Pulang Menemukan Kerajaan Allah

CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words – New Version
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh N.P. Basuki Ismael
Peringatan: Santo Laurentius dari Brindisi; Santo Simeon Salus; Santo Yohanes dari Edessa
Pekan Biasa XVI, Selasa 21Juli 2026, Warna Liturgi: Hijau
Redire ad Familiam Dei – PULANG MENEMUKAN KELUARGA ALLAH

PENGANTAR

Ada perjalanan yang dapat diukur dengan kilometer, tetapi ada pula perjalanan yang hanya dapat diukur dengan kerinduan hati.

Setiap kali mobil memasuki perbatasan Kabupaten Pati, Jawa Tengah, hati saya selalu dipenuhi rasa syukur. Kenangan masa kecil seakan hidup kembali. Dahulu perjalanan mudik selalu kami lakukan bersama: saya, almarhum istri tercinta, dan ketiga anak kami. Setelah beberapa hari menikmati kebersamaan dengan orang tua di Pati, perjalanan kami lanjutkan menuju Caruban, Jawa Timur, kampung halaman keluarga almarhum istri. Dua kota, dua keluarga besar, tetapi satu kehangatan yang selalu kami rindukan: kasih yang mempersatukan.

Kini semuanya telah berubah. Orang tua telah dipanggil Tuhan. Almarhum istri telah lebih dahulu pulang ke Rumah Bapa. Ketiga anak kami pun telah membangun keluarga mereka masing-masing secara Katolik. Saya telah belajar mengikhlaskan semuanya. Namun ada satu tradisi yang tidak pernah saya tinggalkan: pulang kampung.

Kadang saya melakukan perjalanan itu seorang diri, kadang bersama seorang sahabat. Tujuan saya bukan lagi sekadar melihat rumah lama atau menyusuri jalan-jalan masa kecil. Saya datang untuk menjumpai teman-teman sekolah, sahabat masa kecil, para tetangga, dan orang-orang yang pernah mengisi lembaran kehidupan saya.

Anehnya, hampir setiap kali pulang, Tuhan selalu menghadirkan kejutan-kejutan kecil yang indah. Di sebuah warung kopi sederhana, seusai Misa di gereja, di pasar tradisional, bahkan di pinggir jalan desa, tiba-tiba saya dipertemukan dengan seseorang yang tidak pernah saya rencanakan untuk bertemu. Seorang teman lama menyapa dengan pelukan hangat. Seorang tetangga menawarkan bantuan tanpa diminta. Seorang sahabat mengucapkan kalimat sederhana yang justru menjadi jawaban atas pergumulan yang sedang saya bawa dalam doa.

Semakin sering mengalami peristiwa-peristiwa itu, semakin saya menyadari bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan saya berjalan sendirian. Ia selalu mengirimkan orang-orang baik untuk hadir tepat pada waktunya. Mereka bukan sekadar kenalan, sahabat lama, atau tetangga. Mereka adalah saudara-saudara yang dihadirkan Allah untuk menguatkan, meneguhkan, menghibur, bahkan menopang langkah saya ketika hati mulai letih.

Dalam setiap perjalanan pulang kampung, saya menemukan bahwa persaudaraan jauh lebih luas daripada hubungan darah. Saya merasakannya bersama keluarga kandung, keluarga besar almarhum istri, sahabat-sahabat masa kecil, bahkan orang-orang yang baru saya jumpai tetapi menghadirkan kasih yang begitu tulus. Melalui mereka, saya seperti mendengar Yesus berbisik lembut, “Mereka semua adalah saudara-saudara-Ku, dan karena itu mereka juga saudara-saudaramu.”

Sabda Tuhan hari ini membuat pengalaman itu menjadi semakin jelas. Nabi Mikha mewartakan Allah yang tidak pernah lelah menunjukkan belas kasih-Nya dan tetap setia pada perjanjian kasih-Nya (Mi. 7:18–20). Pemazmur berseru, “Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan” (Mzm. 85:8), sebab hanya kasih-Nya yang sanggup memulihkan hati manusia. Lalu Yesus membuka cakrawala baru ketika berkata, “Barangsiapa melakukan kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku, saudari-Ku, dan ibu-Ku.” (Mat. 12:50).

Saat itulah saya memahami bahwa setiap perjalanan pulang kampung sesungguhnya bukan hanya membawa saya kembali ke rumah masa kecil. Tuhan sedang mengajar saya menemukan rumah yang jauh lebih besar, yaitu Keluarga Allah. Di dalam keluarga ini, setiap orang yang melakukan kehendak Bapa adalah saudara. Setiap tangan yang menolong dengan tulus adalah keluarga. Setiap hati yang mengampuni, menghibur, dan mengasihi tanpa pamrih adalah tanda nyata kehadiran Kristus sendiri.

Kini saya mengerti bahwa rumah yang sesungguhnya bukan hanya berada di Pati atau Caruban. Rumah itu hadir di mana pun kasih Allah bekerja melalui orang-orang baik yang dipertemukan-Nya dalam perjalanan hidup. Dan setiap kali saya pulang kampung, saya sedang diingatkan bahwa kita semua adalah peziarah yang sedang berjalan menuju satu tujuan yang sama, yaitu Rumah Bapa, tempat seluruh keluarga Allah akan berkumpul dalam sukacita yang tidak pernah berakhir.

DEVOSI

Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:

​Santo Laurentius dari Brindisi adalah seorang imam Fransiskan Kapusin dan Pujangga Gereja yang dikenal karena kemampuan bahasanya yang luar biasa serta dedikasinya dalam berkhotbah untuk membela iman Katolik di seluruh Eropa.

​Santo Simeon Salus adalah seorang pertapa dari abad ke-6 yang dikenal karena menjalankan gaya hidup “orang gila demi Kristus” (holy fool), menyamar sebagai orang yang tidak waras untuk menguji kerendahan hatinya dan melayani Tuhan secara radikal di depan umum.

​Santo Yohanes dari Edessa adalah seorang pertapa yang meninggalkan kehidupan dunianya yang kaya untuk menjalani hidup miskin dan tersembunyi sebagai pengemis demi melayani Tuhan dengan penuh kerendahan hati.

PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN

Bacaan Pertama
(Nubuat Mikha 7: 14-15.18-20)

Intisari:
Kasih Allah untuk umat-Nya muncul karena janji yang telah disampaikan sejak zaman purbakala. Tuhan tidak akan pernah mengingkari janji itu.

Romo Willem Pau, Pr (Gereja St. Franciscus Saverius, Kebondalem, Semarang):

​Intisari:
Wajah Allah adalah belas kasih yang tuntas, di mana Ia mengampuni dan menghapus dosa manusia agar umat-Nya dapat hidup dalam harapan serta menjadi pembawa pengampunan bagi sesama.

​Renungan:
​Nabi Mikha menggambarkan Allah sebagai gembala setia yang tidak pernah meninggalkan umat-Nya dan selalu membuka jalan bagi mereka yang ingin kembali setelah jatuh dalam dosa.
​Tidak ada Allah lain yang seperti Tuhan Israel, karena Ia berkenan pada kasih setia dan dengan tuntas “melemparkan segala dosa ke dalam tubir-tubir laut” tanpa terus-menerus mengungkit kesalahan di masa lalu.
​Pengalaman akan belas kasih Allah, terutama melalui Sakramen Tobat, adalah sumber kekuatan bagi setiap orang yang mengalami kelemahan dan kegagalan dalam hidupnya.
​Umat beriman dipanggil untuk tidak berhenti pada menerima pengampunan saja, tetapi harus membagikan belas kasih tersebut dengan melepaskan dendam dan berhenti menghakimi sesama.
​Mengutip Santa Faustina Kowalska, tidak ada dosa yang lebih besar daripada kerahiman Allah, sehingga selalu ada harapan bagi siapa pun yang bersedia bertobat dan hidup sebagai anak-anak Allah yang penuh kasih.

L. Elyas Nugraha (Lumen Mundi, Gereja Santo Athanasius Agung, Karangpanas, Semarang):

Intisari
Keluarga Allah: Melampaui Hubungan Darah melalui Ketaatan Iman”
​Renungan:
​Yesus menegaskan bahwa anggota keluarga Allah yang sejati tidak ditentukan oleh ikatan biologis, melainkan oleh kesediaan untuk mendengarkan dan melaksanakan Sabda Tuhan dengan setia.
​Kedekatan kita dengan Kristus berakar pada prinsip Qui facit voluntatem Dei (siapa yang melakukan kehendak Allah), yang menuntut keselarasan antara hati, pikiran, dan tindakan nyata.
​Sebagaimana ditegaskan Santo Agustinus, Bunda Maria sungguh berbahagia bukan semata karena melahirkan Kristus, melainkan terutama karena ia mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah dalam seluruh hidupnya.
​Ketaatan kepada Allah sering kali diuji melalui pilihan-pilihan sulit di tengah arus dunia, namun dalam kesetiaan itulah iman kita dimurnikan hingga menjadi dewasa di hadapan-Nya.
​Kita dipanggil untuk menghadirkan wajah Kristus melalui tindakan kasih yang konkret seperti mengampuni dan melayani, sebagai bukti bahwa kita sungguh hidup dalam oboedientia fidei atau ketaatan iman yang mempersatukan kita dengan Kristus.

AC Eko Wahyono (Lectio Divina, Katekis, Gereja Santa Maria Tak Bernoda, Jember):

​Intisari:
Persaudaraan sejati dengan Yesus tidak lagi ditentukan oleh ikatan klan atau hubungan darah, melainkan melalui komitmen untuk melakukan kehendak Bapa di surga, yang menempatkan kita dalam komunitas baru yang berpusat pada kasih dan perhatian kepada sesama, terutama kaum miskin.
​Renungan:
​Nabi Mikha menegaskan bahwa Allah adalah pribadi yang tak henti-hentinya melimpahkan belas kasih, panjang sabar, dan penuh pengampunan, yang memicu syukur mendalam dari manusia melalui seruan “Siapakah Allah seperti Engkau?”.
​Pada zaman Yesus, struktur keluarga klan yang menjadi pilar solidaritas sosial mulai memudar akibat tekanan ekonomi, pajak yang berat, serta pengaruh budaya Greko-Romawi yang memicu individualisme.
​Yesus mendobrak batasan keluarga biologis dengan menetapkan standar baru bahwa hubungan terdalam dengan-Nya ditentukan oleh ketaatan pada kehendak Bapa.
​Menjadi saudara dan saudari Yesus berarti masuk ke dalam komunitas Kerajaan Allah yang mengedepankan solidaritas bagi mereka yang terpinggirkan, karena melayani kaum papa adalah wujud nyata melakukan kehendak-Nya.
​Santo Gregorius Agung mengajarkan bahwa kita bisa menjadi “ibu” bagi Yesus dengan cara mewartakan kasih-Nya agar cinta Tuhan tumbuh dan berkembang di dalam hati serta budi sesama kita.

TRANSITUS:
(Mazmur 85: 2-4.5-6.7-8)

Mazmur Tanggapan:
Perhatikanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan.

Romo Mike Schmitz (The Bible in a Year, Pelayanan Kepemudaan Keuskupan Duluth dan Pastor Mahasiswa di Universitas Minnesota, Duluth):

Renungan:
​Mazmur 85 menjadi doa permohonan yang mendalam agar kasih setia Tuhan kembali dialami oleh umat setelah mengalami pemulihan dari masa pembuangan.
​Romo Mike Schmitz menekankan bahwa janji keselamatan dari Tuhan selalu menuntut respons manusia untuk kembali kepada-Nya dengan hati yang tidak lagi berpaling kepada kebodohan.
​Kunci utama dari doa ini adalah kesadaran bahwa keadilan dan damai sejahtera akan bertemu apabila kita sungguh-sungguh meletakkan harapan sepenuhnya hanya kepada kerahiman Allah.
​Tuhan tidak pernah berhenti menyatakan kasih setia-Nya, namun kita diajak untuk terus memohon agar Ia memberikan damai-Nya di tengah pergulatan hidup kita sehari-hari.
​Mazmur ini adalah cermin bagi setiap orang beriman untuk senantiasa merendahkan diri dan menantikan jawaban Tuhan yang membawa sukacita sejati bagi jiwa yang haus akan kehadiran-Nya.

Injil Suci
(Matius 12: 46-50)

Intisari:
Anggota keluarga Allah adalah orang-orang yang senantiasa mendengarkan Dia dan tekun melaksanakan sabda itu dalam kepenuhan cinta.

Romo Agustinus Suyadi, O.Carm (Pastor Kepala Paroki Tomang, Gereja Maria Bunda Karmel, Jakarta Barat):

Intisari:
Iman dalam hidup bersaudara dengan Allah menuntut kita untuk melampaui ikatan biologis dan menyatukan diri dalam keluarga Allah melalui ketaatan pada Sabda-Nya.

Renungan:
​Hakekat dasar manusia adalah bersaudara, yang berakar sejak penciptaan manusia pertama di mana Allah menghendaki kita untuk saling melengkapi dan mengasihi sebagai sesama ciptaan.
​Martin Buber menegaskan kedalaman relasi ini melalui pemikirannya, “Aku ini ada karena kamu,” yang menunjukkan bahwa keberadaan diri kita justru menemukan maknanya dalam perjumpaan dan penerimaan terhadap sesama sebagai saudara.
​Dalam keluarga Allah, Yesus menjadi pengikat utama yang menyatukan kita, sehingga meski bukan sedarah secara biologis, kita telah menjadi “satu darah dan sedaging” dengan Yesus melalui iman.
​Kita harus waspada terhadap bahaya perpecahan yang muncul akibat sikap saling meremehkan atau egoisme—seperti dalam pembagian warisan atau penolakan di lingkungan sendiri—yang dapat menghambat rahmat dan berkat Tuhan di tengah keluarga.
​Ciri utama anggota keluarga Allah yang baru adalah mereka yang tekun duduk mengelilingi Yesus, mendengarkan Sabda-Nya, dan mewujudkannya dalam tindakan nyata, sehingga persaudaraan kita sungguh berlandaskan pada kehendak ilahi, bukan sekadar kepentingan pribadi.

Romo A. Joko Purwanto, Pr (Puncta, Gereja St. Yohanes Rasul, Wonogiri):

Intisari:
Membangun Ukhuwah dalam Semangat Persaudaraan

​Renungan:
​Peringatan ulang tahun ke-59 Paroki St. Yohanes Rasul Wonogiri diwujudkan melalui kenduri bersama warga sekitar sebagai bentuk nyata silahturahmi dan keguyuban antarumat beragama.
​Kegiatan ini merupakan langkah konkret untuk membangun ukhuwah persaudaraan, baik dalam ikatan kebangsaan (Ukhuwah Wathaniah) maupun persaudaraan sesama umat manusia (Ukhuwah Basyariah).
​Yesus memperluas konsep ukhuwah dengan menegaskan bahwa relasi sejati dalam Kerajaan Allah tidak hanya didasarkan pada hubungan darah, melainkan pada kesamaan dalam melakukan kehendak Bapa di surga.
​Kita dipanggil untuk meruntuhkan sekat-sekat SARA yang memisahkan hubungan dengan sesama dan mulai memandang orang lain sebagai saudara karena mereka juga melakukan kebaikan yang dikehendaki Tuhan.
​Persaudaraan yang sejati melampaui segala perbedaan, hingga tercipta rasa saling memiliki di mana kita akan merasa kehilangan jika saudara kita mengalami duka, selaras dengan semangat persaudaraan yang dibangun di Wonogiri.

Paulus Krissantono (Gereja St. Mikael, Kranji, Bekasi) / Ign. Harry Respatyo, Gereja Bunda Maria Ratu, Sukatani Depok) ( [RAGI]:

​Intisari:
Hubungan sejati dengan Kristus tidak didasarkan pada formalitas atau hubungan darah, melainkan dibuktikan melalui ketaatan radikal dalam melaksanakan kehendak Bapa di surga, yang dimungkinkan karena kita telah lebih dahulu dipeluk oleh belas kasih Allah.

​Renungan:
​Allah adalah pribadi yang berkomitmen penuh untuk mengampuni, di mana Ia secara radikal menghapus dosa kita layaknya melemparkannya ke dalam tubir-tubir laut demi memberikan kita masa depan yang baru.
​Tuhan Yesus menantang logika kita dengan mendobrak sekat-sekat hubungan fisik dan formalitas keagamaan, serta menetapkan standar bahwa keluarga-Nya adalah mereka yang taat melakukan kehendak Bapa.
​Pengampunan total dari Allah seharusnya menjadi bahan bakar utama bagi kita untuk bergerak meninggalkan ego pribadi dan mulai hidup selaras dengan firman-Nya tanpa menunda-nunda.
​Kita diingatkan untuk memeriksa diri: apakah kita hanya menjadi pendengar firman yang pasif, atau justru telah membuktikan status sebagai keluarga Kristus melalui tindakan nyata sehari-hari.
​Menjadi anggota keluarga Allah adalah sebuah pilihan hidup yang harus dibuktikan setiap hari melalui disiplin dan keberanian untuk tunduk pada kehendak-Nya dalam setiap aspek keputusan dan relasi kita.

TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING

Romo Danang Kuncoro, Pr (Mutiara Batin, Gereja Santa Maria Bunda Pembantu Abadi, Pamanukan, Subang):

​Intisari:
Kelembutan hati menyadarkan kita bahwa seluruh umat manusia dipanggil untuk hidup sebagai satu saudara dalam Allah, melampaui segala perbedaan latar belakang.

​Renungan:
​Kelembutan hati menuntun kita pada kesadaran ilahi bahwa setiap orang mampu menjadi satu saudara dalam dan demi Allah.
​Minimal, kita diajak untuk tidak mempertentangkan atau memperdebatkan perbedaan suku, agama, ras, dan golongan di antara sesama.
​Kita semua berasal dari Allah, sedang menjalani peziarahan hidup, dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah yang Satu dan Sama.
​Perbedaan cara dalam mengungkapkan iman atau beribadah tidak seharusnya menjadi penghalang bagi persaudaraan sejati.
​Kesadaran akan asal dan tujuan yang sama dalam Allah menjadi landasan kuat untuk hidup rukun serta saling menghormati satu sama lain.

Romo Hans Wijaya, Pr (Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, Nusa Dua, Denpasar):

Intisari:
Menjadi Keluarga Allah

​Renungan:
​Yesus menggeser cara pandang kita tentang kedekatan dengan Tuhan, menegaskan bahwa hubungan sejati dengan-Nya tidak lagi didasarkan pada identitas atau kebiasaan, melainkan pada ketaatan mutlak terhadap kehendak Bapa.
​Menjadi keluarga Allah berarti membiarkan Sabda-Nya tidak hanya sekadar diketahui secara intelektual, tetapi benar-benar membentuk cara berpikir, cara mengambil keputusan, dan cara kita mengasihi sesama.
​Kehendak Bapa sering kali hadir dalam hal-hal sederhana seperti kesediaan untuk mengampuni, menahan diri dari kata-kata yang melukai, serta ketulusan dalam membantu orang lain tanpa mengharap pamrih.
​Yesus mengundang kita untuk melangkah lebih jauh dari sekadar menjadi pengikut biasa menuju status sebagai keluarga-Nya, di mana hidup kita berdenyut dan terarah sepenuhnya oleh Sabda yang dihidupi.
​Melalui ketaatan dalam tugas-tugas kecil dan pembangunan relasi yang mencerminkan kasih Kristus, kita dipanggil untuk terus menghadirkan wajah Kerajaan Allah di tengah dunia setiap harinya.

Romo Y. Gunawan, Pr (Percik Firman, Formator Tahun Rohani Keuskupan Agung Semarang, Bumi Jangli, Karangpanas):

​Intisari:
Persaudaraan sejati dengan Kristus tidak didasarkan pada ikatan darah, melainkan pada ikatan rohani-spiritual yang terwujud melalui ketaatan dalam melaksanakan sabda dan kehendak Allah.

​Renungan:
​Sebagaimana sinetron “Ikatan Cinta” yang populer di masa pandemi, pengikut Kristus pun memiliki ikatan cinta sejati yang bersumber dari sabda Tuhan.
​Yesus memberikan cara pandang baru dengan menegaskan bahwa siapa pun yang melakukan kehendak Bapa di surga adalah saudara laki-laki, saudara perempuan, dan ibu-Nya.
​Bunda Maria menjadi teladan utama dalam ketaatan ini melalui sikap “Fiat”-nya yang siap sedia melaksanakan kehendak Tuhan dengan segala risikonya.
​Kita sering kali terjebak dalam kehidupan yang penuh dosa, kemunafikan, dan keegoisan meskipun telah beriman Katolik selama bertahun-tahun.
​Kita diundang untuk meresapkan sabda Tuhan (necep sabda Dalem), memahami kehendak-Nya (manages kersa Dalem), dan melaksanakan perintah-Nya (ngemban dhawuh Dalem) dalam kehidupan sehari-hari.

Romo Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman, Katedral Kristus Raja, Purwokerto):

​Intisari:
Keluarga sejati dalam iman bukanlah sekadar hubungan darah, melainkan komunitas orang-orang yang dipersatukan oleh visi dan misi untuk melaksanakan kehendak Bapa di surga, sebagai tempat di mana cinta kasih tidak pernah berakhir.

​Renungan:
​Karya keselamatan Allah dalam sejarah tidak terhambat oleh kelemahan atau kesalahan manusia; Tuhan justru memilih untuk bekerja melalui orang-orang biasa bahkan para pendosa untuk menggenapi kehendak-Nya.
​Kita tidak dituntut menjadi sempurna untuk dipakai oleh Allah, karena Ia mencintai kita dengan sempurna dan hanya mencari kerelaan hati kita untuk taat kepada-Nya.
​Yesus memperluas makna persaudaraan; dalam bahasa Sanskerta, saudara berarti lahir dari rahim yang sama, dan dalam konteks iman, kita semua lahir dari rahim yang sama, yaitu Gereja.
​Keluarga dalam pandangan rohani Yesus adalah kumpulan orang yang memiliki kesamaan visi untuk melakukan kehendak Bapa, sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi saudara dan saudari-Nya.
​”Quis Deus similis tui?” (Siapakah Allah seperti Engkau?) menjadi pengingat bahwa di dalam keluarga Allah inilah, cinta kasih tidak akan pernah berakhir.

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK (KGK)

​KGK 1814–1816: Iman merupakan tanggapan manusia terhadap Allah. Iman yang sejati tidak berhenti pada pengakuan bibir semata, melainkan diwujudkan dalam ketaatan kepada kehendak Allah dan perbuatan kasih. Melalui hidup yang taat, orang beriman dipersatukan semakin erat dengan Kristus dan menjadi bagian dari keluarga Allah.

​KGK 1267: Mengingatkan bahwa melalui Pembaptisan, kita dipersatukan dengan Kristus dan menjadi anggota keluarga Allah, yang menuntut kita untuk hidup dalam ketaatan kepada Sabda-Nya sebagai perwujudan iman.

​KGK 2233: Menekankan bahwa menjadi murid Yesus berarti mengikuti-Nya dalam ketaatan yang melampaui ikatan kekeluargaan biologis, di mana kasih kepada Allah menjadi prioritas utama yang menyatukan orang beriman sebagai keluarga baru.

MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA

​Nata Raga:
​Wujudkan ketaatan dalam tindakan sederhana: Lakukan tugas harian atau pekerjaan fisik dengan penuh tanggung jawab sebagai bentuk nyata melayani Kristus.
​Hadirkan kasih melalui tubuh: Tunjukkan kehadiran yang menenangkan bagi sesama, seperti menahan kata-kata yang melukai dan siap sedia menolong tanpa pamrih.
​Disiplin hidup sebagai keluarga Allah: Gunakan tubuh sebagai instrumen untuk mewartakan kasih Tuhan melalui amal kasih dan bela rasa kepada sesama yang membutuhkan.

​Nata Pikir:
​Ubah cara pandang tentang persaudaraan: Sadari bahwa identitas kita sebagai keluarga Allah melampaui ikatan darah atau status sosial, sehingga kita mampu memandang orang lain sebagai saudara tanpa sekat SARA.
​Selaraskan pikiran dengan Sabda: Fokuskan pikiran untuk selalu merenungkan dan memahami kehendak Tuhan (manages kersa Dalem) sebelum mengambil keputusan.
​Lepaskan ego dan penghakiman: Hindari sikap merasa benar sendiri atau meremehkan sesama, serta sadari bahwa semua orang berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

​Nata Rasa:
​Resapkan belas kasih Allah: Renungkan bahwa Allah adalah Gembala yang setia, yang secara radikal telah mengampuni dosa kita dan menenggelamkannya ke dasar laut.
​Buka hati untuk pengampunan: Kembangkan rasa untuk berdamai dengan mereka yang melukai hati kita, sebagai bentuk tanggapan atas pengampunan yang telah kita terima dari Tuhan.
​Pupuk ketaatan penuh sukacita: Bangun rasa syukur dan sukacita dalam mendengarkan Sabda-Nya, sehingga hati kita menjadi “ibu” yang melahirkan kasih Allah bagi sesama melalui pewartaan dan perbuatan.

NIAT KONGKRET

​Hari ini, saya akan mewujudkan status sebagai keluarga Allah dengan melakukan satu tindakan nyata pelayanan atau bantuan kepada sesama yang paling membutuhkan, sebagai wujud nyata bahwa saya menghidupi Sabda Tuhan.
​Saya berkomitmen untuk melepaskan segala bentuk prasangka, rasa ingin menang sendiri, atau penghakiman terhadap sesama, serta memilih untuk berdamai dengan orang yang pernah melukai hati saya sebagai tanggapan atas pengampunan yang telah Allah berikan kepada saya.
​Saya akan meluangkan waktu khusus untuk “duduk mengelilingi Yesus” dalam doa pribadi, meresapkan Sabda-Nya (necep sabda Dalem), dan memohon bimbingan Roh Kudus agar keputusan dan tindakan saya hari ini sungguh selaras dengan kehendak Bapa.

LAGU ROHANI PENGANTAR DOA

Lagu/Musik Instrumentalia

​DOA HENING:

Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.

Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.

PERUTUSAN

Sebagai wujud nyata iman dalam hidup bersaudara, mari kita nata raga dengan melayani sesama secara konkret, nata pikir dengan memandang setiap orang sebagai saudara karena kita lahir dari rahim iman yang sama, serta nata rasa dengan meresapkan belas kasih Allah yang tuntas mengampuni kita, agar hati kita menjadi tempat di mana cinta kasih tidak pernah berakhir.

​Quis Deus similis tui? (Siapakah Allah seperti Engkau?)_

Ya Bapa, mampukanlah kami untuk senantiasa hidup sebagai keluarga-Mu yang taat dan membawa kasih-Mu yang tak pernah berakhir kepada semua orang. Amin.

Berkah Dalem, Salam Takzim.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *