CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words – New Version
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh N.P. Basuki Ismael
Peringatan: Beato Alfonsus Tracki; Santo Frederikus; Santo Maternus dari Milan
Pekan Biasa XV, Sabtu 18 Juli 2026, Warna Liturgi: Hijau
Mansuetudo Sanans – Kelembutan Yang Menyembuhkan
PENGANTAR
BKSY: Terima Kasih
BKSY sebagai gerakan umat KAJ menyampaikan terima kasih mendalam kepada para Pastor Paroki Pantai Indah Kapuk, Gereja Regina Caeli. Apresiasi tinggi kami haturkan kepada Romo Kristoforus Lucky Nikasius, Pr, Romo Alexius Widianto, Pr, dan Romo Jacobus Tarigan, Pr. Para gembala baik ini telah memberikan kesempatan berharga bagi BKSY untuk melaksanakan aksi fundraising.
Kegiatan penggalangan dana ini berjalan teratur dalam lima kali perayaan Misa kudus Sabtu dan Minggu, 18-19 Juli 2026. Istimewanya, pada perayaan Misa hari Sabtu ini, Bapak Uskup Ignatius Kardinal Suharyo berkenan hadir untuk memimpin langsung Liturgi Suci. Beliau mempersembahkan Ekaristi didampingi secara khidmat oleh para Pastor Paroki setempat. Kehadiran seluruh gembala umat ini menjadi peneguh iman yang luar biasa bagi segenap umat yang hadir.
Gerakan BKSY yang diinisiasi sejak 31 Oktober 2013 mengajak umat senantiasa beriman, bersaudara, dan berbelarasa. Selama 12 tahun melayani, BKSY memberikan bantuan kematian sebesar 10 juta rupiah dan rawat inap rumah sakit. Transparansi pelayanan mencatat bantuan kematian telah disalurkan kepada 2.703 orang dengan total 27,03 Miliar rupiah. Ditambah bantuan Rumah Sakit sebesar 3 Miliar rupiah dengan puncak 2 Miliar per tahun saat pandemi.
Misi utama BKSY adalah menjaga martabat saudara-saudari meninggal, terutama keluarga prasejahtera yang tergolong KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Terpinggirkan, Difabel).
Umat yang hadir dalam Misa di Gereja Regina Caeli, Paroki Pantai Indah Kapuk Sabtu-Minggu 18-19 Juli 2026 silakan memberikan Belarasa sebanyak-banyaknya untuk saudara- saudara kita yang membutuhkan dengan memasukkan donasi ke dalam amplop atau melalui QRIS.
Para Donatur atau Pending Coffee dapat mentransfer melalui rekening BCA 162-301-4448 atas nama Keuskupan Agung Jakarta.
PESAN UTAMA
BACAAN
Kitab Mikha mengingatkan kita untuk membuang jauh segala rancangan kejahatan demi menumbuhkan ketulusan. Pemazmur menguatkan harapan batin agar kita percaya Allah selalu membela kaum yang tertindas. Injil Matius menegaskan bahwa segala jalan Tuhan telah ditentukan dengan penuh kebijaksanaan ilahi. Yesus menampilkan diri sebagai Hamba Allah yang penuh kelembutan bagi jiwa yang terluka. Kita dipanggil untuk melampaui amarah lahiriah dengan merawat sumbu iman yang hampir padam. Kesembuhan sejati hanya terjadi ketika raga dan batin kita tunduk pada rencana-Nya. Maka, marilah kita senantiasa memancarkan kelembutan yang menyembuhkan di tengah penindasan dunia sekitar kita.
DEVOSI
Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Beato Alfonsus Tracki; Santo Frederikus; Santo Maternus dari Milan
Beato Alfonsus Tracki adalah seorang imam dan martir yang penuh keteguhan iman, mengabdikan hidupnya demi pelayanan umat dengan kelembutan gembala sejati di tengah penganiayaan. Santo Frederikus adalah Uskup Utrecht yang berani menegakkan keadilan moral serta kebenaran Injil tanpa rasa takut demi menjaga kemurnian iman umatnya. Santo Maternus dari Milan adalah seorang uskup yang dikenal saleh, bijaksana, serta penuh kedamaian dalam menggembalakan jiwa-jiwa menuju kesembuhan batin yang sejati.
PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN
Bacaan Pertama
(Nubuat Mikha 2: 1-5)
Intisari:
Rancangan kejahatan di mata Tuhan adalah hal yang semestinya dibuang sejauh mungkin karena Tuhan menghendaki orang tumbuh dalam cinta penuh ketulusan.
Romo B.S. Mardiatmadja, SJ (Jakarta):
Kalimat Kunci Renungan:
Yesus Kristus adalah teladan sempurna Hamba Allah yang setia.
Putra Allah menerima pengutusan dari Bapa untuk melaksanakan rencana karya keselamatan-Nya. Sang Sabda mengungkapkan peran sebagai Hamba Allah agar seluruh ciptaan memuliakan-Nya. Melalui Kitab Mikha, Allah menugasi para hamba-Nya secara bijaksana selaras dengan rencana-Nya. Umat diajak untuk membuka diri dan setia menjalankan tugas perutusan tersebut. Dalam Injil Matius, Yesus tetap mengabdikan diri meskipun menghadapi berbagai hambatan. Kita pun dipanggil untuk ikut mewujudkan kehendak Allah dengan sepenuh hati. Mari kita senantiasa hidup sebagai hamba Allah yang setia dalam segala situasi.
Romo Willem Pau, Pr (Gereja St. Franciscus Saverius, Kebondalem, Semarang):
Kalimat Kunci Renungan:
Nabi Mikha dengan tegas mengingatkan bahaya kehancuran akibat rancangan hati yang jahat.
Egoisme yang tidak ditata dengan baik akan melahirkan tindakan penindasan bagi sesama. Allah menghendaki setiap umat-Nya tumbuh subur dalam cinta yang penuh ketulusan. Kepekaan batin menuntut kita untuk segera membuang jauh segala niat buruk keduniawian. Setiap tugas kehidupan harus dijalankan dengan dasar moralitas yang bersih dan jujur. Mari kita menata pikir agar selalu selaras dengan kebijaksanaan rencana keselamatan ilahi. Semoga hidup kita senantiasa memancarkan keadilan Tuhan di tengah tantangan sosial masyarakat.
Transitus:
(Mazmur 10: 1-2.3-4.7-8.14)
Mazmur Tanggapan:
Ya Tuhan janganlah Kaulupakan orang yang tertindas.
Romo Mike Schmitz (The Bible in a Year, Pelayanan Kepemudaan Keuskupan Duluth dan Pastor Mahasiswa di Universitas Minnesota Duluth):
Kalimat Kunci Renungan:
Pemazmur meratap di hadapan Allah karena melihat orang fasik yang menyombongkan diri.
Kaum tertindas sering kali merasa ditinggalkan di tengah himpitan ketidakadilan dunia yang kejam. Namun, iman meyakinkan kita bahwa Tuhan tidak pernah melupakan jeritan orang papa. Nabi Mikha telah menubuatkan bahwa rancangan buruk manusia pasti akan dipatahkan keadilan ilahi. Dalam Injil, Yesus menggenapi perlindungan ini dengan membela jiwa-jiwa yang rapuh tanpa kekerasan. Kita diajak menyatukan seluruh penderitaan batin kita ke dalam misteri salib Kristus. Mari kita senantiasa berserah penuh pada penyelenggaraan ilahi yang adil dan menguatkan.
Injil Suci
(Matius 12: 14-21)
Intisari:
Yesus menyingkir dari Orang Farisi karena belum waktunya bagi Dia. Segala jalan Tuhan telah ditentukan oleh-Nya.
Laurentius Elyas Nugraha (Lumen Mundi, Gereja Santo Athanasius Agung, Karangpanas, Semarang):
Kalimat Kunci Renungan:
Yesus memilih mengundurkan diri ketika menghadapi konspirasi jahat dari orang-orang Farisi.
Langkah strategis ini diambil karena saat penderitaan agung-Nya belum tiba sesuai rencana. Segala jalan penyelamatan Allah telah ditentukan dengan penuh ketepatan waktu yang indah. Sikap Yesus mengajarkan kita untuk tidak membalas kebencian dengan amarah keduniawian yang merusak. Kita diundang untuk menjadi terang dunia. Kelembutan batin Kristiani sejati menjadi senjata utama untuk meredam hiruk-pikuk konflik sosial. Mari kita senantiasa setia berjalan bersama Kristus dalam mewujudkan karya kasih Bapa.
Romo A. Joko Purwanto, Pr (Puncta, Gereja St. Yohanes Rasul, Wonogiri):
Kalimat Kunci Renungan:
Kasih Allah senantiasa merangkul, melindungi, dan memulihkan manusia yang lemah serta terkulai.
Ibu Nancy Matthews menolak putus asa ketika Thomas Alva Edison dikeluarkan dari sekolah karena dianggap bodoh. Dengan ketekunan dan kasih batin, sang ibu memilih untuk mendampingi dan mendidik anaknya sendiri di rumah. Keyakinan sang ibu membuahkan hasil luar biasa hingga Edison tumbuh menjadi penemu lampu listrik dunia. Kisah ini mencerminkan nubuat Nabi Yesaya mengenai kehadiran Mesias yang penuh dengan belas kasih. Yesus datang bukan untuk menghukum, melainkan untuk mengayomi orang kecil yang kehilangan pengharapan. Sebagaimana ibu Edison menerima kerapuhan anaknya, Allah pun tidak akan mematahkan buluh yang terkulai. Mari kita datang berserah diri dan menyambut kehangatan kasih bapa yang merangkul kaum menderita.
AC Eko Wahyono (Lectio Divina, Gereja St. Maria Tak Bernoda, Jember):
Kalimat Kunci Renungan:
Yesus adalah Hamba Allah sejati yang menyatakan keadilan-Nya melalui kelemahlembutan dan belas kasih tanpa syarat.
Nabi Mikha mengecam keras para penguasa durjana yang merancang ketidakadilan dan merampas hak sesama. Akibat kebutaan hati, orang Farisi juga bersekongkol untuk membunuh Yesus karena tindakan kasih-Nya di hari Sabat. Menghadapi penolakan tersebut, Yesus memilih menyingkir untuk menggenapi nubuat Nabi Yesaya sebagai Hamba Allah. Sebagai Sang Mesias, Ia tidak melaksanakan tugas perutusan-Nya melalui kekerasan melainkan lewat pengorbanan diri. Yesus senantiasi merangkul kaum yang lemah dan putus asa laksana buluh terkulai yang tidak akan dipatahkan-Nya. Melalui seluruh teladan hidup-Nya, Kristus mengajar kita untuk mengasihi sesama tanpa syarat dan tanpa batas. Kini kita pun dipanggil untuk senantiasa menjadi oase belas kasih yang membawa damai di tengah dunia.
Ign. Harry Respatyo (Gereja Bunda Maria Ratu, Sukatani, Depok) / Paulus Krissantono (Gereja St. Mikael, Kranji, Bekasi [RAGI]):
Kalimat Kunci Renungan:
Refleksi hari ini mengajak kita memeriksa diri agar tidak menindas yang lemah, melainkan hadir membawa kelembutan dan kekuatan bagi sesama.
Di usia dan perjalanan hidup saat ini, kita diundang untuk bercermin dengan jujur di hadapan Tuhan. Kita diajak untuk memeriksa hati apakah pernah secara sadar atau tidak menggunakan kelebihan atau “kuasa” untuk merugikan sesama. Jangan sampai kita bertindak egois seperti orang-orang di zaman Nabi Mikha yang memaksakan kehendak. Sebaliknya, ketika melihat sesama di sekitar kita sedang rapuh oleh beban hidup, penyakit, atau masalah, di situlah ujian kasih kita. Kita harus bertanya apakah kehadiran kita sudah menguatkan mereka dengan kelembutan seperti yang dilakukan Yesus. Ataukah kita justru bersikap abai dan malah menambah berat beban penderitaan mereka. Mari kita bertobat dari ego dan berkomitmen untuk menjadi saluran berkat serta kekuatan bagi orang lain.
Romo Suitbertus Maryanto, O.Carm (Gereja Maria Bunda Karmel, Paroki Tomang, Jakarta Barat):
Kalimat Kunci Renungan:
Menjadi adem di kota yang panas.
Kisah pastor rekan yang sakit radang tenggorokan memberikan khotbah singkat yang berisi hanya 2 petuah agar kita menghindari dosa dan melakukan kebaikan. Setelah Romo bilang Amin, di bangku unat seorang bapak berbisik kepada istrinya agar mendoakan tenggorokan Romo tersebut tetap sakit tenggorokan supaya Romo kotbah singkat, pesannya mendalam dan dapat dilakukan. Misa cepat selesai. Pengalaman jenaka ini menegaskan pesan utama bahwa khotbah semestinya tidak panjang lebar melainkan langsung pada praktik nyata tentang Sabda Tuhan. Melalui teladan ini, kita diingatkan untuk tidak membiarkan kecemburuan atau iri hati kaum Farisi merusak navigasi batin kita. Yesus hadir sebagai pelopor silent hero yang low profile dalam menaburkan kesembuhan tanpa mencari panggung publik. Mari kita menjadi penyejuk akhir pekan bagi sesama yang lelah dengan memberikan perhatian lembut tanpa menghakimi.
TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING
Romo Danang Kuncoro, Pr (Mutiara Batin, Gereja Santa Maria Bunda Pembantu Abadi, Pamanukan, Subang):
Kalimat Kunci Renungan:
Kebaikan tanpa pamrih lahiriah menjadi pancaran nyata dari kehadiran Allah yang hidup di dalam diri kita.
Uluran tangan yang penuh dengan belas kasih mampu memulihkan martabat sesama yang sedang mengalami penderitaan. Gerak hati yang tulus untuk mengampuni sesama merupakan bentuk tindakan ilahi yang mendatangkan kesembuhan batin. Kita diajak untuk senantiasa mengingat pernyataan Tuhan bahwa apa pun yang dilakukan bagi sesama akan dilakukan-Nya bagi kita. Kesadaran rohani ini menuntun peziarahan hidup kita agar tidak jatuh ke dalam keangkuhan ego keduniawian. Mari kita senantiasa bersyukur atas setiap kesempatan untuk menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya di tengah masyarakat. Penataan emosi yang bersih akan memampukan kita menjadi oase belas kasih yang menyejukkan bagi dunia sekitar.
Romo Hans Wijaya, Pr (Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, Nusa Dua, Denpasar):
Kalimat Kunci Renungan:
Yesus menampilkan diri sebagai Hamba Allah yang penuh dengan kelembutan bagi jiwa yang terluka.
Pola duniawi yang penuh dominasi dipatahkan melalui respons kasih yang menenangkan serta memulihkan sesama. Kita diajak untuk belajar dari kelembutan Yesus dengan selalu menanggapi konflik tanpa kekerasan atau balas dendam. Kepedulian murni menuntut kita untuk senantiasa memperhatikan sesama yang berada dalam kondisi rapuh. Murid Kristus dipanggil menjadi pribadi yang menguatkan batin serta tidak mematahkan semangat orang lain. Dalam setiap perjumpaan nyata, kita harus mampu menghadirkan sikap hidup yang membawa harapan sejati. Keheningan nata rasa yang bersih akan memancarkan kedamaian batin ke tengah lingkungan sosial kita.
Romo Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman, Katedral Kristus Raja, Purwokerto):
Kalimat Kunci Renungan:
Kisah Santa Odilia yang dilahirkan buta mengingatkan kita akan pentingnya memiliki ketajaman mata hati.
Penglihatan sejati tidak terbatas pada fisik melainkan pada level nata rasa yang mampu menembus kegelapan. Mata batin yang jernih memampukan kita melihat kasih Allah di tengah kepahitan dan penderitaan raga. Ketajaman rohani ini sanggup meruntuhkan batas penghalang berupa rasa sakit hati, iri, cemburu, dan dendam. Sebagaimana Yesus tidak membalas kejahatan dengan kekerasan, kita pun diajak untuk mengabdikan hidup bagi pelayanan sesama. Kelemahlembutan hati bukanlah tanda kelemahan melainkan bukti nyata kedekatan intim kita dengan Sang Pencipta. Melalui Kartu Iman Romo Nico Liem Tjay, OMI, kita diingatkan tentang “kelembutan membawa kemenangan bagi yang menyerang dan keselamatan bagi yang bertahan. Mereka yang akan diselamatkan oleh surga akan ditinggal dengan kelembutan”.
KATEKESE GEREJA KATOLIK (KGK)
KGK Nomor 1832:
menegaskan bahwa kelembutan merupakan salah satu dari dua belas buah Roh Kudus yang dianugerahkan kepada kita. Bersama kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, penguasaan diri, kerendahan hati, pantangan, dan kesucian, sifat lemah lembut ini menjadi tanda kedewasaan rohani. Rahmat ini bekerja sebagai kesempurnaan batin yang dibentuk di dalam diri demi menyongsong kemuliaan abadi. Kelembutan memampukan kita meredam amarah egois serta menolak keinginan membalas dendam di tengah dunia yang keras. Melalui kehadiran buah Roh tersebut, kita diubah menjadi oase belas kasih yang merangkul jiwa-jiwa rapuh dan terkulai. Mari kita senantiasa membuka hati agar Roh Kudus terus membentuk dan menyempurnakan kelembutan ilahi di dalam peziarahan hidup kita.
MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA
NATA RAGA: Menjauhkan diri secara fisik dari lingkungan konflik keduniawian demi menjaga kedamaian batin.
NATA PIKIR: Membuang jauh segala rancangan egoisme buruk dan berfokus pada praktik kebaikan nyata.
NATA RASA: Mengembangkan kelembutan batin Kristiani sejati untuk merawat sesama yang rapuh terluka.
NIAT KONGKRET: Memberikan perhatian yang lembut tanpa menghakimi kepada sesama yang sedang lelah.
LAGU ROHANI PENGANTAR DOA
Musik Instrumentalia Hening & Teduh (Biola & Piano): “Toselli: Serenade Op. 6” (dibawakan Eimi Wakui)
DOA HENING:
Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.
Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.
Ya Allah Bapa, penuhilah hati kami dengan karunia kelemahlembutan sejati seperti Putra-Mu Yesus Kristus. Jauhkanlah batin kami dari segala rancangan jahat, iri hati, gosip, serta dendam yang merusak persaudaraan. Berikanlah kami kekuatan rohani agar mampu menjadi oase penyejuk, penghibur, dan penopang bagi sesama kami yang sedang rapuh, terluka, dan patah semangat di akhir pekan ini.
PERUTUSAN
”Mansuetudo et humilitas cordis oasem pacis facit.”
(Kelembutan dan kerendahan hati membuat diri kita menjadi oase kedamaian.)
PENUTUP
Peziarahan batin akhir pekan ini menuntut konsistensi kita untuk terus belajar dari kelembutan hati Yesus. Mari kita melangkah di tengah hiruk-pikuk dunia sebagai perpanjangan tangan kasih Allah yang memulihkan sesama.
Berkah Dalem, Salam Takzim,











