Dipilih, Dikasihi, dan Diutus – 14 Juni 2026

CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh Basuki Ismael
14 Juni 2026, Hari Minggu Biasa XI
Warna Liturgi: Hijau – Peringatan Santo Metodius dari Konstantinopel
ELECTI, DILECTI, ET MISSI – Dipilih, Dikasihi, dan Diutus

PENGANTAR

Sebuah kenangan indah terukir di kelas V SD Keluarga Pati pada tahun 1972. Selepas jam istirahat, Pak Triyanto, sang guru, memperhatikan seorang murid bernama Saestu yang duduk menyendiri di lantai dengan wajah murung. Saat didekati, Saestu berbisik lirih, “Teman-teman tidak suka kepada saya karena saya sering usil.”

Bukannya memarahi, mengungkit kesalahan, atau menghakimi, Pak Triyanto justru memperlihatkan wajah Allah yang kreatif dalam mengasihi. Beliau melihat Saestu melampaui kenakalan lahiriah dan menemukan jiwa yang rindu untuk diterima kembali.

Sebelum pelajaran dimulai, Pak Triyanto mengutus Saestu untuk membagikan gambar kartun Dakocan kepada seluruh teman sekelasnya sebagai alat peraga pelajaran.

Tindakan sederhana namun penuh bela rasa ini menjadi sebuah transfigurasi batin. Esok harinya, Saestu datang dengan wajah cerah dan penuh sukacita, “Terima kasih, Pak Guru. Teman-teman sudah baik. Sejak kemarin saya merasa diterima.”

Langkah gembala dari Pak Triyanto telah memulihkan harga diri Saestu yang terluka, mengubahnya menjadi pribadi yang ramah dan bertanggung jawab.

Kisah masa kecil ini menyingkapkan misteri luhur bagaimana Sabda Tuhan bekerja untuk kita hari ini:

Dalam Bacaan Pertama (Keluaran 19: 2-6a): Allah mengingatkan Musa bahwa Ia telah membawa Israel keluar dari perbudakan “di atas sayap rajawali.” Allah terlebih dahulu mendekap, mengangkat, dan melindungi umat-Nya murni karena cinta—bukan karena mereka hebat—sebelum mengundang mereka hidup sebagai bangsa yang kudus.

Dalam Bacaan Kedua (Roma 5: 6-11): Santo Paulus menegaskan bahwa Kristus wafat bagi kita justru ketika kita masih tak berdaya dan berdosa. Allah tidak menuntut kita menjadi sempurna terlebih dahulu untuk dikasihi; kerahiman-Nya selalu mengambil inisiatif paling awal untuk memulihkan.

Dalam Bacaan Injil (Matius 9:36–10: 8): Yesus memandang orang banyak yang lelah dan telantar seperti domba tanpa gembala. Hati-Nya tergerak oleh belas kasih yang mendalam, lalu Ia memanggil dan mengutus kedua belas murid-Nya untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya yang hidup di tengah dunia.

Sebelum mengutus kita ke tengah padang pelayanan, Allah terlebih dahulu merangkul kita. Sebelum meminta kita berbuah, Ia terlebih dahulu menyirami kita dengan cinta-Nya yang tanpa syarat.

PESAN UTAMA

Murni Rahmat (Kel. 19:2-6a): Allah memilih umat-Nya bukan karena keunggulan atau jasa mereka, melainkan karena kasih dan rencana kudus-Nya.

Identitas Sejati (Mzm. 100:2.3.5): Sukacita dan rasa aman kita yang utama bersumber dari kesadaran bahwa kita adalah umat Allah dan kawanan domba gembalaan-Nya.

Kasih yang Mendahului (Roma. 5: 6-11): Kristus menyerahkan hidup-Nya saat kita belum layak. Kita tidak dicintai karena sudah sempurna, melainkan dimampukan menjadi lebih baik karena telah dicintai terlebih dahulu.

Misi Belas Kasih (Matius 9: 36–10:8): Yesus mengutus para murid untuk menghadirkan pengharapan konkret bagi dunia yang terluka, letih, dan kehilangan arah.

Panggilan Semua Umat: Menjadi saksi Kristus adalah tugas setiap orang yang dibaptis melalui profesi dan peran sehari-hari: guru yang mendidik dengan kasih, tenaga medis yang merawat dengan hati, atau anggota keluarga yang membawa damai.

Pesan Hari Ini:
Allah tidak mencari orang sempurna untuk diutus, melainkan mengasihi dan memulihkan orang biasa untuk menjadi tanda kasih-Nya. Jika Allah telah memilih kita, mari kita menjadi “sayap rajawali” yang melindungi sesama yang terluka. Electi, dilecti, et missi—Kita dipilih, dikasihi, dan diutus.

PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN

BACAAN PERTAMA
(Keluaran 19: 2-6a)

Intisari: Tuhan itu setia pada Sabda-Nya dan adil terhadap umat-Nya

Rm. Willem Pau, Pr : Tulah yang menimpa ternak Mesir sementara ternak Israel dilindungi menunjukkan bahwa Allah setia pada Sabda-Nya dan adil membela umat yang tertindas. Firaun adalah cermin kekerasan hati manusia yang kerap menolak rahmat dan nasihat baik. Kita diajak untuk memiliki kerendahan hati dan untuk jujur saat melihat diri dan tidak menunda pertobatan agar dituntun menuju kebebasan sejati.

AC Eko Wahyono (Lectio Divina): : adang gurun Sinai menjadi ruang sakral tempat Allah menyatakan kerinduan-Nya yang mendalam untuk membangun keintiman bersama umat pilihan-Nya. Kepemilikan Allah atas seluruh bumi tidak mengurangi kasih sayang unik dan perjanjian khusus yang Ia tetapkan bagi Israel. Kekudusan bukanlah sebuah hak istimewa untuk disombongkan, melainkan sebuah panggilan hidup yang menuntut kita untuk membaktikan diri seutuhnya bagi kemuliaan Allah. Kita harus mendengarkan perintah-Nya setiap hari agar tetap setia pada panggilan surgawi yang agung ini.

TRANSITUS:
Mazmur Tanggapan: 100: 2.3.5

Tanggapan: Kita ini umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.

Mazmur 100 mengajak kita beribadah dengan sukacita karena Tuhanlah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita seutuhnya. Kasih setia-Nya abadi dan kesetiaan-Nya turun-temurun bagi setiap generasi.

BACAAN KEDUA
(Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma: 5: 6-11)

Intisari: Diperdamaikan oleh kematian Anak-Nya, diselamatkan oleh hidup-Nya

Laurentius Elyas Nugraha (Lumen Mundi) : Mengutip Santo Agustinus, Kristus tidak menemukan kita dalam keadaan indah, melainkan Ia mengasihi kita agar kita menjadi indah. Saat kita masih lemah, Kristus telah wafat demi kita. Rahmat rekonsiliasi yang sempurna inilah yang membuat kita kini layak bermegah di dalam Allah.

BACAAN INJIL
(Matius 9: 36–10: 8)

Intisari: Yesus memanggil kedua belas murid dan mengutus mereka

Rm. A. Joko Purwanto, Pr (Puncta) : Seperti Ignatius Jonan yang membawa perubahan nyata pada kereta api dengan memulai dari hal kecil seperti toilet stasiun, misi Yesus pun bergerak konkret. Melihat orang banyak telantar, Ia langsung mengutus murid-murid bertindak. Kita dipanggil untuk membangun Kerajaan Allah dengan berani memulai langkah kebaikan dari hal-hal sederhana di sekitar kita.

Ign. Harry Respatyo / Paulus Krissantono (RAGI) : Dalam masyarakat modern saat ini, banyak orang yang tersesat secara rohani dan berjalan tanpa arah meskipun mereka terus-menerus terhubung dengan jaringan digital. Kita dipanggil untuk menjadi perpanjangan tangan Kristus dengan menawarkan kehadiran dan kesetiaan yang tulus bagi mereka yang menderita kesepian mendalam. Misi kita bukanlah mencari kehormatan atau keuntungan materi pribadi, melainkan membagikan kasih Allah yang tanpa syarat dengan ketulusan yang mutlak. Gereja menjadi sungguh hidup ketika setiap orang yang telah dibaptis bergerak keluar ke lingkungan mereka untuk memulihkan hubungan dan menyebarkan harapan.

TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING

Rm. B.S. Mardiatmadja, SJ (Kita Diselamatkan) : Setiap kali memandang kita—baik personal maupun bersama dalam segala rupa keadaan dan dosa—Allah senantiasa melimpahi kita dengan kasih. Orientasi dasar pengutusan Sang Putera adalah menyelamatkan kita seutuhnya: lahir dan batin, pribadi serta komunal. Melalui rangkuman tiga bacaan hari ini, kita diingatkan akan kehendak masa silam-Nya yang tetap nyata kini (Bacaan I), kesediaan-Nya merajut kita menjadi satu Keluarga Allah yang dikasihi (Bacaan II), serta perutusan untuk mewartakan Kabar Baik ini kepada siapa pun tanpa ada yang disisihkan (Injil). Mari membuka hati seutuhnya untuk menerima berkah keselamatan yang melimpah ruah ini.

Rm. Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman): Panggilan dan inisiatif keselamatan selalu berawal dari Tuhan. Kita menjawabnya ketika mau mengasihi tanpa pamrih dan melayani sesama dengan sikap lila lan legawa (ikhlas-rela) tanpa mengejar pujian. Di tengah kesibukan pribadi, Injil meminta kita meneladan Yesus yang peka melihat sesama, keluarga, maupun tetangga yang kesepian dan membutuhkan pertolongan dengan mata hati kita.

Rm. Hans Wijaya, Pr (Mutiara Iman) : Yesus mempercayai orang biasa yang penuh kelemahan untuk melayani secara gratis. Menjadi utusan tidak harus melakukan hal besar, melainkan cukup memancarkan damai dan perhatian layaknya cermin. Kebahagiaan sejati akan kita rasakan saat kita bersedia memantulkan kembali kurnia keselamatan yang kita terima secara cuma-cuma kepada sesama.

Rm. Danang Kuncoro, Pr (Mutiara Iman) : Kita diajak untuk merenungkan bagaimana Tuhan memandang kita sebagai domba-domba-Nya. Karena kita telah dianugerahi Roh Kudus, dipercaya, dan diutus oleh-Nya, mari kita memikul tanggung jawab iman ini dan senantiasa melangkah bersama sebagai sahabat seperjalanan dengan penuh kesediaan untuk bersukacita di dalam DIA.

GEREJA MENGAJAR: KATEKESE & KATEKISMUS

Katekese:
Paus Fransiskus menegaskan bahwa kita harus bergerak keluar menawarkan hidup Yesus Kristus kepada setiap orang daripada menutup diri dalam kenyamanan struktur yang memberikan rasa aman palsu.

Katekismus Gereja Katolik (KGK 849):
Gereja pada hakikatnya adalah misionaris karena ia berasal dari utusan Putera dan utusan Roh Kudus menurut rencana Allah Bapa.

MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA

NATA RAGA (Disiplin Tubuh)
Gunakan kesehatan dan kekuatan fisik untuk melayani sesama dengan tindakan nyata hari ini.

NATA PIKIR
(Disiplin Pikiran)
Tanamkan dalam pikiran rasa syukur bahwa keselamatan serta kebaikan Tuhan telah kita terima secara cuma-cuma.

NATA RASA (Disiplin Perasaan)
Tebarkan damai agar hati senantiasa dipenuhi oleh pantulan kebahagiaan dan kasih Allah.

NIAT KONKRET
Hari ini saya akan melakukan pemeriksaan batin selama lima menit pada malam hari dan dengan jujur mengakui satu sikap atau kebiasaan yang perlu saya ubah di hadapan Tuhan.

DEVOSI & DOA

Devosi:
Memohon doa restu Santo Metodius dari Konstantinopel yang kita peringati hari ini.

Doa Hening:
Mendoakan Bapa Suci, para Uskup, Imam, dan seluruh reksa pastoral agar dikuatkan.

Mendoakan kesehatan serta keteguhan iman segenap pembaca Capita Selecta.

(Hening):
Ya Tuhan, kami membuka hati untuk diselamatkan oleh-Mu secara menyeluruh dan utuh.

Kami berdoa untuk diri kami masing-masing maupun secara bersama-sama dalam komunitas.

Kami mempercayakan diri kami, seluruh anggota keluarga, dan segenap ciptaan ke dalam dekapan kasih-Mu yang melimpah ruah. Amin.

Lagu Rohani:
Aku Dengar Bisikan Suaramu (Ini Aku, Utuslah Aku) &
Here I Am, Lord (Dan Schutte)

Perutusan:
Euntes autem praedicate dicentes, “Appropinquavit regnum caelorum.” (Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat.) — Laurentius Elyas Nugraha

PENUTUP

Allah tidak memanggil orang yang cakap, melainkan memperlengkapi orang biasa yang diutus-Nya.

Percayalah pada penyertaan-Nya, melangkahlah dengan iman, dan jadikan hidupmu sebagai dekapan hangat bagi dunia yang terluka.*

Berkah Dalem

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *