CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh Basuki Ismael
Pekan Biasa VIII, Kamis Kliwon, 28 Mei 2026 – Peringatan Santo Bernardus dari Menthon, Santo Germanus dari Paris, Beata Margareta Pole
Warna Liturgi: Hijau – FIDES SALVANS
Iman yang Menyelamatkan
Pengantar
Mengapa Bartimeus berteriak memanggil Yesus di tengah kerumunan yang melarangnya? Karena ia melihat Yesus bukan sekadar penyembuh, tetapi Mesias yang akan mampu mengubah hidupnya secara total.
Iman sejati Bartimeus bukanlah sekadar teori, melainkan tindakan nekat untuk berjumpa dengan Kristus. Yesus membuang “jubah pengemis” kita dan menyerahkan masa depan kita sepenuhnya ke dalam tangan-Nya.
Pesan Utama :
Iman Bartimeus adalah iman yang berani “melihat” untuk melampaui segala hambatan duniawi. Meski orang banyak mencoba membungkam, ia justru semakin keras berseru memanggil-Nya.
Hasilnya, Bartimeus tidak hanya disembuhkan secara fisik, tetapi jiwanya diselamatkan. Bukti iman kita hari ini adalah kesetiaan kita mengikuti langkah Yesus dalam pelayanan harian yang nyata.
Salah seorang pembaca setia Capita Selecta memberi komentar bahwa contoh praktis tentang ‘Niat, Respon, dan Peran’ membuat iman yang tadinya abstrak menjadi sangat membumi dan mudah diterapkan dalam keseharian hidup.
Contoh Refleksi :
Tentang Niat : Iman Bartimeus sangat murni; ia meminta kerahiman, bukan harta duniawi. Apakah niat kita saat beribadah masih sering tercampur dengan keinginan untuk diakui?
Tentang Respon : Saat orang lain menyuruh Bartimeus diam, ia justru makin keras berseru. Bagaimana respon kita saat menghadapi tantangan atau hambatan iman?
Tentang Peran : Setelah sembuh, Bartimeus segera berdiri dan mengikuti Yesus di jalan-Nya. Inilah peran sejati murid; menjadi saksi aktif yang berjalan bersama Kristus.
PEMANDU BACAAN : HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN
Bacaan Pertama
(1 Ptr 2:2-5, 9-12):
Rm. B. S. Mardiatmadja, SJ : Tuhan Allah memberikan hidup yang sempurna kepada manusia sejak awal penciptaan. Dosa dan noda telah menyebabkan hidup manusia kehilangan keutuhan yang dianugerahkan Allah. Bacaan pertama mengingatkan kita akan cinta kasih Allah yang senantiasa memanggil manusia untuk pulih kembali.
Kesehatan dan keutuhan diri adalah tanda nyata dari anugerah berkah Allah yang penuh kasih.
Rm. Willem Pau, Pr : Kita adalah “batu hidup” yang dipakai untuk membangun rumah rohani Allah yang mulia. Kita dipanggil untuk menjadi bangsa pilihan guna mewartakan perbuatan besar Allah di dunia.
Meski hidup di tengah nilai dunia yang kontras, jadilah kesaksian nyata.
Seperti kata St. Yohanes Paulus II: “Jangan takut! Bukalah lebar-lebar pintu bagi Kristus.”
Paulus Krissantono / Ign. Harry Respatyo (RAGI) : Rasul Petrus mengajak kita untuk memiliki cara hidup yang baik di tengah dunia yang tidak mengenal Allah.
Meski difitnah sebagai pelaku kejahatan, perbuatan baik kita akan menjadi saksi yang memuliakan Tuhan. Kita dipanggil untuk mengalahkan kejahatan dengan kebaikan dalam setiap langkah kehidupan kita.
Kebaikan Tuhanlah yang menjadi landasan utama bagi kita untuk senantiasa berbuat baik kepada sesama.
Transitus Mazmur
(Mzm 100: 2.3.4)
Ayat 2: Ketahuilah, bahwa Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita, dan punya Dialah kita; kita ini umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.
Ayat 3: Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, masuklah pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya, dan pujilah nama-Nya!
Ayat 4: Sebab Tuhan baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.
Bacaan Injil
(Markus 10: 46-52)
Rm. B. S. Mardiatmadja, SJ : Pada saat Yesus menyapa para murid dalam perjalanan merasul, dosa dan noda derita manusia dapat disembuhkan. Tuhan senantiasa berkenan untuk memulihkan manusia baik lahir maupun batin hingga saat ini.
Pemulihan ini bertujuan agar manusia dapat melaksanakan pengutusan Allah dengan diri yang kembali dimurnikan. Mari kita senantiasa berdoa agar Sang Penebus memulihkan noda lahir dan batin kita menjadi utuh kembali.
Laurentius Elyas Nugraha (Lumen Mundi) : Bartimeus sadar bahwa hanya Kristus yang mampu menyembuhkan kelemahan terdalamnya.
Ketika Yesus bersabda Fides tua te salvum fecit, Ia menegaskan bahwa iman adalah penyerahan diri sepenuhnya. Seperti kata St. Sirilus: Fides est porta vitae, iman adalah pintu menuju kehidupan yang sejati.
Mukjizat Bartimeus bukan hanya penglihatan fisik, melainkan keputusan untuk mengikuti Yesus selamanya.
Rm. A. Joko Purwanto, Pr (Puncta) : Perjumpaan dengan Rm. Andika Bayangkara, Pr di pedalaman Keuskupan Ketapang selalu mencerahkan jiwa kami.
Kami melihat mukjizat Tuhan di setiap senyum tulus umat yang rindu akan Ekaristi. Pelayanan di sana memang penuh tantangan medan yang sangat berat. Namun, kerinduan umat untuk berkata, ‘Rabuni, supaya aku dapat melihat,’ adalah mukjizat nyata bagi kami.
Rm. Hans Wijaya, Pr : Bartimeus adalah teladan doa yang jujur dan keberanian mengikuti Kristus dengan totalitas.
Kita sering ‘buta’ akan kasih Tuhan karena terlalu sibuk dengan suara dunia yang bising.
Injil hari ini mengajak kita untuk berdoa jujur apa adanya kepada Tuhan. Jangan pernah berhenti berseru meski ditolak, dan ikutilah Yesus dengan setia.
TRANSITUS : SABDA MENJADI DAGING
Paulus Krissantono/Ign. Harry Respatyo (RAGI) : Bartimeus mengajarkan kita untuk tidak lelah dan tidak malu berseru kepada Yesus di tengah tantangan hidup.
Ketika Tuhan memanggil, ia segera bangkit, menanggalkan jubahnya, dan bergegas menemui Sang Guru dengan iman yang total. Keteguhan hatinya dalam iman membuat Yesus berhenti dan secara pribadi memulihkan hidupnya.
Mari kita pun berani menanggapi panggilan-Nya untuk menjadi saksi kebenaran dan kasih di tengah dunia.
Rm. Nico Liem Tjay, OMI : Mengikuti Yesus berarti berani meninggalkan segala beban masa lalu yang mengekang hidup kita. Kebaikan dan kelembutan Tuhan adalah kunci yang memulihkan penglihatan batin kita seperti Bartimeus.
Dengan iman, kita akan mengalami secara nyata kelembutan kasih Tuhan yang menuntun menuju keselamatan. Semoga pengalaman akan kebaikan-Nya ini membawa kita pada hidup baru dalam terang kasih-Nya.
MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA
NATA RAGA :
Disiplin dalam doa dan pelayanan nyata.
NATA PIKIR :
Melihat hambatan sebagai sarana untuk semakin dekat pada Tuhan.
NATA RASA :
Mengasah kepekaan mendengar suara Yesus.
NIAT KONGKRET :
Menyisihkan 10 menit hening: “Tuhan, apa yang ingin Engkau pulihkan dalam hidupku hari ini?”
KARTU IMAN
Rm. Nico Liem Tjay, OMI : “Aku memiliki tiga hal berharga yang kupegang teguh: kelembutan, hemat, dan kerendahan hati.
Bersikaplah lemah lembut maka kamu akan menjadi berani; hematlah maka kamu bisa menjadi dermawan; hindari menempatkan diri di atas orang lain maka kamu akan menjadi pemimpin sejati yang rendah hati. Ingatlah selalu bahwa ‘Sura dira jaya ningrat, lebur dening pangastuti’ — segala bentuk kekerasan, amarah, dan kesombongan akan luluh oleh kelembutan dan kasih sayang.”
MUTIARA IMAN
Rm. Danang Kusworo, Pr: “Allah itu baik. Aku sungguh percaya ini. Ada bisikan lembut, sapalah nama-Nya dengan syukur dan hormat.
IA mendengarkan. IA selalu bertindak untuk yang terbaik bagiku. Aku tak pernah ragu. Jiwaku ini milik pusaka dan kesayangan-Nya, kendati kadang kotor.”
DOA HENING :
Tuhan, curahkanlah rahmat-Mu bagi seluruh pelayan Gereja. Berkatilah komunitas Capita Selecta agar selalu memancarkan terang iman-Mu dalam karya dan kasih. Amin.
PERUTUSAN :
In fide ambulate; Christum fiducialiter invocate. Jalani hidup dalam iman; berserulah kepada Kristus dengan penuh kepercayaan. Berkah Dalem.
Kontributor : Rm. Nico Liem Tjay, OMI







