Harta Surgawi Tak Dimakan Ngengat dan Karat – 19 Juni 2026

CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words – New Version
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh Basuki Ismael
Pekan Biasa XI, Jumat, 19 Juni 2026, Warna Liturgi: Hijau, Peringatan: Santo Romualdus
Thesaurus Aeternus Quem Tinea et Aerugo Non Consumunt
Harta Surgawi Tak Dimakan Ngengat dan Karat

PENGANTAR

Membuka Catatan Awal Tahun

Menjelang fajar Januari 2026, sebuah kebiasaan lama kembali menuntun jemari saya untuk membuka lembaran catatan masa lalu. Di sana tersimpan rapi sekumpulan kenangan, jajaran nama sahabat, serta untaian kisah yang pernah singgah menorehkan jejak dalam ziarah hidup ini.

Langkah batin saya tertegun cukup lama pada sebuah warta duka yang datang dari Singapura. Kabar itu merasuki sukma, mengabarkan berpulangnya Ibu Ng Lie Joen pada usia 91 tahun. Beliau adalah ibunda dari sahabat saya, Mas Theodorus Wiryawan. Tepat sehari sebelum berpulang, yakni pada penghujung Desember 2025, mendiang masih sempat merayakan ulang tahun dalam kehangatan pelukan seluruh anak, menantu, cucu, hingga cicitnya. Meski raga telah rapuh dimakan usia, netra beliau tetap memandang dalam dengan binar kasih yang benderang. Tangan rentanya terangkat perlahan, mengalirkan salam hangat sekaligus restu terakhir bagi jiwa-jiwa yang dicintainya, sebelum akhirnya berpulang dengan damai ke haribaan Sang Pencipta pada hari pertama tahun yang baru.

Apa yang Tersisa dari Hidup Setelah Pulang Selamanya

Kenangan itu seketika memantik sebuah refleksi mendalam di dalam keheningan kalbu saya: “Apa sebenarnya yang tersisa dari hidup seseorang setelah ia pergi?” Rumah megah yang pernah dibangun akan sunyi ditinggalkan. Harta tabungan akan segera berpindah tangan sesuai amanat tertulis. Jabatan dan keahlian yang penah melekat selagi hidup akan berganti nama, dan segala puja-puji perlahan-lahan luntur terbawa angin waktu.

Namun, ada satu hakikat suci yang sama sekali tidak ikut terkubur. Itulah *kasih yang tulus, kebaikan yang mengalir, kesetiaan yang teruji, bela rasa kepada sesama, serta nilai-nilai luhur kehidupan yang telah diwariskan kepada anak-cucu-cicit maupun jiwa-jiwa yang pernah disentuh oleh kehadirannya.

Kobaran api krematorium St. Carolus memang telah menuntaskan tugasnya atas raga yang fana. Akan tetapi, api kasih yang dinyalakan sepanjang hayatnya tidak akan pernah ikut padam.

Warisan yang Tidak Tertulis

Saya melihat warisan yang hidup itu terpancar nyata dalam hidup keseharian Mas Theodorus Wiryawan. Keindahan hidupnya tidak terletak pada limpahnya kepemilikan materi, melainkan pada ketulusan tindakan nyata yang ia lakukan. Mas Wiryawan menaruh perhatian yang sangat besar bagi kelangsungan pendidikan para calon imam, baik di Seminari Menengah maupun Seminari Tinggi. Dirinya juga terlibat aktif dalam menggerakkan roda kerasulan beberapa kelompok kategorial dengan penuh sukacita.

Melalui wadah BerKHat Santo Yusup di Keuskupan Agung Jakarta dan Keuskupan Agung Semarang, kepekaan bela rasanya mewujud nyata bagi sesama yang papa agar saat mereka dirawat di Rumah Sakit atau Meninggal Dunia, mereka diperlakukan secara bermartabat. Bahkan, sebagian rumah pribadinya selama 12 tahun digunakan sebagai Sekretariat BerKHat Santo Yusup sekaligus tempat berkumpul Alumni Seminari dari seluruh pelosok Indonesia.

Selalu Ada Waktu untuk Orang Lain

Mas Wiryawan adalah sosok yang selalu hadir mengulurkan tangan bagi sahabat yang terbaring sakit, serta membawa penghiburan bagi keluarga yang sedang dirundung duka. Melalui goresan penanya, ia selalu menyempatkan diri menyapa setiap sahabat yang berulang tahun serta menyalakan kembali lentera harapan bagi mereka yang hampir putus asa.

Lambat laun saya mengerti bahwa seluruh kebajikan itu bukan sekadar kebiasaan moral yang baik. Ini adalah sebuah warisan rohani yang hidup, yang tidak akan pernah kita temukan dalam klausul surat wasiat legal mana pun. Kebajikan ini terus bertumbuh, mengakar, dan berbuah manis dalam panggung kehidupan orang lain. Dari teladan luhur beliau, kita dapat memetik sebuah prinsip eksistensial yang teramat berharga: “Membantu sesama bukan pertama-tama memberikan apa yang mereka inginkan, melainkan berani mengulurkan tangan untuk memenuhi apa yang sungguh-sungguh mereka butuhkan.”

PESAN UTAMA

1. Kuasa Dunia Berlalu, Rencana Allah Bertahan
(2 Raja-raja 11:1–4, 9–18, 20)

Lembaran Kitab Suci hari ini menyingkapkan kekejaman Ratu Atalia yang menghalalkan segala cara demi mencengkeram takhta kekuasaan. Namun di balik layar kegelapan itu, tangan tak terlihat dari Allah bekerja melindungi Yoas, sang pewaris sah garis keturunan Daud. Sejarah membuktikan bahwa ambisi manusia yang penuh darah pada akhirnya akan tumbang dan hancur lebur. Yang tetap tegak berdiri hanyalah kesetiaan Allah yang tak tergoyahkan terhadap janji keselamatan-Nya. Kekuasaan duniawi bisa saja direbut secara paksa dan nama besar manusia bisa lenyap tak bersisa, tetapi rencana agung Allah akan terus melangkah maju melintasi zaman.

2. Allah Tidak Pernah Melupakan Kesetiaan
(Mazmur 132)

Kidung Pemazmur dengan lantang menegaskan kembali janji setia Sang Khalik kepada hamba-Nya. Dunia sekuler ini sering kali menutup mata dan melupakan jasa-jasa terbaik yang pernah diukir oleh seseorang. Sebaliknya, Allah yang Maharahman tidak akan pernah sedetik pun melupakan kesetiaan serta ketulusan anak-anak-Nya. Di hadapan takhta-Nya, tidak ada bait doa yang menguap sia-sia, tidak ada pengorbanan tersembunyi yang hilang, dan tidak ada sekecil apa pun tindakan kasih yang luput dari tatapan mata-Nya.

3. Harta Sejati Menunjukkan Arah Hati
(Matius 6:19–23)

Tuhan Yesus memberikan sebuah wejangan radikal mengenai orientasi hidup manusia agar tidak mengumpulkan harta yang fana di atas bumi ini. Beliau mengajak kita semua untuk mengalihkan pandangan batin guna menimbun kekayaan rohani yang abadi di dalam surga. Sebuah batu ujian eksistensial diletakkan di hadapan kita: “di mana harta kita berada, di situlah seluruh hati dan pusat hidup kita akan bertambat.” Karena itu, tolok ukur sejati dari ziarah hidup manusia bukanlah terletak pada seberapa banyak materi yang berhasil digenggam, melainkan pada apa yang sungguh-sungguh dicintai oleh jiwanya.

4. Harta yang Tidak Ikut Mati:

Akhir perjalanan hidup manusia pada dasarnya tidak akan pernah dihitung dari apa yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari apa yang tulus diwariskan. Kekayaan materi pasti akan habis terbagi atau hancur lebur digerogoti oleh sang waktu. Namun, iman yang hidup, pengharapan yang teguh, dan kasih yang tulus tidak akan pernah bisa disentuh oleh kematian. Cahaya lilin-lilin fisik yang kita nyalakan pada Misa Arwah lambat laun pasti akan meredup dan padam. Akan tetapi, cahaya rohani yang dipancarkan oleh kebaikan seseorang akan tetap menyala abadi di dalam palung hati sesamanya. Inilah esensi sejati dari harta surgawi yang bebas dari kerisauan ngengat, bersih dari kerusakan karat, aman dari jangkauan pencuri, serta tidak akan pernah bisa dimusnahkan oleh kuasa maut sekalipun.

PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN

Bacaan Pertama
(Kitab Kedua Raja-Raja 11:1-4, 9-18, 20)

Intisari:
Rencana manusia tidak dapat menggagalkan rencana Tuhan. Inilah yang dialami Yoas. Yoas diangkat menjadi raja untuk mengembalikan garis keturunan Raja Daud. Hal ini sekaligus ingin menghapus penyembahan terhadap Baal.

Rm. Willem Pau, Pr :
Yoas diselamatkan dari pembantaian keji demi menjaga kelangsungan garis keturunan Daud. Allah bertindak secara tersembunyi untuk menggagalkan ambisi jahat manusia yang haus kekuasaan. Perlindungan suci ini membuktikan bahwa rencana keselamatan-Nya tidak bisa digagalkan oleh apa pun. Kejahatan Atalia akhirnya runtuh dan takhta kerajaan dikembalikan pada kebenaran iman. Peristiwa sejarah ini mengajak kita memercayakan seluruh hidup pada kedaulatan mutlak rencana Tuhan.

AC Eko Wahyono (Lectio Divina):
Merenungkan kisah Yoas menyadarkan kita akan kesetiaan janji Allah yang melampaui sejarah. Kekuasaan politik yang dikejar dengan cara kelam pasti akan menemui titik kehancurannya sendiri. Melalui bimbingan imam Yoyada, pemurnian iman bangsa Israel dari penyembahan Baal dapat terwujud. Kita diajak untuk jeli melihat kehadiran tangan Tuhan yang bekerja dalam keheningan hidup. Di sini kita diundang untuk setia mengawal rencana-Nya dengan menjauhkan diri dari segala bentuk berhala modern.

Rm. B.S. Mardiatmadja, SJ:
Yoas yang disembunyikan di rumah Tuhan melambangkan proses pematangan rohani yang mendalam. Allah sering kali membentuk masa depan kita dalam ruang-ruang sunyi yang tidak terlihat dunia. Ketika waktunya tiba, kebenaran akan dinyatakan untuk meruntuhkan kesombongan penguasa yang zalim. Transformasi sosial dan religius sejati selalu bermula dari hati yang melekat pada hukum Allah. Kita pun diutus untuk menjadi saksi-saksi yang berani menegakkan keadilan di tengah tantangan zaman.

TRANSITUS
(Mazmur 132:11, 12, 13-14, 17-18)

Mazmur Tanggapan:
Tuhan telah memilih Sion menjadi tempat kedudukan-Nya.

Ulasan Refleksi Terinspirasi dari Fr. Mike Schmitz – The Bible in a Year:
Allah mengikat janji setia yang tidak akan pernah ditarik kembali kepada keturunan Daud. Sumpah suci ini menemukan pemenuhan sempurnanya dalam diri Kristus yang bertakhta selama-lamanya. Sion dipilih menjadi kediaman-Nya yang kudus, tempat di mana rahmat dan berkat-Nya melimpah. Kita adalah bait Allah yang hidup yang dipanggil untuk menjaga kesucian batin. Kita diajak percaya bahwa Allah selalu setia menggenapi setiap janji keselamatan di dalam hidup kita.

Bacaan Injil
(Matius 6:19-23)

Intisari:
Harta duniawi bersifat sementara, rentan terhadap kerusakan dan hilang karena pencurian. Tetapi harta surgawi itu kekal. Yesus mengajak para murid untuk mengumpulkan harta surgawi.

Laurentius Elyas Nugraha (Lumen Mundi):
Kita diajak menata kembali orientasi hidup agar tidak diperbudak oleh rupa-rupa materi fana. Kebebasan batin dari kelekatan duniawi menuntun hati kita tertuju pada relasi abadi bersama Allah. Kuasa dunia dan harta jasmani sewaktu-waktu bisa runtuh, tetapi janji keselamatan-Nya bertahan selamanya. Belas kasih dan ketulusan berbagi menjadi wujud nyata pengumpulan kekayaan sejati di surga. Keindahan hidup kristiani bersinar penuh saat kasih mengisi ruang jiwa dan mewujud bagi sesama.

Rm. A. Joko Purwanto, Pr (Puncta):
Mata adalah pelita tubuh. Jika batin kita dipenuhi kegelapan materi, seluruh hidup kita akan menjadi gelap gulita. Kejelasan visi rohani sangat dibutuhkan untuk membedakan yang fana dari yang baka. Harta sejati yang kita miliki di dunia adalah kebaikan yang telah kita bagikan. Kita diajak untuk terus menyalakan pelita hati melalui bela rasa yang nyata setiap hari.

Paulus Krissantono/Ign. Harry Respatyo (RAGI):
Keserakahan Ratu Atalia dalam mengejar kekuasaan duniawi berakhir pada kehancuran yang kelam. Sebaliknya, Imam Yoyada memilih mengumpulkan harta surgawi dengan setia menjaga janji Allah. Di tengah kekacauan, mata iman Yoyada tetap jernih bagaikan lampu senter yang fokus pada penyelamatan jiwa. Yesus mengingatkan kita bahwa mata adalah pelita yang menentukan terang atau gelapnya seluruh hidup manusia. Kita dipanggil untuk menjaga kejernihan pandangan batin di tengah rupa-rupa tawaran dunia modern yang semu.

TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING

Rm. Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman):
Letak dari seluruh hati kita ditentukan oleh apa yang kita jadikan harta sejati. Mengumpulkan harta surgawi berarti melatih rasa untuk selalu berserah pada penyelenggaraan ilahi. Batin yang teratur tidak akan pernah cemas oleh rupa-rupa kekurangan atau kehilangan jasmani. Keheningan doa dan ketulusan berbagi adalah pundi-pundi rohani yang tidak akan kedaluwarsa. Mari kita memfokuskan kembali seluruh keinginan kita hanya untuk memuliakan nama Tuhan yang maharahman.

Rm. Hans Wijaya, Pr:
Ekaristi Kudus adalah perwujudan nyata dari harta surgawi yang turun ke bumi. Melalui sakramen ini, Kristus memberikan seluruh diri-Nya sebagai warisan kasih yang abadi. Kita dikuatkan untuk menolak godaan konsumatisme duniawi yang sering kali membutakan mata iman. Setiap pengorbanan yang kita lakukan demi sesama merupakan wujud nyata pengumpulan harta surgawi. Kita diajak menjadikan Kristus sebagai satu-satunya pusat dan kekayaan sejati dalam hidup.

EKSEGESE DAN KATEKESE GEREJA KATOLIK (KGK)

Harta surgawi (thesaurus in caelo) dalam teologi Gereja Katolik dipahami sebagai buah-buah iman, harapan, dan kasih yang diwujudkan melalui perbuatan baik di dunia. Kekayaan mistik ini bersifat baka karena bersumber dari Allah sendiri, berbeda dengan materi duniawi yang tunduk pada hukum kefanaan, kerusakan (aerugo et tinea), serta hukum perubahan zaman.

Mata sebagai pelita tubuh merujuk pada hati nurani manusia yang telah diterangi oleh Roh Kudus untuk mampu melihat kehendak Allah. Ketika hati nurani seseorang bersih dan tertata baik, seluruh tindakan lahiriahnya (nata raga) akan memancarkan terang ilahi; sebaliknya, kelekatan berlebih pada harta duniawi akan membutakan visi rohani dan menjerumuskan jiwa ke dalam kegelapan dosa.

MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA

NATA RAGA:
Kita diajak untuk melatih tubuh untuk hidup bersahaja dengan membatasi keinginan belanja barang-barang yang tidak sungguh-sungguh dibutuhkan.

NATA PIKIR: Kita diundang untuk mengarahkan pikiran untuk fokus mencari solusi atas kebutuhan sesama daripada sibuk memikirkan keuntungan pribadi.

NATA RASA: Kita diajak untuk memurnikan batin agar senantiasa merasa damai dan bersyukur atas kecukupan yang Tuhan berikan tanpa ada rasa iri hati.

NIAT KONGKRET: Hari ini kita diajak untuk meluangkan waktu untuk menjenguk sahabat yang sakit atau menyapa keluarga yang sedang berduka guna memberikan penghiburan nyata.

DEVOSI

Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Santo Romualdus
> Santo Romualdus adalah seorang abas dan pembaharu hidup membiara pada abad kesepuluh yang mendirikan Ordo Kamaldoles demi mengejar keheningan batin yang radikal bersama Allah.

DOA HENING

Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.

Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.

Tuhan Yesus Kristus, tancapkanlah salib kasih-Mu di dalam palung hati kami yang terdalam. Bebaskanlah seluruh batin kami dari belenggu kecemasan akan rupa-rupa perkara duniawi yang fana. Ajarilah kami untuk senantiasa setia, tekun, dan penuh sukacita menimbun harta surgawi melalui tindakan bela rasa kepada sesama yang membutuhkan, demi kemuliaan nama-Mu yang kudus. Amin.

PERUTUSAN

Kutipan dari L. Elyas Nugraha (Lumen Mundi):

_Thesauros in caelo quaerite._
_Caritatem cum omnibus vivite._
_Divitias cum pauperibus communicate._
_Cor ad Deum levate._

(Carilah harta di surga. Hiduplah dalam kasih kepada semua orang. Bagikanlah rezekimu kepada yang membutuhkan. Arahkanlah hatimu kepada Allah.)

Salib Kristus menjadi satu-satunya harta sejati yang memurnikan seluruh orientasi batin kita.

Menjadi utusan Firman mengundang kita berani mematikan ego serta rupa-rupa kelekatan duniawi yang menipu.

Kita diajak untuk memancarkan terang ilahi melalui kesaksian hidup yang penuh dengan ketulusan kasih.

Mari kita melangkah ke tengah dunia untuk membagikan warisan iman yang abadi.

PENUTUP

Mari kita melangkah ke tengah dunia dengan hati yang terarah sepenuhnya pada keabadian surga. Kita diajak untuk memancarkan terang kasih Kristus melalui kesederhanaan hidup serta ketulusan bela rasa kita kepada sesama.

_Benedictio Domini_
Berkah Dalem

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *