CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words – New Version
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh N.P. Basuki Ismael
Pekan Biasa XIII, Jumat 3 Juli 2026, Warna Liturgi: Merah (Pesta)
Pesta Santo Thomas Rasul
Audacter in Fide Procede – Berani Mengayuh dalam Iman
PENGANTAR
Sore kemarin (2 Juli 2026) di Sekretariat BerKhat Santo Yusup (BKSY) di salah satu Ruang Kantor WYR Solution, Pejompongan, Jakarta Pusat, saya berbincang dengan sahabat saya, Mas Albert Dona (34 tahun), tentang pengalaman masa kecilnya saat belajar bersepeda.
Mas Albert bercerita, ketika berusia empat tahun, ayahnya, Pak Yustinus, membelikan sepeda roda tiga. Meski sang ayah selalu berdiri sigap di belakang sambil memegang kendali, Albert kecil tetap saja dilingkupi oleh rasa takut.
Bagi Albert kecil, rasa aman yang sejati bukan terletak pada kokohnya struktur sepeda itu, melainkan pada kehadiran sang ayah yang selalu siap menangkapnya jika ia terjatuh.
Tiga tahun berselang, saat Albert menginjak usia tujuh tahun dan mulai masuk Sekolah Dasar, ayahnya membelikannya sebuah sepeda jengki roda dua. Hari itu, Pak Yustinus kembali bertindak sebagai guru pertama yang membimbingnya secara langsung. Pada awalnya, beliau terus memegangi bagian belakang sadel agar sepeda tetap stabil dan seimbang. Namun setelah meluncur beberapa meter, tanpa sepengetahuan Albert, pegangan itu perlahan-lahan dilepaskan hingga Albert ternyata mampu mengayuh sendiri dengan lancar.
Kejutan terjadi ketika ia menoleh ke belakang dan menyadari ayahnya sudah tidak memegangi sepedanya lagi; rasa takut seketika menguasai batinnya, membuat ia kehilangan keseimbangan lalu ambruk ke tanah.
Hari itu Albert terjatuh hingga tiga kali sampai lututnya lecet dan telapak tangan yang kotor penuh debu. Di tengah rasa sakit, ia sempat mengeluh pasrah, “Pak, aku tidak bisa.” Namun Pak Yustinus tidak lantas mengangkat sepeda itu untuk mengajaknya pulang, melainkan dengan penuh kesabaran mengusap lutut anaknya, membangunkannya, lalu berbisik meneguhkan, “Albert, Ayah tetap di belakangmu. Jangan takut jatuh, teruslah mengayuh. Kalau kamu tidak berani mencoba lagi, kamu tidak akan pernah bisa naik sepeda.”
Albert pun bangkit dan mencoba lagi dengan keyakinan baru hingga perlahan rasa takutnya luluh menjadi keberanian yang utuh. Sembari tersenyum mengenang masa lalu, Mas Albert berkata kepada saya, “Sekarang saya sadar, yang membuat saya akhirnya bisa naik sepeda bukan karena saya tidak pernah jatuh, tetapi karena saya percaya Ayah tidak pernah meninggalkan saya.”
Kisah sederhana namun mendalam ini mengantar refleksi kita pada perjalanan iman Rasul Thomas yang kita peringati hari ini. Thomas sempat menuntut bukti fisik, ingin melihat dan menyentuh langsung bekas luka Yesus sebelum ia bersedia percaya. Namun Yesus tidak menolak ataupun menghakimi keraguan rohani murid-Nya itu. Dia justru datang menghampiri Thomas secara personal, menunjukkan luka-luka suci-Nya, dan meneguhkan fondasi imannya yang sempat goyah. Sejak momen perjumpaan batin tersebut, Thomas tidak lagi melangkah berdasarkan apa yang kasat mata, melainkan bergerak maju karena penyerahan diri yang radikal kepada Kristus.
Demikian halnya dengan ziarah kehidupan kita di dunia ini. Tuhan tidak selalu meluputkan kita dari badai ketakutan atau mencegah kaki kita agar tidak pernah tersandung dan jatuh.
Namun, Dia senantiasa berjalan beriringan bersama kita, mengulurkan tangan-Nya untuk membangkitkan kita setiap kali kita terpuruk, hingga batin kita dimampukan untuk bersujud dan berseru penuh iman seperti Rasul Thomas: “Ya Tuhanku dan Allahku!”
PESAN UTAMA
Kisah perjuangan masa kecil Mas Albert menyadarkan kita bahwa rasa aman dan keteguhan sejati tidak pernah bersandar pada situasi lahiriah, melainkan pada keyakinan mutlak akan penyertaan sosok kebapaan yang setia. Dalam ziarah rohani, kegagalan, kejatuhan, bahkan keraguan batin bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan sebuah gerbang pendewasaan iman.
Kristus tidak pernah alergi terhadap pertanyaan yang jujur ataupun kerapuhan insani kita; Ia justru hadir secara personal di dalam Sakramen, Sabda, dan sesama untuk menuntun kita keluar dari ketakutan.
Di atas fondasi iman para rasul yang telah teruji oleh pergulatan sejarah itulah Gereja berdiri kokoh sebagai bait kediaman Allah yang hidup.
Maka, marilah kita miliki keberanian untuk terus mengayuh dalam iman, merangkul keterbatasan diri di bawah naungan kasih karunia-Nya, serta dengan mantap bersaksi kepada dunia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”
DEVOSI
Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Santo Thomas, Rasul
Santo Thomas adalah salah satu dari kedua belas rasul Yesus yang mengajarkan bahwa pencarian kebenaran sejati memerlukan kejujuran hati serta keterbukaan penuh terhadap kehadiran Allah yang hidup.
PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN
Bacaan Pertama
(Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus 2: 19-22)
Intisari:
Seseorang yang menjadi pengikut Tuhan adalah pribadi yang dianggap sebagai anggota Allah yang akan menerima banyak berkat dalam hidupnya.
Rm. Willem Pau, Pr:
Kita bukan lagi orang asing melainkan sesama warga dari keluarga kudus Allah. Status rohani yang baru ini membawa jaminan berkat serta perlindungan ilahi yang melimpah. Kristus menjadi batu penjuru utama yang merekatkan seluruh bangunan iman umat-Nya secara sempurna. Tugas kita adalah menjaga kesucian hidup agar layak menjadi bait kediaman Roh Kudus.
AC Eko Wahyono (Lectio Divina):
Keraguan Santo Thomas menyadarkan setiap murid bahwa percaya akan Kebangkitan membutuhkan proses yang panjang di tengah tantangan paham kebatinan seperti gnostisisme. Thomas yang sempat diliputi perasaan gagal dan mengasingkan diri, akhirnya dipulihkan lewat kerahiman ilahi saat Yesus menampakkan Diri delapan hari kemudian. Melalui sentuhan fisik pada luka lambung Kristus, luka ketidakpercayaannya disembuhkan hingga ia mampu mengikrarkan iman terdalam. Melalui anugerah iman dan bimbingan Roh Kudus inilah, kita semua dimampukan untuk mewartakan kehadiran Yesus yang hidup dalam ziarah pribadi kita.
TRANSITUS
(Mazmur 117: 1.2)
Mazmur Tanggapan:
Pergilah ke seluruh dunia, dan wartakanlah Injil.
Fr. Mike Schmitz (The Bible in Year):
Pujian semesta dari segala bangsa merupakan bukti penggenapan tipologi janji keselamatan Allah bagi Abraham. Seluruh ujung bumi kini dipanggil masuk untuk bernaung di bawah kesetiaan Tuhan yang abadi. Mandat perutusan misioner menjadi tugas kodrati bagi setiap pribadi yang telah ditebus oleh darah Kristus. Kita melangkah dengan penuh keyakinan karena rahmat penyertaan-Nya tidak pernah meninggalkan para utusan-Nya.
Injil Suci
(Yohanes 20: 24-29)
Intisari:
Thomas menuntut tanda kebangkitan dan Yesus hadir menunjukkan Diri Yesus. Yesus tidak marah atau menghakimi Tomas, tetapi Yesus justru menunjukkan cintaNya dalam luka-luka-Nya.
Laurentius Elyas Nugraha (Lumen Mundi):
Yesus menyambut pencarian jujur Thomas bukan dengan teguran melainkan dengan penyerahan kasih yang radikal. Bekas luka paku-Nya menjadi bukti pewahyuan bahwa Dia adalah Tuhan yang sungguh hidup. Thomas mengalami transformasi batin seketika hingga mengikrarkan pengakuan iman paling luhur dalam Injil. Kita diajak untuk membawa segala kebingungan batin zaman modern ini ke hadirat-Nya demi memperoleh terang rahmat ilahi.
Rm. A. Joko Purwanto, Pr (Puncta):
Kasus tragis latsarmil (latihan dasar militer) untuk calon manajer koperasi membuktikan kecenderungan manusia yang sering kali baru sadar setelah ada korban nyata. Sikap kritis ini senada dengan Thomas yang menuntut bukti fisik luka paku sebelum ia memercayai misteri kebangkitan. Yesus dengan penuh kesabaran menjawab keraguan tersebut dan menampakkan Diri agar Thomas tidak lagi bimbang melainkan percaya. Kisah ini mengingatkan kita agar tidak egois memaksa Tuhan membuktikan kuasa-Nya demi memuaskan keinginan manusiawi kita.
Paulus Krissantono/Ign. Harry Respatyo (RAGI):
Karakter Thomas sebenarnya adalah pribadi yang jujur dan polos dalam menanyakan sesuatu yang belum jelas bagi akal budinya. Keraguan Thomas justru harus dilihat secara positif sebagai jembatan iman yang mencari pemahaman agar penghayatan rohani tidak menjadi buta. Di tengah arus modern, kita diingatkan untuk tidak mengandalkan kecerdasan buatan (AI) melainkan harus bersandar penuh pada peran Roh Kudus. Melalui persekutuan Gereja yang dibangun di atas dasar para rasul, kita semua turut disatukan untuk menjadi bait Allah yang hidup.
TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING
Rm. Danang Kuncoro, Pr (Mutiara Batin):
Membawa sesama yang berduka, terluka, dan menjauh dari Tuhan dapat membuka celah keterbukaan bagi rahmat serta berkat yang tak terduga. Kita harus menyadari bahwa secara manusiawi mereka pasti memiliki pengalaman dan alasan pribadi di balik sikap tersebut. Di tengah kerapuhan sesama, kita dipanggil karena telah dipercaya, diutus, dan senantiasa dimampukan oleh kuasa-Nya. Pemulihan dari Tuhan itu sangat nyata sehingga sudah selayaknya kita jalani dengan penuh rasa syukur.
Rm. Hans Wijaya, Pr:
Label “si ragu” pada Santo Thomas mencerminkan kedekatan karakternya dengan kita yang ingin mengalami perjumpaan secara personal. Yesus tidak menghukum keraguan Thomas, melainkan datang khusus untuk menggandengnya melangkah hingga lahir pengakuan iman paling kuat sepanjang zaman. Melalui peristiwa ini, kita belajar bahwa keraguan adalah sebuah pintu menuju iman yang jauh lebih dewasa jika kita membawa pertanyaan itu kepada Tuhan. Di zaman modern ini, kita tetap berbahagia karena diberi kesempatan menyelami kehadiran-Nya melalui Sakramen, Sabda, dan sesama.
Rm. Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman):
Jangan pernah menyimpan keraguan kita sampai mati, melainkan ungkapkanlah sebagai bentuk kejujuran hati seorang murid kepada gurunya. Melalui keterbukaan hati dan pengakuan atas keterbatasan diri, pancaran kasih karunia serta mukjizat Tuhan akan bekerja secara nyata. Sesuai falsafah ‘untung’, kita dituntun untuk melihat berkat tersembunyi di tengah himpitan masalah agar tetap memiliki pengharapan hidup. Sikap Thomas yang mencari pembuktian mandiri dipuji oleh Paus Fransiskus sebagai tanda bahwa iman sejati tidak pernah takut mencari kebenaran.
KATEKESE GEREJA KATOLIK (KGK)
KGK Nomor 150:
”Iman pertama-tama adalah satu penyerahan pribadi manusia seluruhnya kepada Allah; dalam tindakan itu manusia memberikan persetujuannya kepada kebenaran yang dinyatakan Allah. Sebagai penyerahan pribadi kepada Allah dan persetujuan kepada kebenaran yang Ia wahyukan, iman Kristen berbeda dengan iman kepada seorang manusia. Adalah tepat dan benar mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah dan mengimani secara mutlak apa yang Ia katakan.”
MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA
NATA RAGA:
Saya akan melangkah dengan tegap hari ini untuk menemui, mendengarkan dengan sabar, serta membantu sesama yang sedang mengalami kebingungan atau kesulitan hidup.
NATA PIKIR:
Saya menanamkan keyakinan bahwa iman bukanlah lawan dari akal budi, melainkan cahaya ilahi yang membimbing pikiran saya untuk memahami misteri kasih Allah secara mendalam.
NATA RASA:
Saya merasakan kedamaian batin yang mendalam karena percaya bahwa Kristus selalu menyambut kerapuhan dan pencarian jujur hati saya dengan belas kasih-Nya.
NIAT KONGKRET:
Hari ini saya akan menyediakan waktu lima menit dalam keheningan untuk mengakui segala kelemahan saya serta memperbarui penyerahan diri secara total kepada Yesus.
LAGU ROHANI PENGANTAR DOA
Panis Angelicus
DOA HENING
Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.
Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.
Ya Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Tuhan dan Allah kami yang hidup. Ketika hati dan pikiran kami diliputi oleh berbagai pertanyaan, keraguan, serta ketidakpastian di tengah banjir informasi dunia modern ini, tuntunlah kami dengan terang rahmat-Mu yang menyegarkan.
Kuatkanlah iman kami agar kami memiliki keberanian untuk mempercayakan diri seutuhnya kepada kesetiaan-Mu.
Semoga seperti Santo Thomas, kami dianugerahi ketekunan untuk terus mencari Engkau, mengasihi Engkau dengan tulus, dan bersaksi tentang kuasa kebangkitan-Mu melalui seluruh tindakan nyata dalam hidup kami. Amin.
PERUTUSAN
”Quaere Christum corde sincero. Serva fidem in omnibus. Veritatem dilige et vive. Testis resurrectionis esto.“
(Carilah Kristus dengan hati yang tulus. Peliharalah iman dalam segala keadaan. Cintaillah dan hiduplah dalam kebenaran. Jadilah saksi kebangkitan Kristus.)
— L. Elyas Nugraha
PENUTUP
Terang kebenaran Kristus telah menghalau segala kabut keraguan dan memulihkan fondasi iman di dalam batin kita. Mari kita melangkah keluar dengan penuh kebijaksanaan untuk menjadi saksi kebangkitan-Nya yang hidup bagi dunia.
Berkah Dalem, Salam Takzim.










