Ampunilah, Dan Engkau Akan Dibebaskan

CAPITA SELECTA
SERI NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA – Oleh N.P. Basuki Ismael
Capita Selecta: Refleksi Sabda Tuhan Harian – Edisi Buku
Ut Omnis Meditatio Corda ad Christum Ducat – Semoga Setiap Renungan Mengantar Hati kepada Kristus
Minggu, 13 September 2026, Warna Liturgi: Hijau
Peringatan: Santo Yohanes Krisostomus; Santo Amatus
AMPUNILAH, DAN ENGKAU AKAN DIBEBASKAN
Dimitte, et Liberaberis

PENGANTAR

LUKA YANG MASIH KITA BAWA

Kita hidup di zaman yang pandai menyimpan segala sesuatu. Foto dapat disimpan. Pesan dapat disimpan. Percakapan dapat direkam. Bahkan kesalahan orang lain dapat kita simpan bertahun-tahun dalam ingatan.

Anehnya, ada sesuatu yang lebih sulit kita hapus daripada pesan di telepon: luka di dalam hati.

Mungkin ada satu nama yang sampai hari ini masih membuat hati kita berubah. Ada satu peristiwa yang sebenarnya sudah lama berlalu, tetapi setiap kali diingat, rasanya seperti terjadi lagi. Ada orang yang mungkin sudah melupakan apa yang pernah dilakukannya kepada kita, tetapi kita masih membawanya ke mana-mana.

Bukankah melelahkan hidup seperti itu?

KETIKA HATI TIDAK MAU MELEPASKAN

Sirakh hari ini berbicara dengan terus terang tentang kemarahan, dendam, dan keinginan membalas. Lalu Mazmur mengajak kita melihat sesuatu yang jauh lebih besar: belas kasih Tuhan. Tuhan tidak memperlakukan kita setimpal dengan kesalahan kita. Ia menjauhkan pelanggaran kita sejauh timur dari barat.

Mungkin di sinilah Sabda mulai menyentuh tempat yang selama ini kita sembunyikan.

Kita ingin Tuhan mengampuni kita, tetapi mengapa kita begitu sulit mengampuni orang lain?

Kita ingin kesalahan kita dilupakan, tetapi mengapa kesalahan orang lain terus kita simpan?

DARI HATI YANG DIAMPUNI

Lalu Yesus datang membawa kita lebih dalam. Petrus bertanya berapa kali harus mengampuni. Yesus menjawab bukan dengan angka yang harus dihitung, melainkan dengan hati yang berhenti menghitung.

Sebab pengampunan bukan berarti mengatakan bahwa luka itu tidak pernah terjadi. Bukan pula berarti membiarkan kejahatan terus berlangsung. Pengampunan berarti kita tidak lagi membiarkan kesalahan orang lain menguasai hidup kita.

Paulus mengingatkan: kita hidup dan mati untuk Tuhan. Berarti hidup kita terlalu berharga kalau seluruhnya diserahkan kepada dendam.

Mungkin hari ini Tuhan tidak meminta kita langsung merasa damai terhadap orang yang melukai kita.

Mungkin Ia hanya mengajak kita mengambil satu langkah kecil:

berhenti membalas.
berhenti mengungkit.
berhenti menyimpan racun.
dan perlahan-lahan menyerahkan luka itu kepada-Nya.

Sebab bisa jadi, orang yang paling perlu kita bebaskan hari ini bukanlah orang yang pernah melukai kita.

Melainkan diri kita sendiri.

DEVOSI

Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:

​Santo Yohanes Krisostomus (sekitar 349–407)

​Siapa Beliau:
Uskup Agung Konstantinopel dan Pujangga Gereja. Beliau dikenal sebagai salah satu pengkhotbah terbesar dalam sejarah Gereja perdana, hingga memperoleh gelar Krisostomus yang berarti “Si Mulut Emas” (Golden-Mouthed) karena keberanian dan keindahan khotbah-khotbahnya dalam mengupas Kitab Suci.

Teladan:
Keberanian tanpa kompromi dalam menyuarakan kebenaran Injil, pembelaan yang gigih terhadap kaum miskin dari ketidakadilan sosial, serta kesetiaan yang teguh kepada Tuhan meskipun harus menghadapi pembuangan dan penganiayaan dari penguasa politik maupun gerejawi.

​Devosi:
Memohon doa syafaat bagi para pengkhotbah, katekris, dan pelayan Sabda; memohon karunia hikmat serta keberanian dalam menyuarakan kebenaran; dan memohon semangat untuk membela keadilan bagi kaum yang tersingkirkan.

​Santo Amatus dari Remiremont (sekitar 560–627)

​Siapa Beliau:
Seorang rahib Benediktin asal Prancis, pertapa, dan Abbas (pimpinan biara) pertama dari Biara Remiremont. Terlahir dari keluarga bangsawan di Grenoble, beliau melepaskan segala kemewahan duniawi demi hidup dalam pertobatan dan keheningan, hingga akhirnya mendirikan biara bersama Santo Romarikus.

​Teladan:
Kerendahan hati yang mendalam, kecintaan pada doa dan keheningan, semangat tobat yang murni, serta ketekunannya dalam membangun tradisi Laus Perennis (pujian dan doa mazmur yang melantun tanpa henti bagi Allah).

​Devosi:
Memohon doa syafaat bagi para rahib, biarawan-biarawati, dan komunitas kontemplatif; memohon karunia keheningan batin di tengah kesibukan sehari-hari; serta memohon kesetiaan dan ketekunan dalam doa yang tak kunjung putus.

PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN

Bacaan Pertama
(Putra Sirakh 27: 30-28: 9)
Intisari Bacaan:
Ampunilah kesalahan sesama, niscaya dosa-dosamu akan dihapus juga, jika engkau berdoa.

Romo Willem Pau, Pr (Pastor Paroki Kebondalem, Semarang, Gereja Santo Franciscus Xaverius):

​Pengampunan yang Membebaskan Diri dari Beban Dendam

​1. Beban Dendam dan Panggilan Mengampuni Menurut Kitab Sirakh
Dendam sering kali terasa seperti senjata untuk menghukum orang yang menyakiti kita, padahal sesungguhnya ia menjadi beban berat bagi hati sendiri karena terus mengulang luka dan mengikis kedamaian batin. Kitab Sirakh mengingatkan bahwa manusia yang menyimpan dendam tidak dapat dengan mudah memohon belas kasih Allah. Sebagai sesama orang berdosa yang setiap hari membutuhkan pengampunan Tuhan, kita pun dipanggil untuk memberikan pengampunan kepada sesama. Mengampuni bukan berarti menganggap kesalahan itu sepele, melainkan keberanian menyerahkan hak membalas kepada Allah dan menolak dikuasai oleh kebencian.

​2. Keteladanan Kristus dan Santo Yohanes Paulus II
Kesadaran untuk mengampuni selaras dengan Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus: “Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.” Melalui doa ini, kita memohon rahmat agar mampu membagikan belas kasih yang telah kita terima dari Allah. Santo Paus Yohanes Paulus II memberikan teladan nyata ketika mengampuni pria yang menembaknya seraya berkata, “Saya berbicara dengan orang yang mencoba membunuh saya dan saya mengampuninya.” Pengampunan heroik ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti kekuatan kasih yang sanggup mengalahkan kebencian.

​3. Menyembuhkan Luka Batin Melalui Doa dan Niat Konkret
Tuhan tidak memaksa kita melupakan segala perkataan kasar, pengkhianatan, atau ketidakadilan secara seketika, namun Ia mengundang kita untuk perlahan menyerahkan luka tersebut kepada-Nya. Hari ini kita diajak berefleksi: siapa yang masih sulit saya ampuni? Mulailah dengan mendoakannya, sebab saat kita mengampuni, kita membebaskan diri sendiri dari belenggu kebencian. Mari kita mendaraskan doa: “Tuhan Yesus, sembuhkanlah hatiku dari luka dan dendam. Berilah aku kekuatan untuk mengampuni sebagaimana Engkau telah mengampuni aku. Amin.” Sejalan dengan itu, niat konkret kita hari ini adalah mendoakan satu orang yang pernah menyakiti dan secara sadar memilih untuk tidak membalas kesalahannya.

TRANSITUS:
(Mazmur 103: 1-4.9-12 ):
Mazmur Tanggapan:
Tuhan adalah pengasih dan penyanyang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

Romo Mike Schmitz (Pewarta The Bible in a Year, Pastor Mahasiswa di Universitas Minnesota, Keuskupan Duluth, AS):

​Mengampuni Karena Ditebus: Dari Keadilan Menuju Kerahiman

​1. Rahmat Penebusan dan Kerahiman Allah yang Mengampuni
Dalam Mazmur 103:1–4, 9–12, pemazmur memujikan Allah yang mengampuni segala kesalahan, menyembuhkan segala penyakit, dan tidak membalas sesuai dengan dosa kita. Kerahiman Allah digambarkan sejauh timur dari barat, membuang pelanggaran kita tanpa batas. Pengalaman diampuni ini dikuatkan oleh Rasul Paulus dalam Surat Roma 14:7–9: hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Kristus telah mati dan bangkit untuk menebus kita dari utang dosa yang tak terbayarkan—seperti hamba dalam Perumpamaan Injil Matius 18:21–35 yang dibebaskan dari utang raksasa 10.000 talenta. Karena kita telah dijadikan milik Kristus melalui rahmat penebusan-Nya, seluruh identitas kita tidak lagi ditentukan oleh luka atau hak pribadi, melainkan oleh kerahiman ilahi yang telah menyelamatkan kita.

​2. Bahaya Memelihara Dendam dan Hati yang Tertutup
Sebaliknya, Kitab Sirakh 27:30–28:7 memberikan peringatan keras bahwa dendam dan kemarahan adalah hal yang mengerikan. Orang yang memelihara dendam kepada sesamanya tidak akan mendapat penyembuhan dari Tuhan, sebab bagaimana mungkin seseorang memohon belas kasih Allah jika ia sendiri menutup hati bagi saudaranya? Sikap bebal ini tercermin jelas pada hamba pertama dalam perumpamaan Yesus. Meskipun telah menerima penghapusan utang triliunan rupiah dari sang raja, ia justru mencekik dan memenjarakan temannya yang hanya berutang 100 dinar. Ketika kita menolak mengampuni, kita mengisolasi diri dari rahmat Allah dan memenjarakan batin kita sendiri dalam jeratan kebencian.

​3. Panggilan Mengampuni Tanpa Batas Sebagai Murid Kristus
Jawaban Yesus atas pertanyaan Petrus mengenai batas mengampuni—bukan tujuh kali, melainkan “tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat. 18:22)—merupakan ajaran inti radikal dalam The Bible in a Year. Mengampuni tanpa batas bukanlah soal perasaan, melainkan sebuah keputusan kehendak untuk melepaskan hak membalas dan menyerahkan keadilan kepada Tuhan. Mengingat bahwa kita telah lebih dahulu diampuni dari utang dosa yang tak terbatas, kita dipanggil untuk meneruskan belas kasih tersebut kepada sesama, terutama mereka yang hidup dekat dengan kita. Mengampuni adalah wujud nyata bahwa Kerajaan Allah hadir dan bertakhta dalam hidup kita.

Bacaan Kedua
(Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma 14: 7-9)
Intisari Bacaan
Entah hidup atau mati, kita tetap milik Tuhan.

​Laurentius Elyas Nugraha (Pewarta Lumen Mundi, Paroki Karangpanas, Semarang, Gereja Santo Athanasius):

​Hidup dan Mati Adalah Milik Tuhan

​1. Mengikis Ego dan Hidup Bagi Kristus
Rasul Paulus mengingatkan kita akan hakikat paling mendasar dari identitas seorang murid Kristus: tidak ada seorang pun dari kita yang hidup atau mati untuk dirinya sendiri. Sering kali, ego dan rasa terluka membuat kita merasa berhak menghakimi, membalas dendam, atau mempertahankan harga diri di atas kesalahan orang lain. Namun, kesadaran bahwa hidup kita sepenuhnya milik Tuhan mengubah seluruh sudut pandang itu. Kita tidak lagi menjadikan perasaan atau kepentingan pribadi sebagai pusat orientasi, melainkan menyerahkan seluruh eksistensi kita di bawah penguasaan kasih Kristus.

​2. Keselarasan Kebenaran dan Belas Kasih Santo Yohanes Krisostomus
Dalam menghidupi kesadaran sebagai milik Tuhan, Santo Yohanes Krisostomus—Sang Pujangga Mulut Emas—menegaskan satu prinsip rohani yang sangat mendalam: Nihil nos Deo similes facit sicut misericordia —tidak ada yang membuat kita semakin serupa dengan Allah selain belas kasih. Beliau mengajarkan bahwa pewartaan Sabda dan status kita sebagai pengikut Kristus tidak boleh dipisahkan dari belas kasih yang nyata. Kebenaran tanpa kasih hanya akan menjadi keras dan menghakimi, sedangkan kasih tanpa kebenaran akan kehilangan arah keselamatan. Jika Kristus telah mengorbankan diri-Nya untuk menebus dan memiliki kita, maka kita pun dipanggil untuk memperlakukan sesama—bahkan yang bersalah kepada kita—dengan belas kasih ilahi yang melampaui ukuran manusiawi.

​3. Mempraktikkan Belas Kasih Sebagai Bentuk Penyerahan Diri
Menjadi milik Tuhan berarti bersedia membiarkan karakter Tuhan terpancar dalam tindakan sehari-hari. Santo Thomas Aquinas dalam Summa Theologiae mempertegas bahwa misericordia est maxima virtutum —belas kasih adalah yang terbesar di antara segala keutamaan. Ketika kita memilih untuk mengampuni dan melepaskan dendam, kita sedang menegaskan status kita bahwa hidup kita tidak dikuasai oleh rasa sakit atau kebencian, melainkan oleh Tuhan. Dengan menyerahkan hak membalas kepada Allah sebagaimana diteladankan oleh Santo Yohanes Krisostomus di tengah berbagai penganiayaan, kita sungguh-sungguh menyatakan dalam perbuatan nyata: “Baik hidup atau mati, kami adalah milik Tuhan.”

Injil Suci
(Matius 18: 21-35)
Intisari Bacaan:
Ampunilah saudaramu, bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Romo Hans Wijaya, Pr (Pastor Rekan Paroki Nusa Dua Bali, Gereja Maria Bunda Segala Bangsa):

​Pengampunan: Tanda Kehadiran Kerajaan Allah

​1. Belas Kasih Tanpa Batas Melampaui Perhitungan Manusia
Melalui perumpamaan hamba yang jahat, Yesus memperlihatkan betapa dahsyatnya belas kasih Allah dibandingkan kerdilnya ukuran pengampunan manusia. Utang hamba pertama sebesar 10.000 talenta—setara dengan 60 juta dinar atau sekitar Rp6 triliun—merupakan jumlah raksasa yang mustahil terbayar sekalipun diri dan keluarganya dijual. Sebaliknya, utang temannya hanya 100 dinar (Rp10 juta). Penghapusan utang triliunan rupiah dari sang Tuan alih-alih melunakkan hati hamba pertama, ia justru mencekik temannya dan memenjarakannya. Dosa terbesarnya adalah ketiadaan rasa syukur yang gagal membuahkan belas kasih. Yesus mengoreksi naluri dendam manusia—seperti Lamekh yang membalas 70×7 kali atau batas hukum Taurat—dengan menuntut sikap baru: pengampunan 70×7 kali tanpa batas sebagai tanda nyata kehadiran Kerajaan Allah dalam diri orang yang mau menanggung rugi demi kasih.

2.​ Wujud Nyata Pengampunan dan Kesempatan Kedua
Kisah seorang pemilik usaha yang mengampuni karyawannya yang berbuat curang dan merugikan perusahaan memberikan gambaran konkret tentang pengampunan sejati. Pengampunan hakiki tidak berhenti pada perbuatan baik belaka, melainkan pada keberanian menerima kembali orang yang bersalah serta memberinya kepercayaan dan kesempatan kedua untuk bertumbuh. Dalam kenyataan hidup, panggilan pengampunan tanpa batas ini paling sering diuji dalam relasi dengan orang-orang terdekat kita—pasangan, anak, keluarga, atau rekan kerja yang berinteraksi setiap hari. Dalam kehidupan perkawinan dan keluarga, praktik mengampuni, melupakan kesalahan, dan memberi kesempatan baru sebenarnya sudah sering kita lakukan. Mengampuni sesama adalah bentuk operasionalisasi kasih yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

​3. Memusatkan Diri pada Kebaikan Allah untuk Mengalahkan Dendam
Mengampuni tanpa batas diakui tidak pernah mudah karena saat berhadapan dengan orang yang melukai, perhatian kita sering kali langsung terpusat pada rasa sakit, amarah, dan dendam yang bangkit kembali. Agar mampu mengampuni, kita harus terus belajar memusatkan perhatian pada Allah yang begitu sabar dan tidak memperhitungkan dosa-dosa rutin kita, melainkan senantiasa memberi berkat serta kesempatan untuk bangkit. Tiga langkah utama untuk mewujudkan pengampunan sejati adalah: pertama, melihat apa yang telah Allah lakukan bagi kita dengan menyadari bahwa utang dosa kita telah diampuni; kedua, membiarkan belas kasih lebih kuat daripada rasa sakit dengan memilih jalan kasih ketimbang membalas; serta ketiga, memulihkan relasi secara utuh dengan memberi kesempatan baru, terutama kepada orang-orang yang hidup dekat dengan kita.

Romo A. Joko Purwanto, Pr (Pewarta Puncta, Pastor Paroki Wonogiri, Gereja Santo Yohanes Rasul):

​Pengampunan yang Membebaskan

​1. Wujud Kerahiman Allah yang Membeli dan Memulihkan Jiwa
Kerahiman Tuhan tampak nyata dalam kisah Uskup Myriel dan Jean Valjean dari karya Les Misérables. Valjean, seorang bekas narapidana tanpa masa depan, menyelinap mencuri sendok dan garpu perak milik sang uskup bahkan memukulnya hingga pingsan. Namun, ketika polisi menangkap dan membawanya kembali, Uskup Myriel yang murah hati justru melindunginya dan menyerahkan perabotan perak itu seraya berkata: “Dengan perabotan perak ini aku telah membeli jiwamu. Aku telah menebusmu dari ketakutan dan kebencian. Kini aku mengembalikanmu kepada Tuhan.” Kasih yang membebaskan ini mengubah Valjean sepenuhnya menjadi seorang dermawan yang bersedia mengampuni orang yang membencinya, bahkan mengampuni Kolonel Javert yang terus memburunya.

​2. Ajaran Radikal Yesus Tentang Pengampunan Tanpa Batas
Teladan kerahiman tersebut sejalan dengan pengajaran Yesus kepada Petrus dalam Injil: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Melalui Perumpamaan Hamba yang Jahat, Yesus mempertentangkan raja yang murah hati—yang mengampuni utang sepuluh ribu talenta—dengan hamba yang bebal dan menolak membebaskan utang temannya yang hanya seratus dinar. Manusia seperti Petrus mungkin hanya sanggup mengampuni hingga tujuh kali, tetapi Tuhan menghendaki kita untuk mengampuni terus-menerus tanpa batas, sebagaimana Bapa di surga yang tiada henti mengampuni kita.

​3. Memohon Kekuatan Tuhan untuk Menjadi Pembawa Maaf
Mengampuni kesalahan sesama memang tidak pernah mudah, sebab dibutuhkan kerendahan hati dan bantuan rahmat ilahi. Oleh karena itu, kita diundang untuk memohon kekuatan dari Tuhan agar sanggup membukakan pintu maaf saat saudara kita datang memohon pengampunan, sebab sungguh berbahagialah orang yang mampu mengampuni.

Sebuah pantun menutup renungan ini:
Jalan-jalan ke Pantai Wonosari,
Sungguh indah ombak di Pantai Drini.
Tidak hanya sampai tujuh kali mengampuni,
Tetapi terus menerus tidak pernah berhenti.

Paulus Krissantono (Paroki Kranji, Bekasi, Gereja St. Mikael) / Ign. Harry Respatyo (Paroki Sukatani, Depok, Gereja Bunda Maria Ratu):

​Budaya Memaafkan

​1. Dasar Pengampunan Ilahi dan Bahaya Memelihara Dendam
Memaafkan atau mengampuni memang gampang diucapkan, namun sangat sulit dilaksanakan terutama ketika menghadapi kesalahan besar, fitnah, atau tindakan yang merugikan karier. Meski demikian, Bacaan-bacaan Suci mendorong umat beriman untuk rela memberikan maaf, karena dasar pengampunan kita adalah kasih Allah sendiri yang telah mengampuni dosa kita tanpa batas—sebagaimana ditegaskan Yesus dalam Matius 18:21–35 bahwa mengampuni harus “tujuh puluh kali tujuh kali”. Sebaliknya, Kitab Sirakh 27:30–28:9 memperingatkan bahwa dendam dan amarah adalah hal mengerikan yang merongrong batin serta mendatangkan balasan dari Tuhan. Sebagaimana dipertegas Rasul Paulus dalam Roma 14:7–9 dan Mazmur 103:3, hidup dan mati kita adalah milik Tuhan yang telah mengampuni segala kesalahan kita; maka kita dipanggil melepaskan dendam agar batin menjadi tenang dan mata rantai permusuhan terputus.

​2. Keteladanan Nyata dan Pentingnya Mengembangkan Budaya Memaafkan
Kesanggupan untuk mengampuni terbukti memiliki daya ubah yang dahsyat sebagaimana ditunjukkan oleh tokoh-tokoh dunia. Santo Paus Yohanes Paulus II secara langsung mendatangi Mehmet Ali Agca—pria yang menembaknya pada 1981—di dalam penjara untuk memberikan maaf, sebuah tindakan kerahiman yang sangat mengubah hidup Ali Agca. Begitu pula Nelson Mandela yang dipenjara 27 tahun akibat sistem apartheid, memilih jalan rekonsiliasi ketimbang membalas dendam ketika menjadi Presiden Afrika Selatan. Tanpa pengampunan dan budaya memaafkan, keluarga, komunitas, masyarakat, dan bangsa kita akan terus jatuh dalam konflik berkepanjangan dan menderita sakit selamanya. Oleh karena itu, hendaknya kita menghidupkan budaya saling memaafkan dan membiasakan silaturahmi di tengah masyarakat yang majemuk ini, di mana peran keluarga sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai pengampunan tersebut.

​3. Pengampunan Sebagai Pembersihan Diri dan Pemulihan Jiwa
Mengutip pandangan Paus Fransiskus, siapa pun yang tidak mengampuni tidak akan mendapatkan kedamaian jiwa ataupun dapat bersatu dengan Tuhan, sebab ketidakmampuan mengampuni membuat seseorang sakit secara fisik, emosional, dan spiritual. Pengampunan adalah sebuah pembersihan diri yang membawa kebahagiaan serta menyembuhkan hati yang cemas. Menutup renungan ini, marilah kita melantunkan doa: “Ya Yesus, syukur atas Firman-Mu hari ini yang mendorong aku untuk berani memaafkan atau mengampuni orang yang bersalah. Terima kasih atas kemurahan hati-Mu telah mengampuni segala dosaku. Ajarlah aku untuk mau dan ikhlas memaafkan atau mengampuni kesalahan orang lain. Bunda Maria, bimbinglah aku agar mampu hidup sesuai dengan ajaran Putera-Mu. Amin.”

TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING

Romo Nico Liem Tjay, OMI (Pastor Katedral Purwokerto, Gereja Kristus Raja):

​Jika Kejahatan Dibalas Dengan Kebaikan, Itu Adalah Mulia dan Terpuji

​1. Bahaya Memelihara Dendam dan Sakit Hati
Ketidakmampuan mengampuni menandakan hati yang dipenuhi kebencian. Memelihara dendam dan sakit hati merugikan diri sendiri karena batin tak pernah tenang dan selalu dihantui amarah. Secara emosional, kita terus terjerat rasa sakit dan membawa emosi negatif pada relasi lain, sedangkan secara fisik, tekanan darah dan detak jantung ikut melonjak. Karena dendam merusak diri dan sesama, Yesus memerintahkan kita untuk memutus rantai kebencian dan saling mengampuni.

​2. Belas Kasih Allah Sebagai Dasar Pengampunan
Perumpamaan hamba yang diampuni raja menegaskan bahwa belas kasih Allah adalah dasar utama pengampunan kita. Sebagaimana Allah tiada hentinya berbelas kasih, kita pun dipanggil mengampuni sesama tanpa batas—seperti teladan Kristus di kayu salib. Pengampunan ini tidak menunggu orang lain berubah, melainkan lahir dari hati yang telah disentuh oleh rahmat Kristus untuk tetap mengasihi mereka yang melukai kita.

​3. Pengampunan Sebagai Hadiah Bagi Diri Sendiri
Pengampunan bukanlah sekadar hadiah bagi orang yang bersalah, melainkan pembebasan bagi diri sendiri dari rantai kepahitan agar damai Kristus bertakhta. Kita diajak merenungkan: orang lemah membalas dendam, orang kuat memaafkan, dan orang cerdas mengabaikannya. Memaafkan adalah kebaikan bagi sesama, sedangkan hidup tanpa mendendam adalah kebaikan bagi diri sendiri. Sebab, jika kejahatan dibalas kebaikan, itulah tindakan yang sungguh mulia dan terpuji.

Romo Y. Gunawan, Pr (Pewarta Percik Firman, Pastor Formator Tahun Rohani Keuskupan Agung Semarang, Bumi Jangli):

​Perjuangan Memberi Pengampunan

​1. Daya Pengampunan dan Pengalaman Dikasihi Allah
Pengampunan memiliki daya yang sungguh luar biasa bagi pemulihan jiwa, sebagaimana rasa lega dan sukacita yang dialami seseorang saat keluar dari kamar pengakuan dosa atau ketika kesalahannya dimaafkan oleh sesama. Pengalaman dikasihi oleh Allah merupakan fondasi penting yang perlu ditumbuhkan sejak dini agar kasih tersebut dapat diteruskan dari generasi ke generasi. Melalui perumpamaan hamba yang berutang 10.000 talenta (60 juta dinar), Yesus mengajarkan bahwa raja telah bermurah hati menghapuskan utang yang sangat besar itu. Allah menghendaki agar belas kasih yang telah kita terima secara cuma-cuma tidak berhenti pada diri kita, melainkan terus menyebar dan ditularkan kepada sesama.
​2. Perjuangan Mengampuni Tanpa Batas
Mengampuni orang yang telah menyakiti hati—terutama akibat pengkhianatan atau perselingkuhan—memang sangat menyakitkan dan membutuhkan proses, perjuangan, serta waktu untuk berekonsiliasi. Namun, Yesus mengajak para murid-Nya untuk mengampuni tidak hanya sampai tujuh kali, melainkan hingga “70×7 kali”, yang berarti pengampunan tanpa batas. Hamba yang bebal dalam perumpamaan Injil menjadi peringatan bagi kita agar tidak menahan maaf atas utang sesama yang hanya 100 dinar. Siapa yang bersedia mengampuni kesalahan saudaranya, dosanya sendiri pun akan diampuni oleh Tuhan.

​3. Pengampunan Sebagai Kunci Kesehatan Keluarga
Paus Fransiskus menegaskan bahwa tidak ada pernikahan atau keluarga yang sehat tanpa olah pengampunan, sebab pengampunan sangat penting bagi kesehatan emosional dan kelangsungan hidup spiritual. Tanpa pengampunan, keluarga akan menjadi teater konflik, benteng keluhan, dan tempat kematian; sedangkan mempertahankan luka hati adalah tindakan merusak diri sendiri. Oleh karena itu, keluarga harus menjadi ruang kehidupan yang memancarkan penyembuhan dan sukacita. Renungan ini mengajak kita bertatap muka dengan diri sendiri melalui refleksi: pernahkah kita disakiti dan dikhianati, dan sudahkah kita menghayati sabda Yesus untuk mengampuni tanpa batas?

Romo Danang, Pr (Pastor Kepala Paroki Tasikmalaya, Gereja Hati Kudus Yesus)

​Pengampunan: Cara Hidup Bahagia dan Jalan Menuju Surga

​1. Pengampunan Sebagai Kunci Kebahagiaan dan Jalan Ke Surga
Cara hidup bahagia di dunia sekaligus jalan menuju surga adalah pengampunan. Banyak orang mencari kebahagiaan dalam kekayaan atau kehormatan, padahal kebahagiaan sejati terpancar saat batin terbebas dari beban amarah dan dendam. Injil Matius 18:21–35 menegaskan bahwa pengampunan bukanlah pilihan opsional, melainkan syarat mutlak bagi keselamatan. Dengan memilih untuk mengampuni kesalahan sesama, kita tidak hanya menyembuhkan hati sendiri dari kepahitan di dunia ini, tetapi juga membukakan pintu menuju keabadian surga.

​2. Rahmat Kerahiman Allah Sang Pencipta yang Tak Henti
Allah Sang Pencipta begitu mengasihi dan menguduskan dengan tak henti-hentinya menganugerahkan rahmat pengampunan bagi hamba-hamba-Nya. Sebagaimana tampak dalam perumpamaan hamba yang diampuni utang raksasanya oleh sang raja, Allah senantiasa membukakan pintu maaf atas segala pelanggaran kita yang tak terhitung jumlahnya. Belas kasih Allah yang tak terbatas inilah yang memulihkan dan menguduskan hidup kita. Kesadaran bahwa kita telah lebih dahulu dikasihi dan diampuni menjadi fondasi utama bagi kita untuk membagikan pengampunan itu kepada sesama.

​3. Bertindak Atas Nama Allah demi Keberkahan Keluarga
Sebagai murid-murid Kristus, kita diharapkan untuk bertindak atas nama Allah di kehidupan ini dengan meneruskan belas kasih yang telah kita terima. Pengampunan sejati dimulai dari lingkaran terdekat, yaitu di dalam keluarga dan komunitas sehari-hari. Ketika setiap anggota keluarga mau saling mengampuni, menanggung kelemahan satu sama lain, dan mengutamakan kasih, maka sukacita ilahi akan melingkupi rumah tangga kita. Semoga keluarga kita senantiasa terberkati oleh rahmat pengampunan yang membebaskan ini.

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK (KGK)

​1. Pengampunan Ilahi Melampaui Ukuran Manusia
“Tidak ada batas ataupun ukuran bagi pengampunan yang pada hakikatnya ilahi” (KGK 2845). Dalam Injil Matius 18:21–35, Yesus menegaskan bahwa pengampunan tidak boleh dibatasi oleh hitungan matematis “tujuh kali”, melainkan harus dilakukan “tujuh puluh kali tujuh kali”. Pengampunan ilahi ini lahir dari hati Allah yang maharahim, yang mengampuni utang dosa manusia yang tak terbayarkan, sebagaimana diserukan dalam Mazmur 103:3 bahwa Dialah yang mengampuni segala kesalahan dan menyembuhkan segala penyakit kita.

​2. Kewajiban Mengampuni Sebagai Syarat Rahmat
“Arus belas kasihan tidak dapat menembus hati kita selama kita belum mengampuni mereka yang bersalah kepada kita. Kasih, seperti juga Tubuh Kristus, tidak terbagi-bagi: kita tidak dapat mengasihi Allah yang tidak kelihatan kalau kita tidak mengasihi saudara-saudari yang kelihatan” (KGK 2840). Peringatan ini sejalan dengan ajaran Kitab Sirakh 27:30–28:7 yang menyatakan bahwa orang yang menyimpan dendam kepada sesamanya tidak akan mendapat penyembuhan dari Tuhan. Menolak mengampuni berarti menutup pintu bagi rahmat dan belas kasih Allah untuk bekerja dalam batin kita sendiri.

​3. Hidup Bagi Kristus Melalui Pengampunan Sejati
“Dengan menerima dan mengampuni satu sama lain, kita mengambil bagian dalam kerahiman Allah dan menunjukkan bahwa kita adalah milik Kristus” (KGK 2842). Sebagaimana ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam Roma 14:7–9, baik hidup maupun mati kita adalah milik Tuhan. Kristus telah mati dan bangkit agar Ia menjadi Tuhan atas kehidupan kita. Oleh karena itu, mengampuni saudara dari lubuk hati bukan sekadar tindakan moral biasa, melainkan pengakuan iman nyata bahwa hidup kita telah dikuasai dan dibebaskan oleh kasih Kristus.

MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA

​1. Nata Raga (Menata Perilaku & Tindakan Nyata)

​Nata Raga melatih olah tubuh dan tindakan konkret agar selaras dengan kehendak ilahi. Pengampunan tidak boleh berhenti pada wacana, melainkan diwujudkan melalui perbuatan nyata sehari-hari.

​Tindakan Nyata dan Kesempatan Kedua: Sebagaimana ditekankan oleh Romo Hans Wijaya, pengampunan diwujudkan secara konkret dengan mau menerima kembali orang yang bersalah serta memberinya kepercayaan dan kesempatan kedua untuk bertumbuh.

​Memutus Rantai Kekerasan:
Paulus Krissantono mengingatkan untuk tidak membudayakan saling membalas dan mendendam di dalam keluarga, komunitas, maupun masyarakat, melainkan aktif membangun tradisi silaturahmi dan perjumpaan lintas perbedaan.

​Menjaga Kesehatan Fisik: Romo Nico Liem Tjay mengingatkan dampak buruk emosi dendam secara biologis—seperti lonjakan tekanan darah dan detak jantung. Mengampuni menjadi langkah konkret dalam merawat tubuh sebagai bait Roh Kudus.

​2. Nata Pikir (Menata Kesadaran & Kerangka Berpikir)

​Nata Pikir membimbing akal budi dan rasionalitas untuk memahami kebenaran Injil serta membongkar logika dendam duniawi.

​Matematika Pengampunan: Romo Mike Schmitz dan Laurentius Elyas Nugraha menguraikan logika radikal Yesus tentang pengampunan “70×7 kali”. Pikir diajak untuk menyadari jurang perbedaan antara utang 10.000 talenta (Rp6 triliun) yang diampuni Allah dengan utang 100 dinar (Rp10 juta) antar-manusia.

​Paradigma Identitas Diri: Mengutip Roma 14:7–9, Paulus menegaskan bahwa “baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan”. Kerangka berpikir ini meruntuhkan egoism dan rasa paling berhak membalas dendam.

​Keselarasan Kebenaran dan Kasih:
Melalui pemikiran Santo Yohanes Krisostomus, batin diajar memahami bahwa kebenaran tanpa kasih akan menjadi keras dan menghakimi, sedangkan kasih tanpa kebenaran akan kehilangan arah keselamatan.

​3. Nata Rasa (Menata Olah Batin & Kedalaman Olah Jiwa)

​Mengolah batin, keheningan, dan kedalaman afeksi agar menjadi tempat kediaman damai Kristus.

​Transformasi Kepahitan Menjadi Damai: Mengampuni adalah bentuk pembersihan batin. Sebagaimana dikutip dari Paus Fransiskus oleh Paulus Krissantono dan ditegaskan oleh Romo Nico Liem Tjay, pengampunan sesungguhnya adalah “hadiah bagi diri sendiri” untuk membebaskan jiwa dari jerat kebencian.

​Rasa Syukur yang Melimpah:
Puncak olah rasa terletak pada kesadaran batin bahwa diri kita telah lebih dahulu disentuh dan diampuni oleh belas kasih Allah yang tak terbatas (KGK 2845).

​Misericordia: Keheningan rasa membimbing kita mengamalkan teladan Santo Thomas Aquinas (Misericordia est maxima virtutum) dan Santo Yohanes Krisostomus (Nihil nos Deo similes facit sicut misericordia)—bahwa tidak ada yang membuat rasa batin kita semakin serupa dengan Allah selain belas kasih.

NIAT KONGKRET

​Sebagai langkah nyata menghidupi ajaran Injil tentang pengampunan tanpa batas (70×7 kali) dan menyelaraskan seluruh diri dalam rahmat Tuhan, saya berkomitmen untuk:

​Memutus Rantai Dendam dalam Relasi Harian (Nata Raga)

​Mengambil inisiatif menyapa atau mendoakan secara khusus satu orang (di keluarga, tempat kerja, atau komunitas) yang selama ini pernah menyakiti atau mengganggu pikiran saya.

​Menghentikan segala bentuk cerita negatif, keluhan, atau pembicaraan yang memicu perpecahan, baik secara langsung maupun di media sosial.

​Mengubah Kerangka Berpikir dan Melepaskan Hak Membalas (Nata Pikir)
​Setiap kali rasa sakit hati atau keinginan membalas muncul, saya akan segera mengingat utang dosa saya sendiri (10.000 talenta) yang telah diampuni sepenuhnya oleh Kristus di kayu salib.
​Memegang prinsip bahwa mengampuni bukan tanda kelemahan, melainkan bukti keberanian imani untuk menyerahkan segala keadilan kepada Allah.

​Merawat Keheningan dan Kedalaman Belas Kasih (Nata Rasa)

​Membuka ruang dalam doa harian untuk menyerahkan kepahitan batin kepada Tuhan, membiarkan damai Kristus menggantikan rasa cemas dan amarah.
​Mengamalkan teladan belas kasih (Misericordia) sebagai keutamaan tertinggi, menjadikan pengampunan sebagai bentuk pembebasan dan hadiah bagi kedamaian jiwa sendiri.
​”Ignosce ex corde. Misericordiam exerce. Pacem Christi porta. In caritate vive.”
(Ampunilah dengan segenap hati. Hidupkanlah belas kasih. Bawalah damai Kristus. Hiduplah dalam kasih.)

LAGU ROHANI PENGANTAR DOA

Lagu atau Musik Instrumentalia yang hening dan teduh

​DOA HENING

Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.

Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.

PERUTUSAN

​Tugas Utusan Kristus di Tengah Dunia
​Setiap kali kita selesai merayakan Ekaristi dan merenungkan Sabda Tuhan, kita diutus untuk menjadi saksi belas kasih Allah di tengah kehidupan sehari-hari.

Pengampunan yang telah kita terima dari Tuhan harus berbuah dalam tindakan nyata.

​Menjadi Duta Rekonsiliasi:
Kembalilah ke dalam keluarga, tempat kerja, dan komunitas dengan membawa semangat damai. Jadilah orang pertama yang mengulurkan tangan maaf dan memulihkan relasi yang sempat retak.

​Menghidupkan Budaya Memaafkan:
Tolak segala bentuk dendam dan pembalasan. Di tengah masyarakat yang majemuk, bawalah kesejukan melalui sikap saling memahami, menghormati, dan mengampuni.

​Memancarkan Belas Kasih Ilahi:
Jadikan hidupmu sebagai tanda nyata kehadiran Kerajaan Allah. Sebagaimana Kristus telah mengampuni dan mengasihi kita tanpa batas, demikianlah kita diutus untuk mengasihi dan membagikan ampunan kepada sesama.

​Ignosce ex corde.
(Ampunilah dengan segenap hati.)
​Misericordiam exerce.
(Hidupkanlah belas kasih.)
​Pacem Christi porta.
(Bawalah damai Kristus.)
​In caritate vive.
(Hiduplah dalam kasih.)

DOA PENUTUP

Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.

Allah Bapa yang Maharahim dan Mahapengampun, kami mengucap syukur atas Sabda-Mu yang telah menyapa dan meneguhkan hati kami hari ini. Engkau telah mengingatkan kami bahwa utang dosa dan kesalahan kami telah Engkau hapuskan melalui pengorbanan Putra-Mu yang terkasih.

​Bebaskanlah hati kami dari segala benih dendam, kepahitan, dan amarah yang merongrong batin.

Berilah kami keberanian dan kerendahan hati untuk mengampuni saudara-saudari kami tanpa batas, sebagaimana Engkau telah lebih dahulu mengampuni dan mengasihi kami. Jadikanlah kami pembawa damai dan duta rekonsiliasi di tengah keluarga, komunitas, serta masyarakat kami.

Semua doa dan permohonan ini kami haturkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad.
Amin.

Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.

Berkah Dalem, Salam Takzim.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *