Bejana Belarasa di Usia Bonus

CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words – Book Version
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh N.P. Basuki Ismael
Pekan Biasa VII, Kamis 30 Juli 2026, Warna Liturgi: Hijau
Peringatan: Santo Abdon; Beato Manes de Guzman; Santo Petrus Krisologus, Santo Senen.
A Vessel of Compassion in the Bonus Years – BEJANA BELARASA DI USIA BONUS

PENGANTAR

Tiga bulan terakhir, setiap kali selesai membaca dan mendengarkan berbagai renungan, saya tidak langsung menulis. Saya memilih untuk berhenti sejenak dalam keheningan larut malam dan pagi. Dalam keheningan itu saya mencoba untuk menangkap satu pesan yang paling kuat berdengung di detak jantung saya.

Renungan hari ini melanjutkan pertanyaan yang saya gumulkan beberapa hari terakhir: “Untuk apa Tuhan masih memperpanjang hidup saya di usia bonus ini?”

Hampir tiga tahun lalu, setelah belahan hati saya dipanggil Tuhan untuk pulang selamanya, saya pertama kali diajak untuk bergabung dalam Gerakan Belarasa BerKhat Santo Yusup (BKSY). Saat itu saya belum siap.

Tiga bulan yang lalu, ajakan itu datang kembali melalui dua pribadi yang sangat saya hormati: Bapak Kaduhu (75 tahun) selaku Ketua dan Mas Th. Wiryawan (63 tahun) selaku Wakil Ketua. Kali ini saya menerima sebuah panggilan sebagai salah satu Rasul BKSY.

Selama tiga bulan saya mencoba untuk memahami denyut gerakan ini: Faith, Fraternity, and Compassion — Iman, Persaudaraan, dan Belarasa.

Saya baru menyadari bahwa BKSY bukan sekadar organisasi biasa, melainkan sebuah Gerakan Belarasa yang selama tiga belas tahun telah menghimpun sekitar 25.000 anggota dari 25 paroki di Keuskupan Agung Jakarta.

Namun Keuskupan Agung Jakarta memiliki 69 paroki. Artinya, masih ada 44 paroki yang belum terlibat dalam Gerakan Belarasa ini.

Di situlah hati saya mulai bertanya,

Apakah inilah alasan Tuhan masih memberi saya usia bonus?

Bukan untuk menikmati sisa hidup, karena masa-masa nikmat itu telah lewat, melainkan untuk ikut menggerakkan lebih banyak umat agar semakin banyak keluarga Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel (KLMTD) dapat merasakan kasih Kristus.

BKSY hadir ketika seorang anggota dirawat di rumah sakit dengan bantuan Rp100.000 setiap malam rawat inap, dan ketika seorang anggota dipanggil Tuhan pada usia 0–80 tahun, keluarga menerima bantuan belas kasih sebesar Rp10.000.000.

Bagi sebagian orang, jumlah itu mungkin tampak sederhana.

Namun bagi keluarga yang sedang memikul salib penderitaan, bantuan itu menjadi tanda bahwa Gereja tidak meninggalkan mereka. Gereja Hadir.

Saya membayangkan, bila semakin banyak umat yang berkecukupan bersedia menjadi seperti pending coffee, maka semakin banyak saudara yang berkekurangan akan merasakan hangatnya kasih Allah.

Mungkin beginilah Tuhan sedang membentuk tanah liat saya (lempung kathokan) yang rapuh ini menjadi bejana yang sedikit demi sedikit berguna bagi sesama.

PESAN UTAMA BACAAN

Hari ini Yeremia mengajak kita masuk ke rumah tukang periuk.

Tanah liat yang rusak tidak dibuang. Ia dibentuk kembali.

Demikian pula hidup kita.

Usia bonus bukanlah akhir perjalanan, melainkan kesempatan baru untuk dibentuk kembali oleh Tuhan menjadi bejana yang lebih berguna.

Injil tentang pukat Kerajaan Surga mengingatkan bahwa hidup bukan diukur dari berapa lama kita hidup, melainkan berapa banyak kasih yang berhasil kita tebarkan sebelum pukat itu diangkat ke pantai.

Karena itu:

Nata Raga menggerakkan tangan untuk melayani.

Nata Pikir membimbing akal budi untuk memilih yang benar.

Nata Rasa melembutkan hati agar mampu berbelas kasih.

Mungkin saya tidak mampu untuk menggerakkan seluruh Paroki di Keuskupan Agung Jakarta.

Namun bila Tuhan berkenan memakai saya untuk mengajak satu demi satu dari 44 paroki yang belum bergabung, sehingga semakin banyak umat terlibat dalam Gerakan Belarasa BKSY, maka semakin banyak pula keluarga yang sakit, berduka, dan berkekurangan dapat merasakan kasih Kristus yang nyata.

Di usia bonus ini saya tidak lagi memohon umur yang lebih panjang.

Saya hanya memohon hati yang tetap lembut seperti tanah liat di tangan Sang Penjunan Agung.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan dikenang karena panjangnya usia, melainkan karena luasnya kasih yang berhasil kita wariskan.

Kiranya ketika Tuhan memanggil saya pulang nanti, saya dapat berkata dengan damai:

“Tuhan, bejana itu memang sederhana, tetapi aku telah berusaha mengisinya dengan iman, persaudaraan, dan belarasa.”

DEVOSI

Kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Santo Abdon; Beato Manes de Guzman; Santo Petrus Krisologus, Santo Senen.

​Santo Abdon:
Ia adalah seorang pangeran atau bangsawan Persia abad ke-3 yang menjadi martir Kristiani di Roma bersama Santo Sennen karena menolak mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa Pagan pada masa penganiayaan kaisar Dekius.

​Beato Manes de Guzman:
Ia adalah seorang imam Ordo Pengkhotbah (Dominikan) abad ke-13 yang dikenal atas kesederhanaan hidup dan kesuciannya, serta merupakan saudara kandung dari pendiri Ordo Dominikan, Santo Dominikus de Guzman.

​Santo Petrus Krisologus:
Ia adalah seorang Uskup Ravenna abad ke-5 dan Pujangga Gereja yang dijuluki “Pria Berkata-kata Emas” (Chrysologus) karena khotbah-khotbahnya yang sangat indah, tajam, dan penuh bobot teologis.

​Santo Senen (Sennen):
Ia adalah seorang bangsawan asal Persia abad ke-3 yang wafat sebagai martir di Roma bersama Santo Abdon karena keteguhan imannya mempertahankan ajaran Kristus di tengah ancaman hukuman mati dari kekaisaran Roma.

PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN

Bacaan Pertama
(Kitab Yeremia 18: 1-6)

Intisari Bacaan:
Bangsa Israel adalah seperti tanah liat di tangan seorang tukang periuk yang akan dibentuk sesuai kehendak hati Tuhan.

Romo Michael Moelyo Hartomo, O.Carm (Pastor Paroki Tomang, Gereja Maria Bunda Karmel, Jakarta Barat):

​DIBENTUK KEMBALI OLEH SANG PEMBENTUK AGUNG

​Berdasarkan Yeremia 18:1–6
​Renungan Romo Michael mengaitkan perumpamaan tukang periuk dan tanah liat (Yer. 18:1–6) dengan pergumulan zaman saat ini.

Ketika penyembuhan, perbaikan, atau pemulihan hidup sudah tidak lagi dapat dilakukan, maka satu-satunya jalan adalah dibentuk kembali melalui perubahan hidup secara total.

​Kedaulatan Tuhan & Pembentukan Ulang:
Seperti tanah liat yang meleot di tangan tukang periuk, Tuhan memiliki kedaulatan mutlak untuk membentuk kembali hidup kita yang rusak menjadi bejana baru yang indah sesuai kehendak-Nya.

​Kedaulatan Diri Dibandingkan Tanggung Jawab Sosial:

Manusia modern kerap mengedepankan kedaulatan pribadi dan egoisme melebihi tanggung jawab sosial. Hal ini memicu hilangnya kearifan lokal serta rusaknya tatanan hidup bersama.

​Kerendahan Hati untuk Berserah: Proses pembentukan kembali sering kali terasa berat dan menyakitkan. Namun, kita diajak untuk memiliki kerendahan hati seperti tanah liat yang pasrah di tangan Sang Penjunan Agung.

​Memperhatikan yang Tersingkir: Pembentukan diri hendaknya mendorong kita untuk menghargai kedaulatan sesama yang Kecil, Lemah, Tersisih, dan Difabel (KLMTD) demi mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera.
​“Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel.”
— Yeremia 18:6

​Doa:
Bapa yang Maharasul dan Maha Pengasih, Engkau mengenal seluruh luka dan kerapuhan kami. Bila hidup kami rusak akibat dosa dan ego, bentuklah kami kembali menjadi bejana baru yang sesuai dengan rencana-Mu. Berikan kami keberanian dan kelembutan hati untuk taat menjalani proses pembentukan-Mu. Amin.

​Niat Konkret:
Hari ini aku akan membuang kesombongan diri, berserah pada pembentukan Tuhan, serta peduli pada kedaulatan sesama yang kecil dan tersingkir.

Romo Willem Pau, Pr (Gereja St. Franciscus Saverius, Kebondalem, Semarang):

​TANAH LIAT DI TANGAN SANG PENJUNAN

​Di rumah penjunan, Yeremia melihat tanah liat yang rusak tidak dibuang, melainkan dibentuk ulang menjadi bejana indah. Demikianlah Allah memperlakukan hidup kita: di tangan-Nya, tidak ada kata “gagal”.

Kerapuhan, dosa, dan luka kita tidak membatalkan rencana-Nya, sebab Ia adalah Penjunan yang sabar dan selalu memberi kesempatan kedua melalui pertobatan.

​Proses pembentukan sering kali menuntut penantian, teguran, dan kepasrahan untuk melepaskan kehendak diri.

Menjadi tanah liat berarti rendah hati dan aktif berkata: “Tuhan, bentuklah aku sesuai kehendak-Mu.” Di dalam tangan Sang Penjunan, kerapuhan kita diubah menjadi bejana yang memancarkan kasih-Nya.

​“Gloria Dei vivens homo — Kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup sepenuhnya.”
— Santo Irenaeus dari Lyon

​Doa:
Tuhan, Engkaulah Penjunanku. Bentuklah hatiku dan ubahlah segala kelemahanku demi kemuliaan-Mu. Amin.

​Niat Konkret:
Hari ini aku akan menerima satu teguran dengan rendah hati dan bersedia membenahi kekurangan diri.

L. Elyas Nugraha (Lumen Mundi, Gereja Santo Athanasius Agung, Karangpanas, Semarang):

​BEJANA RAHMAT DALAM PUKAT KERAJAAN ALLAH

​Dua gambaran Kitab Suci melukiskan peziarahan iman kita: Pukat Kerajaan Surga (Mat 13:47–53) dan Tanah Liat Penjunan (Yer 18:1–6).

Perumpamaan pukat menegaskan bahwa hidup ini terarah pada pertanggungjawaban akhir di hadapan Allah (Regnum Dei pretio super omnia).

Namun sebelum saat itu tiba, kerahiman-Nya selalu mendahului keadilan-Nya.
​Kita adalah tanah liat yang kerap retak oleh kelemahan dan dosa.

Sungguhpun demikian, in manu Dei sumus — kita berada di tangan Allah. Ia tidak membuang kita, melainkan sabar membentuk ulang jiwa yang berserah menjadi bejana baru.

Sebagaimana diajarkan Santo Hieronimus, mencintai Sabda Allah akan mengarahkan kita pada keselamatan.

Masa sekarang adalah masa rahmat untuk bertobat dan membiarkan diri dibentuk oleh tangan-Nya.

​“In manu Dei fiducialiter mane; Regnum Dei super omnia quaere.”

(Tinggallah dalam tangan Allah dengan penuh kepercayaan; carilah Kerajaan Allah di atas segala sesuatu.)

​Doa:
Tuhan Allah, Engkaulah Tukang Periuk hidup kami. Lunakkanlah hati kami dan bentuklah kami menjadi bejana yang berguna bagi kemuliaan-Mu. Amin.

​Niat Konkret:
Hari ini aku akan mengambil satu keputusan yang secara nyata mengutamakan nilai Kerajaan Allah di atas kepentingan dan kenyamanan sesaat.

TRANSITUS:
(Mazmur 146: 2abc. 2d-4.5-6)

Mazmur Tanggapan:
Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong.

Romo Mike Schmitz (The Bible in a Year, Pelayanan Kepemudaan & Pastor Mahasiswa di Universitas Minnesota, Keuskupan Duluth):

​MEMILIH TEMPAT BERSANDAR: ALLAH BERBANDING MANUSIA

​Dalam renungannya, Romo Mike Schmitz menekankan Mazmur 146 adalah sebuah seruan tegas mengenai di mana kita meletakkan kepercayaan hidup kita.

​Pujian yang Terus-Menerus (Ayat 1-2):
Pemazmur berkomitmen untuk memuji Tuhan seumur hidupnya (“Aku hendak memuliakan TUHAN selama aku hidup”).

Romo Mike menjelaskan bahwa memuji Allah bukanlah sekadar luapan emosi saat situasi baik, melainkan sebuah keputusan kehendak untuk mengakui siapa Allah di setiap musim kehidupan.

​Fana dan Rapuhnya Janji Manusia (Ayat 3-4):

Romo Mike memberikan penekanan kuat pada peringatan pemazmur:

“Janganlah percaya kepada bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberi keselamatan.”

Ketika manusia mati, nafasnya kembali ke tanah dan pada hari itu juga lenyaplah seluruh rencananya.

Romo Mike mengingatkan, sehebat atau secanggih apa pun manusia —pemimpin, politik, maupun kekuatan duniawi — mereka semua terbatas dan fana. Bersandar sepenuhnya pada manusia hanya akan membawa pada kekecewaan.

​Kepastian dalam Allah Pencipta (Ayat 5-6):
Sebaliknya, berbahagialah orang yang menaruh harapannya pada Allah Jacob. Dialah Pencipta langit, bumi, laut, dan segala isinya, yang “tetap setia untuk selama-lamanya”.

Romo Mike menyoroti kontras ini: manusia yang fana berubah-ubah dan lenyap, sedangkan Allah Pencipta tidak pernah berubah dan memegang janji-Nya secara abadi.

​Pesan Utama Romo Mike Schmitz:

“Jangan pertaruhkan hatimu pada apa yang akan kembali menjadi debu.
Pertaruhkanlah hidup dan harapanmu pada Dia yang menjadikan langit dan bumi, karena hanya kasih-Nya yang tetap setia untuk selama-lamanya.”

Injil Suci
(Matius 13: 47-53)

Intisari Bacaan:
Kerajaan Surga adalah ruang terbuka bagi kehadiran semua orang. Di sana akan ada waktunya semua yang hadir ditentukan untuk menjadi bagian dari kerajaan Allah.

Romo A. Joko Purwanto, Pr (Puncta, Gereja St. Yohanes Rasul, Wonogiri):

​PENGHAKIMAN AKHIR ZAMAN: MENJADI IKAN YANG BAIK

​Romo Joko
​menegaskan bahwa di akhir zaman, hidup kita akan dipilah.

Orang benar akan dihimpun dalam kebahagiaan kekal, sedangkan yang jahat akan dipisahkan. Ukuran penilaian Allah bukanlah harta, jabatan, atau ketenaran, melainkan keutamaan dan kasih kita kepada sesama.

​Tuhan hadir secara nyata dalam diri mereka yang kecil, lemah, miskin, dan tersingkir. Apa yang kita lakukan—atau abaikan—bagi mereka adalah bukti iman kita di hadapan Allah.

Jangan menjadi “ikan predator” yang merugikan orang lain, melainkan jadilah bejana kebaikan yang mendatangkan damai sejahtera.

​“Apa yang kamu lakukan untuk saudara-Ku yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk Aku.”
— Matius 25:40

​Doa:
Tuhan, bentuklah hatiku agar peka melihat kehadiran-Mu dalam diri sesama yang menderita dan doronglah aku untuk senantiasa mengasihi. Amin.

​Niat Konkret:
Hari ini aku akan melakukan satu tindakan kasih nyata bagi orang yang membutuhkan tanpa mengharapkan balasan.

AC Eko Wahyono (Lectio Divina, Gereja St. Maria Tak Bernoda, Jember):

​MUTIARA IMAN DAN HARTA KERAJAAN ALLAH

​Dua perumpamaan hari ini mengajarkan kedalaman hubungan Allah dengan umat-Nya: Tukang Periuk (Yer 18:1–6) dan Jala Kerajaan Surga (Mat 13:47–53).

​Melalui perumpamaan tukang periuk, Allah menyingkapkan kemahakuasaan-Nya dan kerapuhan manusia.

Ia berkuasa membentuk kembali tanah liat yang rusak, asalkan kita memiliki kerendahan hati untuk melunakkan hati di tangan-Nya.

Sementara itu, perumpamaan jala mengingatkan bahwa di akhir zaman akan ada pemisahan antara orang benar dan orang jahat.

Namun, Allah tidak pernah menghendaki kebinasaan manusia; Ia senantiasa menawarkan rahmat pertobatan sebelum masa penghakiman itu tiba.

​Sebagai murid Kristus, kita dipanggil menjadi “ahli Taurat Kerajaan Surga” yang bijaksana —mampu mengeluarkan harta yang lama dan yang baru (nova et vetera) dari kekayaan iman kita.

Memahami dan mewartakan Tradisi Suci serta Kitab Suci adalah wujud kesetiaan kita untuk menjaga harta keselamatan yang dipercayakan Allah.
​“Ideo omnis scriba doctus in regno caelorum similis est homini patri familias, qui profert de thesauro suo nova et vetera.”
(Setiap ahli Taurat yang telah menjadi murid Kerajaan Surga, ia seperti tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari kekayaannya.)
— Matius 13:52

​Doa:
Roh Kudus, bukalah telinga dan budiku untuk mendengarkan Sabda-Mu. Bentuklah hatiku agar senantiasa lunak di tangan Tuhan dan mampukan aku menjadi saksi harta kebenaran-Mu. Amin.

​Niat Konkret:
Hari ini aku akan meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan Sabda Tuhan, serta membagikan satu kebaikan iman kepada orang-orang di sekitarku.

Ign. Harry Respatyo (Gereja Bunda Maria Ratu, Sukatani, Depok / Paulus Krissantono (Gereja St. Mikael, Kranji, Bekasi) [RAGI]:

DIBENTUK KEMBALI DAN DIPILIH OLEH KASIH-NYA

Ign. Harry Respatyo / Paulus Krissantono meyakinkan kita bahwa Allah tidak pernah membuang jiwa yang retak.

Di tangan Sang Penjunan Agung, kerapuhan dan kegagalan masa lalu dibentuk kembali menjadi bejana yang indah.

Yang menjadikan kita “ikan yang baik” bukanlah kesempurnaan diri, melainkan kerendahan hati untuk tetap berserah dalam pukat kasih-Nya.

​Sebagai murid Kristus, kita dipanggil menjadi bijaksana dengan memadukan “harta lama dan baru” (Mat 13:52) —menghargai warisan iman dan hidup dalam terang pertobatan.

Percayalah, proses pembentukan Allah atas hidup kita belum selesai.
​“Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku.”
— Yeremia 18:6

​Doa:
Bapa yang Maharahim, aku menyerahkan keberadaanku ke dalam tangan-Mu. Bila hidupku retak dan rapuh, bentuklah kembali aku dengan kelembutan kasih-Mu. Amin.

​Niat Konkret:
Hari ini aku mempercayakan seluruh keterbatasanku ke dalam tangan Tuhan dan bersedia dibentuk kembali oleh rahmat-Nya.

TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING

Romo Danang Kuncoro, Pr (Mutiara Batin, Gereja Santa Maria Bunda Pembantu Abadi, Pamanukan, Subang):

​MENUAI KENANGAN BAIK SEBAGAI PERSEMBAHAN

​Hidup adalah sebuah proses pergumulan dan syukur atas setiap kenangan serta pengalaman baik yang kita perjuangkan. Di tengah perjalanan hidup, kita memohon agar Allah menciptakan hati yang murni dalam diri kita. Hati yang murni memampukan kita untuk senantiasa menabur dan menuai kenangan-kenangan indah.

Pada akhirnya, seluruh pengalaman dan kenangan hidup itu akan kita persembahkan kembali sebagai wujud rasa syukur tertinggi kepada-Nya.
​“Ciptakanlah hati murni dalam hidupku ya Allah, agar aku dimampukan menuai kenangan-kenangan baik di sepanjang hidupku.”

​Doa:
Tuhan, ciptakanlah hati yang murni dalam diriku. Mampukan aku memperjuangkan kebaikan dan menjadikan seluruh peziarahan hidupku sebagai persembahan syukur kepada-Mu. Amin.

​Niat Konkret:
Hari ini aku akan dengan sengaja mengukir satu kenangan manis dan penuh kasih bersama orang-orang di sekitarku.

Romo Y. Gunawan, Pr (Percik Firman, Formator Tahun Rohani Keuskupan Agung Semarang, Bumi Jangli, Karangpanas):

BERJUANG MENJADI ORANG BAIK

Bertepatan dengan Hari Pemberkatan Katedral Semarang, Romo Gunawan memberikan Renungan Injil dalam Matius 13:47–53).

​Dalam perumpamaan ketujuh tentang Kerajaan Surga, Tuhan Yesus menggambarkan Gereja bagaikan sebuah pukat—jaring raksasa yang dibentangkan menembus kedalaman laut.

Sebagai pukat, Gereja diutus untuk terus bertolak ke tempat yang dalam (Duc in Altum), menjangkau dan merangkul semua orang tanpa terkecuali di dalam lautan kehidupan dunia ini.

​Namun, di dalam pukat tersebut terkumpul bermacam-macam ikan, baik yang baik maupun yang tidak baik. Hal ini mengingatkan kita bahwa dunia adalah tempat di mana kebaikan dan kejahatan hidup berdampingan.

Kelak, ketika jala itu ditarik ke pantai di akhir zaman, para malaikat-Nyalah yang akan memisahkan mana ikan yang baik untuk disimpan dan mana yang buruk untuk dibuang, dihancurkan, atau dibakar.

​Selagi pukat kehidupan ini masih terbentang dan belum ditarik ke daratan, kita masih diberi rahmat dan kesempatan untuk bertobat.

Pertanyaan penting bagi kita hari ini adalah: usaha apa saja yang sudah kita perjuangkan untuk terus menjadi orang baik? Serta, bagaimana kita terus setia saat menghadapi berbagai tantangan zaman yang kian rumit sebagai murid-murid Kristus masa kini?

Romo Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman, Katedral Kristus Raja, Purwokerto):

MENJADI IKAN YANG BAIK DI DALAM JALA ALLAH

​Sikap Allah menunggu “hingga jala itu penuh” menyingkapkan kesabaran-Nya yang memberi kita waktu untuk bertumbuh dan bertobat.

Di dunia ini, orang baik dan jahat memang bercampur. Namun kelak, pemisahan itu pasti terjadi.

Menghadapi akhir zaman bukanlah tentang ketakutan, melainkan tentang kesadaran untuk menata diri:

​Nata Raga & Pikir:
Sadar dan bijak saat membedakan yang baik dan jahat.

​Nata Rasa:
Melatih kepekaan hati di era digital untuk memilah derasnya informasi dan pengaruh.

​Menjadi “ikan yang baik” adalah perjuangan harian melalui kesetiaan pada Sabda, pertobatan, serta kebaikan dalam keluarga dan komunitas.

Gereja pun diajak untuk berani keluar — bahkan hingga memar dan kotor —demi menebarkan jala kasih. Ingatlah, hanya kebaikan yang kita tabur yang akan kita bawa menghadap Tuhan.

​“Saya lebih menyukai Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena telah keluar ke jalan-jalan untuk menebarkan jala kasih, daripada Gereja yang sakit karena menutup diri.”
— Paus Fransiskus

​“Semua bunga yang kamu peroleh karena perbuatanmu yang baik akan kamu bawa serta menghadap Tuhan.”
— St. Basilius Agung

​Doa:
Tuhan, terima kasih atas kesabaran-Mu. Ajari kami menata raga, pikir, dan rasa agar senantiasa memilih yang baik dan menjadi saluran kasih-Mu. Amin.

​Niat Konkret:
Hari ini aku akan bijak saat menyaring informasi dan melakukan satu tindakan kebaikan nyata bagi orang di sekitarku.

​KATEKISMUS GEREJA KATOLIK (KGK)

​KGK 301:
Allah Membentuk & Menopang.
Allah tidak pernah membuang ciptaan-Nya; Ia dengan sabar menopang dan membentuk kembali hidup kita yang retak.

KGK 1040: Pengadilan Akhir Zaman.
Jala yang terbentang memberi waktu untuk bertobat, sebelum kelak setiap orang dipisahkan menurut perbuatannya.

​KGK 84:
Harta Baru & Lama (Nova et Vetera).
Warisan iman (Kitab Suci & Tradisi) dipercayakan kepada Gereja untuk dihidupi dan diwartakan secara relevan.

​KGK 854:
Gereja yang Misioner.
Gereja pada hakikatnya diutus untuk keluar, merangkul dunia, dan menjadi saluran kasih bagi yang lemah.

MENATA DIRI: NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA

​Nata Raga (Menata Tubuh & Perbuatan):
​Aksi Nyata: Melatih kedisiplinan hidup harian, menjaga kesehatan fisik, dan berani “keluar” untuk menggerakkan raga guna menolong sesama yang menderita.

​Menundukan Diri: Bersikap lembut dan taat seperti tanah liat di tangan Sang Penjunan, membiarkan perbuatan kita dibentuk oleh kehendak Allah.

​Nata Pikir (Menata Pikiran & Akal Budi):
​Daya Pemilah: Secara sadar menggunakan akal budi untuk membedakan hal yang baik dan hal yang jahat di tengah derasnya arus zaman.

​Kebijaksanaan Nova et Vetera:
Membuka pikiran untuk terus belajar dari Sabda Tuhan dan Tradisi Suci, lalu mengaplikasikannya secara relevan dalam kehidupan modern.

​Nata Rasa (Menata Hati & Perasaan):
​Kepekaan Hati: Melatih batin agar tidak mudah terbawa emosi atau terpengaruh oleh informasi negatif dan destruktif di dunia digital.

​Pertobatan & Syukur:
Menjaga keheningan hati agar peka melihat belas kasih Allah yang sabar, serta menumbuhkan rasa syukur atas setiap proses pembentukan hidup.

NIAT KONGKRET
HARIAN

​Nata Raga:
Hari ini aku akan menggerakkan raga untuk melakukan satu tindakan kasih nyata (membantu keluarga, teman, atau sesama yang membutuhkan) serta menjaga keheningan tubuh dari kebiasaan yang merusak.

​Nata Pikir:
Hari ini aku akan menyaring setiap informasi yang kuterima di media sosial dengan bijak sebelum membagikannya, serta meluangkan waktu 5 menit untuk membaca dan merenungkan Sabda Tuhan.

​Nata Rasa:
Hari ini aku akan menjaga kedamaian hati, tidak mudah tersulut emosi, dan mempersembahkan rasa syukur atas setiap proses pembentukan Tuhan dalam hidupku.

LAGU ROHANI PENGANTAR DOA

Lagu atau Musik Instrumentalia yang hening dan teduh

​DOA HENING

Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.

Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.

PERUTUSAN

Kita semua ​tanpa membedakan suku, agama, etnis, budaya diutus untuk menjadi “Ikan yang Baik” dan “Bejana Kasih Allah” di tengah dunia:

Kita ​Diutus Menjadi Saksi Kasih (Nata Raga):
Berani keluar dari zona nyaman untuk menebarkan jala kasih, merangkul sesama yang Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel (KLMTD), karena mereka sungguh membutuhkan pertolongan nyata baik dalam dana dan doa agar mereka menjadi orang-orang yang bermartabat seperti kita yang sudah banyak menerima belas kasih sampai di usia kita sekarang.

Kita Diutus Menjadi Pembawa Kebijaksanaan (Nata Pikir):
Menjadi pembawa damai di era digital dengan menyebarkan informasi yang benar, membangun, dan menyejukkan, serta memegang teguh nilai-nilai kebenaran Sabda Allah.

​Kita Diutus Menjadi Tanda Harapan (Nata Rasa):
Membawa kedamaian hati dan kesaksian hidup yang penuh syukur, menunjukkan bahwa dalam tangan Allah yang maharahim, tidak ada hidup yang terlalu hancur untuk dibentuk kembali.

DOA PENUTUP

​Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.

​Allah Bapa yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah,
Kami bersyukur atas kelimpahan sabda-Mu yang mengingatkan kami akan besarnya kesabaran dan belas kasih-Mu. Engkaulah Sang Penjunan Agung yang senantiasa menopang dan tidak pernah membuang hidup kami yang retak dan terluka.

​Bimbinglah kami agar senantiasa berserah dalam proses pembentukan-Mu:
​Menata Raga kami, agar berani keluar dari zona nyaman untuk menebarkan jala kasih dan melayani sesama yang lemah.

​Menata Pikir kami, agar selalu bijaksana memilah yang baik di tengah arus zaman serta setia pada Sabda-Mu.

​Menata Rasa kami, agar hati kami senantiasa peka, rendah hati, dan penuh syukur atas kesempatan pertobatan yang Engkau berikan setiap hari.

​Jadikanlah kami ikan-ikan yang baik di dalam jala-Mu dan utuslah kami menjadi pembawa damai serta harapan bagi lingkungan di sekitar kami.

​Sebab Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Bapa dan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa.
​Amin.

​Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.

Berkah Dalem, Salam Takzim.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *