CAPITA SELECTA
SERI NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA – Oleh N.P. Basuki Ismael
Capita Selecta: Refleksi Harian Sabda Tuhan – Edisi Buku
Ut Omnis Meditatio Corda ad Christum Ducat – Semoga Setiap Renungan Mengantar Hati kepada Kristus
Jumat 21 Agustus 2026, Warna Liturgi: Putih
Peringatan Wajib: Santo Paus Pius X
DARI “AMIN” MENUJU HIDUP YANG BERUBAH
Ab “Amen” ad Vitam Transformatam
PENGANTAR
Kita sering mengucapkan Amin pada akhir Doa Syukur Agung, tetapi mungkin jarang bertanya: Apa sebenarnya yang kita setujui ketika mengucapkan Amin?
Kita bukan sekadar menyetujui sebuah doa. Kita mengiyakan seluruh misteri Kristus yang baru saja dirayakan: hidup-Nya, pengorbanan-Nya, wafat-Nya, kebangkitan-Nya, dan penyerahan diri-Nya kepada Bapa. Dalam Doksologi, seluruhnya memuncak: “Dengan perantaraan Dia, bersama Dia, dan dalam Dia……” Lalu kita menjawab: Amin.
Santo Pius X memahami bahwa Amin itu harus menjadi kehidupan. Karena itu, kecintaannya kepada Ekaristi tidak berhenti pada altar. Ia ingin agar umat semakin sering menerima Kristus, sebab Kristus yang diterima dalam Ekaristi harus mengubah cara kita hidup setelah meninggalkan gereja.
PESAN UTAMA BACAAN
Bacaan hari ini membawa kita dari tulang-tulang kering menuju kehidupan, dari kehidupan menuju kasih, dan dari kasih menuju persembahan diri.
Yehezkiel memperlihatkan bahwa Roh Allah sanggup menghidupkan sesuatu yang menurut manusia sudah tidak mempunyai harapan. Injil menunjukkan kehidupan macam apa yang dikehendaki Allah setelah kita dihidupkan kembali: mengasihi Allah dan mengasihi sesama.
Di sinilah Ekaristi menjadi sangat konkret. Kita tidak menerima Kristus hanya supaya kita merasa dekat dengan-Nya. Kita menerima Kristus supaya hidup kita semakin menjadi milik-Nya. Doksologi kemudian menjadi kunci: melalui Dia, bersama Dia, dan dalam Dia.
Maka Amin kita bukan sekadar “ya, saya setuju.” Ia adalah: “Ya, Tuhan. Aku mau hidup melalui Engkau, bersama Engkau, dan di dalam Engkau.”
Dan sesudah Misa, jawaban itu diuji dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita bertemu orang yang menyebalkan, ketika disakiti, ketika harus memilih antara ego dan kasih, ketika tidak dihargai, ketika melihat orang kecil dan tersisih—di sanalah Amin Ekaristi kita memperoleh tubuhnya.
Kristus yang kita sambut dalam Komuni menyertai kita dalam perjalanan.
Dan seolah-olah dari kedalaman hati-Nya Ia terus membisikkan dua pertanyaan:
“Apakah engkau tetap mencintai-Ku?”
“Dan apakah engkau tetap mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri?”
Maka jangan takut meninggalkan altar. Kristus yang kita terima berjalan bersama kita. Kita pergi bukan untuk membawa Kristus hanya dalam ingatan, melainkan membawa kasih-Nya dalam kehidupan. Amin yang kita ucapkan di gereja kini diteruskan menjadi kasih yang kita hidupi di dunia.
Amin di bibir harus menjadi Kristus dalam Nata Raga, Nata Pikir, dan Nata Rasa.
DEVOSI
Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Santo Pius X, Paus
Siapa Beliau
Santo Paus Pius X (lahir Giuseppe Melchiorre Sarto, 2 Juni 1835 – 20 Agustus 1914) adalah Paus Gereja Katolik ke-257 yang bertakhta dari tahun 1903 hingga 1914. Lahir dari keluarga miskin di Riese, Italia, beliau menapaki panggilan imamat dari bawah—mulai dari pastor paroki, uskup, patriark Venesia, hingga terpilih menjadi Penerus Tahta Santo Petrus. Beliau dijuluki sebagai “Paus Ekaristi” karena pembaruannya yang besar dalam kehidupan Ekaristi dan liturgi Gereja.
Teladan Hidup
Kesederhanaan & Kemiskinan Rohani:
Meski menduduki takhta tertinggi kepausan, ia tetap hidup sangat bersahaja. Surat wasiatnya yang terkenal mencerminkan semangat ini: “Saya dilahirkan miskin, saya hidup miskin, dan saya berharap mati miskin.”
Cinta yang Mendalam pada Ekaristi:
Beliau memprakarsai anjuran untuk menyambut Komuni Kudus secara harian dan menurunkan usia penerimaan Komuni Pertama bagi anak-anak agar mereka dapat menerima rahmat Kristus sejak dini.
Keberanian Menjaga Kemurnian Iman:
Dengan semboyan kepausannya “Instaurare omnia in Christo” (Memulihkan segala sesuatu di dalam Kristus), beliau gigih membela ajaran iman Gereja dan mendorong pengajaran katekismus yang jelas bagi seluruh umat.
Kerendahan Hati & Belas Kasih:
Beliau dikenal sangat memperhatikan kaum miskin, selalu membagikan apa yang miliki, serta memiliki hati yang sangat peka terhadap penderitaan sesama.
Peringatan Liturgis: Pesta peringatan Santo Pius X dirayakan setiap tanggal 21 Agustus.
Pelindung:
Beliau dihormati sebagai santo pelindung anak-anak yang menerima Komuni Pertama, para katekis, serta para peziarah.
Bentuk Devosi: Berdoa dengan memohon intersesi Santo Pius X untuk memohon keteguhan iman, kecintaan yang semakin murni pada Sakramen Ekaristi, serta semangat kesederhanaan hati dalam melayani sesama.
PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN
Bacaan Pertama
(Yehezkiel 37: 1-14)
Intisari Bacaan:
Yehezkiel melihat lembah tulang kering yang hidup kembali oleh kuasa Tuhah. Tuhan menjanjikan untuk membangkitkan Israel, mengembalikan bangsanya, memberi roh baru dan menyatukan mereka menjadi umat yang hidup dan kuat.
Romo Hans Wijaya, Pr (Pastor Paroki Nusa Dua, Bali, Gereja Maria Bunda Segala Bangsa):
Dibangkitkan untuk Mengasihi
Teladan Pembaruan dan Kesegaran Rohani
Hari ini Gereja memperingati Santo Pius X, seorang paus yang membawa pembaruan rohani besar dengan mendorong umat untuk sering menerima Sakramen Ekaristi. Beliau percaya bahwa hidup rohani hanya bisa tetap segar dan berdaya jika kita terus-menerus menimba Roh dan kasih Allah melalui Ekaristi. Peringatan ini mengajak kita untuk menyadari pentingnya menjaga kesegaran batin di tengah berbagai tantangan dan kekeringan hidup harian.
Hembusan Roh yang Menghidupkan Harapan
Pesan pembaruan ini sangat sejalan dengan penglihatan Nabi Yehezkiel tentang lembah yang dipenuhi tulang-tulang kering—sebuah gambaran umat yang kehilangan arah, keputusasaan, dan kehabisan daya hidup rohani. Pertanyaan Allah tentang mampukah tulang-tulang itu hidup kembali menegaskan bahwa pemulihan sejati tidak pernah bergantung pada kekuatan manusiawi, melainkan pada kuasa Allah semata. Ketika Roh Allah dihembuskan, apa yang tadinya mati dibangkitkan, yang kering disegarkan kembali, dan yang terpuruk dimampukan untuk berdiri tegak.
Kasih sebagai Muara Hidup Baru
Pembaruan dan hidup baru yang dikerjakan oleh Roh Allah memiliki tujuan yang sangat jelas dalam Injil, yakni kasih. Yesus merangkum seluruh hukum Taurat ke dalam dua perintah mendasar: mengasihi Allah dengan sepenuh diri dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Kasih bukan sekadar gejolak emosi, melainkan sebuah penentuan arah hidup; sebab tanpa kasih, seluruh praktik keagamaan akan kembali menjadi “tulang kering” yang hampa ritual, garing dalam relasi, dan kehilangan makna mendalam.
Mewujudkan Kesaksian Kasih dalam Tindakan
Pada akhirnya, Allah membangkitkan kita dari kekeringan hidup bukan tanpa maksud, melainkan untuk mengarahkan kita pada cara hidup yang benar melalui tindakan mengasihi. Hidup baru tanpa kasih ibarat tubuh tanpa jiwa, sedangkan hidup baru yang dipenuhi kasih menjadi bukti nyata bahwa kuasa kebangkitan Allah bekerja di dalam diri kita. Kita diundang untuk membiarkan Roh Allah menyegarkan batin, mengutamakan kasih dalam setiap keputusan harian, serta mewujudkannya lewat tindakan sederhana seperti senyuman, perhatian, dan pengampunan tulus bagi sesama.
Romo Willem Pau Pr(Pastor Paroki Kebondalem, Semarang, Gereja St. Franciscus Saverius):
Kuasa Hembusan Roh Allah yang Memulihkan
Kepasrahan di Tengah Keheningan Lembah
Nabi Yehezkiel dibawa oleh Tuhan ke sebuah lembah yang dipenuhi tulang-tulang kering yang sangat banyak dan tampak mustahil untuk dapat hidup kembali. Ketika Tuhan bertanya apakah tulang-tulang tersebut dapat dihidupkan, Yehezkiel menjawab dengan penuh kerendahan hati bahwa hanya Allah yang mengetahui. Penglihatan simbolis ini menggambarkan situasi bangsa Israel yang sedang kehilangan harapan, tercerai-berai, tidak berdaya, dan merasa masa depannya telah berakhir akibat himpitan keputusasaan.
Kebangkitan Melalui Roh Hidup
Melalui perintah nubuatan dari Tuhan, tulang-tulang yang tadinya terpisah mulai bersatu membentuk tubuh, lengkap dengan urat, daging, dan kulit, namun belum bernyawa. Kehidupan baru benar-benar hadir saat Allah menghembuskan Roh-Nya ke dalam tubuh tersebut, sehingga mereka bangkit berdiri sebagai pasukan yang sangat besar. Peristiwa ini menunjukkan secara kuat bahwa Allah tidak hanya sekadar memperbaiki hal yang rusak, melainkan sanggup menganugerahkan kehidupan baru secara utuh di tempat yang tadinya tampak tidak berpengharapan.
Pemulihan “Tulang-Tulang Kering” Keseharian
Dalam dinamika keseharian, “tulang-tulang kering” kerap mewujud dalam bentuk hubungan yang retak, komunikasi keluarga yang hambar, pelayanan yang kehilangan api semangat, hingga hati yang dipenuhi kekecewaan. Sebagaimana diingatkan oleh St. Paus Yohanes Paulus II untuk membuka pintu lebar-lebar bagi Kristus, kita diajak tidak terburu-buru menilai suatu keadaan atau pribadi mustahil untuk berubah dan bertobat. Selama Roh Allah bekerja secara perlahan, selalu ada kemungkinan serta harapan yang dinyalakan kembali bagi setiap aspek hidup kita.
Langkah Nyata dan Penyerahan Diri
Hari ini Tuhan mengundang setiap orang beriman untuk percaya bahwa tidak ada kondisi yang terlalu mati bagi kuasa-Nya jika kita bersedia membuka batin. Tugas utama kita adalah terus berdoa, berusaha, dan menyerahkan seluruh hasilnya kepada Tuhan sambil memohon agar Roh-Nya senantiasa menghembuskan napas kehidupan baru ke dalam hati. Sebagai bentuk niat konkret, marilah kita mengambil satu langkah nyata hari ini untuk menghidupkan kembali hal yang mulai melemah—baik itu relasi, komitmen doa, pelayanan, maupun kepedulian tulus kepada sesama.
L. Elyas Nugraha (Pewarta Lumen Mundi, Paroki Karangpanas, Semarang, Gereja Santo Athanasius Agung):
Kasih Memulihkan Kehidupan
L. Elyas Nugraha
Kembali kepada Sumber Kasih Sejati
Hari ini Gereja Katolik universal merayakan Peringatan Wajib Santo Pius X, Paus, sosok yang mengarahkan seluruh kepemimpinannya untuk memulihkan segala sesuatu di dalam Kristus (Instaurare omnia in Christo). Peringatan ini menegaskan bahwa pembaruan sejati dalam Gereja maupun hidup pribadi selalu bermula dari perjumpaan yang hidup dengan Allah melalui Ekaristi. Ketika kita berakar pada sumber kasih itu, seluruh peziarahan hidup kita dituntun menuju kesucian dan kesederhanaan hati.
Roh yang Menghidupkan di Tengah Keputusasaan
Dalam renungan Bacaan Pertama dari Kitab Yehezkiel (Yhzk. 37:1–14), nubuat tentang penglihatan tulang-tulang kering menggambarkan betapa dahsyatnya daya pemulihan Allah atas situasi yang tampaknya telah mati atau kehilangan harapan. Ketika Roh Kudus dihembuskan, tulang-tulang yang kering itu kembali bersambung, diberi urat, daging, dan napas kehidupan. Hal ini mengingatkan kita bahwa tidak ada keputusasaan, keterpurukan, atau kemunduran rohani yang tak sanggup dipulihkan apabila kita membuka diri terhadap karya pembaruan Roh Allah.
Hukum Utama sebagai Napas Kehidupan
Renungan Injil Matius (Mat. 22:34–40) menegaskan kembali hukum yang terutama dan yang paling utama, yaitu mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Kasih bukanlah gagasan abstrak, melainkan tindakan nyata yang menjadi bentuk utuh dari iman (Amor est forma fidei). Ketika kasih kepada Allah mendasari setiap relasi kita, maka setiap perjumpaan dengan sesama berubah menjadi sarana untuk menyembuhkan luka, menegakkan yang rebah, dan menghadirkan kedamaian.
Ekaristi dan Kasih dalam Ajaran Gereja
Gereja melalui Katekese Katolik menekankan bahwa kasih (caritas) adalah kebajikan teologal tertinggi yang menyempurnakan seluruh tindakan manusia (KGK 1822–1829). Santo Pius X mengajarkan bahwa cara paling nyata untuk menghidupi kasih ini adalah dengan aktif ambil bagian dalam Sakramen Ekaristi dan membiarkan Kristus mentransformasi inner batin kita. Melalui penderitaan, wafat, dan kebangkitan-Nya yang kita sambut, kita dimampukan untuk melangkah keluar membawa jubah kasih dan menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi dunia.
TRANSITUS:
(Mazmur 107: 2-9)
Mazmur Tanggapan:
Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab kekal abadi kasih setianya-Nya.
Romo Mike Schmitz (The Bible in a Year, Pastor Mahasiswa di Universitas Minnesota, Keuskupan Duluth):
Pujian atas Kesetiaan Allah yang Membebaskan
Menyadari Kebaikan Tuhan dalam Pengalaman Diutus
Paus Santo Pius X mengingatkan kita akan pentingnya kembali ke akar iman yang murni dan hidup dari Ekaristi, sebuah wujud nyata dari kebaikan Tuhan yang tak terhingga. Dalam Mazmur 107:2–9, pemazmur mengajak orang-orang yang telah ditebus untuk secara terbuka menyatakan dan memproklamasikan kebaikan Allah. Pengalaman ditebus dari tangan musuh dan dikumpulkan dari berbagai penjuru bumi bukan sekadar kenangan historis, melainkan realitas rohani yang harus terus kita syukuri dan wartakan dalam peziarahan iman harian kita.
Tuhan yang Mendengar Jeritan di Padang Belantara
Pemazmur menggambarkan kondisi manusia yang mengembara di padang belantara yang sunyi, kelaparan, dahaga, dan kehilangan arah hidup. Situasi kekeringan jiwa ini sering kali mencerminkan pengalaman kita saat merasa asing, lelah, dan terisolasi dari kehadiran Tuhan. Namun, ketika umat-Nya berseru-seru dalam kesesakan, Allah tidak pernah berdiam diri; Dia mendengarkan jeritan hati yang remuk dan menuntun langkah mereka menuju jalan yang lurus serta kota tempat kediaman yang aman.
Pemenuhan Kepuasan Jiwa yang Dahaga
Allah tidak hanya menuntun, tetapi juga memuaskan dahaga dan kelaparan batiniah manusia. Pemazmur menegaskan bahwa Tuhan memuaskan jiwa yang dahaga dan melimpahi jiwa yang lapar dengan kebaikan. Di tengah dunia yang sering kali menawarkan pemuas sementara yang hampa, hanya rahmat dan kehadiran Kristus yang sanggup mengisi kerinduan terdalam batin kita, memulihkan jiwa yang letih, dan memberikan kedamaian yang sejati.
Ajakan untuk Bersyukur dan Memuliakan Kasih Setia-Nya
Renungan atas Mazmur ini bermuara pada undangan mendalam untuk bersyukur kepada Tuhan atas kasih setia-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib bagi anak-anak manusia. Ketika kita menyadari betapa besarnya pertolongan Allah yang telah menyelamatkan kita dari masa-masa sulit, hati kita terdorong untuk senantiasa memuji-Nya. Mari kita jadikan seluruh hidup kita sebagai madah ucapan syukur, membiarkan kasih Allah memulihkan batin kita agar kita pun sanggup menjadi pembawa harapan bagi sesama.
Injil Suci
(Matius 22: 34-40)
Intisari Bacaan:
Yesus mengajarkan hukum terbesar: mengasihi Allah dengan segenap hati dan sesama seperti diri sendiri. Inti terdalamnya adalah kasih.
Romo Agustinus Suyadi, O.Carm (Pastor Kepala Paroki Tomang, Jakarta Barat, Gereja Maria Bunda Karmel):
Panggilan Cinta Sejati
Panggilan Hakiki Hidup Manusia
Renungan harian Paroki Tomang (21 Agustus 2026) berpusat pada tema panggilan cinta berdasarkan Injil Matius 22:34–40. Renungan ini mengeksplorasi bagaimana manusia diciptakan dari debu namun dihembusi “napas Allah”, yang tidak lain adalah cinta ilahi itu sendiri. Setiap orang dipanggil untuk hidup bersama Allah dengan mencintai-Nya sepenuh hati serta mencintai sesama seperti diri sendiri. Walaupun manusia kerap berjuang dan kesulitan untuk mencintai akibat berbagai tantangan duniawi, kita senantiasa diingatkan bahwa kita membawa Roh Allah di dalam diri kita, sehingga cinta tersebut menjadi mungkin untuk diwujudkan.
Kualitas Cinta yang Pengorbanan
Cinta yang sejati dan otentik bukanlah sekadar perasaan romantis atau kelembutan semata, melainkan diteladani langsung dari Yesus di kayu salib. Cinta yang penuh pengorbanan—yaitu berserah pada kehendak Allah dan mengalahkan kejahatan melalui pengorbanan diri—menjadi ukuran sejati bagi setiap orang yang mengikut Yesus. Dalam dinamika hidup harian, wujud cinta ini menuntut kesediaan untuk menundukkan ego manusiawi agar mampu menghadirkan kebaikan di tengah lingkungan sekitar.
Tujuan Akhir Peziarahan Iman
Tujuan akhir dari hidup yang dipenuhi cinta ini adalah kemuliaan kekal di surga. Dengan hidup sebagaimana Yesus telah hidup dan menjadikan tubuh sebagai “bait Allah”, orang-orang beriman dapat menemukan sukacita sejati serta mengatasi berbagai kelemahan manusiawi yang melekat pada diri mereka. Tubuh yang ditata dan dijaga kebersihan batinnya menjadi tempat yang layak bagi kediaman Roh Kudus.
Menjadi Cinta Sebagaimana Allah adalah Cinta
Pada akhirnya, renungan ini mengajak umat beriman untuk menyadari nilai diri mereka yang begitu berharga sebagai ciptaan Allah. Umat didorong untuk terus melanjutkan peziarahan hidup dengan mentransformasi diri menjadi “cinta”, sama seperti Allah adalah cinta. Dengan demikian, seluruh pikiran, perasaan, dan tindakan nyata kita senantiasa memancarkan keagungan cinta Allah kepada sesama.
AC Eko Wahyono (Pewarta Lectio Divina, Paroki Jember, Gereja St. Maria Tak Bernoda):
Hukum Utama: Mengasihi
Pengharapan Baru Melalui Hembusan Roh Allah
Penglihatan Nabi Yehezkiel tentang tulang-tulang kering menggambarkan puncak pemulihan bangsa Israel dari jurang keputusasaan dan kekeringan rohani. Pembaharuan yang dikerjakan Allah jauh melampaui sekadar pemulihan fisik; ini merupakan awal baru yang menganugerahkan napas hidup ilahi ke dalam jiwa manusia. Sebagaimana diajarkan oleh Santo Irenaeus, Dialah Bapa mahamurah yang menganugerahkan hidup kepada yang tak bernyawa, sementara Santo Hieronimus menegaskan peristiwa ini sebagai nubuatan nyata akan kebangkitan orang mati. Hembusan Roh Tuhan menjadi sumber hidup kekal yang membakar kembali api harapan yang sempat padam.
Kasih Utama dan Jawaban Utuh Manusia
Ketika seorang ahli Taurat mencoba menjerat Yesus dengan pertanyaan mengenai hukum yang terutama, Yesus menegaskan perintah inti: mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Mengasihi Allah merupakan jawaban atas belas kasih-Nya yang telah lebih dahulu mengalir tanpa syarat kepada manusia. Origenes dari Alexandria mengajarkan bahwa jiwa yang diterangi oleh pelita pengetahuan dan budi yang dipenuhi Sabda Allah akan memahami bahwa seluruh kesempurnaan kekudusan tercakup dalam kasih yang utuh kepada Sang Pencipta.
Keterikatan Tak Terpisahkan Antara Kasih dan Sesama
Perintah kedua yang sama utamanya adalah mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, sebab pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat. 22:40). Kasih kepada sesama yang didasari kasih kepada Allah menjadi bukti konkret dari iman yang murni. Santo Thomas Aquino menekankan bahwa saat manusia dikasihi, Allah pun dikasihi karena manusia adalah citra-Nya; sementara Paus Benediktus XVI meneladani Santo Martinus dari Tours yang membagi mantelnya bagi yang hina sebagai wujud nyata mengasihi Kristus. Tanpa tindakan mengasihi saudara, pengakuan kasih kepada Allah hanyalah kebohongan belaka.
Menghidupi Pembaruan dan Perutusan Kasih
Gereja melalui Katekismus mengajar bahwa Roh Kudus senantiasa membarui hati manusia untuk mengumpulkan bangsa-bangsa dan menghadirkan kedamaian dalam ciptaan baru (KGK 715). Panggilan mengasihi ini menuntut kita menata raga, pikir, dan rasa agar senantiasa menjadi sarana rahmat di tengah dunia. Melalui perutusan (missio), kita dipanggil menjadikan kasih tanpa syarat sebagai ukuran utama setiap keputusan dan tindakan harian: mengasihi Allah dengan menyerahkan seluruh budi dan jiwa, serta mengasihi sesama melalui pelayanan yang tulus dan murah hati.
Ign. Harry Respatyo (Pewarta RAGI, Paroki Sukatani, Depok, Gereja Bunda Maria Ratu) / Paulus Krissantono (Pewarta RAGI, Paroki Kranji, Bekasi, Gereja Santo Mikael):
Dihembusi Roh Kasih, Dihidupkan Kembali dalam Kristus
Pembaharuan Sejati dalam Kristus
Pada Peringatan Wajib Santo Pius X, Gereja mengajak umat memetik makna mendalam dari perpaduan Injil Matius dan Kitab Yehezkiel. Santo Pius X menghidupi motto pelayanan “Instaurare omnia in Christo” (Memperbaharui Segala Sesuatu di dalam Kristus), yang menegaskan bahwa pembaharuan sejati tidak bertumpu pada kekuatan manusiawi belaka. Pembaharuan itu mewujud ketika Roh Allah menghembuskan napas kehidupan atas segala kelemahan kita, serta saat seluruh peziarahan iman didasarkan secara utuh pada perintah kasih kepada Allah dan sesama.
Napas Kehidupan di Tengah Kekeringan Rohani
Penglihatan Nabi Yehezkiel mengenai lembah tulang-tulang kering menggambarkan situasi jiwa, komunitas, atau relasi yang kehilangan harapan dan terasa “mati” secara rohani. Di tengah kelesuan tersebut, firman Tuhan serta hembusan Roh Kudus sanggup merajut kembali urat, daging, dan napas hidup hingga membangkitkan kebebalan menjadi pasukan yang besar. Kehidupan iman harian kerap mengalami masa-masa kering dan lelah, namun kepastian Injil menegaskan bahwa kasih kepada Allah yang diwujudkan melalui kasih kepada sesama adalah “napas” ilahi yang senantiasa menghidupkan.
Ekaristi sebagai Makanan dan Obat Jiwa
Sebagai “Paus Ekaristi”, Santo Pius X mematahkan paham Jansenisme yang memandang Komuni semata-mata sebagai “hadiah” atas kesucian hidup. Beliau menegaskan bahwa Ekaristi adalah “obat” serta sumber kekuatan rohani harian yang sangat dibutuhkan oleh jiwa-jiwa yang lemah dan rapuh. Kebijaksanaannya menurunkan usia penerimaan Komuni Pertama menjadi sekitar 7 tahun memastikan agar jiwa anak-anak diperkuat oleh rahmat Kristus sejak dini, menjadikan Sakramen MahaKudus sebagai jalan tercepat dan tersehat menuju Surga.
Refleksi Hati dan Penyerahan Diri
Hari ini kita diajak berefleksi untuk mengenali bagian-bagian hidup yang terasa seperti “tulang-tulang kering”—baik itu hubungan yang merenggang, doa yang hampa, maupun semangat yang pudar—serta mengizinkan Roh Kudus dan Ekaristi memulihkannya. Pembaharuan hidup bermula dari keterbukaan hati untuk membiarkan kasih Allah memandu pikiran dan tindakan nyata kita kepada sesama. Memohon pendoaan Santo Pius X, marilah kita senantiasa membiarkan diri diperbaharui oleh kekuatan Ekaristi agar mampu bangkit menjadi saksi kasih yang hidup demi kemuliaan Allah (Ad Maiorem Dei Gloriam).
TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING
Romo Danang Sigit Koesworo, Pr (Pastor Paroki Tasikmalaya, Gereja Hati Kudus Yesus):
Kebaikan yang Meluluhkan Kedegilan Hati
Kebaikan sebagai Jawaban atas Kedegilan Hati
Romo Danang menulis mutiara batin renungan dari bacaan harian yang mengajak kita untuk menyadari betapa besarnya daya ubah dari sebuah kebaikan yang tulus. Dalam Peziarahan hidup, kita sering kali berhadapan dengan prasangka, kecurigaan, atau sikap keras hati dari sesama. Namun, tindak kebaikan yang dilakukan secara konsisten memiliki kekuatan untuk melunakkan kebebalan dan membungkam kedegilan hati. Ketika kebaikan dihadapi dengan penolakan atau ketidakpedulian, kita diajak untuk tidak berkecil hati, melainkan belajar melepaskan beban tersebut dan menghiraukannya dengan kelapangan dada.
Membangun Jaringan Relasi dan Persahabatan Sejati
Daripada menghabiskan energi batin untuk meratapi penolakan, kita diundang untuk secara aktif menemukan serta membangun jaringan relasi dan persahabatan yang sehat. Kehadiran lingkar persahabatan yang positif menjadi wadah yang saling menguatkan, menopang, dan mendorong satu sama lain menuju perkembangan kebaikan yang lebih luas. Dalam ikatan persahabatan sejati, setiap pribadi dimampukan untuk saling mendukung dalam menata raga, pikiran, dan rasa agar senantiasa berbuah bagi sesama.
Senyuman Allah dalam Setiap Langkah Kebaikan
Ketika kita memilih untuk melangkah bersama orang-orang yang saling mendukung dalam kebaikan, peziarahan iman kita akan terasa lebih ringan dan penuh sukacita. Usaha yang tulus untuk menebarkan kasih, menjaga persaudaraan, dan membangun komunitas yang saling menguatkan tidak akan pernah sia-sia di hadapan Sang Pencipta. Niscaya Allah pun tersenyum padamu, melimpahkan kedamaian serta sukacita atas setiap niat murni dan karya kasih yang kita wujudkan bersama.
Mutiara Batin:
“Kebaikan dapat membungkam kedegilan hati sesama. Bila tidak, hiraukan saja. Temukan; bangunlah jaringan relasi dan persahabatan dengan mereka yang mendukungmu menuju dan mengembangkan kebaikan. Niscaya Allah pun tersenyum padamu.”
Rm. A. Joko Purwanto, Pr (Pewarta Puncta, Pastor Paroki Wonogiri, Gereja Santo Yohanes Rasul):
Tom and Jerry
Bahaya Hiburan yang Menanamkan Permusuhan
Kisah animasi Tom and Jerry yang diwarnai perkelahian, aksi saling kejar, dan upaya melukai kerap kali memancing tawa serta rasa geli para penontonnya. Namun, tanpa disadari, tontonan semacam ini perlahan menggiring pikiran dan hati manusia untuk menikmati penderitaan sesama, memelihara kebencian, serta melampiaskan dendam. Kita diajak merasa puas ketika lawan babak belur, seolah-olah kehancuran orang lain adalah sebuah hiburan. Hal ini bertolak belakang dengan panggilan rohani yang mengajak kita menata batin agar bersih dari benih-benih permusuhan.
Pertanyaan Jebakan Kaum Farisi
Sikap ingin menjatuhkan dan merugikan orang lain juga nampak pada perilaku kaum Farisi yang tidak henti-hentinya berusaha mencobai Yesus. Mereka melontarkan pertanyaan mengenai hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat bukan untuk mencari kebenaran, melainkan dengan harapan Yesus “keseleo lidah” sehingga mereka memiliki alasan untuk menjerat-Nya. Kaum Farisi ingin mengkotak-kotakkan posisi Yesus di tengah aliran keagamaan masyarakat Yahudi saat itu melalui jebakan pertanyaan hukum tersebut.
Inti Hukum Taurat dalam Kasih Agape
Menghadapi jebakan tersebut, Yesus memberikan jawaban yang amat cerdas dengan menegaskan bahwa mengasihi Allah dan mengasihi sesama adalah hukum yang terutama dan pertama. Seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi tergantung pada kedua perintah ini, menjadikan kasih sebagai inti dari segala aturan. Kasih yang dimaksud adalah kasih Agape—kasih yang tulus, tanpa pamrih, tidak mengharapkan imbalan, dan melulu mengutamakan kebahagiaan orang yang dikasihi sebagaimana Allah telah mengasihi manusia.
Berjuang Mengasihi dan Memaafkan
Meskipun kecenderungan manusiawi kerap kali menyeret kita pada sikap membenci, menindas, atau membalas dendam, kita dipanggil untuk berjuang mengasihi Allah dan sesama sebagaimana Kristus telah mengasihi kita terlebih dahulu. Kasih sejati senantiasa membebaskan, membawa kelembutan, dan memiliki daya untuk memaafkan di tengah perbedaan. Marilah kita terus bertumbuh dalam kasih yang memulihkan dan menjauhi perpecahan, sebagaimana terungkap dalam bait pantun pengingat: Kisah cinta si Rara Mendut, Dipisahkan di Wirogunan; Kasih pasti lemah lembut, Kasih pasti bisa memaafkan.
Romo Y. Gunawan, Pr (Percik Firman, Pastor Formator Tahun Rohani Keuskupan Agung Semarang, Bumi Jangli):
Mengasihi Allah dan Sesama
Inti Hukum Kasih di Tengah Ratusan Aturan
Dalam bacaan Injil, seorang ahli Taurat datang mengajukan pertanyaan sulit kepada Yesus dengan maksud mencobai-Nya: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Pertanyaan ini tergolong rumit karena tradisi saat itu memiliki 613 butir peraturan yang terbagi atas 248 perintah dan 365 larangan. Mengetahui niat menjebak tersebut, Yesus dengan penuh kebijaksanaan menegaskan bahwa inti sari dari seluruh hukum dan ajaran para nabi adalah mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia, sebagaimana terangkum dalam Kitab Ulangan (Ul. 6:5) dan Kitab Imamat (Im. 19:18).
Teladan Kesederhanaan Santo Pius X
Hukum utama mengasihi Allah dan sesama dihayati secara mendalam oleh Santo Pius X (Giuseppe Melchiorre Sarto), yang diperingati oleh Gereja hari ini. Lahir dari keluarga miskin dengan ayah seorang pegawai pos, Giuseppe diajar oleh orang tuanya untuk mencintai Yesus dan Gereja melalui teladan cinta kasih serta kepedulian nyata. Semangat kesederhanaan tersebut dibawanya hingga wafat, sebagaimana tertuang dalam surat wasiatnya: “Saya dilahirkan miskin, saya hidup miskin, saya berharap mati miskin.” Baik saat menjadi imam, Uskup, Kardinal, hingga Paus, ia senantiasa membagikan apa yang dimilikinya kepada orang-orang yang berkekurangan.
Nutrisi Rohani Ekaristi Bagi Semua Usia
Paus Pius X dikenang secara istimewa karena cintanya yang luar biasa kepada Ekaristi Maha Kudus. Beliau mendorong umat beriman untuk sesering mungkin menyambut Tubuh Kristus, bahkan melalui perayaan Misa harian, serta secara revolusioner mengizinkan anak-anak (mulai usia sekitar 9 tahun, yang kemudian ditetapkan pada usia budi) untuk menerima Komuni Pertama. Keputusan ini didasari atas keyakinan mendalam bahwa Komuni Kudus bukanlah imbalan atas kesempurnaan moral, melainkan nutrisi rohani harian yang memberi kekuatan bagi jiwa untuk melakukan segala sesuatu demi kasih kepada Yesus dan sesama.
Refleksi Diri:
Peringatan Santo Pius X menjadi wawasan bernilai untuk merefleksikan kembali bagaimana kualitas sikap dan relasi kita kepada Allah serta sesama akhir-akhir ini. Teladan hidup Sang Paus mengajak kita untuk kembali menata raga, pikiran, dan rasa agar selaras dengan ketulusan menyambut Ekaristi dalam tindakan harian. Selamat berpesta pelindung bagi setiap pribadi, sekolah, lingkungan, maupun paroki yang bernaung di bawah perlindungan Santo Pius X.
.
Romo Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman, Pastor Paroki Katedral Gereja Kristus Raja, Purwokerto):
Hakekat Kasih yang Membebaskan
Panggilan Kasih yang Universal dan Nyata
Perintah mengasihi merupakan panggilan mendasar yang ditujukan bagi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja tanpa memandang latar belakang suku, agama, kekayaan, maupun jabatan. Mengasihi menjadikan hidup ini sungguh berharga, karena melalui kasih kita belajar memandang orang lain serta lingkungan sekitar sebagai bagian tak terpisahkan dari diri sendiri. Kasih mendorong keberanian konkret untuk peduli pada hal-hal kecil harian—seperti membungkuk sejenak untuk memindahkan sampah plastik dari trotoar ke tempatnya—yang tanpa kasih akan terus terabaikan begitu saja.
Proses Pembelajaran Hati yang Berkelanjutan
Membenci sering kali terjadi secara refleks tanpa perlu dipelajari, sedangkan mengasihi menuntut proses pembelajaran yang panjang, berkesinambungan, serta kedewasaan sikap hati yang jelas. Oleh karena itu, hukum kasih senantiasa aktual dan relevan sepanjang masa untuk terus dihidupi. Dalam dinamika peziarahan iman, latihan mencintai secara konsisten menjadi sarana pematangan batin agar kita senantiasa peka dan terbuka terhadap kehadiran sesama.
Pengorbanan yang Membebaskan dan Menyelamatkan
Mengasihi yang sejati pada hakekatnya membebaskan, meskipun dalam prosesnya sering kali menuntut pengorbanan dan bahkan mendatangkan rasa sakit. Namun, rasa sakit akibat mengasihi tidak akan berakhir pada kesia-siaan. Sebagaimana ditegaskan dalam ajaran Familiaris Consortio, pengorbanan yang lahir dari kasih tulus justru akan mendatangkan keselamatan dan memulihkan jiwa yang luka.
Bukti Nyata dan Ungkapan Kasih
Kasih sayang kepada sesama hadir sebagai obat yang menyembuhkan bagi jiwa-jiwa yang hancur dan rapuh. Santo Paus Yohanes Paulus II menegaskan bahwa cinta sejati adalah ketika kita mengutamakan kebahagiaan serta kesejahteraan orang yang kita cintai di atas keinginan dan kepentingan pribadi. Hal ini sejalan dengan ungkapan bijak berbahasa Jawa: “Cinta dudu perkoro sepiro kerepe kowe ngucapke, tapi sepiro akehe sing mbok buktike” (Cinta bukan perkara seberapa sering engkau mengucapkannya, melainkan seberapa banyak yang engkau buktikan).
Kartu Iman
“Kasih sayang kepada sesama adalah obat bagi jiwa yang hancur dan rapuh”
KATEKISMUS GEREJA KATOLIK (KGK)
Katekismus Gereja Katolik (KGK) Sesuai Bacaan Hari Ini
(Yehezkiel 37:1–14 & Matius 22:34–40)
Kebangkitan Tubuh dan Pembaruan oleh Roh Kudus (KGK 992–1001 & KGK 715)
Penglihatan Nabi Yehezkiel tentang tulang-tulang kering yang dihembusi Roh Allah (Yeh. 37:1–14) menjadi wujud pralambang kebangkitan badan dan pembaruan rohani manusia. Katekismus mengajarkan bahwa Allah membuka rahasia tentang janji kebangkitan orang mati secara bertahap, dan Roh Kudus-lah yang membaharui hati manusia pada “saat-saat terakhir” dengan menyampaikan hukum baru serta mendamaikan ciptaan (KGK 715). Melalui hembusan Roh-Nya, Allah menegaskan kuasa-Nya untuk menganugerahkan kehidupan baru yang abadi melebihi sekadar pemulihan fisik.
Hukum Utama Kasih kepada Allah (KGK 2083 & KGK 2093)
Menjawab pertanyaan ahli Taurat mengenai hukum yang terutama (Mat. 22:37–38), Yesus mengutip perintah inti untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Katekismus menegaskan bahwa mengasihi Allah adalah pemenuhan Perintah Pertama dari Sepuluh Perintah Allah (KGK 2083). Kasih ini menuntut penyerahan diri secara utuh, iman yang murni, serta kepatuhan total sebagai jawaban atas kasih dan belas kasihan Allah yang telah lebih dahulu mengalir kepada manusia.
Kasih kepada Sesama sebagai Buah Imbal Kasih (KGK 2196 & KGK 1822–1829)
Perintah kedua yang sama utamanya, yaitu mengasihi sesama seperti diri sendiri (Mat. 22:39), merupakan konsekuensi tak terpisahkan dari kasih kepada Allah. KGK menekankan bahwa Yesus menjadikan kasih kepada sesama sebagai perintah-Nya sendiri yang merangkum seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (KGK 2196). Kasih (caritas/agape) adalah kebajikan ilahi yang memampukan kita mengasihi sesama demi kasih kepada Allah, memandang setiap manusia sebagai citra-Nya, serta mewujudkannya dalam tindakan pengorbanan nyata.
Kesatuan Hukum Taurat dalam Rahmat Kristus (KGK 1970 & KGK 2055)
Seluruh hukum Taurat dan ajaran para nabi tergantung pada kedua perintah kasih ini (Mat. 22:40). Katekismus menjelaskan bahwa Hukum Baru atau Hukum Injil yang dibawa Kristus tidak menghapus Perintah Lama, melainkan menyempurnakannya di bawah bimbingan Roh Kudus (KGK 1970). Dengan menata raga, pikiran, dan rasa dalam kasih yang utuh, setiap orang beriman dimampukan untuk menghidupi Perintah Allah bukan sebagai beban hukum yang kaku, melainkan sebagai jalan kebebasan dan kehidupan sejati.
MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA
Penerapan kerangka disiplin Nata Raga, Nata Pikir, dan Nata Rasa merupakan peziarahan batin untuk menata seluruh dimensi diri manusia agar selaras dengan kehendak Allah dan kasih kepada sesama.
Nata Raga (Menata Tubuh dan Action)
Nata Raga adalah latihan disiplin fisik dan tindakan nyata agar tubuh kita menjadi sarana rahmat, kebaikan, dan tempat kediaman Roh Kudus (Bait Allah).
Menjaga dan Melatih Lidah: Menggunakan tutur kata yang menyejukkan, membangun, dan membawa kedamaian; menghindari fitnah, gosip, serta perkataan kasar yang melukai sesama (Ams. 15:1–4).
Tindakan Kasih Konkret: Menggerakkan tubuh untuk bertindak nyata dalam pelayanan—seperti membungkuk mengambil sampah di jalan, membagi beban dengan orang lain, dan melayani dengan murah hati.
Menjaga Kebersihan dan Kesehatan Diri: Merawat tubuh sebagai bentuk rasa syukur atas napas kehidupan yang dimuliakan melalui kebiasaan hidup teratur dan berpantang dari hal-hal yang merusak fisik.
Nata Pikir (Menata Pikiran dan Intellect)
Nata Pikir adalah pembaruan budi agar cara pandang kita tidak dibentuk oleh hikmat duniawi yang dipenuhi kesombongan, melainkan dipandu oleh Sabda Allah.
Membangun Cara Pandang Biblis (Biblical Worldview): Mengisi pikiran secara rutin dengan Kitab Suci dan ajaran iman agar mampu membedakan mana yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna.
Menundukkan Kesombongan Intelektual: Menolak untuk membanggakan kepandaian, status, atau gelar pribadi (Yer. 9:23–24), serta menyadari bahwa seluruh hikmat berasal dari Tuhan.
Menyaring Informasi (Saring sebelum Sharing): Menjaga pikiran dari benih-benih kebencian, kecurigaan, atau provokasi dengan senantiasa menguji kebenaran setiap informasi sebelum menerimanya.
Nata Rasa (Menata Hati dan Feelings)
Nata Rasa adalah penyucian dan pengolahan batin agar perasaan kita semakin halus, penuh belas kasih, dan selaras dengan Hati Kudus Yesus.
Mengolah Belas Kasih (Compassion): Melembutkan hati agar mudah tergerak oleh penderitaan sesama, bukannya merasa puas atau menjadikan kemalangan orang lain sebagai hiburan.
Melepaskan Dendam dan Menghidupi Maaf: Membersihkan rasa benci dan dorongan membalas dendam, digantikan dengan rasa pengampunan yang membebaskan jiwa.
Pengalaman Kebersamaan dengan Allah: Merasakan kedamaian mendalam (Hesed) dalam keyakinan bahwa Allah senantiasa hadir dan tidak pernah menyembunyikan wajah-Nya dari orang yang mencari-Nya dengan tulus.
Melalui keselarasan antara raga yang bertindak lembut, pikir yang diterangi Sabda, dan rasa yang dipenuhi kasih, kita dimampukan untuk menghidupi perintah utama: mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri.
NIAT KONGKRET
Berikut ini adalah niat konkret yang dapat dilatih dan dihidupi hari ini:
Nata Raga (Tindakan Nyata Tubuh & Perkataan)
Menjaga Lidah: Saya berniat untuk tidak mengeluarkan ucapan yang menyindir, mengeluh, atau memperkeruh suasana, melainkan menyampaikan satu perkataan apresiasi atau hiburan yang menyejukkan kepada orang terdekat.
Pelayanan Kecil: Saya akan mengambil satu tindakan fisik sederhana tanpa diminta—seperti merapikan tempat yang berantakan, membuang sampah yang terlihat, atau membantu pekerjaan rumah/kantor—sebagai wujud kasih yang membungkuk dan melayani.
Nata Pikir (Pikiran & Cara Pandang)
Saring Sebelum Sharing:
Saya akan memilah setiap informasi yang masuk, menolak untuk meneruskan kabar berita yang memicu kebencian atau permusuhan, serta melatih pikiran untuk tidak cepat menghakimi sesama.
Menundukkan Ego:
Saya akan mengingatkan diri bahwa kebanggaan sejati bukan pada pencapaian atau status pribadi, melainkan pada kehendak untuk terus belajar mengenal kebaikan Allah.
Nata Rasa (Hati & Perasaan)
Melepaskan Ganjalan Hati:
Saya berniat untuk mendoakan secara khusus seseorang yang pernah membuat saya kesal atau terluka, memohonkan kedamaian baginya agar hati saya dibebaskan dari benih dendam.
Mengolah Empati: Saya akan melatih kepedulian batin dengan tidak menganggap remeh penderitaan orang lain, melainkan menghadirkan rasa belas kasih yang tulus dalam setiap perjumpaan.
“Langkah kecil hari ini adalah benih kehidupan baru; di mana Roh Allah bekerja, kasih selalu menemukan jalannya untuk mewujud.”
LAGU ROHANI PENGANTAR DOA
Lagu atau Musik Instrumentalia yang hening dan teduh
DOA HENING
Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.
Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.
PERUTUSAN
Sebagai murid-murid Kristus yang telah dihembusi Roh Kudus dan dipulihkan dari kekeringan rohani, kita diutus untuk menjadi saksi kasih yang hidup di tengah dunia:
Diutus Menjadi Pembawa Damai (Nata Raga): Menjadikan kehadiran fisik dan tutur kata kita sebagai sarana pemulihan; menolak melontarkan kata-kata yang melukai, serta aktif mengulurkan tangan dalam tindakan melayani yang tulus dan rendah hati.
Diutus Menjadi Penerang Pikiran (Nata Pikir): Menolak diseret oleh arus permusuhan, kebencian, atau hiburan yang merendahkan martabat sesama; memandang setiap orang dengan kacamata kasih Allah dan menyebarkan kebenaran yang membangun.
Diutus Menjadi Saluran Belas Kasih (Nata Rasa): Membawa hati yang peka dan penuh empati kepada mereka yang hancur, terasing, atau kehilangan harapan; menjadikan hidup kita sebagai bukti nyata bahwa kasih Allah tidak pernah meninggalkan manusia.
Marilah kita pergi dan melangkah:
di mana ada kebencian, bawalah kasih; di mana ada keretakan, bawalah pengampunan; dan di mana ada keputusasaan, hembuskanlah harapan baru di dalam Kristus.
DOA PENUTUP
Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Allah Bapa Yang Mahamurah dan Mahakasih,
Kami mengucap syukur ke hadirat-Mu atas pendampingan, rahmat, dan firman-Mu yang telah menyegarkan jiwa kami pada hari ini. Engkau telah mengingatkan kami akan hukum-Mu yang utama: mengasihi Engkau dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi, serta mengasihi sesama kami seperti diri kami sendiri.Hembuskanlah Roh Kudus-Mu ke dalam batin kami yang sering kali lelah dan kering. Pulihkanlah “tulang-tulang kering” dalam hidup kami—hubungan yang retak, pelayanan yang memudar, serta kepekaan hati yang tergerus. Berilah kami keberanian dan kesetiaan untuk melatih diri dalam disiplin Nata Raga, Nata Pikir, dan Nata Rasa, agar seluruh tutur kata, pikiran, serta perasaan kami senantiasa memancarkan kebaikan dan belas kasih-Mu di tengah dunia.
Semua permohonan dan ungkapan syukur ini kami haturkan kepada-Mu, dengan perantaraan Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus,
seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.
Tanda SalibDalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.
Berkah Dalem, Salam Takzim.









