Dari “MILIKKU” Menjadi “MILIK TUHAN”

CAPITA SELECTA
SERI NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA – Oleh N.P. Basuki Ismael
Selected Daily Reflections of Divine Words – Book Edition
Ut Omnis Meditatio Corda ad Christum Ducat – May Every Reflection Lead Hearts to Christ – Semoga Setiap Renungan Mengantar Hati kepada Kristus
Selasa 18 Agustus 2026, Warna Liturgi: Hijau
Peringatan: Santa Helena; Santa Yohana Fransiska de Chantal
Dari “MILIKKU” Menjadi “MILIK TUHAN”
A Meo ad Tuum – From “Mine” to “God’s”

PENGANTAR

Manusia mudah berkata, “Ini milikku: hartaku, jabatanku, keberhasilanku, kecerdasanku, bahkan hidupku.” Di sinilah Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan menata kembali cara kita memandang kehidupan. Nabi Yehezkiel menegur raja Tirus yang begitu terpesona oleh kekayaan, kebijaksanaan, dan kekuasaannya hingga hatinya berkata, “Aku adalah Allah.” Kesombongan membuat manusia lupa bahwa segala sesuatu yang dimilikinya bukanlah semata-mata hasil kekuatannya sendiri, melainkan anugerah yang dipercayakan Allah.

Ketika Anugerah Dianggap sebagai Milik Mutlak

Raja Tirus menjadi gambaran manusia yang kehilangan kesadaran akan siapa dirinya di hadapan Sang Pencipta. Kekayaan, kecerdasan, jabatan, dan keberhasilan yang seharusnya menjadi sarana untuk berbuat baik justru dapat berubah menjadi sumber kesombongan ketika manusia mulai merasa dirinya adalah pusat segala sesuatu.

Sabda Yehezkiel mengingatkan bahwa manusia boleh menjadi hebat, tetapi tidak pernah menjadi Allah. Manusia boleh memiliki banyak hal, tetapi tidak pernah memiliki kehidupan secara mutlak. Semua yang kita terima adalah rahmat yang dipercayakan untuk dijaga, dikembangkan, dan pada waktunya dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Ketika Mazmur Mengembalikan Kita kepada Sumber Kehidupan

Mazmur menegaskan kembali kebenaran yang sering kita lupakan: “Tuhanlah yang mematikan; Tuhan pulalah yang menghidupkan.” Di hadapan Allah, manusia menyadari keterbatasan dirinya.

Napas kehidupan, kesehatan, kemampuan berpikir, kesempatan bekerja, keluarga, harta, jabatan, dan setiap keberhasilan pada akhirnya berada dalam penyelenggaraan-Nya. Kesadaran ini bukan untuk membuat kita pasif, melainkan membebaskan kita dari kesombongan dan menumbuhkan kerendahan hati untuk menerima hidup sebagai anugerah.

Ketika Harta Menguasai Hati

Dalam Injil, Yesus membawa kita lebih dalam. Masalahnya bukan sekadar apakah seseorang memiliki harta, tetapi apakah harta telah memiliki hatinya.

Kekayaan dapat menjadi berkat apabila ditempatkan sebagai sarana untuk mengasihi dan melayani. Namun, kekayaan dapat menjadi belenggu apabila manusia mulai mengandalkannya sebagai sumber keamanan, kehormatan, dan kebahagiaan.

Karena itu Yesus berkata bahwa sangat sulit bagi orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bukan karena Allah menolak orang kaya, melainkan karena hati yang terlalu melekat pada kepemilikan akan sulit membuka ruang bagi Allah.

Dari “Milikku” Menuju “Milik Tuhan”

Maka, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita berpindah dari “milikku” menuju “milik Tuhan.”

Ketika kita menyadari bahwa hidup ini adalah titipan, Urip Mung Mampir Ngombe (Hidup Hanyalah Sekejap Minum Seteguk Air), kita tidak lagi hanya cukup bertanya, “Apa yang dapat saya miliki?” tetapi juga, “Untuk apa Tuhan mempercayakan semua ini kepada saya?”

Di situlah Nata Raga, Nata Pikir, dan Nata Rasa menemukan arahnya: raga dipakai untuk melayani, pikir ditata dalam kerendahan hati, dan rasa dibebaskan dari kelekatan.

PESAN UTAMA BACAAN

Sabda Tuhan hari ini membawa kita kepada satu kesadaran mendasar: hidup bukanlah milik kita secara mutlak; hidup adalah anugerah Tuhan yang dipercayakan kepada kita.

Yehezkiel memperlihatkan bahaya ketika manusia mengubah anugerah menjadi alasan untuk menyombongkan diri. Raja Tirus memiliki kekayaan, kecerdasan, dan kekuasaan, tetapi ia lupa kepada Sang Pemberi. Ia tidak lagi berkata, “Tuhan mempercayakan ini kepadaku,” melainkan “Aku memiliki semuanya karena kehebatanku.”

Di situlah berkat berubah menjadi kesombongan dan kepemilikan berubah menjadi berhala.

Kerendahan Hati: Mengembalikan Semua kepada Sumbernya

Mazmur kemudian mengembalikan perspektif kita kepada Allah: “Tuhanlah yang mematikan; Tuhan pulalah yang menghidupkan.”

Tidak ada seorang pun yang benar-benar memiliki kehidupan di tangannya sendiri. Kita boleh merencanakan, bekerja keras, membangun karier, mengumpulkan harta, dan mengembangkan kemampuan, tetapi pada akhirnya kita tetap makhluk yang menerima kehidupan dari Tuhan.

Kerendahan hati bukan berarti menyangkal kemampuan diri. Kerendahan hati adalah keberanian untuk mengakui dengan jujur bahwa kemampuan itu sendiri adalah rahmat.

Masalahnya Bukan Memiliki, tetapi Terikat

Injil Matius membawa kesadaran ini kepada persoalan yang lebih dalam: kelekatan hati.

Yesus tidak mengatakan bahwa kekayaan itu sendiri adalah dosa. Yang menjadi persoalan adalah ketika kekayaan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Allah.

Ketika harta menjadi sumber rasa aman, jabatan menjadi sumber harga diri, kekuasaan menjadi sumber kehormatan, dan keberhasilan menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain, manusia perlahan-lahan tidak lagi memiliki harta—melainkan justru dimiliki oleh hartanya.

Siapa yang Memiliki Hati Kita?

Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah:

“Berapa banyak yang saya miliki?”

melainkan:

“Siapa yang memiliki hati saya?”

Pertanyaan ini jauh lebih dalam daripada persoalan kaya atau miskin. Seseorang dapat memiliki banyak harta tetapi tetap rendah hati, murah hati, dan bebas secara batin. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki sedikit harta tetapi hatinya tetap dikuasai oleh keserakahan, iri hati, gengsi, dan keinginan untuk memiliki lebih banyak.

Yang Tuhan lihat bukan terutama jumlah yang berada di tangan kita, melainkan arah hati yang menggunakan apa yang ada di tangan kita.

Jika Tuhan Memiliki Hati Kita

Jika Tuhan yang memiliki hati kita, maka harta menjadi sarana, bukan tujuan.

Jabatan menjadi pelayanan, bukan kehormatan pribadi.

Kecerdasan menjadi alat untuk menerangi, bukan alasan untuk merendahkan.

Keberhasilan menjadi kesempatan untuk berbagi, bukan panggung untuk memuliakan diri.

Bahkan penderitaan dan kehilangan pun dapat menjadi ruang untuk belajar percaya bahwa Tuhan tetap hadir ketika segala sesuatu yang kita anggap milik kita harus kita lepaskan.

Nata Raga: Apa yang Ada di Tangan Menjadi Pelayanan

Nata Raga mengajar kita menggunakan apa yang ada pada tubuh dan tangan kita secara sederhana, disiplin, dan produktif untuk melayani Tuhan dan sesama.

Raga tidak diciptakan untuk mengejar kenyamanan tanpa batas. Kesehatan, tenaga, pekerjaan, keterampilan, dan kemampuan kita adalah sarana yang dapat dipersembahkan bagi kebaikan.

Maka, tangan yang diberkati Tuhan hendaknya menjadi tangan yang mau bekerja, menolong, berbagi, mengangkat yang jatuh, dan menjadi perpanjangan tangan kasih Allah bagi mereka yang membutuhkan.

Nata Pikir: Kecerdasan yang Tunduk pada Kebijaksanaan

Nata Pikir mengajar kita untuk membongkar ilusi bahwa kita paling tahu, paling hebat, dan paling mampu.

Pikiran yang tertata menyadari bahwa kecerdasan adalah anugerah dan karena itu harus dipakai untuk mencari kebenaran, bukan untuk membangun kesombongan.

Kita dipanggil untuk berpikir kritis, tetapi tetap rendah hati; menjadi cerdas, tetapi tidak congkak; memiliki pengetahuan, tetapi tetap bersedia untuk belajar.

Fides quaerit intellectum — iman mencari pengertian. Karena itu, kecerdasan yang sejati tidak menjauhkan kita dari Allah, melainkan semakin membawa kita kepada kekaguman dan kerendahan hati di hadapan-Nya.

Nata Rasa: Hati yang Bebas dari Kelekatan

Nata Rasa mengajar kita untuk melepaskan keterikatan batin: tidak diperbudak oleh harta, pujian, jabatan, gengsi, maupun ketakutan kehilangan.

Hati yang tertata mampu bersyukur ketika menerima dan tetap percaya ketika harus melepaskan.

Hati seperti ini dapat berkata:

“Tuhan, Engkaulah cukup bagiku.”

Di dalam kebebasan rohani itulah manusia tidak lagi hidup untuk memiliki sebanyak-banyaknya, tetapi untuk mengasihi sedalam-dalamnya.

Berkat yang Dipercayakan Harus Menjadi Berkat Nyata

Maka, “Milikku ada pada Tuhan” bukan berarti kita tidak boleh memiliki sesuatu.

Sebaliknya, ungkapan ini mengubah cara kita memiliki.

Kita tetap bekerja, tetapi tidak diperbudak oleh pekerjaan.

Kita boleh memiliki harta, tetapi harta tidak memiliki kita.

Kita menerima jabatan, tetapi jabatan tidak membuat kita merasa lebih tinggi.

Kita menerima keberhasilan, tetapi tidak melupakan sumbernya.

Kita menerima kelimpahan, tetapi hati kita tetap terbuka untuk berbagi.

Ukuran Keberhasilan Seorang Murid Kristus

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang murid Kristus bukanlah seberapa banyak yang berhasil untuk dikumpulkan bagi dirinya sendiri, melainkan seberapa banyak dari apa yang dipercayakan Tuhan kepadanya yang mampu menjadi berkat bagi sesama.

Sebab segala sesuatu yang kita miliki akan berlalu: harta dapat hilang, jabatan dapat berakhir, kekuatan dapat melemah, kecantikan dapat memudar, dan kehidupan duniawi pada akhirnya harus kita tinggalkan.

Namun kasih yang kita berikan, kebaikan yang kita lakukan, dan kehidupan yang kita sentuh dengan berkat Tuhan akan menjadi kesaksian bahwa anugerah yang kita terima tidak berhenti pada diri kita.

Menjadi Miskin di Hadapan Allah, Kaya dalam Kasih

Karena itu, mengikuti Kristus berarti belajar menjadi miskin di hadapan Allah: bukan miskin karena tidak memiliki apa-apa, melainkan terhindar dari keyakinan bahwa segala sesuatu harus bergantung pada diri sendiri. Selalu ada Roh Kristus yang bisa menjadi sandaran hidup kita saat kita menyapa-Nya setiap hari.

Kita menjadi kaya ketika hati kita dipenuhi syukur.

Kita menjadi kaya ketika mampu berbagi.

Kita menjadi kaya ketika keberhasilan kita mengangkat kehidupan orang lain.

Kita menjadi kaya ketika apa yang Tuhan titipkan kepada kita kembali mengalir menjadi kasih.

Dan kita menjadi sungguh kaya ketika Kristus sendiri menjadi harta yang paling berharga dalam hidup kita.

DOA BATIN

Hari ini marilah kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:

Apa yang selama ini saya sebut “milikku”, padahal sebenarnya Tuhan hanya mempercayakannya kepadaku?

Apa yang paling saya takuti tentang kehilangan?

Apakah harta, jabatan, keberhasilan, dan kenyamanan telah mengambil ruang yang seharusnya menjadi milik Tuhan?

Dan akhirnya:

Apakah semua yang Tuhan percayakan kepadaku telah menjadi berkat bagi sesama?

PENUTUP PESAN UTAMA BACAAN

Marilah kita membawa satu kalimat sederhana ke dalam hati:

“Apa yang ada padaku adalah anugerah Tuhan; apa yang dipercayakan kepadaku adalah tanggung jawab; dan apa yang dapat kubagikan kepada sesama adalah ungkapan syukurku kepada Tuhan.”

Dengan demikian, kita tidak kehilangan apa pun ketika belajar untuk melepaskan kelekatan.

Justru ketika tangan kita terbuka, hati kita menjadi lebih lapang untuk menerima Allah.

Sebab orang yang menjadikan Tuhan sebagai hartanya yang sejati tidak pernah benar-benar miskin; dan orang yang menjadikan harta sebagai tuhannya tidak pernah benar-benar merasa cukup.

DARI “MILIKKU” MENJADI “MILIK TUHAN”
A Meo ad Tuum
From “Mine” to “God’s”
DEVOSI

Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:

1. Santa Helena

​Siapa Beliau:
Ibu Kekaisaran Romawi (Kaisar Konstantinus Agung) yang memeluk Kristiani di usia lanjut dan menemukan Salib Suci Kristus di Yerusalem.

​Teladan: Kerendahan hati di puncak kekuasaan, kepedulian pada kaum miskin, dan ketekunan mencari kebenaran iman.

​Devosi:
Pelindung para arkeolog, penemu barang hilang, serta penghormatan pada Salib Suci dan keteguhan memikul beban hidup.

​2. Santa Yohana Fransiska de Chantal

​Siapa Beliau: Bangsawan, ibu rumah tangga, janda, dan pendiri Tarekat Suster Visitasi bersama St. Fransiskus dari Sales.

Teladan:
Kerelaan mengampuni (pembunuh suaminya), kelembutan batin, dan kepasrahan total pada kehendak Allah saat berduka.

​Devosi:
Pelindung para janda, ibu rumah tangga, serta devosi pada Hati Kudus Yesus dan kesabaran mengolah emosi batin.

PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN

Bacaan Pertama
(Yehezkiel 28: 1-10)
Intisari Bacaan:
Yehezkiel menegur raja Tirus yang sombong dan merasa paling bijaksana. Tuhan menyatakan ia akan diserahkan kepada musuh dan akan mati sebagai manusia biasa. Hikmat palsunya runtuh sebab hanya Allah sumber kuasa dan hidup.

Romo B.S. Mardiatmadja, SJ (Jakarta)

Milikku Ada Pada Tuhan

​Pengalaman Sukacita atas Anugerah Kehidupan
Pengalaman setiap orang tua saat menerima kehadiran anak pertama yang sehat adalah wujud sukacita yang tak terlukiskan, sebagaimana dialami Elisabeth saat melahirkan Yohanes setelah bertahun-tahun menunggu. Kesadaran mendalam ini melahirkan ungkapan batin: “Milikku ada pada Tuhan.” Rasa syukur tersebut semakin bergema saat melihat sang anak pulih dari sakit dan tumbuh teguh, sehingga seruan “Allah mahabaik” senantiasa bergema karena menyadari bahwa seluruh kehidupan adalah anugerah murni dari-Nya.

​Teguran terhadap Kesombongan Manusia(Yhz. 28:1-10)
Warta Kitab Yehezkiel memberikan peringatan keras kepada kaum yang sombong dari zaman dahulu hingga sekarang yang sering menganggap seolah-olah segala sesuatu adalah milik pribadi. Harta kekayaan, tahta, dan kekuatan sering kali membuat manusia congkak seakan semua itu ada karena kehebatannya sejak kecil. Padahal, seluruh keberadaan dan apa yang kita miliki murni merupakan berkah yang dipercayakan oleh Allah.

​Seluruh Hidup Adalah Harta Allah (Mat. 19:23-30)
Injil Matius memperlihatkan bahwa sejak usia paling muda, Allah telah menganugerahkan segala sesuatu dalam diri kita, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Segala sesuatu yang ada pada kita hakikatnya adalah harta milik Allah yang dikaruniakan untuk dijaga, dirawat secara cermat dan teliti, serta dibagikan secara murah hati kepada sesama yang membutuhkan.

​Doa Syukur dan Penyerahan Diri
Kesadaran bahwa seluruh hidup adalah milik Allah memanggil kita untuk senantiasa hidup dalam doa syukur yang terus-menerus. Dengan mengakui bahwa Allah adalah sumber dari segala anugerah, kita dibebaskan dari keterikatan egois dan diajak untuk senantiasa berdoa: “Milikku ada pada Tuhan senantiasa.” Seluruh bakti dan karya kita diabdikan murni demi kemuliaan Allah yang lebih besar (Ad Maiorem Dei Gloriam – AMDG).

Romo Willem Pau Pr (Pastor Paroki St. Franciscus Saverius, Kebondalem, Semarang):

Kerendahan Hati di Hadapan Sang Pencipta

​Kesombongan Raja Tirus dan Bahaya Menyelubungi Diri (Yhz. 28:1-10)
Teguran keras Tuhan kepada raja Tirus memperlihatkan betapa bahayanya kesombongan yang lahir dari kekayaan, kecerdasan, dan keberhasilan. Masalah utama manusia bukanlah saat ia memiliki berlimpahnya harta atau kemampuan tingginya, melainkan ketika ia mulai berhalusinasi menganggap dirinya sebagai sumber segalanya dan tidak lagi membutuhkan Allah. Kesuksesan dan keberhasilan pada hakikatnya adalah anugerah Ilahi, namun menjadi jerat mematikan saat kita melupakan Sang Pemberi rahmat.

​Hakikat Manusia sebagai Ciptaan yang Bersandar pada Rahmat
Kesombongan mengikis kebenaran mendasar mengenai identitas manusia di hadapan Penciptanya. Manusia selamanya adalah makhluk ciptaan yang terbatas, yang menerima raga, pikir, rasa, kesempatan, dan kesehatan murni dari belaskasih Allah. Bahkan seluruh pencapaian yang terasa sebagai hasil kerja keras pribadi tetap hanya bisa terjadi karena Tuhan mengizinkan napas kehidupan dan kesempatan itu ada.

​Makna Kerendahan Hati
Sebagaimana dituturkan Santo Agustinus, “Kesombongan mengubah para malaikat menjadi setan; kerendahan hati membuat manusia menjadi seperti malaikat.” Kerendahan hati bukanlah perbuatan untukbmerendahkan atau menganggap diri tak berharga, melainkan kejujuran batin untuk menyadari posisi diri: bahwa kita dipanggil menjadi pribadi yang mumpuni namun tetap membutuhkan rahmat, dan senantiasa bersyukur, serta berharga tanpa pernah menggeser takhta Allah.

​Panggilan Melayani dan Memuliakan Allah
Warta Nabi Yehezkiel memperingatkan bahwa segala bangunan hidup yang didirikan tanpa Allah pada akhirnya akan runtuh dan rapuh. Karunia yang Tuhan percayakan—baik berupa jabatan, kekayaan, maupun intelektual—pantas diuji kembali: apakah semua itu membuat kita makin melayani dan peduli pada sesama, atau justru makin egois? Setiap anugerah dipanggil untuk dipakai bukan demi meninggikan diri, melainkan demi melayani sesama, membangun bonum commune, dan memuliakan Allah.

L. Elyas Nugraha (Pewarta Lumen Mundi, Paroki St. Athanasius Agung, Karangpanas, Semarang).

Kerendahan Hati Membuka Hati kepada Allah

​Kebijaksanaan Kidung Musa dan Kejatuhan Raja Tirus (Ulangan 32:26-36; Yehezkhiel 28:1-10)

Kidung Musa menegaskan kedaulatan mutlak Allah mematikan dan menghidupkan, sedangkan kejatuhan raja Tirus menjadi cermin betapa kesombongan menipu batin hingga merasa tak butuh Tuhan. Kuasa manusia sangat terbatas, namun kesombongan sering membius raga dan pikir untuk mengabaikan-Nya. Sebagaimana ajaran St. Basilius Agung (“Humilitas thesaurus virtutum”), kerendahan hati adalah harta kebajikan yang membuka jalan bagi rahmat-Nya.

​Panggilan Mengikuti Kristus dan Anugerah Keselamatan (Mat. 19:23-30)
Yesus mengajarkan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang disambut iman, bukan hasil kehebatan atau tumpukan harta manusia. Para rasul yang rela melepaskan keterikatan duniawi menerima janji kehidupan kekal atas kesetiaan-Nya. Dalam terang “Fides quaerit intellectum” (St. Anselmus), iman membimbing kita menyadari ketidakberdayaan diri di hadapan Allah dan pentingnya keterbukaan batin.

​Ajaran Gereja tentang Lepas Bebas dari Harta Benda (KGK 2544–2547)
Di tengah dunia yang mengagungkan pencitraan dan materi, Katekismus Gereja Katolik mengingatkan bahwa keterikatan tak teratur pada harta menghalangi kasih yang utuh kepada Allah. Setiap berkat dalam pekerjaan, keluarga, maupun media digital hendaknya dipakai untuk melayani sesama demi bonum commune, bukan memupuk egoisme. Pola hidup sederhana dan murah hati memerdekakan batin dari jerat kesombongan.

​Transformasi Rahmat dan Panggilan Perutusan
Kerendahan hati mengubah kemustahilan manusiawi menjadi kemungkinan Ilahi (“Apud Deum autem omnia possibilia sunt”), sebab seperti kata Henri de Lubac, “Deus semper maior” — Allah selalu lebih agung. Perutusan ini menuntut kita untuk merendahkan hati di hadapan Allah (esto humilis coram Deo), menolak diperbudak harta, dan setia mengikut Kristus.

AC Eko Wahyono (Pewarta Lectio Divina, Paroki Santa Maria Tak Bernoda, Jember)

Upah Pengikut Yesus

​Bahaya Kesombongan dan Ilusi Menjadi Allah
Nabi Yehezkiel memberikan peringatan keras kepada Tirus yang menjadi tinggi hati karena kelimpahan harta dan kecerdasannya hingga berseru, “Aku adalah Allah.” Kehendak untuk menyamai Tuhan dan mengandalkan diri sendiri merupakan dosa berat yang lahir dari keangkuhan batin, sebuah bentuk pencitraan palsu yang membalikkan hati dari Sang Pencipta. Sebagaimana ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 1850), dosa pada hakikatnya adalah cinta diri yang meningkat menjadi penghinaan terhadap Allah, sebuah pemberontakan yang bertentangan penuh dengan ketaatan Kristus.

​Makna Lubang Jarum dan Kerendahan Hati
Pernyataan Yesus bahwa lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada orang kaya masuk Kerajaan Allah bukanlah kecaman atas kekayaan itu sendiri, melainkan teguran atas kelekatan batin padanya. Seperti unta yang harus membungkuk dan merangkak melewati gerbang sempit, manusia dipanggil untuk senantiasa menundukkan egoismenya dan bergantung penuh pada penyelenggaraan Ilahi. Santo Agustinus mengingatkan bahwa di hadapan Tuhan, kita semua adalah pengemis; maka, kekayaan lahiriah hendaknya digunakan untuk membalas kemiskinan sesama agar kita dapat menerima kelimpahan rahmat abadi.

​Pengorbanan yang Membawa Janji Kehidupan Kekal
Kelekatan pada harta dan cinta uang adalah akar dari berbagai kejahatan yang dapat menyesatkan manusia dari iman. Sebaliknya, mereka yang berani melepaskan keterikatan duniawi dan mengikut Kristus dijanjikan ganjaran berlipat ganda serta kehidupan kekal. Allah menjungkirbalikkan ukuran dunia: kemurahan hati dalam membagikan apa yang ada tidak akan membuat manusia berkekurangan, melainkan memelihara harta sejati di surga yang tidak dapat rusak atau hilang.

​Prinsip Yang Terakhir Menjadi Yang Terdahulu
Ukuran kehormatan menurut manusia sangat berbeda dengan pandangan Allah, sebab yang terdahulu sering kali menjadi yang terakhir dan yang terakhir menjadi yang terdahulu. Allah memuliakan setiap pribadi yang rendah hati, dilupakan, dan ditindas, namun Ia menolak mereka yang bersikap sombong dan merasa paling berjasa. Sebagaimana diajarkan Santo Yohanes Krisostomus, keselamatan memang mustahil jika hanya mengandalkan daya manusia, namun melalui penyangkalan diri dan rahmat Allah yang tanpa batas, kemustahilan itu diubah menjadi keabadian.

TRANSITUS:
(Mazmur 32: 26-27abcd-28,30,35cd-36ab):
Mazmur Tanggapan:
Tuhanlah yang mematikan; Tuhan pulalah yang menghidupkan

Romo Mike Schmitz (The Bible in a Year, Pastor Mahasiswa di Universitas Minnesota, Keuskupan Duluth):

Belaskasih dan Perlindungan Allah atas Umat-Nya

​Kekuasaan dan Batas Kesombongan Manusia (Ulangan 32:26-27ab)
Dalam perikop ini, Tuhan menegaskan kedaulatan-Nya atas kehidupan manusia dan sejarah bangsa-bangsa. Manusia sering kali merasa mampu mengatur hidupnya sendiri serta menyombongkan kehebatannya, tanpa menyadari bahwa segala daya dan ruang hidup hanyalah anugerah. Allah membatasi murka dan menahan keangkuhan musuh agar manusia tidak keliru menganggap bahwa keberhasilan adalah murni hasil kekuatan tangannya sendiri.

​Kebutaan Hati dan Ketiadaan Kebijaksanaan (Ulangan 32:27cd-28)
Romo Mike Schmitz sering mengingatkan bahwa tragedi terbesar manusia adalah ketika ia kehilangan akal budi rohani dan lupa akan Allah yang menciptakannya. Bangsa yang tidak berakal budi adalah gambaran dari hati yang buta oleh keserakahan, egoisme, dan kemandirian palsu. Tanpa kebijaksanaan Ilahi, manusia gampang terombang-ambing oleh kebohongan dan melupakan bahwa Allah adalah Gunung Batu keselamatan yang sejati.

​Kesadaran akan Kelemahan Diri (Ulangan 32:30)
Bagaimana mungkin satu orang dapat mengejar seribu orang jika bukan karena Tuhan yang menyerahkan mereka? Ayat ini mengajak kita untuk menyadari ketidakberdayaan raga dan pikir kita di hadapan kuasa Allah. Kekuatan manusia memiliki batas yang sangat rapuh; kemenangannya bukanlah keberhasilan pribadi, melainkan wujud penyertaan dan perlindungan Tuhan yang tidak pernah meninggalkan Umat-Nya.

​Keadilan dan Belaskasih Allah yang Memulihkan (Ulangan: 32:35cd-36ab)
Tuhan adalah Allah yang menegakkan keadilan sekaligus mengalirkan belaskasih yang tidak terbatas. Ketika Ia melihat kekuatan umat-Nya telah habis dan mereka tidak lagi memiliki penopang, Allah bangkit untuk memberikan keadilan dan menaruh belaskasih kepada hamba-hamba-Nya. Pemulihan Allah hadir justru di saat manusia belajar merendahkan hati dan menyerahkan seluruh kerapuhan hidupnya ke dalam tangan-Nya.

Injil Suci
(Matius 19: 23-30)
Intisari Bacaan:
Yesus Kristus telah menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, agar kalian menjadi kaya berkat kemiskinan-Nya.

Romo Agustinus Suyadi, O.Carm (Pastor Kepala Paroki Maria Bunda Karmel, Tomang, Jakarta Barat):

Hidup Berlimpah

​Antara yang Sementara dan yang Kekal
Manusia tercipta dari debu tanah yang lemah, sehingga membutuhkan penunjang atau penolong eksternal untuk menjadi kuat. Dalam hidup, ada dua penolong utama manusia: harta (uang) dan Allah. Tanpa uang, manusia tidak dapat membeli makanan dan raga menjadi lemah; tetapi tanpa Allah yang menghembuskan napas kehidupan, manusia mengalami kematian kekal. Perbedaannya nyata: harta hanya menolong secara kasat mata dan bersifat sesaat selagi manusia masih hidup di dunia, sedangkan pertolongan Allah bersifat kekal walau sering kali terbungkus dalam misteri. Manusia dihadapkan pada pilihan mendasar: mau mengandalkan penolong yang sementara atau yang kekal?

​Memilih yang Kekal di Atas Logika Manusia
Memilih Allah dan mengandalkan yang kekal sering kali terasa tidak masuk akal bagi dunia. Pengalaman Romo Suyadi membangun kembali gedung SD dan TK milik paroki yang sudah sangat usang tanpa modal biaya membuktikan bahwa doa dan ketergantungan penuh pada Tuhan sanggup menghadirkan kebaikan yang melampaui perhitungan manusia. Ketika manusia bersandar pada Allah yang adalah segalanya, hal yang semula dianggap mustahil diubah-Nya menjadi mungkin. Di sinilah iman bekerja: meyakini bahwa Allah tidak hanya memberi yang tampak di dunia, tetapi juga menyediakan kemuliaan surga.

​Menihilkan Diri dalam Matematika Iman
Logika iman berbeda dari logika matematika dunia di mana 1 + 1 = 2. Dalam Injil, rumusan iman mengajarkan bahwa 1 – 1 = 100. Ini berarti manusia dipanggil untuk mengosongkan atau menihilkan diri—melepaskan kelekatan pada harta, nyawa, hingga ketenangan ego pribadi—sehingga bernilai nol di hadapan Allah. Justru ketika kita tidak mengandalkan apa-apa lagi selain Tuhan, kita akan menemukan Allah yang adalah segalanya dan memperoleh kelimpahan seratus kali lipat.

Penutup
Melalui renungan Sabda hari ini, kita diajak untuk berani mengosongkan diri dari segala kelekatan agar batin kita sepenuhnya dipenuhi oleh Allah. Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tumpuan hidup yang kekal, segala kemustahilan manusiawi akan ditransformasikan menjadi kelimpahan rahmat dan keselamatan yang sejati.

Romo A. Joko Purwanto, Pr (Pastor Paroki St. Yohanes Rasul, Wonogiri):

Harta, Tahta, dan Wanita

​Pengorbanan Luhur Dewabrata (Bhisma) demi Kedamaian
Kisah heroik Dewabrata memperlihatkan keagungan hati seorang putra yang rela melepaskan hak atas tahta, harta, dan pasangan hidup demi kebahagiaan ayahnya, Raja Sentanu, serta kerukunan rakyat Hastinapura. Sumpahnya yang dahsyat untuk menjadi brahmacarin (wadat seumur hidup) menjadikannya dijuluki Bhisma. Ia menanggalkan ambisi pribadi agar tidak ada pertikaian darah Barata di masa depan, memilih nilai yang jauh lebih luhur yaitu kedamaian, kesejahteraan bersama, dan pengabdian yang tulus.

​Bahaya Perbudakan Harta dalam Ajaran Yesus
Pelajaran dari Bhisma sejalan dengan peringatan keras Yesus kepada para murid bahwa sangat sulit bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga, bagaikan unta yang melewati lubang jarum. Keterikatan berlebihan pada harta, tahta, dan kekuasaan berisiko membutakan hati dan memperbudak batin manusia. Jika tidak diwaspadai, hal-hal tersebut justru menjadi penghambat utama bagi seseorang untuk mengalami rahmat keselamatan dan kehidupan yang sejati.

​Janji Upah Kekal bagi yang Berani Melepaskan
Ketika Petrus bertanya mengenai ganjaran bagi mereka yang telah meninggalkan segala sesuatu demi mengikut Kristus, Yesus memberikan kepastian janji Ilahi. Setiap orang yang rela melepaskan rumah, keluarga, maupun tanah demi nama-Nya akan menerima kembali seratus kali lipat serta memperoleh kehidupan kekal. Pengorbanan yang dilandasi iman tidak pernah sia-sia, sebab Allah senantiasa memperhitungkan setiap keikhlasan hati yang sedia memberi.

Panggilan Menggunakan Berkat demi Kesejahteraan Bersama
Gereja tidak melarang seseorang untuk menjadi kaya atau memiliki keberhasilan duniawi, namun menegaskan arah penggunaannya. Harta dan kedudukan hendaknya dipandang sebagai sarana untuk menggapai Kerajaan Surga dan mengalirkan kebahagiaan bagi mereka yang berkekurangan. Mengingat hidup di dunia hanya sesaat, kekayaan materi pantas dipergunakan sebaik-baiknya untuk memupuk kerukunan serta kesejahteraan bersama demi kemuliaan Allah.

Romo Hans Wijaya, Pr (Paroki Maria Bunda Segala Bangsa, Nusa Dua, Bali)

Ketika Hati Merasa Cukup, Allah Menjadi Segalanya

​Bahaya Kelekatan Harta yang Menutup Ruang bagi Allah
Yesus mengingatkan betapa sukarnya orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga bukan karena kekayaan itu sendiri jahat, melainkan karena kelekatan batin padanya. Ketika hati dipenuhi oleh hasrat dan kebanggaan akan materi duniawi, manusia cenderung untuk mengandalkan diri sendiri dan menutup ruang bagi karya Allah. Harta yang dipertuhankan akhirnya menjadi penghambat utama bagi jiwa untuk mengalami kepenuhan rahmat-Nya.

​Pengharapan dalam Kuasa Kerahiman Allah
Di tengah keterbatasan manusiawi, Yesus memberi peneguhan bahwa bagi Allah segala sesuatu mungkin terjadi. Siapa pun yang berani melonggarkan genggaman atas harta duniawi, mengosongkan batin, dan melangkah untuk mengikuti Kristus akan menemukan pembebasan sejati. Kerelaan melepaskan keterikatan ini membuka pintu bagi Allah untuk melimpahkan rahmat hidup yang jauh lebih bernilai daripada sekadar kepemilikan lahiriah.

​Kebebasan Batin yang Membebaskan Jiwa
Menjadi murid Kristus yang sejati berarti memiliki keberanian iman untuk berkata: “Tuhan, Engkaulah cukup.” Ketika rasa cukup bertakhta di dalam hati, kita dibebaskan dari kesombongan, kecemasan, dan rasa memiliki yang berlebihan. Dalam kebebasan rohani inilah kita dapat menyaksikan bagaimana kuasa Allah bekerja secara nyata, memelihara perziarahan kita, serta menuntun raga dan pikiran kita menuju kesucian.

​Janji Kelimpahan Rahmat dan Komitmen Murid
Kristus menutup pengajaran-Nya dengan janji bahwa setiap pribadi yang rela meninggalkan keterikatan demi Nama-Nya akan menerima ganjaran seratus kali lipat berupa damai sejahtera, sukacita, dan keabadian. Sebagai wujud nyatanya, kita diutus untuk melepaskan beban keterikatan batin, mengelola setiap berkat duniawi secara rendah hati demi melayani sesama, serta senantiasa mengutamakan Yesus dalam setiap keputusan hidup.

TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING

Romo Danang Sigit Koesworo, Pr (Pastor Paroki Hati Kudus Yesus, Tasikmalaya):

Menjadi Perpanjangan Tangan Kasih Allah

​Meneruskan Kebaikan dan Anugerah Tuhan
Setiap kebaikan dan anugerah yang kita terima dari Tuhan bukanlah untuk disimpan bagi diri sendiri. Kesadaran akan melimpahnya rahmat Ilahi menggerakkan hati kita untuk membagikannya secara nyata. Apa yang telah kita terima dari Allah, pantas kita teruskan kembali kepada orang-orang di sekitar kita.

​Wujud Nyata Kemurahan Hati kepada Sesama
Kasih Allah tidak berhenti pada wacana, melainkan diwujudkan melalui sikap hidup sehari-hari. Saluran kebaikan itu mengalir lewat kemurahan hati, kepedulian, dan kerelaan untuk membantu sesama yang membutuhkan. Melalui tindakan kasih yang sederhana namun tulus, hadir keberkahan yang menghidupkan.

​Permohonan Rahmat untuk Memenuhi Panggilan
Menjadi saluran kasih Tuhan membutuhkan kerendahan hati dan penyandaran penuh pada kuasa-Nya. Manusia memiliki keterbatasan raga dan pikiran, sehingga kita senantiasa memerlukan dorongan rahmat Ilahi agar mampu menjalankan panggilan mulia ini secara konsisten dan tanpa pamrih.

​Doa Penyerahan Diri dan Pujian
Di tengah perziarahan hidup, kita diajak untuk melantunkan doa dengan penuh kepasrahan: “Tuhan, akulah perpanjangan tangan dan kasih-Mu. Mampukanlah aku. Terpujilah nama-Mu.” Kiranya seluruh karya dan pelayanan kita senantiasa membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.

Romo Y. Gunawan, Pr (Percik Firman, Formator Tahun Rohani Keuskupan Agung Semarang, Bumi Jangli):

Harta sebagai Sarana Keselamatan

​Harta Benda sebagai Sarana, Bukan Tujuan Hidup
Kekayaan, jabatan, harta benda, dan aneka gelar pada hakikatnya adalah sarana yang kita butuhkan selama hidup di dunia untuk mengabdi Allah serta mencintai sesama. Semua itu bukanlah tujuan utama hidup, melainkan sarana keselamatan jiwa. Sabda Tuhan mengajak kita untuk menggunakan setiap keberkahan secara bijaksana dan mempertahankan sikap lepas bebas agar materi duniawi tidak berubah menjadi penghambat untuk memasuki Kerajaan Surga.

​Makna Ketaatan di Balik Pintu Lubang Jarum
Gambaran “unta masuk melalui lubang jarum” merujuk pada pintu darurat berupa lorong sempit dan rendah di kota Yerusalem pada zaman Yesus. Agar dapat melewatinya saat gerbang utama ditutup, seluruh barang bawaan unta harus diturunkan terlebih dahulu. Unta yang jinak dan taat akan dengan mudah dituntun tuannya melewati lorong gelap tersebut. Hal ini menjadi simbol bahwa kita pun dipanggil untuk menurunkan beban kelekatan duniawi, terbuka dibimbing Tuhan, serta tidak “ngeyelan” atau melawan kehendak-Nya.

​Kesadaran akan Keterbatasan Hidup Manusia
Keangkuhan atas keberhasilan materi dan kedudukan adalah ilusi yang sangat rapuh. Nasihat bijak mengingatkan bahwa rumah mewah kita pada akhirnya berujung pada tempat abu jenazah atau kuburan, mobil megah akan digantikan oleh ambulans, dan gelar tertinggi manusia pada akhirnya hanyalah almarhum atau almarhumah. Kesadaran akan keterbatasan ini memanggil kita untuk senantiasa rendah hati dan tidak membiarkan kesombongan menguasai raga serta pikiran kita.

​Mengalirkan Berkat demi Keselamatan Jiwa
Setiap karunia yang kita terima hendaknya memiliki dimensi sosial yang mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan bagi sesama. Daripada menyombongkan apa yang dimiliki, kita diundang untuk senantiasa bersyukur dan menggunakannya sebagai sarana mengabdi Tuhan. Dengan membiarkan hidup dibimbing oleh rahmat-Nya dan aktif berbagi, harta yang ada di tangan kita sungguh-sungguh ditransformasikan menjadi sarana keselamatan yang kekal.

Romo Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman, Katedral Kristus Raja, Purwokerto):

Menjadikan Kristus Harta Sejati

​Ilusi Kenyamanan dan Candu Kekayaan
Manusia sering mencintai uang karena menjanjikan kenyamanan dan kebebasan untuk memenuhi segala keinginan duniawi. Namun, ketika kekayaan dipandang sebagai jaminan kebahagiaan mutlak, uang berubah fungsi dari sarana berbuat kebaikan menjadi candu yang tidak pernah memuaskan. Kelekatan yang tak terkendali ini memicu persaingan tidak sehat dan pertikaian, sebab mata hati manusia tertutup oleh hasrat materi yang membutakan.

​Peringatan Yesus atas Keterikatan Harta
Ajaran Yesus tidak melarang kekayaan itu sendiri, melainkan menegurkan sikap hati yang terikat padanya hingga menghalangi jalan menuju keselamatan kekal. Kekayaan dan kekuasaan sering kali memberikan rasa aman palsu yang mengikis kerendahan hati—padahal kerendahan hatilah yang dibutuhkan untuk menerima rahmat Allah. Tanpa kerendahan hati, materi justru berisiko menjadi berhala yang menjauhkan jiwa dari Sang Pencipta.

​Menjadikan Allah sebagai Harta Terutama
Dalam perziarahan di dunia ini, kita dipanggil untuk menyadari bahwa tujuan akhir hidup kita bukanlah menimbun harta yang fana, melainkan bersatu dengan Allah di dalam Kerajaan-Nya. Kekayaan materi hanyalah alat; kekayaan sejati seorang manusia justru diukur dari seberapa besar kerelaannya untuk memberi dan membagikan berkat kepada sesama. Menjadikan Kristus sebagai harta paling berharga adalah kunci untuk mengalami kebahagiaan yang sejati dan abadi.

​Kartu Iman
“Hidup tanpa cinta pasti hampa, hidup gila harta pasti celaka, hidup bersyukur dan apa adanya, pasti bahagia.”

KATEKISMUS GEREJA KATOLIK (KGK)

Keterikatan Harta, Dosa Kesombongan, dan Kemurahan Hati

Bahaya Keterikatan pada Harta Duniawi (KGK 2544–2547)
Gereja mengajar bahwa Yesus mewajibkan para murid-Nya untuk menempatkan Dia di atas segalanya dan melepaskan kelekatan pada harta benda. Keterikatan yang tidak teratur pada kekayaan dapat membelenggu batin dan menutup hati manusia dari Kerajaan Allah. Sikap lepas bebas (poverty of heart) dan kemiskinan rohani diajarkan agar manusia tidak mempertuhankan materi, melainkan menaruh harapan penuh pada penyelenggaraan Ilahi.

​Kesombongan sebagai Akar Dosa (KGK 1850)
Kesombongan adalah pemberontakan batin manusia yang ingin menjadi “seperti Allah”—sebagaimana cermin kejatuhan raja Tirus. Dosa ini membalikkan hati manusia dari kasih Allah dan menggantikannya dengan ilusi kemandirian palsu. Sebagaimana ditegaskan Santo Agustinus, dosa pada dasarnya adalah bentuk cinta diri yang berlebihan hingga berujung pada penghinaan terhadap Allah, yang bertentangan penuh dengan kerendahan hati dan ketaatan Kristus.

Penggunaan Harta demi Kesejahteraan Bersama (KGK 2404, 2459)
Harta kekayaan dan segala keahlian yang dimiliki manusia pada hakikatnya adalah sarana yang dipercayakan Allah, bukan tujuan utama hidup. Dalam menggunakan barang-barang milik, manusia hendaknya memandangnya tidak hanya sebagai milik pribadi, tetapi juga sebagai milik bersama yang berdimensi sosial. Karunia materi maupun rohani dipanggil untuk dikelola secara bijaksana demi melayani sesama, membantu yang berkekurangan, serta membangun kesejahteraan bersama (bonum commune).

​Panggilan Menjadi Saluran Kasih Allah (KGK 1936–1937)
Allah tidak membagikan karunia, bakat, dan kemampuan secara sama rata kepada setiap orang agar manusia saling membutuhkan dan saling melayani. Perbedaan karunia ini menjadi pendorong bagi kita untuk meneruskan kebaikan Tuhan lewat kemurahan hati. Dengan menjadi perpanjangan tangan dan kasih Allah bagi sesama, kita mengamalkan cinta kasih sejati yang memuliakan Nama-Nya dan menghantar jiwa menuju keselamatan kekal.

MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA

​Penerapan kerangka olah hidup holistik Nata Raga, Nata Pikir, dan Nata Rasa dalam menanggapi Sabda Tuhan hari ini (Yehezkiel 28:1-10; Ulangan 32:26-36; Matius 19:23-30) diwujudkan melalui disiplin hidup yang seimbang dan berakar pada kerendahan hati:

​Nata Raga (Menata Tubuh dan Perilaku Nyata)
Menjaga raga agar tidak diperbudak oleh kenyamanan materi, keserakahan, atau kebiasaan hidup yang konsumtif. Raga dilatih melalui pola hidup sederhana, cukup, dan disiplin dalam bertindak. Wujud nyatanya adalah menggunakan kesehatan dan kekuatan tubuh untuk bergerak melayani, membagikan rezeki, serta menjadi perpanjangan tangan kasih Allah bagi sesama yang berkekurangan.

​Nata Pikir (Menata Pikiran dan Intelektual)
Membebaskan pikiran dari ilusi kesombongan, keangkuhan akademis, dan merasa diri paling tahu (“Aku adalah Allah”). Pikiran ditata untuk senantiasa kritis menyaring informasi, rendah hati mengakui keterbatasan ilmu manusiawi, dan menyadari bahwa kecerdasan murni adalah anugerah Ilahi. Logika berpikir diarahkan pada kebijaksanaan iman: fides quaerit intellectum (iman mencari pengertian) dan memperhitungkan nilai-nilai kekal di atas kalkulasi matematis duniawi.

​Nata Rasa (Menata Batin dan Sikap Hati)
Mengolah kedalaman batin agar lepas bebas dari kelekatan yang tidak teratur pada harta, jabatan, maupun pemujaan citra diri. Rasa ditata dengan mengembangkan keheningan doa, rasa syukur yang mendalam atas setiap rahmat, serta empati yang peka terhadap penderitaan sesama. Melalui kesadaran “Milikku ada pada Tuhan”, hati dibebaskan dari ketakutan akan kehilangan dan dibuka selebar-lebarnya untuk menerima karunia keselamatan Allah.

Integrasi
​Integrasi Nata Raga, Nata Pikir, dan Nata Rasa membawa kita pada sikap lepas bebas dan kerendahan hati sejati di hadapan Sang Pencipta. Ketika kita berani menihilkan diri dari keangkuhan materi dan egoisme, kita tidak kehilangan apa pun, melainkan menemukan Allah sebagai satu-satunya tumpuan hidup yang kekal. Dalam keterbukaan batin yang utuh inilah, rahmat Allah berkarya secara berlimpah, memerdekakan jiwa, dan mengaruniakan ganjaran hidup kekal bagi setiap pribadi yang setia mengikuti Kristus.

NIAT KONGKRET

​Olahraga dan Hidup Sederhana (Nata Raga)
Menjaga kebugaran raga dengan berolahraga teratur dan membatasi konsumsi secara berlebihan. Hari ini, saya berniat menyisihkan sebagian rezeki materi atau makanan untuk dibagikan secara langsung kepada sesama yang membutuhkan di sekitar saya.

​Menjaga Kerendahan Hati dan Kebersihan Pikiran (Nata Pikir)
Menjauhkan pikiran dari rasa bangga diri, kesombongan atas pencapaian pribadi, atau keinginan untuk menguasai orang lain. Hari ini, saya berniat untuk lebih banyak mendengarkan daripada menggurui, serta menyaring setiap prasangka negatif sebelum berucap.

Sikap Lepas Bebas dan Doa Syukur (Nata Rasa)
Mengolah kedalaman batin dengan mengulang doa pendek: “Milikku ada pada Tuhan senantiasa.” Hari ini, saya berniat melatih kerelaan batin dengan melepaskan kelekatan pada kekhawatiran duniawi dan mengucapkan terima kasih atas setiap hal kecil yang saya terima.

LAGU ROHANI PENGANTAR DOA

Lagu atau Musik Instrumentalia yang hening dan teduh

​DOA HENING

Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.

Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.

PERUTUSAN

​Menjadi Saluran Berkat Nyata
Pergilah dan diutuslah untuk meneruskan setiap kebaikan, kelimpahan, dan rahmat yang telah kita terima dari Allah kepada orang-orang di sekitar kita.

Jadilah perpanjangan tangan Tuhan melalui tindakan kemurahan hati, kepedulian, dan keprihatinan yang konkrit bagi mereka yang membutuhkan, yang lemah, dan yang terpinggirkan.

​Menghidupi Kerendahan Hati dan Kesaksian Iman
Wujudkanlah kesaksian iman dalam kehidupan sehari-hari dengan menanggalkan kesombongan, keangkuhan, dan kelekatan yang tidak teratur pada harta maupun jabatan.

Tetaplah hidup sederhana, jujur, dan taat pada kehendak Allah, sehingga seluruh tutur kata, pikiran, dan perbuatan kita senantiasa memancarkan kasih Kristus serta membawa keheningan dan kedamaian bagi sesama.

DOA PENUTUP

​In nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti. Amen.

​Allah Bapa yang Mahaguru dan Maharahim, kami bersyukur atas warta Sabda-Mu yang mengingatkan kami untuk senantiasa rendah hati dan tidak terikat pada harta duniawi. Bimbinglah kami agar mampu menata raga, pikir, dan rasa kami, sehingga hidup kami senantiasa menjadi perpanjangan tangan kasih-Mu bagi sesama.

​Per Christum Dominum nostrum. Amen.
(Dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.)

​Gloria Patri, et Filio, et Spiritui Sancto. Sicut erat in principio, et nunc, et semper, et in saecula saeculorum. Amen.
(Kemuliaan kepada Bapa dan Putra dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.)

​In nomine Patris, et Filii, et Spiritus Sancti. Amen.

Berkah Dalem, Salam Takzim.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *