CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words – Book Edition
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh N.P. Basuki Ismael
Jumat 31 Juli 2026, Warna Liturgi: Putih
Peringatan Wajib: St. Ignasius dari Loyola
Peringatan: Santo Germanus; Beato Yohanes Colombini; Santo Yustinus de Yakobis
Learning from History, Finding God in Truth – BELAJAR DARI SEJARAH, MENEMUKAN ALLAH DALAM KEBENARAN
PENGANTAR
Sejarah sering kali menjadi cermin yang jujur bagi kehidupan manusia. Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa kesalahan yang sama terus berulang ketika manusia enggan belajar darinya.
Bangsa Yehuda mengabaikan peringatan Allah melalui Nabi Yeremia hingga mengalami kehancuran, orang-orang Nazaret menolak Yesus karena terbelenggu oleh prasangka, sementara pemazmur tetap berpegang teguh kepada Tuhan meskipun harus menanggung penolakan demi kebenaran.
Hingga hari ini, kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan peradaban ternyata tidak selalu diiringi oleh pertumbuhan hati nurani. Korupsi, ketidakadilan, kerakusan, kekerasan, serta perusakan lingkungan terus terjadi karena manusia sering kali lebih mengandalkan kecerdasan daripada kebijaksanaan, dan lebih mengejar kepentingan diri daripada kehendak Allah.
Dalam terang Sabda itulah Gereja mengenang Santo Ignatius dari Loyola. Sebuah peluru meriam yang mengakhiri cita-citanya sebagai seorang ksatria justru menjadi awal pertobatan yang mengubah arah hidupnya. Ia belajar memeriksa hati nurani, membedakan gerak roh, serta mencari dan menemukan Allah dalam segala hal (Quaerere et invenire Deum in omnibus). Dari pengalaman itu lahirlah spiritualitas Ignasian yang selama berabad-abad menginspirasi karya pendidikan, misi, pelayanan kepada kaum miskin, dialog dengan berbagai budaya, dan pembinaan hati nurani. Bahkan hingga kini, Gereja baru memiliki satu Paus yang berasal dari Serikat Yesus, sebuah kenyataan yang menunjukkan bahwa semangat Ignasian bukanlah mengejar kehormatan, melainkan melayani dengan rendah hati demi Ad maiorem Dei gloriam—kemuliaan Allah yang lebih besar.
Hari ini, Sabda Tuhan mengajak kita untuk berhenti sejenak guna memeriksa hati: apakah kita sungguh mau belajar dari sejarah, berani menerima kebenaran meskipun menegur kenyamanan kita, dan tetap mengenali karya Allah melalui orang-orang sederhana di sekitar kita?
Hanya hati yang rendah, terbuka, dan terus diperbarui yang mampu menjadi tempat Allah berkarya serta menghadirkan harapan bagi dunia.
PESAN UTAMA BACAAN
Allah tidak pernah berhenti berbicara kepada umat-Nya, tetapi manusia sering kali gagal mendengar karena hati yang keras, prasangka, dan kelekatan pada kenyamanan diri.
Melalui Nabi Yeremia, Mazmur, dan Yesus yang ditolak di Nazaret, kita diajak untuk belajar dari sejarah agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, membentuk hati nurani yang peka terhadap kebenaran, serta tetap setia mewartakan dan menghidupi Sabda Tuhan sekalipun menghadapi penolakan.
Meneladani Santo Ignatius dari Loyola, marilah kita senantiasa mencari dan menemukan Allah dalam segala hal, sehingga seluruh hidup kita diarahkan demi Ad maiorem Dei gloriam—kemuliaan Allah yang lebih besar.
DEVOSI
Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
St. Ignasius dari Loyola
Latar Belakang: Pendiri Serikat Yesus (Yesuit / SJ).
Devosi & Spiritualitas:
Spiritualitas Ignasian: Berfokus pada upaya mencari dan menemukan Allah dalam segala hal (In omnibus quaerere et invenire Deum).
Latihan Rohani (Exercitia Spiritualia): Metode doa, meditasi, dan diskresi roh untuk menemukan kehendak Allah.
Pemeriksaan Batin (Examen): Devosi harian untuk merefleksikan rahmat dan kehadiran Tuhan sepanjang hari.
Hati Kudus Yesus & Nama Kudus Yesus (IHS): Penghormatan mendalam pada nama Yesus dan devosi Hati Kudus yang kemudian dilanjutkan oleh para Yesuit.
Santo Germanus (Uskup Paris atau Auxerre)
Devosi & Spiritualitas:
Dikenal atas cinta kasih pada kaum miskin (digelari “Bapa Kaum Miskin”).
Spiritualitas pendoa, pertapa/asketik, dan penghormatan kepada Bunda Maria (terutama St. Germanus I dari Konstantinopel yang menekankan Maria sebagai perantara rahmat).
Beato Yohanes Colombini (Giovanni Colombini)
Devosi & Spiritualitas:
Pendiri Kongregasi Jesuati (Biarawan Hati Kudus).
Devosi utamanya adalah Penghormatan pada Nama Kudus Yesus (Nama Yesus yang Mahakudus) serta kerap menyanyikan pujian “Praise be to Jesus Christ!” (Terpujilah Yesus Kristus).
Spiritualitasnya menekankan kemiskinan radikal dan pertobatan total, menyerupai jejak St. Fransiskus dari Asisi.
Santo Yustinus de Yakobis (Giustino de Jacobis, C.M.)
Latar Belakang: Imam Kongregasi Misi (Vinsensian / CM) yang diutus sebagai misionaris dan Uskup di Etiopia/Abesinia.
Devosi & Spiritualitas:
Spiritualitas Inkulturasi & Ekumenisme: Dikenal sebagai pendahulu inkulturasi modern, ia menghormati tradisi Gereja Lokal Etiopia (Ritus Ge’ez) dan mendekati umat Koptik dengan cinta, bukan paksaan.
Devosi Vinsensian (Cinta Kaum Miskin & Penderita Plague): Merawat penderita wabah kolera tanpa takut tertular dan melayani mereka yang paling terpinggirkan.
Pelindung Misi Afrika: Dikenal sebagai “Rasul Abesinia/Etiopia”.
PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN
Bacaan Pertama
(Kitab Yeremia 26: 1-9)
Intisari Bacaan:
Sabda Tuhan jangan pernah dikurangi atau dipenggal-penggal demi kepentingan dan pembenaran diri sendiri. Sabda Tuhan harus diwartakan dengan utuh.
Belajar dari Sejarah, Hidup dengan Hati Nurani
Renungan:
Romo Michael mengawali dan menutup Renungan dengan Doa dari St. Ignatius Loyola yang kita peringati di setiap tanggal 31 Juli.
Selanjutnya Romo Michael menjelaskan pesan bacaan pertama dari Yeremia 26:1–9.
Allah mengutus Nabi Yeremia untuk mengajak Yehuda bertobat. Melalui contoh Silo, tempat suci yang dihancurkan karena ketidaksetiaan umat, Allah menunjukkan bahwa sejarah adalah peringatan agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ancaman hukuman bukanlah tujuan akhir, melainkan panggilan penuh kasih agar manusia kembali kepada-Nya.
Pesan itu tetap relevan hingga sekarang. Di tengah banyaknya suara yang mengajak kepada kebaikan, manusia masih terjebak dalam korupsi, ketidakadilan, kerakusan, dan perusakan lingkungan. Sejarah sering diabaikan sehingga dosa dan kesalahan terus berulang dari generasi ke generasi.
Romo Michael Moeljo Hartomo, O. Carm. menegaskan bahwa kemajuan teknologi dan kecerdasan tidak selalu diiringi pertumbuhan hati nurani.
Kecerdasan tanpa kebijaksanaan, dan kemakmuran tanpa tanggung jawab sosial, hanya membawa kehancuran. Karena itu, iman tidak cukup berhenti pada identitas atau ibadah, tetapi harus diwujudkan dalam pertobatan dan hidup yang benar.
Pada Pesta Santo Ignatius Loyola, kita diajak untuk memeriksa hati nurani, belajar dari pengalaman, dan mencari kehendak Allah dalam setiap keputusan.
Biarlah masa lalu menjadi guru yang menumbuhkan hikmat, sehingga kita semakin setia kepada Tuhan dan menjadi pembawa harapan bagi sesama.
Doa:
Tuhan, ajarlah kami belajar dari sejarah dan pengalaman hidup. Bentuklah hati nurani kami agar tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana dan penuh kasih. Semoga kami tidak mengulangi kesalahan yang sama, melainkan terus bertobat, melakukan kehendak-Mu, dan menjadi saksi kasih-Mu setiap hari.
Melalui perantaraan Santo Ignatius Loyola, tuntunlah langkah kami. Amin.
Romo Willem Pau, Pr (Gereja St. Franciscus Saverius, Kebondalem, Semarang):
Keberanian Menyuarakan Kebenaran
Melalui kisah Nabi Yeremia (Yer 26:1-9) dan teladan kemartiran Santo Oscar Romero, kita diingatkan bahwa menjadi saksi Kristus menuntut keberanian untuk menyuarakan serta menerima kebenaran Injil, bahkan ketika harus menghadapi penolakan.
Kasih Allah hadir tidak hanya lewat penghiburan, tetapi juga melalui teguran yang memanggil kita pada pertobatan total agar hidup kita menjadi tanda kehadiran-Nya yang membawa damai.
Doa:
Ya Tuhan, berilah aku hati yang terbuka untuk menerima Sabda-Mu dan keberanian menjadi saksi kasih serta keadilan-Mu. Amin.
Niat Konkret:
Hari ini saya akan memilih berkata jujur dan melakukan hal yang benar, sekalipun menuntut pengorbanan.
L. Elyas Nugraha (Lumen Mundi, Gereja Santo Athanasius Agung, Karangpanas, Semarang):
Setia Menjadi Saksi Allah di Tengah Penolakan
Renungan:
Nabi Yeremia (Yer 26:1-9) dan Yesus (Mat 13:54-58) sama-sama mengalami penolakan dari orang-orang yang mengenal mereka.
Kekerasan hati membuat manusia sering menolak kebenaran hanya karena penampilan lahiriah atau keakraban yang dangkal. Namun, baik Yeremia maupun Yesus mengajarkan bahwa kesetiaan dalam perutusan (fidelitas in missione) jauh lebih utama daripada sekadar mencari pengakuan manusia.
Pencerahan:
Meneladani Santo Ignasius dari Loyola, kita dipanggil untuk memiliki kebebasan batin dari pujian duniawi.
Ukuran keberhasilan seorang murid Kristus bukanlah tepuk tangan manusia, melainkan apakah hidupnya sungguh mendedikasikan diri demi Ad maiorem Dei gloriam (Demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar).
Refleksi:
Apakah setiap tindakan dan keputusanku sungguh diarahkan demi kemuliaan Allah, atau masih mengejar pujian manusia?
Doa:
Tuhan Yang Mahabaik, jauhkankanlah kami dari kekerasan hati.
Berilah kami keberanian dan kesetiaan untuk selalu mencari serta memilih apa yang paling memuliakan nama-Mu di tengah penolakan dunia. Amin.
TRANSITUS:
(Mazmur 69: 5.8-10.14)
Mazmur Tanggapan:
Demi kasih setia-Mu yang besar, jawablah aku, ya Tuhan.
Romo Mike Schmitz (The Bible in a Year, Pelayanan Kepemudaan & Pastor Mahasiswa di Universitas Minnesota, Keuskupan Duluth):
”Bertahan dalam Penderitaan demi Nama Tuhan”
Renungan:
Dalam pengajaran The Bible in a Year, Romo Mike Schmitz sering kali mengingatkan bahwa Kitab Mazmur—khususnya Mazmur Ratapan seperti Mazmur 69—bukan sekadar ungkapan kesedihan, melainkan doa yang sangat jujur dari hati yang terluka namun tetap percaya.
Pemazmur mengungkapkan betapa beratnya beban ketika ia dibenci tanpa alasan dan ditolak demi mempertahankan imannya (Mzm: 69:5, 8-9). Seruan “Sebab oleh karena Engkaulah aku menanggung cela…” (Mzm: 69:8) menggambarkan bahwa penderitaan yang kita alami demi kebenaran bukanlah hal yang sia-sia.
Bahkan, nyala kasih dan kecintaan akan Rumah Tuhan yang membakar pemazmur (Mzm: 69:10) menjadi nubuat yang dipenuhi Kristus sendiri saat Ia memikul penderitaan demi keselamatan kita.
Di tengah rasa terasing atau penolakan karena iman kita, Mazmur ini mengajar kita untuk mengarahkan pandangan kembali kepada Bapa: “Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya Tuhan, pada waktu Engkau berkenan; ya Allah, demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku…” (Mzm 69:14).
Rahmat Tuhan tidak pernah terlambat, dan kasih setia-Nya selalu menjadi landasan yang kokoh di tengah badai kehidupan.
Refleksi:
Apakah saat mengalami ketidakadilan atau penolakan, aku memilih untuk menyerah dan kecewa, ataukah mengeluhkannya kepada Tuhan dalam doa yang jujur?
Doa:
Tuhan Allah yang Maharahim, berilah kami keteguhan hati saat mengalami penolakan atau penderitaan demi kebenaran-Mu. Kiranya cinta akan Rumah-Mu dan kehendak-Mu senantiasa membakar semangat kami, serta ajarilah kami untuk selalu berharap pada kasih setia-Mu yang tidak pernah gagal. Amin.
Injil Suci
(Matius 13: 54.55.56b-58)
Intisari Bacaan:
Suara Kebenaran selalu menjadi suara yang dianggap remeh ketika disampaikan oleh orang yang dianggap dekat dengan lingkungan pewartaannya.
Romo A. Joko Purwanto, Pr (Puncta, Gereja St. Yohanes Rasul, Wonogiri):
Penolakan di Nazaret: Menjaga Hati dari Prasangka
Renungan:
Kisah Pewayangan
ketika Semar hendak “Membangun Kahyangan”—sebuah simbol perbaikan moral dan kehidupan di Dusun Karang Kadempel—ia justru ditentang dan dicemooh oleh raja serta kalangannya sendiri. Niat luhur dan kebaikan Semar ditolak oleh orang-orang yang seharusnya mendukungnya.
Kebaikan Belum Tentu Diterima
Hal senada dialami Yesus di tanah kelahiran-Nya, Nazaret (Mat 13:54-58). Meskipun terheran-heran akan hikmat dan mukjizat-Nya, orang-orang Nazaret justru kecewa dan menolak-Nya hanya karena mereka mengenal asal-usul keluarga-Nya sebagai “anak tukang kayu”.
Luka batin yang paling dalam sering kali lahir dari cemoohan dan penolakan orang-orang terdekat.
Belajar dari Kisah
Efek Buruk Prasangka:
Perlakuan buruk atau penolakan kepada orang lain sebenarnya tidak merugikan orang tersebut, melainkan merugikan diri kita sendiri. Orang Nazaret kehilangan kesempatan untuk menerima rahmat dan mukjizat besar hanya karena hati mereka tertutup oleh kecurigaan dan cemburu.
Keterbukaan Hati menerima Rahmat:
Setiap orang membawa berkahnya masing-masing bagi kita. Jangan pernah merendahkan atau menutup diri terhadap sesama, melainkan hargailah dan terimalah mereka dengan kasih karunia.
Sepercik Pantun:
Belum ada universitas tetapi sudah ada rektornya,
Belum ada tugas pekerjaan tetapi sudah ada gajinya.
Belum ketemu orang tetapi sudah menolaknya,
Belum mendapat mukjizat tetapi sudah meragukannya.
AC Eko Wahyono (Katekis, Lectio Divina, Gereja St. Maria Tak Bernoda, Jember):
Setia Mewartakan Kebenaran di Tengah Penolakan
Renungan:
Nabi Yeremia dipanggil untuk menyampaikan firman Allah secara utuh tanpa dikurangi. Karena menegur dosa dan menyerukan pertobatan, ia diancam hukuman mati (“Morte moriaris”) oleh para imam dan umatnya sendiri. Membawa suara kenabian sering kali berisiko dibenci dan ditolak.
Setiba di Tempat Asal-Nya Sekembalinya Yesus ke Nazaret, kepulangan-Nya tidak disambut sukacita, melainkan rasa iri dan prasangka.
Prasangka itu membuat orang-orang Nazaret gagal melihat rahmat Allah; mereka terhalang oleh keakraban yang dangkal dan hanya memandang Yesus sebagai “anak tukang kayu”.
Yesus ditolak: “Non est propheta sine honore nisi in patria et in domo sua” — Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri. Kebenaran kerap ditolak bukan karena pesannya salah, melainkan karena kerasnya hati (duritia cordis) dan ketidakpercayaan orang-orang yang mendengarnya.
Katekese:
“Mukjizat tidak terjadi bukan karena kuasa Tuhan terbatas, melainkan karena ketidakpercayaan manusia. Seperti lahan yang membutuhkan pengolahan untuk menghasilkan buah, karya ilahi membutuhkan iman manusia sebagai tanah yang siap menerima rahmat-Nya.”
— Origenes dari Alexandria (185–254)
Perutusan:
Buka hati dan buang jauh prasangka buruk terhadap sesama, agar kita tidak menjadi penghalang bagi karya rahmat Allah di sekitar kita.
Doa:
Tuhan, kasih-Mu mengalahkan tiap ketakutan serta menghancurkan kebencian dan kecurigaan. Bantulah aku agar selalu menyambut-Mu dengan sukacita dan mampu memperlakukan sesamaku seperti Engkau mengasihi aku. Amin.
TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING
Romo Danang Kuncoro, Pr (Mutiara Batin, Gereja Santa Maria Bunda Pembantu Abadi, Pamanukan, Subang):
Merasakan Kebaikan Tuhan dalam Sesama dan Semesta
Hati yang bijaksana dan akal budi yang bersih merupakan karsa yang memampukan kita untuk merasakan kebaikan Tuhan yang nyata hadir dalam diri sesama.
Sering kali kita terhalang oleh prasangka dan pandangan yang sempit, padahal Tuhan senantiasa membuka cakrawala Ilahi-Nya di dalam setiap peristiwa kehidupan dan keteraturan semesta.
Ketika kita memiliki kerendahan hati untuk membersihkan akal budi, kita akan mampu menangkap karya dan penyertaan Tuhan yang hadir, bahkan melalui hal-hal yang paling sederhana di sekitar kita.
Refleksi:
Apakah hati dan akal budiku sudah cukup bersih untuk melihat kebaikan Tuhan dalam diri orang-orang di sekitarku hari ini?
Doa:
Semoga aku dimampukan untuk merasa dan mengalami percik-percik keilahian dalam hidupku.
Romo Hans Wijaya, Pr (Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, Nusa Dua, Denpasar):
Ketika Kebenaran Tidak Disukai
Yeremia dan Yesus ditolak oleh orang-orang terdekat bukan karena warta mereka salah, melainkan karena kebenaran mengusik kenyamanan dan meruntuhkan prasangka.
Kerasnya hati membuat orang Nazaret meremehkan Yesus hanya sebagai “anak tukang kayu” hingga rahmat mukjizat pun terhalang.
Meneladani St. Ignatius dari Loyola yang berani membiarkan hidupnya diubah oleh Allah, kita diundang untuk memiliki kerendahan hati: berani mendengar kebenaran walau menegur, jangan meremehkan siapa pun karena Allah kerap memakai orang sederhana, serta buka hati pada pembaruan seperti St. Ignasius dari Loyola agar cara pandang kita senantiasa diperbarui.
Romo Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman, Katedral Kristus Raja, Purwokerto):
Terlepas dari Jebakan Penolakan Diri
Renungan:
Dunia sering kali mengajarkan bahwa kesuksesan, popularitas, dan kekuasaan adalah pencapaian tertinggi. Namun, bahaya terselubung yang paling merusak jiwa justru terjadi saat kita gagal menerima dan mengasihi diri kita sendiri sebagaimana Allah mengasihi kita.
Ketika kita terjebak dalam penolakan diri, kita mulai meragukan martabat kita sebagai anak-anak Allah yang dikasihi. Kita merasa tidak berharga, sibuk membandingkan diri dengan orang lain, atau menuntut kesempurnaan duniawi demi mendapatkan pengakuan. Padahal, pemulihan dan kedamaian sejati dimulai saat kita berani menerima diri apa adanya—Lengkap dengan segala kelebihan dan keterbatasan kita—dalam dekapan kasih ilahi.
Kartu Iman Romo Nico Liem Tjay, OMI
Jebakan terbesar dalam hidup kita bukanlah kesuksesan, popularitas atau kekuasaan, tetapi penolakan diri.
— Henri Nouwen
KATEKISMUS GEREJA KATOLIK (KGK)
KGK 543 – 546: Warta Kerajaan Allah & Ketidakpercayaan Manusia
Konteks: Menjelaskan bagaimana Yesus mengundang semua orang masuk ke dalam Kerajaan Allah melalui warta dan mukjizat-Nya. Namun, untuk menerimanya dibutuhkan iman.
Relevansi: Orang-orang di Nazaret menolak Yesus bukan karena mukjizat-Nya kurang, melainkan karena ketidakpercayaan dan kerasnya hati (duritia cordis) mereka, sehingga karya Allah terhalang.
KGK 259: Mencari Kemuliaan Allah (Ad Maiorem Dei Gloriam)
Konteks: Seluruh tata ciptaan dan tujuan hidup manusia diarahkan untuk memuliakan Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Relevansi: Menjadi pilar utama semangat St. Ignatius dari Loyola, di mana murid Kristus dipanggil bebas dari pencarian pujian manusia/duniawi dan mendedikasikan seluruh hidup demi kemuliaan Allah yang lebih besar.
KGK 1776 – 1785:
Hati Nurani & Kebebasan Batin
Konteks: Hati nurani adalah inti paling rahasia dalam diri manusia untuk mendengarkan suara Allah, menegur dosa, dan mengarahkan pada kebenaran.
Relevansi: Meneladani Nabi Yeremia dan St. Ignatius untuk berani mendengar kebenaran dan membiarkan diri diperbarui oleh pertobatan, meskipun harus mengusik kenyamanan diri.
MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA:
Nata Raga (Menata Tubuh & Tindakan Nyata)
Menjaga kebiasaan tubuh, tutur kata, dan gestur agar tidak merendahkan atau memandang sebelah mata sesama—seperti warga Nazaret yang meremehkan Yesus hanya sebagai “anak tukang kayu”.
Menggunakan mata dan telinga untuk berani mendengar kebenaran serta melihat keberadaan Allah dalam diri orang-orang sederhana di sekitar kita.
Melakukan tindakan jujur, adil, dan penuh kasih dalam aktivitas harian, sekalipun menuntut pengorbanan fisik maupun ketidaknyamanan.
Nata Pikir (Menata Pikiran & Akal Budi)
Membersihkan pikiran dari kecurigaan, iri hati, dan prasangka buruk yang sering kali membutakan mata hati dari kebaikan Tuhan.
Meneladani Santo Ignatius dari Loyola dengan senantiasa menyaring pikiran melalui pertanyaan: “Apakah pikiran dan rencanaku ini sungguh memuliakan Allah (Ad Maiorem Dei Gloriam) atau hanya mengejar pujian manusia?”
Mengarahkan cara pandang agar peka melihat “cakrawala Ilahi” dan hikmat Allah yang hadir dalam setiap peristiwa sehari-hari (KGK 1776–1785).
Nata Rasa (Menata Hati, Olah Rasa, & Kebatinan)
Menyembuhkan Luka Penolakan: Menerima kenyataan bahwa kebaikan tidak selalu disukai semua orang. Ketika mengalami penolakan atau cemoohan dari orang terdekat, jaga hati agar tidak jatuh dalam kekecewaan, dendam, atau sakit hati.
Sadari dan syukuri martabat diri sebagai anak yang dikasihi Allah tanpa harus haus akan popularitas atau kekuasaan.
Keheningan & Keterbukaan Hati: Melatih keheningan batin agar tidak memiliki hati yang keras (duritia cordis), melainkan hati yang lembut dan siap menerima teguran serta pembaruan dari Allah.
NIAT KONGKRET
Hari ini saya akan memilih berkata jujur dan berbuat baik tanpa membalas kejahatan, serta belajar menghargai orang terdekat tanpa prasangka demi kemuliaan Allah.
LAGU ROHANI PENGANTAR DOA
Lagu atau Musik Instrumentalia yang hening dan teduh
DOA HENING
Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.
Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.
PERUTUSAN
Quaere Deum in omnibus rebus: Carilah Allah dan percik-percik keilahian-Nya dalam segala hal dan dalam diri sesama.
Humanam gloriam ne quaeras: Bebaskan diri dari prasangka serta dahaga akan pujian manusia.
Ad maiorem Dei gloriam vive: Hiduplah dan bertindaklah demi kemuliaan Allah yang lebih besar.
DOA PENUTUP
Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.
Allah Bapa Yang Mahabaik,
Terima kasih atas sapaan Sabda-Mu yang mengingatkan kami untuk setia menjadi saksi kebenaran-Mu. Jauhkanlah kami dari kekerasan hati dan prasangka yang sering kali menutup mata kami dari kebaikan dan kehadiran-Mu dalam diri sesama, khususnya orang-orang terdekat kami.
Bebaskanlah kami dari jebakan penolakan diri serta dahaga akan pujian duniawi. Bersama Santo Ignatius dari Loyola, bentuklah hati, pikiran, dan raga kami agar senantiasa terbuka menerima teguran dan pembaruan iman, sehingga dalam segala pikiran, perkataan, dan perbuatan, kami hanya mencari dan memilih apa yang paling memuliakan nama-Mu.Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad.
Amin.
Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.
Berkah Dalem, Salam Takzim.











