Terang dan Garam Dunia – 09 Juni 2026

​CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words
​Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – ​Oleh Basuki Ismael
​Pekan Biasa X, Selasa 9 Juni 2026
Warna Liturgi: Hijau – ​Peringatan Santo Efrem, Santo Felisianus, Santo Joseph Anchieta, Santo Primus
Lux et Sal Mundi – Terang dan Garam Dunia

Pengantar

Satu teologi batin yang sangat kokoh mengikat seluruh rangkaian liturgi hari ini: rahmat Allah tidak pernah dimaksudkan untuk disimpan secara egois dalam ruang gelap isolasi batin, melainkan untuk dipancarkan keluar menjadi jawaban nyata atas kegelapan dan hambar dunia.

Melalui tuntunan Fr. Mike Schmitz dalam The Bible in a Year Study Guide, kita diingatkan bahwa dari mukjizat minyak dan tepung janda Sarfat yang tak kunjung habis hingga panggilan Yesus di atas bukit untuk menjadi garam dan terang, seluruh rencana penyelamatan Allah menuntut sebuah kerelaan radikal dari manusia untuk membiarkan dirinya diubah dari sekadar penerima berkat menjadi saluran berkat yang menghidupkan.

Yesus memberi nasihat agar para murid menjadi terang dan garam dunia; di mana terang bertugas mengungkapkan serta menyingkapkan apa yang tersembunyi dalam kegelapan dosa, sedangkan garam memberikan rasa, pengawetan moral, serta kesegaran iman akan kebenaran, kasih, dan damai di tengah situasi sosial yang gersang.

​Sebuah ilustrasi nyata yang mendalam membawa ingatan saya kembali pada tahun 1981 saat mengalami Masa Tahun Rohani di Samadi Klender.

Kala itu, Romo Rektor Calon Imam Keuskupan Agung Jakarta, almarhum Rm. Alex Dirdja, SJ, memberikan sebuah Puncta harian yang begitu menghujam dan masih saya ingat dengan sangat jernih sampai hari ini.

Di suatu siang, di tengah masa silentium magnum (waktu istirahat tenang) antara pukul 13.30 hingga 15.00 yang seharusnya dijaga dengan keheningan penuh, seorang Frater justru menuruti ego pribadi dengan naik ke atas genting sirap demi bermain layang-layang.

Romo Alex Dirdja, SJ dengan tegas namun sarat makna menegur tindakan tersebut dengan menyebutnya sebagai “lempung kathokan” — sebuah metafora tajam tentang tanah liat tak berjiwa yang dipakaikan celana baju, namun hanya bergerak liar menuruti kepuasan ego mentah, tanpa peduli bahwa tindakannya telah merusak aturan bersama yang sudah disepakati dalam masa formatio (pembentukan diri) serta merampas hak istirahat saudara-saudaranya.

Sang “lempung kathokan” ini kehilangan seluruh kapasitasnya untuk menjadi terang karena dirinya membiarkan diri dikuasai kegelapan kebebasan semu, dan ia gagal total menjadi garam bagi sekelilingnya karena memilih melakukan hal yang tidak berguna bagi formasi jiwanya sendiri maupun bagi komunitas.

Cerita nyata ini saya sharingkan agar kita semua senantiasa mawas diri, mencabut segala sifat egoisme lempung kathokan dari ruang batin kita, sehingga keberadaan raga, pikir, dan rasa kita benar-benar memancarkan esensi sejati sebagai terang dan garam yang memberi dampak kudus bagi sesama.

​Pesan Utama:

Pesan utama dari seluruh rangkaian bacaan hari ini berpusat pada “Panggilan Radikal untuk Menjadi Saksi Iman yang Menghidupkan Melalui Keberanian Mengosongkan Ego Demi Menjadi Saluran Berkat, Terang, dan Garam bagi Sesama.”

Pesan ilahi ini dijabarkan secara runtut melalui tiga pilar kebenaran:

Bergantung Mutlak kepada Penyelenggaraan- Nya: Belajar dari janda di Sarfat yang rela melepaskan sisa makanan terakhirnya demi menuruti perintah nabi Allah, membuktikan bahwa mukjizat pemeliharaan ilahi hanya terjadi ketika manusia berani mengalahkan kecemasan materi demi ketaatan iman.

​Identitas Murid sebagai Semesta Berkat: Menghidupi maklumat Yesus bahwa murid Kristus tidak memiliki pilihan untuk bersembunyi atau menjadi tawar; esensi keberadaan seorang Kristen adalah berfungsi secara aktif mewarnai dunia dengan rasa kasih dan menerangi kegelapan zaman dengan kebenaran.

​Pancaran Kemuliaan Bapa melalui Tindakan Nyata: Menempatkan setiap perbuatan baik bukan sebagai sarana mencari puji-pujian duniawi bagi ego pribadi, melainkan sebagai cermin murni yang membuat orang lain melihat, merasakan, dan akhirnya memuliakan Allah Bapa di surga.

​PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN

​Bacaan Pertama
​(Kitab Pertama Raja-Raja 17: 7-16)

Intisari:
Elia meminta janda Sarfat untuk memberinya makan. Ini merupakan iman yang besar. Makanan yang tersisa hanya cukup untuk si janda dan anaknya.

​Rm. Willem Pau, Pr: Memberikan kesaksian mendalam bagaimana Allah berkarya melalui iman dan ketaatan yang sederhana.

Setelah Sungai Kerit mengering karena musim kemarau, Tuhan menyuruh Nabi Elia pergi ke Sarfat.

Di sana ia bertemu seorang janda miskin yang sedang mengumpulkan kayu bakar untuk menyiapkan makanan terakhir bagi dirinya dan anaknya sebelum menyerah pada kelaparan, sebab ia hanya memiliki segenggam tepung dan sedikit minyak.

Secara manusiawi, permintaan Elia agar janda itu mendahulukan dirinya tampak tidak masuk akal, namun janda itu memilih untuk percaya dan bertindak berdasarkan iman, bukan perhitungan logis semata.

Mukjizat pun terjadi bukan dalam bentuk gudang yang penuh secara tiba-tiba, melainkan dalam bentuk kecukupan yang terus diperbarui setiap hari; tepung dalam tempayan tidak habis dan minyak dalam buli-buli tidak berkurang.

Kisah ini mengajar kita bahwa iman sejati diuji justru ketika keadaan tampak mustahil.

Janda Sarfat tidak memberi dari kelimpahannya melainkan dari kekurangannya, menunjukkan teladan dari apa yang dikatakan Santa Teresa dari Kalkuta: “Tuhan tidak meminta kita untuk berhasil, tetapi untuk setia.”

Di tengah kekhawatiran hidup sehari-hari seperti masalah ekonomi, kesehatan, atau pekerjaan, Tuhan juga berkata, “Jangan takut.”

Kita diundang untuk mempercayakan diri kepada-Nya dan tetap murah hati untuk berbagi meskipun dalam keterbatasan, karena iman yang hidup adalah kepercayaan bahwa Tuhan akan selalu setia menyertai.

AC Eko Wahyono (Lectio Divina): Setelah Elia menyampaikan pesan Allah pada Raja Ahab bahwa negeri itu tidak akan mendapatkan setetes embun selama beberapa tahun, ia diminta Allah bersembunyi di tepi Sungai Kerit hingga kekeringan melanda.

Ia kemudian diminta pergi ke daerah Sidon dan menetap di Sarfat, kota di tepi Laut Mediterania.

Wilayah itu dikuasai oleh ayah Izebel, Etbaal, sehingga Elia justru diutus ke pusat penyembahan Dewa Baal.

Di sana, ia ditampung dan dihidupi oleh seorang janda miskin non-Yahudi yang hampir kelaparan dan sedang mengumpulkan ranting untuk menyiapkan makanan terakhir bagi dirinya dan anaknya sebelum bersiap menyongsong kematian.

Elia merendahkan diri menyerahkan hidup ke tangan orang asing yang dianggap kafir oleh bangsanya, percaya penuh pada janji pemeliharaan Allah.

Ketika janda itu ragu, Elia meneguhkan dengan ungkapan iman, “Janganlah takut” (Noli timere).

Janda itu diminta memberikan seluruh apa yang ia punya, termasuk hidupnya sendiri, untuk menopang pembawa firman Allah—sebuah tuntutan Perjanjian Sinai yang justru kerap ditingkari oleh umat Israel sendiri.

Ketaatan radikal perempuan asing ini membuat firman Tuhan menjadi nyata: tepung dalam tempayan tidak habis dan minyak dalam buli-buli tidak berkurang hingga Tuhan menurunkan hujan.

​TRANSITUS:
​(Mazmur 4: 2-3.4-5.7-8)

​Mazmur Tanggapan:
Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya Tuhan.

​Fr. Mike Schmitz dalam The Bible in a Year Study Guide menceritakan latar belakang Mazmur 4 sebagai sebuah kidung kepercayaan yang lahir dari lubuk hati Daud di tengah situasi pelarian dan kepungan musuh-musuh yang menghina martabatnya.

Ketika banyak orang di sekelilingnya mulai putus asa dan berkata, “Siapa yang akan memperlihatkan kebaikan kepada kita?”, Daud tidak mencari perlindungan pada taktik militer atau aliansi manusiawi, melainkan mengarahkan batinnya dalam doa hening yang mendalam.

Fr. Mike Schmitz menekankan bahwa seruan pemazmur memohon cahaya wajah Tuhan menyinari umat-Nya merupakan rujukan teologis pada berkat imamat Harun, sebuah permohonan akan rasa aman yang intim.

Sukacita yang dianugerahkan Tuhan di dalam hati jauh melebihi kegembiraan duniawi saat panen gandum dan anggur berlimpah, mengajarkan bahwa kedamaian batin sejati hanya muncul ketika kita tidur dengan tenang di bawah perlindungan mutlak-Nya.

​Bacaan Injil:
(Matius 5: 13-16)

​Intisari:
Yesus memberi nasihat agar para murid menjadi terang dan garam dunia.
Terang mengungkapkan apa yang tersembunyi. Garam memberi rasa akan kebenaran kasih, dan damai.

​Laurentius Elyas Nugraha (Lumen Mundi): Mengutip kebenaran ilahi bahwa firman Tuhan bergema nyaring melalui amanat agung Vulgata: “Sic luceat lux vestra coram hominibus, ut videant opera vestra bona et glorifient Patrem vestrum qui in caelis est” (Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga).

Kehadiran orang beriman sejatinya dirancang untuk membawa pengaruh luhur, karena opera bona testimonium fidei—perbuatan baik adalah kesaksian murni dari iman yang hidup.

Menghidupi sabda ini, Santo Yohanes Krisostomus secara radikal memperingatkan: “Non sufficit virtutem habere, nisi etiam aliis prosimus” (Tidak cukup memiliki kebajikan, jika kita tidak membawa manfaat bagi sesama).

Ketika janda di Sarfat rela berbagi roti terakhirnya di tengah himpitan paceklik, Santo Basilius Agung menyentak kesadaran kita: “Panis quem retines esurientium es” (Roti yang engkau simpan adalah milik orang yang lapar).

Oleh sebab itu, mengutip ketegasan teologis Santo John Henry Newman: “Sanctitas est facere ordinaria extraordinario modo” (Kekudusan sejati adalah melakukan hal-hal biasa dengan cara yang luar biasa).

Kesaksian hidup yang bersahaja namun dijalani dengan kesetiaan total, kejujuran, kerendahan hati, serta kemurahan hati untuk saling mengampuni, akan bertransformasi menjadi pelita iman institusional yang menyingkapkan kegelapan kepalsuan sosial dan menuntun seluruh jiwa memuliakan Allah Bapa di surga.

Rm. A. Joko Purwanto, Pr (Puncta): Memberi kisah teologis yang mendalam mengenai Laut Mati (The Dead Sea) yang terletak di perbatasan Yordania dan Palestina.

Dengan kadar garam mencapai 340 gram per liter, airnya tidak memungkinkan biota untuk hidup, namun saking tingginya kepekatan tersebut, manusia dapat mengapung bagaikan gabus tanpa tenggelam. Ajaibnya, lumpur dari tempat yang tampak mati ini justru membawa kegunaan besar bagi kesehatan dan obat kecantikan manusia.

Garam memang memiliki berlaksa manfaat: melezatkan masakan, meredakan letih linu saat dicampur air hangat, menghalau ular, hingga menjadi sarana tradisional menolak kilat dan hujan petir di halaman rumah.

Oleh karena itu, Yesus memakai metafora ini agar kita membuang mentalitas hambar dan meniru nasihat luhur orangtua: “urip sing migunani tumrap liyan” (hidup mesti berguna bagi sesama) serta “urip iku kudu urub” (hidup harus menyala), laksana buluh yang rela dibakar habis, menderita, dan mengosongkan diri demi menerangi kegelapan sekitar agar nama Bapa di surga dimuliakan.

Rm. Hans Wijaya, Pr: Menegaskan bahwa ketika Yesus mendeklarasikan identitas pengikut-Nya sebagai garam dan terang dunia, Ia tidak sedang memberikan sebuah opsi atau tugas tambahan yang bersifat opsional, melainkan menetapkan sebuah panggilan hidup yang mutlak.

Menjadi garam berarti kita dipanggil untuk melebur ke dalam realitas masyarakat tanpa kehilangan jati diri Kristen kita; siap memberikan rasa kasih, menjaga moralitas dari kebusukan zaman, dan memurnikan lingkungan pergaulan dari pengaruh buruk egoisme.

Menjadi terang berarti seluruh perbuatan baik kita harus diletakkan secara terbuka di atas kaki dian kehidupan, bukan untuk disembunyikan di bawah gantang ketakutan atau kemalasan rohani.

Rm. Hans mengingatkan bahwa esensi dari seluruh perbuatan baik dan terang Kristen tersebut bukan ditujukan untuk membangun kebanggaan ego pribadi, melainkan murni sebagai sarana transparan agar dunia dapat melihat kehadiran Allah dan memuliakan Bapa di surga.

AC Eko Wahyono (Lectio Divina): Menjabarkan secara mendalam makna eksistensial kedua metafora tersebut.

Sejatina, sejak zaman kuno, garam adalah elemen penting rumah tangga yang berfungsi sebagai pengawet makanan (seperti ikan asin pada zaman Romawi), menjaga kesehatan, menjadi sarana pemurni/penjernih, hingga sebagai penyubur tanaman bagi petani.

Jika pengikut Kristus kehilangan rasa aslinya, mereka menjadi tawar laksana garam Laut Mati yang rusak kualitasnya, tidak berguna lagi selain dibuang dan diinjak orang.

Ketika dunia menghadapi kebusukan spiritual, orang Kristen wajib mengawetkan apa yang baik melalui cara hidup benar yang ditimba dari Ekaristi.

Di sisi lain, terang dunia yang sejati adalah Yesus Kristus (Ego sum lux mundi). Namun, Yesus mempercayakan status itu kepada murid-mudid-Nya agar menjadi “anak-anak terang” yang memancarkan karya-Nya.

Perbuatan baik orang Kristen adalah cahaya nyata yang menyingkirkan dosa dan maut.

Menolak mewartakan Injil atau hidup berkompromi dengan kegelapan sama saja dengan meletakkan pelita di bawah tempayan.

Tantangan nyata anak-anak terang hari ini mencakup perjuangan menegakkan keadilan sosial, hak asasi manusia, pembelaan nilai kehidupan (pro vita), pelestarian alam, serta merawat kebhinekaan, sekalipun dunia kerap membenci para saksi kebenaran ini.

​TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING

​Rm. B.S. Mardiatmadja, SJ: Sejak dini, anak cucu Abraham-Ishak-Yakub melalui masa para Raja, telah mensyukuri kemurahan hati Allah, yang menyelenggarakan hidup seluruh umat.

Segala alam semesta dipenuhi dengan cahaya iman sehingga hidup mereka disinari oleh Kasih Sayang Ruach Allah, sehingga Sang Putera datang kepada Maria untuk melaksanakan Pengutusan Allah, Pencipta Langit dan Bumi.

Melalui Kitab 1 Raja-Raja 17: 7-16, kita diingatkan bagaimana para Leluhur senantiasa dinaungi berkah iman sehingga kehidupan memperoleh Cahaya Iman yang membawa serta keteguhan, sukacita, dan kegembiraan.

Injil Matius 5: 13-16 pun menggarisbawahi janji Allah bahwa berkah-Nya memberikan Cahaya Iman yang menyebabkan segalanya senantiasa dipenuhi Terang Iman.

Kita diutus untuk membuka diri dan hati demi menyebarluaskan sukacita iman ini, menyambut janji Allah yang menerangi hidup pribadi serta komunitas kita demi Kemuliaan Ilahi.

​Rm. Hans Wijaya, Pr menyentuh renungan tentang aspek raga, aspek pikir, aspek rasa dari bacaan hari ini melalui pembagian praktis harian:

​Aspek Raga: Disiplinkan tubuh kita agar tidak menjadi instrumen kesia-siaan yang mengganggu ketenangan sesama demi kepuasan ego belaka.

Gerakkan raga kita untuk aktif bekerja, mengulurkan bantuan nyata bagi sesama, dan menempatkan diri di tempat-tempat yang membutuhkan pelita kebaikan secara konkret.

​Aspek Pikir: Bersihkan pikiran kita dari pola pikir duniawi yang selalu mencari panggung popularitas atau keuntungan materi secara instan.

Latihlah akal budi untuk terus merenungkan cara-cara kreatif dalam menyebarkan kebenaran Kristus, berpikir jernih, dan menolak segala bentuk pemikiran negatif yang merusak kedamaian bersama.

​Aspek Rasa: Jagalah kemurnian ruang batin agar senantiasa peka terhadap penderitaan sesama seperti rasa belas kasih yang menggerakkan janda Sarfat.

Rasakan kedamaian yang mendalam karena batin kita senantiasa diterangi oleh kehadiran wajah Tuhan, sehingga hati kita menjadi sumber sukacita bagi lingkungan sekitar.

MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA

​NATA RAGA (Discipline of the Body):

​Kehadiran yang Menyejukkan: Menjaga keheningan fisik dan menghormati waktu serta ruang privasi orang lain, menjauhi tindakan-tindakan konyol yang mengganggu kenyamanan bersama demi memuaskan keinginan ego sesaat.

​Tindakan Berbagi yang Nyata: Menggunakan tangan dan harta fisik kita untuk menolong sesama yang berkekurangan secara nyata, mendahulukan kepentingan orang yang menderita di atas kenyamanan lahiriah diri sendiri.

Menambahkan rasa kebaikan dengan melakukan hal-hal kecil yang meringankan beban sesama, seperti melempar senyum tulus, memberikan perhatian, atau memberikan bantuan sederhana.

​Integritas Perilaku: Melatih tubuh untuk bertindak disiplin, menghidupi aturan moral yang berlaku, serta menggunakan gerak raga kita sebagai pelita kebaikan yang dapat dilihat dan dicontoh oleh lingkungan sekitar.

NATA PIKIR (Discipline of the Mind):

​Pola Pikir Penuh Kebenaran: Memurnikan pikiran dari prasangka buruk, kelicikan, dan egoisme batin; selalu mengedepankan objektivitas dan kejujuran intelektual dalam menilai segala situasi kehidupan.

​Orientasi Solutif yang Bijak: Melatih pikiran untuk fokus menunjukkan iman melalui tindakan nyata di tengah masyarakat; berpikir secara jernih untuk berbuat baik bukan demi dipuji atau mencari panggung duniawi, melainkan murni agar orang lain melihat dan memuliakan kasih Allah.

​Menghidupi Pikiran Kristus: Mengadopsi cara pandang Allah yang memandang setiap pribadi berharga, membebaskan budi dari kelekatan pada kesuksesan semu duniawi, dan menaruh fokus utama pada kemuliaan-Nya.

NATA RASA (Discipline of the Feeling):

​Kepekaan Rasa yang Murni: Mengasah rasa empati rohani agar mampu mengalirkan rasa kasih, ketulusan, serta kedamaian yang mendalam kepada orang-orang di sekitar kita yang sedang mengalami kegelapan hidup.

​Kepasrahan Batin Radikal: Membina rasa ketergantungan penuh kepada penyelenggaraan Allah, menyingkirkan kecemasan atau ketakutan akan masa depan materi, kesehatan, dan pekerjaan, serta menjaga hati agar tetap penuh dengan rasa percaya yang teguh.

​Pancaran Kedamaian Batin: Hadir di tengah komunitas sebagai penahan kerusakan moral; membentengi batin agar berani bersikap teguh menolak gosip, ketidakjujuran, atau segala sikap destruktif yang merusak tatanan sosial, meskipun harus berjuang sendirian.

​Refleksi Mendalam dari Paulus Krissantono / Ign. Harry Respatyo (RAGI): Krisis kehidupan dapat menimpa siapa saja dan kapan saja, namun Kristus memanggil kita untuk tetap menjadi garam dan terang dunia bahkan ketika hidup kita sendiri sedang terdesak.

Mukjizat terjadi ketika kita memilih untuk tetap taat sepenuhnya dan percaya pada janji-janji Allah di tengah situasi yang mustahil.

Menjadi garam dunia berarti perkataan, perilaku, dan tindakan kita harus membawa rasa kejujuran, keadilan, dan kedamaian bagi lingkungan sekitar kita, bukannya menjadi batu sandungan.

Mengikuti Kristus tidak pernah hanya tentang memupuk kesalehan pribadi semata, melainkan tentang mengubah iman personal kita menjadi berkat nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat di masa krisis.

​NIAT KONGKRET:

​Hari ini saya berkomitmen untuk berbagi sesuatu kepada orang lain—baik itu waktu, perhatian, bantuan, ataupun rezeki—meskipun sederhana, sebagai wujud nyata ungkapan kepercayaan bahwa Tuhan senantiasa mencukupi segala kebutuhanku.

​DEVOSI:

​Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Santo Efrem, Santo Felisianus, Santo Joseph Anchieta, Santo Primus

​O Santo Efrem, Santo Felisianus, Santo Joseph Anchieta, dan Santo Primus, para gembala dan saksi iman yang kudus, yang telah mengorbankan seluruh hidupnya menjadi garam yang memberi rasa iman dan terang yang menuntun jiwa-jiwa kepada Kristus, doakanlah kami.

Bantulah kami agar memiliki keteguhan hati untuk membuang segala keangkuhan ego “lempung kathokan” dan karuniakanlah kami kemurnian batin untuk selalu setia hidup dalam ketaatan firman Tuhan.

Hantarkanlah doa hening kami ke hadapan takhta Allah agar raga, pikir, dan rasa kami senantiasa dipenuhi urapan Roh Kudus, sehingga seluruh hidup kami layak memancarkan kemuliaan Bapa Surgawi kini dan sepanjang masa. Amin.

​KARTU IMAN

Rm. Nico Liem Tjay, OMI: dengan mengutip Henri Nouwen, Rm. Nico menulis renungan singkat tentang “Keramahan adalah garam yang berkualitas di tengah perbedaan dan keanekaragaman hidup di dunia ini.

Dengan kasih sayang dan pengampunan, kita akan menemukan kebahagiaan, kedamaian dalam hati dan hidup kita.

Keramahan sejati adalah menyambut orang asing dengan caranya sendiri. Jenis keramahan ini hanya dapat ditawarkan oleh mereka yang telah menemukan pusat kehidupan mereka di dalam hati mereka sendiri.”

Caranya menurut Rm. Nico Liem Tjay, OMI adalah:
相敬如宾 (xiāng jìng rú bīn) – Saling memperlakukan dengan hormat.

​Betapa panggilan ini sangat tinggi dan kudus! Tuhan telah memanggil kita untuk menyambut, bukan dengan setengah hati dan dengan enggan, tetapi dengan sepenuh hati dan dengan cara yang mulia dan indah!

​Kita dipanggil untuk menyerahkan hidup kita dalam pelayanan kepada orang-orang yang Tuhan bawa kepada kita.

Kita menyambut seperti Kristus menyambut: dengan kasih yang melimpah dan sukacita yang sempurna.

Dan kita melakukan semuanya untuk kemuliaan Tuhan.

Sambutan kita bukan dimaksudkan untuk membuat orang lain memandang kita lebih tinggi, tetapi dimaksudkan untuk memuliakan Kristus!

DOA HENING:

​Bapa yang Mahabaik, sumber cahaya sejati dan pemberi segala rasa kebenaran di dalam hidupku.

Ampunilah aku jika kerap kali aku hidup laksana “lempung kathokan” yang kedekatannya dengan-Mu menjadi hambar karena tertutup oleh keangkuhan ego dan pemuasan keinginan pribatiku yang merugikan sesama.

​Terima kasih karena Engkau telah mengingatkanku melalui teladan ketaatan janda di Sarfat bahwa dalam kekurangan sekalipun, penyelenggaraan kasih-Mu tidak akan pernah membiarkan tempayan hidupku menjadi kering.

​Tuhan Yesus, jadikanlah aku garam yang siap lebur demi membawa damai dan rasa keadilan, serta jadikanlah aku pelita yang menyala di atas kaki dian untuk menyingkapkan kegelapan dunia.

Curahkanlah rahmat-Mu agar di setiap persimpangan langkah harian ini, jiwaku memancarkan kehangatan kasih yang murni.

​Tuhan, ketika aku diliputi kekhawatiran dan rasa takut, ajarilah aku untuk percaya pada penyelenggaraan-Mu.

Penuhilah hatiku dengan kebenaran-Mu, bebaskan aku dari kebutaan dosa, dan berilah aku hati yang murah hati serta iman yang teguh laksana janda di Sarfat.

Mari kita tidak henti-hentinya berdoa syukur karena menerima terang iman terus dari Tritunggal yang Mahakudus, sehingga perjalanan ziarah keselamatan dapat disinari Berkah Allah.

​Berikanlah aku keberanian fisik untuk keluar dari kenyamanan semu dan melangkah dalam kepatuhan iman yang utuh kepada kehendak-Mu, sehingga perkataan dan perbuatanku senantiasa memancarkan terang surgawi-Mu demi kemuliaan nama-Mu yang kudus. Amin.

​Marilah berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan, dianugerahi kesehatan raga yang prima, serta dipenuhi hikmat ilahi dalam menggembalakan umat menuju pelataran kekudusan Allah.

​Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat, dilindungi dari segala marabahaya, dipersatukan dalam ikatan persaudaraan yang sejati, dan senantiasa mendapatkan inspirasi surgawi dalam mewujudkan kasih Allah di mana pun mereka berada.
Amin.

​MUTIARA IMAN

P. Joko Pinurbo: ​”Sudah saatnya kau duduk manis meletakkan hatimu di tepi kolam, mendengarkan sunyi berkicau di ranting-ranting cemara, membiarkan bulan memantul-mantul di atas kepalamu, meredakan gejolak tubuhmu.

​Duduklah di tepi kolam dan biarkan burung-burung dalam kepalamu bernyanyi.
Yang berduka dalam tralala
akan bersuka dalam trilili.”

​PERUTUSAN

​Mari melangkah keluar dengan raga yang sigap, pikir yang jernih, dan rasa yang suci, diutus dengan maklumat suci ketetapan rohani:

​In luce Christi ambulate. (Berjalanlah dalam terang Kristus)
Opera bona facite. (Lakukanlah perbuatan baik)
Veritatem diligite. (Cintailah kebenaran)
Gloriam Dei quaerite. (Carilah kemuliaan Allah)
​— L. Elyas Nugraha
​Berkah Dalem.

​Salam Takzim

Kontributor:

 

​Rm. B.S. Mardiatmadja, SJ
​Rm. A. Joko Purwanto, Pr
​Rm. Hans Wijaya, Pr
Rm. Nico Liem Tjay, OMI
​Rm. Willem Pau, Pr
​Fr. Mike Schmitz
​AC Eko Wahyono
Ign. Harry Respatyo
​L. Elyas Nugraha
Paulus Krissantono

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *