Paus Leo XIV: “Magnifica humanitas” – Etika Kecerdasan Buatan dan Perlindungan Martabat Manusia

Menandai 135 tahun ensiklik Rerum novarum, Paus Leo XIV menerbitkan ensiklik pertamanya berjudul “Magnifica humanitas: Tentang Melindungi Pribadi Manusia di Era Kecerdasan Buatan.” Dokumen ini menyerukan perlindungan kemanusiaan, kebenaran, martabat kerja, keadilan sosial, dan perdamaian.

Paus membuka dengan peringatan bahwa umat manusia kini menghadapi pilihan penting: membangun “Menara Babel baru” atau membangun masyarakat di mana Tuhan dan manusia hidup bersama. Ia menegaskan bahwa teknologi bukan musuh manusia atau kejahatan pada dirinya sendiri, tetapi juga tidak netral karena dipengaruhi oleh pencipta, pengguna, dan kepentingan di belakangnya.

Martabat manusia sebagai dasar utama

Paus menekankan bahwa martabat manusia melekat pada setiap pribadi dan tidak bergantung pada produktivitas atau pencapaian. Hak asasi manusia, terutama hak untuk hidup, harus dijaga dari awal kehidupan hingga akhir alami. Paus juga menyoroti pentingnya perlindungan kelompok minoritas, termasuk perempuan, melalui kebijakan konkret dalam pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial-politik.

Prinsip-prinsip sosial dan keadilan
Ensiklik ini menegaskan 5(lima) prinsip utama ajaran sosial Gereja:

  1. Kebaikan Bersama (Bonum Commune)
  2. Tujuan Universal Barang (Universal Destination of Goods)
  3. Subsidiaritas (Subsidiarity)
  4. Solidaritas (Solidarity)
  5. Keadilan Sosial (Social Justice)

Paus menekankan bahwa teknologi tidak boleh dikuasai oleh segelintir orang karena dapat memperlebar kesenjangan digital. Ia juga menyatakan bahwa cara memperlakukan migran adalah “ujian” bagi keadilan sosial suatu masyarakat

Kecerdasan buatan harus dikendalikan secara etis

Paus memperingatkan bahaya paradigma teknokratis yang menilai segala sesuatu hanya berdasarkan efisiensi dan keuntungan. AI dapat meniru manusia, tetapi tidak memiliki hati nurani, empati, maupun dimensi spiritual.

Paus menyerukan tentang kerangka hukum dan kebijakan yang jelas, pengawasan independen
pengguna pendidikan, dan standar etika global

Selain itu, Paus menekankan bahwa dampak lingkungan AI juga harus diperhatikan karena konsumsi energi dan air yang besar.

“Melucuti” AI dan menolak dominasi teknologi

Paus mengajak untuk “melucuti” AI dari logika persaingan militer, ekonomi, dan kognitif. Artinya bukan menolak teknologi, tetapi mencegahnya mendominasi manusia. Paus juga mengkritik transhumanisme, yang ingin melampaui batas manusia. Menurutnya, keterbatasan justru bagian penting dari kemanusiaan yang memungkinkan relasi dan keterbukaan terhadap sesama serta Tuhan.

Kerja, pendidikan, dan komunikasi di era digital

Dalam era revolusi industri keempat, Paus menekankan pentingnya menjaga martabat kerja, teknologi harus mendukung manusia, bukan memaksa manusia mengikuti mesin, pendidikan harus tetap memupuk kemampuan berpikir kritis, dan komunikasi digital harus berbasis kebenaran dan transparansi

Paus juga mendorong perlindungan data pribadi dan praktik jurnalisme yang bertanggung jawab.

Ancaman terhadap kebebasan dan masyarakat

Paus mengingatkan risiko tentang pengawasan massal melalui data, manipulasi opini publik, dan diskriminasi akibat algoritma.

Paus menyebut adanya “arsitektur visibilitas” di platform digital yang membentuk opini publik secara tidak seimbang.

AI, perang, dan perdamaian

Ensiklik ini juga menyoroti bahwa revolusi digital mengubah sifat peperangan. Paus menegaskan bahwa tidak ada algoritma yang dapat membuat perang menjadi bermoral. Paus menyerukan Batas etika yang ketat dalam penggunaan AI di militer, Perlindungan warga sipil, dan Pengurangan militerisasi

Paus juga mengajak melampaui konsep “perang yang adil” dan menggantinya dengan dialog, diplomasi, dan pengampunan

Menuju “peradaban kasih”

Sebagai penutup, Paus menyerukan pembangunan “peradaban kasih” sebagai alternatif dari budaya kekuasaan, yang mencakup : mengutamakan kebenaran dalam komunikasi, membangun perdamaian berbasis keadilan, membela korban ketidakadilan, dan mengembangkan dialog antaragama.

Magnifica humanitas menegaskan bahwa perkembangan AI harus berada di bawah kontrol etika dan moral yang berorientasi pada martabat manusia, keadilan sosial, dan perdamaian global. Ensiklik ini mengusulkan paradigma alternatif terhadap determinisme teknologi, yaitu paradigma human-centered AI yang menekankan tanggung jawab kolektif, solidaritas, dan keberlanjutan.

Sumber : https://www.vaticannews.va/

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *