CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words – Book Edition
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh N.P. Basuki Ismael
Peringatan Wajib: Santo Alfonsus Maria de Liguori
Peringatan: Santo Petrus Faber
HARI SABTU IMAM, Jumat,1 Agustus 2026, Warna Liturgi: Putih
Silenced Conscience, A Nation That Loses Its Future
SUARA HATI YANG DIBUNGKAM, BANGSA YANG KEHILANGAN MASA DEPAN
PENGANTAR
INI kisah nyata yang saya amati dalam 35 tahun karya di bidang pendidikan dan praktisi di bidang Sumber Daya Manusia.
Seorang karyawan mengetahui adanya praktik korupsi di kantornya. Jika ia melaporkannya, pekerjaannya mungkin terancam. Jika ia memilih diam, hati nuraninya terus gelisah.
Sama halnya saat mahasiswa melihat kecurangan dalam Ujian atau dalam Penulisan Ilmiah dan membiarkannya karena ketakutan, ancaman, atau enggan atau sahabat atau konco-konconya.
Dilema seperti ini juga kita alami dalam berbagai bentuk: memilih jujur atau aman, membela kebenaran atau mengikuti arus.
Sabda Tuhan hari ini mengajak kita belajar dari Nabi Yeremia dan Yohanes Pembaptis yang tetap setia menyuarakan kebenaran meski menghadapi ancaman. Santo Alfonsus Maria de Liguori mengingatkan bahwa suara hati yang dibentuk oleh Allah harus menjadi kompas setiap keputusan, sebab lebih baik menderita karena kebenaran daripada hidup nyaman dengan mengorbankan hati nurani.
PESAN UTAMA BACAAN
Allah memanggil kita untuk membentuk hati nurani yang jernih, berani menyuarakan kebenaran, dan tetap setia kepada-Nya meski harus menanggung risiko. Yeremia dan Yohanes Pembaptis menjadi teladan keberanian yang lahir dari iman, sedangkan Ahikam bin Safan menunjukkan bahwa akal sehat dan hati nurani mampu melindungi kebenaran. Sebaliknya, Herodes memperlihatkan bahwa kekuasaan tanpa hati nurani hanya melahirkan ketakutan, ketidakadilan, dan kehancuran.
Sabda Tuhan juga mengingatkan bahwa bangsa tidak runtuh pertama-tama karena kemiskinan, melainkan ketika suara hati dibungkam. Ketika kejujuran dihukum, korupsi dibiarkan tanpa pertanggungjawaban, kritik dibalas dengan intimidasi, dan masyarakat tidak lagi memiliki saluran yang adil untuk menegakkan kebenaran, orang-orang baik perlahan memilih diam. Saat itulah kepercayaan kepada hukum dan lembaga negara mulai runtuh, produktivitas melemah, dan harapan bangsa memudar. Karena itu, pembaruan bangsa harus dimulai dari pembaruan hati nurani setiap pribadi, keluarga, pemimpin, dan warga negara.
“Perbaikilah tingkah lakumu dan perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu.”
(Yeremia 26:13)“Tidak halal engkau mengambil dia.”
(Matius 14:4)“Hati nurani adalah inti manusia yang paling rahasia; di sanalah ia seorang diri bersama Allah, yang suara-Nya bergema di dalam batinnya.”
(Katekismus Gereja Katolik, 1776)“Ketika suara hati dibungkam, bangsa kehilangan masa depannya. Ketika suara hati didengarkan dan kebenaran ditegakkan, bangsa menemukan harapannya.”
DEVOSI
Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Santo Alfonsus Maria de Ligouri
adalah Pendiri Konggregasi CSSR).
Devosi dan Adorasi kepada
Sakramen Maha Kudus. Juga memiliki Devosi kepada
Bunda Maria. Santo Alfonsus adalah Penggiat Doa Rosario.
Doa Hariannya adalah: “Siapa berdoa selamat, tidak berdoa binasa.”St. Petrus Faber adalah Imam Serikat Jesus. Santo Petrus Faber menyapa Malaikat Pelindung di tiap kota/orang yang ditemui. Santo Petrus Faber tekun mendoakan jiwa-jiwa di api penyucian. Santo Petrus Faber adalah
Pembimbing Latihan Rohani yang baik dengan
Pendekatan Personal, yaitu mewartakan Injil lewat persahabatan, kelembutan, dan keheningan.
PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN
Bacaan Pertama
(Kitab Yeremia 26: 11-16, 24)
Intisari Bacaan:
Yeremia terus menyampaikan nubuat Tuhan dengan penuh iman dan keyakinan. Ia tidak takut walaupun diancam karena Allah menyertainya. Ia memperoleh perlindungan dari Tuhan dan dijauhkan dari hukuman mati.
Romo Michael Moeljo Hartomo, O.Carm (Pastor Paroki Tomang, Gereja Maria Bunda Karmel, Jakarta Barat):
Pemimpin yang Bijaksana: Mengandalkan Akal Sehat dan Hati Nurani
Renungan:
Romo Michael mengawali renungan bahwa hari ini Gereja Katolik memperingati Santo Alfonsus Maria de Liguari, seorang Uskup dan Pujangga Gereja. Selanjutnya Romo Michael memberikan inspirasi Renungan dari Kitab Yeremia.
Romo Michael memberikan pesan-pesan:
Hakikat dan Dampak Kepemimpinan: Pemimpin yang bijaksana menyelamatkan dan memakmurkan, sedangkan pemimpin yang buruk membawa kehancuran.
Kepemimpinan berlaku bagi siapa saja di berbagai lingkup—mulai dari keluarga, organisasi, komunitas doa, kelompok hobi, hingga interaksi di media sosial.
Belajar dari Yeremia & Ahikam bin Safan
Romo Michael memberi contoh Kepemimpinan Buruk yang diperankan oleh
Nabi Palsu (False Prophet). Pemimpin seperti ini memutarbalikkan teguran baik menjadi tuduhan, emosional, anti-kritik, serta menyebarkan kekerasan verbal dan asumsi liar.
Sebaliknya
Ahikam bin Safan adalah Pemimpin Bijak. Dia menggunakan akal sehat (pikiran jernih) dan hati nurani yang sehat untuk berdiri teguh membela kebenaran serta melindungi Yeremia yang tidak bersalah.
Dalam hidup sehari-hari model pemimpin bijak bisa diterapkan di keluarga dalam mengambil keputusan dengan tenang dan bijak tanpa luapan emosi atau ancaman.
Di Komunitas & Media Sosial kita
selalu menyaring informasi sebelum membagikan (saring sebelum sharing), agar tidak terhasut oleh narasi kebencian atau fitnah.
Yang lebih penting adalah berani membela kebenaran dan menghargai masukan/kritik yang membangun.
Dalam Pekerjaan penerapannya adalah bertindak jujur dan memimpin dengan integritas tinggi meski dihadapkan pada situasi yang sulit.
Doa
Tuhan, utuslah Roh Kudus-Mu untuk menerangi akal budi dan hati kami. Berilah kami akal sehat dan hati nurani yang jernih agar mampu membedakan yang benar dari yang salah, serta jadikan kami pemimpin yang bijaksana di mana pun kami berada. Amin.
Romo Willem Pau, Pr (Gereja St. Franciscus Saverius, Kebondalem, Semarang):
Keberanian Menyuarakan Kebenaran
Renungan:
Keberanian Yeremia adalah lebih takut melukai hati Allah daripada kehilangan kenyamanan. Ia tetap menyuarakan kebenaran dan ajakan pertobatan meski diancam hukuman mati oleh nabi-nabi palsu.
Allah tidak meninggalkan orang yang setia. Melalui keberanian Ahikam dan para pemuka rakyat, Yeremia dilindungi.
Belajar dari St. Thomas More:
“Aku adalah hamba raja yang baik, tetapi pertama-tama aku adalah hamba Allah.”
Kehendak Allah harus berdiri di atas segala kekuasaan dan tekanan manusia.
Penerapan:
Berani jujur, membela keadilan, dan mempertahankan nilai Injil dengan kasih, bukan untuk melukai.
Niat Konkret:
Hari ini saya akan berani jujur dalam satu situasi sulit dan mendoakan mereka yang disiagakan/ditolak karena hidup benar.
L. Elyas Nugraha (Lumen Mundi, Gereja Santo Athanasius Agung, Karangpanas, Semarang):
Keberanian Memilih Kebenaran di Atas Gengsi dan Tekanan Dunia
Renungan:
Elyas Nugraha membandingkanPerilaku Herodes dengan Yohanes Pembaptis.
Herodes tahu Yohanes adalah orang benar, tetapi ia mengalahkan suara hatinya hanya karena takut, gengsi, dan tekanan tamu-tamunya. Mengetahui kebenaran saja tidak cukup jika hati tidak memiliki keberanian untuk melaksanakannya.
Nabi Yeremia teguh mewartakan Sabda Allah meski menghadapi ancaman.
Keteguhan ini sejalan dengan ungkapan Santo Ignatius dari Antiokhia: Bonum est occidere in Christo Iesu quam regnare usque ad fines terrae (Lebih baik wafat dalam Kristus Yesus daripada memerintah sampai ke ujung bumi). Kesetiaan kepada Tuhan jauh lebih bernilai daripada segala kehormatan dunia.
Santo Anselmus mengingatkan pentingnya iman yang mencari pengertian (Fides quaerens intellectum). Semakin hati kita terbuka kepada Allah dan dibimbing oleh rahmat-Nya, semakin kita mampu membedakan yang baik, membina suara hati, dan dengan berani melaksanakannya dalam keputusan-keputusan kecil sehari-hari.
Perutusan:
Berani mengikuti suara hati yang benar meski harus menanggung risiko, serta memelihara kejujuran tanpa takut pada tekanan lingkungan.
TRANSITUS:
(Mazmur 69: 15-16.30-31.33-34)
Mazmur Tanggapan:
Pada waktu Engkau berkenan, jawabpah aku, ya Tuhan.
Romo Mike Schmitz (The Bible in a Year, Pelayanan Kepemudaan & Pastor Mahasiswa di Universitas Minnesota, Keuskupan Duluth):
Di Kedalaman Lumpur: Berdoa di Titik Terendah
Renungan:
Kejujuran Radikal saat Tenggelam: Pemazmur berseru memohon luput dari “lumpur” penderitaan. Iman tidak menuntut kita menyembunyikan rasa sakit, melainkan membawa kekacauan dan kecemasan itu jujur apa adanya kepada Bapa.
Pujian di Tengah Kesakitan (Praise in the Pain): Meski penderitaan belum selesai, pemazmur memilih tetap memuji nama Allah. Memuji Tuhan di titik terendah adalah bentuk iman yang paling murni.
Pengharapan Orang Berhati Rendah: Tuhan tidak pernah tuli terhadap jeritan orang miskin dan tertindas. Ketika kita merasa tidak berdaya, di situlah kasih setia Allah bekerja memulihkan hati kita.
Niat Konkret: Datang kepada Tuhan dengan segala pergumulan hari ini tanpa berpura-pura kuat, serta memilih untuk tetap bersyukur di tengah situasi sulit.
Doa
Tuhan, ketika aku merasa tenggelam dalam beban hidup, ingatkan aku bahwa Engkau tak pernah meninggalkan aku. Berilah aku keberanian untuk jujur di hadapan-Mu dan keteguhan untuk tetap memuji-Mu di tengah badai. Amin.
Injil Suci
(Matius 14: 1-12)
Intisari Bacaan:
Yohanes tanpa gentar mewartakan kebenaran termasuk menegur Herodes. Herodes memenjarakan Yohanes, tetapi karena janjinya kepada putri Herodes, akhirnya Herodes memenggal kepala Yohanes.
Ign. Harry Respatyo (Gereja Bunda Maria Ratu, Sukatani, Depok) / Paulus Krissantono, Gereja St. Mikael, Kranji, Bekasi) [RAGI]:
Berani Menyuarakan Kebenaran di Tengah Tantangan
Renungan:
Nabi Yeremia tegar menyampaikan Firman Allah meski diancam hukuman mati oleh nabi-nabi palsu. Ia dilindungi Allah melalui pemuka masyarakat yang adil.
Yohanes Pembaptis. Gugur sebagai martir setelah dipenggal akibat keteguhannya menegur cela Herodes —dikalahkan oleh gengsi, ego, dan janji emosional Herodes.
Ign. Harry Respatyomenemukan Pelajaran Utama dari Nabi Yeremia dan Nabi Yohanes Pembaptis dalam hal menyuarakan kebenaran selalu mengandung risiko, tetapi kesetiaan kepada Allah tidak boleh dikompromikan dengan kejahatan atau rasa takut.
Keberanian Nurani: Beranikah kita jujur? Kejahatan sering tumbuh bukan hanya karena orang jahat, melainkan karena orang baik memilih diam demi aman.
Keterbukaan Hati: Saat ditegur oleh kebenaran, apakah kita rendah hati untuk merenungkannya atau marah seperti Herodes?
Kekuatan Doa: Harry Respatyo mengingat pesan St. Alfonsus Maria de Liguori, “Siapa yang berdoa akan selamat, siapa yang tidak berdoa akan binasa.”
Romo A. Joko Purwanto, Pr (Puncta, Gereja St. Yohanes Rasul, Wonogiri):
Kekuasaan yang Membutakan
Romo Joko memulai dengan mengulik siapa Herodes Agung.
Herodes adalah Penguasa yang ambisi dan amarahnya tak terbendung.
Rekam Jejaknya Kejam. Herodes Agung memerintahkan pembunuhan bayi-bayi di Betlehem demi mempertahankan tahta.
Herodes juga Anti-Kritik. Rasa takut kehilangan kekuasaan membuatnya membunuh anak-anaknya (Alexander, Aristobulus, Antipater) dan istrinya (Mariame). Siapa pun yang kritis atau berseberangan disingkirkan tanpa ragu.
Yohanes Pembaptis tampil sebagai Nabi untuk menegur dosa Penguasa.
Yohanes Pembaptis dengan tegas mengingatkan Herodes yang mengambil Herodias—istri saudaranya sendiri—karena perilaku tersebut melanggar hukum Allah.
Herodes menggunakan kekuasaannya untuk menekan kebenaran. Yohanes yang menegakkan moralitas justru dipenggal kepalanya.
Refleksi:
Model kepemimpinan Herodes masih berulang ketika penguasa menggunakan alat negara untuk menteror rakyat, melanggar undang-undang demi kepentingannya sendiri, serta melabeli kritikus dengan stigma negatif.
AC Eko Wahyono (Katekis, Lectio Divina, Gereja St. Maria Tak Bernoda, Jember):
Kebenaran Seolah-Olah Kalah: Keteguhan Suara Kenabian di Hadapan Kekuasaan yang Cacat Moral
Renungan:
Yeremia & Seruan Pertobatan.
Yeremia diancam mati karena menyuarakan kebenaran, namun ia tidak mundur dan tetap menyerukan:
”Nunc ergo bonas facite vias vestras… et audite vocem Domini Dei vestri.”
(Perbaikilah tingkah langkahmu dan dengarkanlah suara Tuhan — Yer. 26:13).
Tuhan melindungi Yeremia melalui Ahikam yang berakal sehat dan berhati nurani.
Tragedi Herodes & Yohanes Pembaptis
Yohanes Pembaptis dipenggal akibat menegur dosa Herodes Antipas:
”Non licet tibi habere eam.” (Tidak dibenarkan bagimu memiliki Herodias — Mat. 14:4).
Herodes kalah oleh rasa takut, gengsi, dan sumpah palsu saat mabuk. St. Augustinus menegaskan sumpah yang lahir dari nafsu dan kemabukan tidak akan pernah membawa keadilan.
Kebenaran Dibandingkan Cacat Moral
St. Petrus Chrysologus menjelaskan mengapa orang benar selalu dibenci oleh penguasa yang zalim:
”Integritas menjadi musuh mereka yang koruptif… Keutamaan tidak pernah dikehendaki oleh mereka yang cacat moral.”
Yesus memutus lingkaran kekuasaan yang sesat ini dengan teladan penyerahan diri:
”Non venit ministrari sed ministrare…” (Datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani — Mat. 20:28).
TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING
Romo Danang Kuncoro, Pr (Mutiara Batin, Gereja Santa Maria Bunda Pembantu Abadi, Pamanukan, Subang):
Mengendalikan Diri di Tengah Jebakan Duniawi
Renungan
Pengendalian Diri & Kebijaksanaan:
Segala sesuatu atau emosi yang tidak dapat dikontrol dengan baik akan dengan sangat mudah membuat seseorang jatuh ke dalam keputusan yang tidak bijaksana.
Jebakan Keheningan dan Kenikmatan Semu:
Kesenangan, kenikmatan, kekayaan, kekuasaan, serta hal-hal duniawi lainnya sering kali menjadi jebakan semu yang menyesatkan jika kita tidak waspada.
Semua hal tersebut sifatnya hanya sementara dan akan cepat berlalu.
Nilai Abadi yang Dikehendaki Allah:
Di tengah dinamika emosi manusia (kemarahan, kesedihan, nafsu, ketakutan, maupun kesenangan), hanya iman dan keadilan yang sejati, abadi, serta berkenan di hadapan Allah.
Jangan biarkan emosi dan kenikmatan duniawi yang sementara menguasai hati dan pikiran. Kembalilah berpegang pada iman dan keadilan sebagai landasan hidup yang kekal.
Romo Hans Wijaya, Pr (Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, Nusa Dua, Denpasar):
Kesetiaan Pada Kebenaran Yang Membebaskan
Renungan:
Romo Hans memberi renungan tentang Sabda dan Kesetiaan Para Saksi. Yeremia: berani menyuarakan kebenaran bukan untuk menyenangkan manusia, melainkan demi menyelamatkan mereka. Ia tidak membalas tuduhan dengan kekerasan, melainkan dengan keteguhan iman bahwa ia menjalankan perintah Allah.
Yohanes Pembaptis menunjukkan bahwa kesetiaan pada kebenaran menuntut pengorbanan puncak. Walau dibunuh oleh Herodes karena menegur dosa, hidup dan kesaksiannya tetap menjadi terang yang abadi.
Romo Hans memberikan renungan tentang Keteladanan St. Alfonsus Maria de Liguori.
Sebagai pujangga Gereja dan doktor moral, St. Alfonsus mengajarkan bahwa kebenaran harus selalu disampaikan dengan kasih. Ia menolak sikap keras yang tidak berbelas kasih, sekaligus tidak pernah berkompromi dengan dosa. Kebenaran sejati adalah kebenaran yang membebaskan, bukan yang menindas.
Refleksi
Mengoreksi dan menegur dengan kelembutan, bukan dengan amarah atau kebencian.
Tetap Setia pada Suara Tuhan dengan mengikuti kehendak-Nya meski terasa tidak populer, tidak nyaman, atau tidak disukai.
Jangan Takut Membela yang Benar dan Yakin bahwa Tuhan selalu menyertai dan melindungi pribadi yang tulus.
Kesetiaan pada kebenaran bukan sekadar soal berbicara, melainkan bagaimana kita berani hidup di dalam terang Tuhan.
Romo Y. Gunawan, Pr (Percik Firmam, Formator Tahun Rohani Keuskupan Agung Semarang, Bumi Jangli, Karangpanas):
Peka akan Suara Hati
Renungan
Keluarga Herodes adalah contoh Penguasa yang Tuli Nurani. Herodes dikuasai dendam dan kemarahan atas teguran Yohanes Pembaptis. Akibat buta suara hati dan mudah dihasut, mereka tega membunuh sang Nabi.
Sebaliknya St. Alfonsus adalah contoh Imam yang Peka Nurani. Ia adalah Pendiri Konggregasi CSSR yang meninggalkan karier pengacara demi menjadi imam.
Santo Alfonsus mengajarkan bahwa suara hati adalah suara Tuhan yang mendewasakan iman.
Belajar tentang Jalan Akhir Hidup dari Ajaran St. Alfonsus yaitu
Benci dosa & mencintai Allah tanpa menunda dengan
Rutin memeriksa batin lewat Ekaristi & Pengakuan Dosa.
Dan melepaskan diri dari cinta duniawi —anggaplah setiap hari adalah hari terakhir.
Refleksi
Apakah kita mengasah suara hati atau tertutup dendam?
Diskresi:
Apakah kita mudah dihasut atau terbiasa memeriksa batin?
Keteladanan: Siapkah kita melepaskan keikatan duniawi seperti St. Alfonsus?
Romo Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman, Katedral Kristus Raja, Purwokerto):
Risiko Menyuarakan Kebenaran
Renungan:
Kebenaran sering kali terasa menyakitkan. Menyuarakan kebenaran membawa risiko dibenci, dikucilkan, dimarahi, bahkan menghadapi ancaman kematian.
Bagi hati yang terluka dan dipenuhi ego, suara kebenaran justru membangkitkan dendam dan rancangan jebakan untuk membunuhnya.
Yohanes Pembaptis menanggung risiko terburuk—kepalanya melayang demi menegakkan kebenaran. Namun, kematian fisik Yohanes tidak pernah mampu mengubur keberanian manusia untuk terus memperjuangkan keadilan.
Orang yang mati demi kebenaran sesungguhnya tidak pernah mati, sebab warisan imannya terus hidup. Sebaliknya, orang yang takut untuk mewujudkan kebenaran sesungguhnya telah mati berkali-kali.
Seorang pemberani hanya mati satu kali, tetapi seorang pengecut mati seribu kali.
Refleksi
Kebenaran tidak pernah menjadi tua dan layu.”
Kesalahan terbesar yang manusia lakukan adalah tidak bisa melihat kebenaran dari sudut pandang orang lain.”
KATEKISMUS GEREJA KATOLIK (KGK)
KGK 1776 (Suara Hati): Hati nurani adalah cermin hukum Allah; di dalamnya manusia mendengar suara Tuhan yang membimbing pada kebijaksanaan (Teladan St. Alfonsus).
KGK 1791 (Kebutaan Batin): Hawa nafsu, kemarahan, dan kelalaian membina nurani membuat orang buta moral hingga gagal membedakan yang baik dan jahat (Keluarga Herodes).
KGK 2473–2474 (Kesaksian Martir): Martirium adalah kesaksian tertinggi bagi kebenaran iman; orang benar rela mengorbankan nyawa demi kebenaran Allah (St. Yohanes Pembaptis).
MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA:
Nata Raga (Perilaku Nyata)
Mengendalikan Diri dengan menjauhkan tubuh dari hawa nafsu dan kesenangan semu yang merusak kejernihan untuk bertindak.
Menyampaikan kebenaran dengan tutur kata yang lembut, bukan dengan kekerasan.
Melatih raga hadir dalam Ekaristi, Pengakuan Dosa, dan doa harian.
Nata Pikir (Pikiran & Diskresi).
Objektif saat berani melihat kebenaran dari sudut pandang Allah dan orang lain.
Membuang rasa curiga, hasutan, dan kecenderungan menghakimi.
Melakukan Diskresi Jernih dengan mengasah akal sehat di hadirat Tuhan sebelum mengambil keputusan.
Nata Rasa (Hati Nurani & Batin).
Peka Suara Hati dengan mengheningkan batin untuk mendengarkan bisikan Tuhan.
MelakukanPembersihan Dosa dengan menaati nurani lewat pemeriksaan batin harian; membenci dosa, mencintai sesama.
Tidak takut membela yang benar, sebab kebenaran sejati membebaskan dan abadi.
NIAT KONGKRET
Niat Konkret Hari Ini:
Nata Raga (Aksi Nyata):
Menyampaikan masukan atau teguran kepada orang lain dengan tutur kata yang lembut dan tenang, tanpa nada amarah atau emosi yang meledak-ledak.
Nata Pikir (Pikiran Jernih):
Menahan diri untuk tidak mudah tersinggung, berdendam, atau mengkritik balik saat mendengar saran atau pandangan orang lain yang berbeda.
Nata Rasa (Batin & Nurani):
Melakukan pemeriksaan batin ringkas (examen) sebelum tidur malam, mengakui kekurangan hari ini, dan memohon ampun serta bimbingan suara hati dari Tuhan.
LAGU ROHANI PENGANTAR DOA
Lagu atau Musik Instrumentalia yang hening dan teduh
DOA HENING
Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.
Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.
PERUTUSAN
Perutusan Singkat:
”Pergilah dalam damai Kristus, hidupi dan wartakanlah kebenaran dengan kasih, serta jadilah saksi yang peka mendengarkan suara hati di mana pun Anda berada.”
DOA PENUTUP
✝️Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Allah Bapa yang Maha Sempurna dan sumber segala kebenaran,
kami bersyukur atas sapaan Sabda-Mu pada hari ini.
Melalui teladan Santo Alfonsus Maria de Liguori dan keberanian Santo Yohanes Pembaptis, mampukanlah kami untuk senantiasa peka mendengarkan suara hati, jujur pada diri sendiri, dan berani menghidupi kebenaran.Bimbinglah kami agar mampu untuk menyampaikan kebenaran dengan kelembutan kasih, serta menata raga, pikir, dan rasa kami dalam naungan Roh Kudus-Mu.
Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.✝️
Berkah Dalem, Salam Takzim.











