Allah
Romo Mike Schmitz menegaskan bahwa kesaksian pemazmur tentang keutuhan hidup menemukan pemenuhannya secara sempurna dalam peristiwa Kebangkitan Kristus, sebagaimana diwartakan Santo Paulus dalam 1 Korintus 15:1–11. Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, dikuburkan, dan bangkit pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci, menjadi bukti nyata betapa tangan kanan Allah berkuasa mengalahkan maut. Rahmat kebangkitan ini pula yang mengubah Paulus dari seorang penganiaya jemaat menjadi rasul yang paling giat melayani, semata-mata karena kasih karunia Allah yang tidak sia-sia atas dirinya.
3. Pertobatan Tulus yang Meluapkan Kasih dan Syukur
Kebaikan dan kasih setia Tuhan yang kekal tersebut diwujudkan secara menyentuh dalam kisah perempuan berdosa—yang secara tradisi sering dihubungkan dengan Maria Magdalena—pada Injil Lukas 7:36–50. Perempuan berdosa yang membasahi kaki Yesus dengan air matanya, menyapunya dengan rambutnya, dan mengurapinya dengan minyak wangi ini menyadari betapa besarnya ampunan yang ia terima dari Kristus, bertolak belakang dengan sikap Simon si Farisi yang merasa diri tidak membutuhkan rahmat. Seperti yang diajarkan dalam panduan The Bible in a Year orang yang menyadari betapa banyak dosanya telah diampuni akan meluapkan kasih yang besar, menjadikannya saksi nyata yang hidup untuk memuliakan Allah sepanjang hayatnya.
Laurentius Elyas Nugraha (Evangelizer Lumen Mundi, Paroki Karangpanas, Semarang, Gereja Santo Athanasius Agung):
Gratia Transformat — Rahmat Mengubah Hidup
1. Rahmat Kebangkitan yang Membarui dan Mengampuni
Santo Paulus dalam 1 Korintus 15:1–11 menegaskan bahwa seluruh hidup dan pelayanannya berdiri teguh di atas kasih karunia Allah yang membangkitkan Kristus dari kematian. Rahmat pengampunan yang membarui ini menemukan wujud nyatanya dalam kisah perempuan berdosa pada Injil Lukas 7:36–50 yang datang membasahi kaki Yesus dengan air mata pertobatan. Sebagaimana ditegaskan oleh Santo Agustinus melalui ungkapan Gratia non destruit naturam, sed perficit eam, rahmat Allah tidak pernah menghancurkan kodrat manusia melainkan menyempurnakan dan memulihkannya. Dari peristiwa ini kita belajar bahwa pertobatan sejati lahir dari perjumpaan personal dengan Kristus yang selalu sedia mengampuni dan mengangkat kita menjadi ciptaan baru.
2. Pujian Syukur atas Belas Kasih dan Pengenalan Sejati
Mazmur 118:1–2, 16ab–17, 28 mengumandangkan sorak-sorai syukur karena kasih setia Tuhan bertahan untuk selama-lamanya di tengah segala kelemahan manusia. Sorak kebebasan ini selaras dengan tindakan perempuan yang mengurapi kaki Yesus, di mana kerendahan hatinya bertolak belakang dengan kesombongan Simon si Farisi. Mengulas dinamika batin ini, Santo Gregorius Agung mengajarkan bahwa Amor ipse notitia est — kasih itu sendiri merupakan sebuah pengenalan yang sejati. Hanya jiwa yang sungguh menyadari besarnya belas kasih dan ampunan Tuhan yang dimampukan untuk meluapkan syukur serta mengasihi Allah dan sesama secara tulus.
3. Pertobatan Berkelanjutan dan Perutusan Mewartakan Injil
Katekismus Gereja Katolik (KGK 1864) mengingatkan kita bahwa belas kasih Allah tidak pernah mengenal batas, namun kita dituntut untuk membuka hati melalui pertobatan yang sungguh. Spiritualitas Benediktin turut mempertegas bahwa pembaruan batin merupakan perjalanan seumur hidup (conversatio morum) yang harus terus dirawat setiap hari di hadapan Allah. Melalui perutusan hari ini, kita dipanggil untuk tidak takut mengakui segala dosa dan kelemahan di hadapan takhta kerahiman-Nya. Ketika hati kita telah dipenuhi oleh ampunan Kristus, kita diutus untuk membagikan belas kasih tersebut dengan tidak mudah menghakimi sesama, melainkan mewartakan Injil melalui tindakan kasih yang nyata.
Injil Suci
(Lukas 7: 36-50)
Intisari Bacaan:
Perempuan berdosa yang membasuh kaki Yesus, sungguh mengasihi Yesus. Yesus mengampuninya, karena Ia telah banyak mengasihi. Semakin banyak mengasihi, semakin banyak orang akan menerima pengampunan.
Romo Nico Liem Tjay, OMI (Pastor Katedral Purwokerto, Gereja Kristus Raja):
Pengampunan yang Mengubah Aib Menjadi Pemulihan
1. Kerapuhan Manusia dan Keberanian Bertobat di Tengah Sanksi Sosial
Sebagaimana ditulis oleh Romo Nico, bayangkan kisah Agnes Paijem yang digadang-gadang sukses kuliah di kota besar tetapi pulang membawa jabang bayi hasil hubungan dengan pacarnya, hingga bersama orang tuanya menerima hujatan, cemoohan di grup WA, serta stigma najis dari lingkungan sekitarnya. Situasi kelam ini menggambarkan secara tepat penderitaan batin perempuan berdosa dalam Injil Lukas 7:36–50 yang terasing dari masyarakat. Namun, perempuan ini memberanikan diri datang membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi mahal di tengah kerapuhan dan harapan besar untuk dipulihkan. Menurut budaya Israel, rambut adalah bagian yang sangat terhormat dari seorang wanita yang pantang tergerai di depan publik, tetapi demi menunjukkan penyesalan mendalam, ia bersujud di belakang Yesus, membasahi kaki-Nya dengan air mata, menyekanya dengan rambut terhormatnya, serta meminyakinya tanpa memedulikan pandangan orang lain.
2. Pengampunan Kristus yang Memulihkan dan Membebaskan
Aksi pengakuan dosa secara publik ini menjadi jalan kesunyian yang ditempuh perempuan tersebut untuk berdamai dengan masa lalunya. Yesus sama sekali tidak memandang kehinaan masa lalu perempuan itu sebagai penentu masa depannya, melainkan melihat iman dan ketulusan kasih yang memenuhi hatinya. Kristus lalu menegaskan pemulihan batinnya dengan bersabda, “Dosamu telah diampuni… Imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat!” Pengampunan Allah yang maharahim tidak sekadar menghapus kesalahan masa lalu, tetapi juga menyembuhkan luka batin serta mengubah hidup seseorang menjadi sarana pewartaan kasih-Nya.
3. Buah Pertobatan Sejati dan Pesan Pengampunan Santo Paus Yohanes Paulus II
Pertobatan yang tulus membuahkan kesetiaan hidup, sebagaimana diperlihatkan oleh Maria Magdalena yang setia menemani Yesus hingga di kaki salib dan menjadi saksi pertama kebangkitan-Nya. Sebagaimana tertera dalam gambar Kartu Iman dari Santo Paus Yohanes Paulus II: “Pengampunan bukan berarti melupakan luka, melainkan memilih untuk tidak membiarkan luka itu mengendalikan hidup kita.” Nasihat Bapa Suci ini dipertegas dengan catatannya bahwa tanpa pengampunan, tidak akan ada masa depan bagi umat manusia. Hari ini kita diajak untuk datang kepada Kristus dengan hati terbuka, membiarkan kasih-Nya menyembuhkan luka terdalam, serta memberi kita keberanian untuk memulai kembali hidup yang baru.
Romo A. Joko Purwanto, Pr (Pastor Paroki Wonogiri, Gereja Santo Yohanes Rasul):
Jangan Meminta, Kalau Tidak Memberi
1. Kehangatan Kasih versus Dinginnya Sikap Selalu Menuntut
Jangan pernah berharap menerima banyak jika kita sendiri tidak pernah mau memberi dengan tulus bagi Tuhan dan sesama. Peristiwa Yesus yang bertamu ke rumah Simon si Farisi memperlihatkan kontras yang tajam antara batin yang penuh hitung-hitungan dan hati yang meluapkan kasih tanpa batas. Ketika seorang perempuan berdosa datang membawa botol pualam berisi minyak wangi mahal, ia membasahi kaki Yesus dengan air mata, menyekanya dengan rambut, serta meminyakinya sebagai ungkapan penyesalan yang mendalam. Sebaliknya, Simon justru mencibir perbuatan tersebut di dalam hatinya dan menilai bahwa Yesus tidak layak menjadi nabi karena mau disentuh oleh seorang pendosa.
2. Kesadaran akan Besarnya Pengampunan Membuahkan Kasih Besar
Melalui perumpamaan tentang dua orang yang dihapuskan hutangnya sebesar 500 dinar dan 50 dinar, Yesus memberikan pengajaran mendalam tentang hakikat kasih. Simon sendiri membenarkan bahwa orang yang paling banyak diampuni hutangnya tentu akan menaruh kasih paling besar kepada sang pemaaf. Perempuan tersebut tiada henti menciumi dan meminyaki kaki Yesus karena ia menyadari betapa besarnya ampunan serta belas kasih yang telah diterimanya dari Allah. Dosa perempuan yang banyak itu diampuni karena ia telah banyak berbuat kasih, sedangkan orang yang merasa sedikit diampuni akan sedikit pula mengasihi.
3. Dasar Pelayanan dan Panggilan Berbuat Kasih tanpa Menuntut
Jika kita sungguh merasa dikasihi dan diselamatkan oleh Tuhan, maka seluruh sikap hidup kita pasti akan dipenuhi oleh dorongan untuk banyak berbuat kasih. Sebaliknya, apabila hati kita keras dan tidak pernah merasa dikasihi, kita akan tumbuh menjadi pribadi yang dingin serta tidak memiliki belas kasih kepada sesama. Janganlah kita terlalu banyak menuntut dan meminta berkat melimpah dari Tuhan jika kita sendiri tidak pernah mau memberi diri dan melayani-Nya. Mari kita menjadikan belas kasih Allah yang tiada bertepi sebagai dasar utama dalam seluruh pelayanan dan tindakan hidup sehari-hari.
Pantun:
Burung camar terbang tinggi,
Mencari makan di pinggir kali.
Kasih-Nya tak pernah berhenti,
Itulah dasarnya kita semua melayani.
TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING
Romo Hans Wijaya, Pr (Pastor Paroki Nusa Dua Bali, Gereja Maria Bunda Segala Bangsa):
Kasih yang Mengalir dari Hati yang Diampuni
1. Hati yang Terbuka di Tengah Penilaian Dunia
Ada momen dalam hidup ketika seseorang datang kepada Tuhan bukan dengan kata-kata indah, melainkan dengan air mata yang jujur dan hati yang hancur. Perempuan dalam Injil hari ini hadir membawa seluruh luka hidup, masa lalu, serta penyesalannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, namun kasihnya mengalir kuat melalui tindakan yang lembut dan berani. Di rumah seorang Farisi, ia dipandang tidak layak, dihakimi, dan disisihkan oleh pandangan manusia yang sempit. Namun, Yesus melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh orang lain: sebuah hati yang rapuh dan berdosa, tetapi berani terbuka serta datang kepada Tuhan di tengah segala kelemahannya.
2. Kontras Sikap Hati yang Kering dan Luapan Kasih yang Tulus
Kisah ini menghadapkan kita pada kontras yang tajam antara penerimaan formal dan penyerahan diri secara total. Sang Farisi merasa dirinya benar dan mengundang Yesus, namun ia tidak memberi air untuk membasuh kaki, tidak memberi ciuman selamat datang, dan tidak meminyaki kepala-Nya. Sebaliknya, perempuan berdosa itu hadir dengan kasih yang meluap: membasuh kaki Yesus dengan air mata penyesalan, menyekanya dengan rambut sebagai tanda kerendahan hati yang dalam, menciumi kaki-Nya sebagai bentuk penghormatan tulus, serta meminyakinya sebagai persembahan paling berharga. Yesus menegaskan bahwa kasih yang besar selalu lahir dari jiwa yang telah mengalami dan menyadari besarnya pengampunan Allah.
3. Panggilan Kerendahan Hati dan Kepastian Iman yang Menyelamatkan
Renungan hari ini mengajak kita bersikap jujur memeriksa batin: apakah kita datang kepada Tuhan seperti sang Farisi yang tampak benar di luar tetapi kering di dalam, atau seperti perempuan tersebut yang tidak sempurna tetapi penuh kasih? Kita dipanggil untuk senantiasa hadir di hadapan Tuhan dengan hati yang jujur tanpa topeng kesempurnaan, serta membiarkan kasih-Nya terwujud dalam tindakan nyata sehari-hari. Ingatlah selalu bahwa pengampunan melahirkan kasih, dan kasih itulah yang menguatkan iman kita. Pada akhirnya, kasih yang mengalir dari hati yang diampuni selalu menyentuh hati Tuhan, hingga Ia bersabda kepada perempuan itu dan kepada kita: “Imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Romo Y. Gunawan, Pr (Pastor Formator Tahun Rohani Keuskupan Agung Semarang, Bumi Jangli):
Kasih Tuhan Lebih Besar dari Dosa Kita
1. Keberanian Bertobat dan Menyentuh Hati Kristus
Di tengah kehidupan masyarakat, seseorang dapat dikenal karena kebaikannya maupun karena perbuatan buruknya. Injil Lukas 7:36–50 mengisahkan seorang perempuan yang terkenal di kotanya sebagai orang berdosa dan dipandang negatif oleh masyarakat. Namun, karena tersentuh oleh ajaran dan belas kasih Kristus, perempuan ini memberanikan diri menerobos stigma sosial demi menemui Yesus di rumah seorang Farisi. Ia mengungkapkan penyesalan mendalam dengan membasahi kaki Yesus menggunakan air mata, menyekanya dengan rambut, serta meminyakinya sebagai tanda pertobatan dan kasih yang tulus.
2. Pembaruan Diri dalam Pandangan Santo Gregorius Agung
Santo Gregorius Agung merefleksikan pertobatan perempuan ini dengan sangat indah, di mana segala sesuatu yang dulunya dipakai untuk melayani dosa kini dipersembahkan sepenuhnya untuk memuliakan Tuhan. Matanya yang dulu mengidamkan hal-hal duniawi kini menjadi aus oleh tangis penyesalan, rambut pemikat wajahnya dipakai menyeka air mata, dan minyak wangi pengharum tubuhnya dipersembahkan bagi Penebusnya. Perempuan tersebut meretas masa lalunya dan mengubah begitu banyak kesalahan menjadi kebajikan yang setimpal demi melayani Allah. Yesus pun memuji iman dan kasihnya yang besar dengan memberikan kepastian pengampunan serta kedamaian sejati.
3. Bahaya Sikap Menghakimi dan Panggilan Kerendahan Hati
Pengalaman perempuan berdosa ini menjadi peringatan keras agar kita tidak bersikap seperti orang Farisi yang mudah memandang rendah, memberi label negatif, serta menghakimi orang lain. Santo Gregorius menasihati agar saat melihat sesama yang jatuh dalam dosa, kita terlebih dahulu meratapi diri sendiri karena kita pun memiliki kecenderungan untuk jatuh dalam kelemahan yang sama.
Di akhir renungannya, Romo Y. Gunawan mengajak kita untuk merefleksikan wujud pertobatan nyata dalam hidup sehari-hari serta menjauhi kebiasaan menghakimi, sebab kasih dan belas kasih Allah selalu jauh lebih besar daripada sekumpulan dosa manusia.
Romo Danang Sigit Koesworo, Pr (Pastor Paroki Tasikmalaya, Gereja Hati Kudus Yesus):
Meninggalkan Jejak Kebaikan di Jalan Tuhan
1. Hati yang Disentuh Belas Kasih Membuahkan Tindakan Nyata
Sebuah kutipan puitis pada gambar postcard dari Romo Danang mengingatkan kita: “Tindakan baik dan kebaikan adalah cermin dari hati yang hidup dalam jalan Tuhan.” Pesan keindahan yang dipadukan dengan visual langkah kaki di atas jalan bertabur bunga ini sangat selaras dengan peristiwa Injil Lukas 7:36–50, di mana seorang perempuan berdosa datang kepada Yesus bukan dengan kata-kata manis, melainkan dengan tindakan kasih yang nyata. Ia membasahi kaki Yesus dengan air mata, menyekanya dengan rambut, serta menguripinya dengan minyak wangi yang mahal. Langkah hidup yang tertuju kepada Kristus selalu memancarkan kebaikan dan keindahan yang mengubah lingkungan di sekitarnya.
2. Kontras Hati yang Menghakimi dan Hati yang Bertobat
Perjalanan di jalan Tuhan menuntut kita untuk memeriksa benih apa yang kita tinggalkan di sepanjang langkah hidup ini. Simon si Farisi melangkah dengan kesombongan moral dan sibuk menghakimi masa lalu orang lain, sehingga hatinya gersang serta gagal merasakan belas kasih Allah. Sebaliknya, perempuan berdosa tersebut melangkah dalam kerendahan hati dan kesadaran penuh akan ampunan Tuhan, sehingga setiap tindakannya dipenuhi oleh luapan syukur dan kasih yang murni. Kehadiran Kristus menyembuhkan luka-luka batin dan mengubah air mata penyesalan menjadi bunga-bunga sukacita pertobatan.
3. Meninggalkan Jejak Kebaikan dalam Keseharian
Sebagai murid-murid Kristus, kita dipanggil untuk melangkah di jalan Tuhan dengan terus mekar dalam kebaikan, pengampunan, dan belas kasih. Setiap tutur kata yang menyejukkan, kesabaran dalam mendengarkan, serta kerelaan untuk mengampuni adalah bunga-bunga kebaikan yang menghiasi ziarah hidup kita di dunia. Jangan biarkan langkah kita meninggalkan jejak penghakiman atau kepahitan bagi orang-orang yang kita jumpai di keluarga, komunitas, maupun masyarakat. Mari kita terus melangkah bersama Yesus, agar melalui tindakan baik sehari-hari, sesama dapat merasakan betapa indahnya hidup di dalam kasih dan rahmat Tuhan.
KATEKISMUS GEREJA KATOLIK (KGK)
1. Hakikat Pengampunan Dosa dan Belas Kasih Allah
KGK 1422:
”Mereka yang menerima sakramen Pertobatan memperoleh pengampunan dari belas kasih Allah atas pelanggaran yang dilakukan terhadap-Nya. Pada saat yang sama, mereka didamaikan dengan Gereja yang telah mereka lukai dengan dosa mereka.”
KGK 1439:
Kisah Anak yang Hilang dan Pertobatan Jiwa. Proses pertobatan dan pembaruan batin digambarkan secara indah dalam perjumpaan antara jiwa yang berdosa dan Bapa yang maharahim. Seperti perempuan berdosa yang membasahi kaki Yesus, inisiatif Allah yang mencari dan merangkul manusia mendahului setiap langkah pertobatan kita.
2. Hubungan antara Kasih, Pengampunan, dan Iman
KGK 1452:
”Apabila penyesalan itu berasal dari kasih kepada Allah yang dicintai di atas segala-galanya, maka penyesalan itu disebut ‘sempurna’ (penyesalan karena kasih / _contritio). Penyesalan semacam ini menghapus dosa-dosa ringan; ia juga memperoleh pengampunan atas dosa-dosa berat jika disertai niat teguh untuk memadukannya dengan sakramen Pengakuan Dosa secepat mungkin.”
KGK 2011:
Belas kasih Allah yang dicurahkan dalam hati manusia membuahkan kemampuan untuk mengasihi secara tulus. Sebagaimana ditegaskan dalam perumpamaan Yesus, orang yang menyadari betapa besarnya dosa yang telah diampuni akan meluapkan kasih dan syukur yang besar pula dalam tindakan nyatanya.
3. Inti Pewartaan Iman: Wafat dan Kebangkitan Kristus (Kerygma)
KGK 638:
”Kebangkitan Yesus adalah kebenaran puncak dari iman kita dalam Kristus, yang dipercaya dan dihidupi sebagai kebenaran sentral oleh komunitas Kristiani pertama, diteruskan sebagai sesuatu yang mendasar oleh Tradisi, ditegaskan oleh dokumen- dokumen Perjanjian Baru, dan diwartakan sebagai bagian esensial dari Salib.”
KGK 1068:
Melalui rahasia Paskah (Penderitaan, Wafat, dan Kebangkitan-Nya), Kristus melenyapkan kematian dan memulihkan kehidupan kita. Warta yang disampaikan Santo Paulus dalam 1 Korintus 15 menjadi pondasi kokoh bagi pengharapan dan perutusan setiap orang beriman.
4. Larangan Menghakimi dan Panggilan Kerendahan Hati
KGK 2477:
Penghormatan terhadap nama baik setiap orang melarang setiap sikap dan kata-kata yang dapat menimbulkan kerugian yang tidak adil baginya. Gereja mengingatkan agar umat tidak jatuh ke dalam dosa penilaian sembarangan (rash judgment), yaitu memandang rendah, memberi stigma, atau menghakimi batin sesama tanpa dasar yang tulus.
MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA
🍃 Nata Raga
Menata Tubuh dan Tindakan Nyata sebagai Bait Rahmat
Transformasi
Bahasa Tubuh: Belajar dari perempuan berdosa dalam Injil Lukas 7:36–50, tubuh tidak lagi dijadikan sarana melayani pemuasan diri atau Dosa. Air mata penyesalan, usapan rambut, ciuman hormat, dan tuangan minyak wangi di kaki Yesus menjadi wujud konkrit bagaimana raga dipersembahkan menjadi alat pemuliaan Allah.
Tindakan Kasih yang Konkret: Sebagaimana digambarkan dalam ungkapan Romo Danang, setiap langkah kaki di jalan kehidupan hendaknya meninggalkan “jejak-jejak bunga kebaikan”. Menjaga tutur kata yang menyejukkan, mengulurkan tangan bantuan, serta menggunakan fisik untuk melayani sesama adalah cara nyata menata raga agar selaras dengan kehendak Tuhan.
🧠 Nata Pikir
Menata Pikiran dan Membebaskan Batin dari Sikap Menghakimi
Membongkar Prasangka dan Menghindari Stigma: Belajar dari kesalahan Simon si Farisi, kita dipanggil untuk membersihkan pikiran dari kecenderungan menilai orang lain secara dangkal, memberi cap/stigma negatif (seperti pada ilustrasi rekaan Agnes Paijem), atau merasa diri paling benar.
Merenungkan Kebangkitan dan Rahmat Allah: Mengikuti warta Santo Paulus (1 Korintus 15:1–11), pikiran kita diisi oleh kerygma—bahwa Kristus telah wafat dan bangkit demi kita. Kesadaran bahwa kita semua adalah orang berdosa yang telah diampuni untuk membebaskan pikiran dari kesombongan spiritual serta keputusasaan atas masa lalu.
❤️ Nata Rasa
Menata Hati dan Perasaan dalam Kedalaman Belas Kasih
Kejujuran Batin dan Pertobatan Tulus: Hadir di hadapan Tuhan apa adanya, tanpa topeng kesempurnaan. Merasakan kedalaman rasa haru dan syukur atas pengampunan Allah yang maharahim, seperti ditegaskan Santo Paus Yohanes Paulus II bahwa pengampunan membebaskan jiwa dari cengkeraman luka masa lalu.
Meluapkan Belas Kasih kepada Sesama: Rasakan betapa besarnya belas kasih yang telah kita terima dari Tuhan. Luapan rasa dicintai ini (Nata Rasa) secara otomatis melahirkan simpati, empati, kerendahan hati, dan keikhlasan untuk mengampuni sesama tanpa syarat.
Benang Merah:
“Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Luk 7:50). Ketika raga ditata dalam tindakan nyata, pikiran disucikan dari prasangka, dan hati dipenuhi rasa syukur atas ampunan-Nya, hidup kita sungguh menjadi kesaksian yang hidup di dalam jalan Kristus.
NIAT KONGKRET
Nata Raga (🍃):
Hari ini saya akan melakukan satu tindakan kasih nyata secara tersembunyi tanpa mengharapkan balasan—seperti menyapa orang yang terasing, menyedekahkan bantuan, atau membantu pekerjaan rumah—sebagai ungkapan syukur atas kasih Tuhan yang senantiasa menopang raga saya.
Nata Pikir (🧠):
Saya berniat untuk secara sadar menghentikan pikiran yang menghakimi, memberi cap/stigma negatif, atau membicarakan keburukan sesama. Ketika terlintas prasangka buruk, saya akan langsung mendoakan keselamatan bagi orang tersebut.
Nata Rasa (❤️):
Saya mau belajar merendahkan hati untuk melepaskan satu ganjalan kepahitan atau luka masa lalu, serta berani mengambil langkah pertama untuk memaafkan orang yang pernah menyakiti saya, menyadari betapa besarnya ampunan yang telah saya terima sendiri dari Allah.
LAGU ROHANI PENGANTAR DOA
Lagu atau Musik Instrumentalia yang hening dan teduh
DOA HENING
Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.
Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.
PERUTUSAN
Go, and do likewise! Pergilah dalam damai dan jadilah saluran belas kasih Allah di tengah dunia.
Bawa serta rahmat pertobatan dan pengampunan yang telah kita terima hari ini ke dalam keluarga, tempat kerja, dan lingkungan masyarakat.
Jadilah pribadi yang merangkul mereka yang terasing, menghentikan rantai prasangka serta penghakiman, dan senantiasa memancarkan warta sukacita kebangkitan Kristus melalui tindakan kasih yang nyata dan tulus.
”Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (Luk 7:50)
DOA PENUTUP
Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Allah Bapa yang Maharahim, kami mengucap syukur atas limpahan rahmat dan belas kasih-Mu yang telah kami renungkan pada hari ini. Engkau telah mengingatkan kami bahwa kasih-Mu jauh lebih besar daripada sekumpulan dosa dan kelemahan kami.Berilah kami keberanian seperti perempuan berdosa dalam Injil untuk senantiasa datang kepada-Mu dengan hati yang jujur, rendah hati, dan penuh pertobatan.
Bersihkanlah pikiran kami dari sikap mudah menghakimi sesama, dan bukalah hati kami agar mampu menjadi saluran pengampunan serta kedamaian bagi orang-orang di sekitar kami.
Karuniakanlah raga kami agar senantiasa tergerak untuk melakukan tindakan kasih yang nyata demi kemuliaan nama-Mu.
Semua doa dan niat bakti ini kami serahkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.
Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Berkah Dalem, Salam Takzim.






