CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh Basuki Ismael
Kamis, 4 Juni 2026, Peringatan Santo Fransiskus Caracciolo, Santo Quirinus dari Sescia
Warna Liturgi: Hijau, Deum et Proximum sicut Teipsum Diligere
Mengasihi Allah Dan Sesama Seperti Mengasihi Diri Sendiri
Pengantar
Ziarah rohani batin kita hari ini dihantar pada keteduhan inti sari iman yang paling murni. Melalui rangkaian jalinan sabda, Tuhan memanggil kita untuk kembali pada satu fondasi utama yang menyatukan seluruh hukum dan nubuat: kasih yang utuh dan tidak terbagi.
Tatkala Yesus melihat seorang ahli Taurat menjawab dengan bijaksana mengenai hakikat kasih yang melampaui segala kurban ritual, Dia melayangkan sebuah pujian sekaligus tantangan yang teduh namun mendalam: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”
Ungkapan ini sejatinya merupakan sebuah tapal batas rohani bagi jiwa kita; sebuah penegasan bahwa memiliki kompas nalar yang benar dan mengagumi teori kesalehan barulah sebuah langkah awal di ambang pintu jembatan iman.
Dekat dengan Kerajaan Allah berarti pikiran kita sudah menyetujui kebenaran, namun belum tentu batin dan raga kita telah tunduk untuk menghidupinya. Kita diundang untuk melintasi jarak yang tersisa itu — bukan lagi sekadar menjadi pengamat hukum yang cerdas, melainkan berani melangkah masuk untuk menyerahkan kedirian kita secara total di bawah pemerintahan kasih-Nya.
Dengan menyatukan aliran kasih vertikal kepada Sang Creator dan gerak kasih horizontal kepada sesama, kita diutus untuk merawat sesama dengan ketulusan yang sama seperti kita menghargai diri kita sendiri di dalam terang rahmat-Nya.
Pesan Utama:
Kekristenan bukan sekadar tumpukan teori atau kesalehan lahiriah yang kering.
Tatkala nalar kita memahami kebenaran, kita diundang untuk menyelaraskan seluruh keberadaan: menundukkan ego jasmani (Nata Raga), membersihkan pikiran dari perdebatan yang merusak (Nata Pikir), dan memurnikan batin (Nata Rasa).
Ketika kasih sejati kepada Allah tidak lagi menjadi slogan abstrak melainkan menjelma dalam tindakan nyata —merangkul, menolong, dan mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri — saat itulah kita tidak lagi sekadar “tidak jauh”, melainkan sungguh melangkah masuk dan menghadirkan Kerajaan Allah di dunia.
PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN
Bacaan Pertama
(Surat Kedua Rasul Paulus kepada Timotius 2: 8-15)
Intisari:
Beribadah bukan hanya sekedar supaya dilihat orang lain. Tetapi hati yang tunduk kepada rencana Tuhan menjadi kunci kekudusan. Kita diajak untuk tidak jatuh dalam perpecahan dan perdebatan satu dengan yang lain.
Rm. Willem Pau, Pr : menegaskan bahwa godaan terbesar dalam hidup beragama adalah kedangkalan —menampilkan performa luar yang tampak suci namun hatinya menyimpan ambisi pribadi.
Paulus mengingatkan Timotius bahwa meskipun dirinya dipenjara, “Firman Allah tidak terbelenggu.”
Ibadah kita menjadi kudus dan berdaya ubah hanya ketika kita berani menundukkan kehendak pribadi di bawah salib Kristus dan secara sadar menahan diri agar tidak menjadi motor perpecahan di dalam komunitas jemaat.
AC Eko Wahyono (Lectio Divina) : memberikan eksegese terhadap frasa “berjuanglah agar engkau layak di hadapan Allah sebagai pekerja yang tidak usah malu” (2 Timotius 2:15).
Secara tekstual, kata “berjuanglah” (Yunani: spoudason) berarti melakukan usaha dengan kesungguhan hati yang mendalam dan mendesak.
Paulus menggunakan metafora pekerja yang memotong lurus (orthotomounta) Firman Kebenaran. Artinya, seorang pelayan Tuhan tidak boleh membelokkan atau memanipulasi ajaran iman demi menyenangkan telinga manusia atau menghindari penderitaan.
Mengajar dan beribadah harus dilakukan dengan akurasi teologis dan ketulusan batin agar tidak memicu logomachias (perdebatan kata- kata yang tidak berguna).
Paulus Krissantono/Ign Harry Respatyo (RAGI) : menyoroti wejangan Paulus agar Timotius selalu ingat akan Yesus Kristus yang telah bangkit dari antara orang mati.
Landasan inilah yang membuat seorang murid Kristus sanggup bertahan menghadapi ketidakadilan dunia tanpa kehilangan jati diri dan integritasnya. Kesetiaan untuk memegang teguh ajaran iman yang murni di tengah rupa-rupa rintangan zaman merupakan kesaksian yang jauh lebih bertenaga daripada kefasihan bersilat lidah.
Kita diundang untuk menjadi saksi hidup yang andal, menampilkan kekristenan yang berwajah teduh dan membawa damai di mana pun kita diutus.
TRANSITUS:
(Mazmur 25: 4.b.c-5ab.8-9.10.14)
Mazmur Tanggapan:
Ya Tuhan, tunjukkanlah lorong-lorong-Mu kepadaku.
Fr. Mike Schmitz dalam The Bible in a Year Study Guide : mengatakan Ketika kita mendaraskan “Ya Tuhan, tunjukkanlah lorong-lorong-Mu kepadaku,” kita sedang mengakui secara jujur bahwa kompas arah manusiawi kita telah rusak akibat dosa.
Belajar dari kejatuhan raja-raja Israel dalam Kitab 1 Raja-raja yang membuat “lorong sendiri” demi mengamankan kekuasaan mereka, pemazmur justru mengambil sikap kontemplatif yang radikal.
Mengetahui lorong Tuhan menuntut kerendahan hati untuk diajar (discipleship).
Allah hanya akan membukakan rahasia-Nya dan menuntun langkah kaki kita jika kita memiliki ketakutan yang kudus (Holy Fear) dan kerelaan penuh untuk dibimbing menyusuri jalan kebenaran-Nya, bukan jalan pintas kita.
Bacaan Injil:
(Markus 12: 28b-34)
Intisari:
Yesus menjelaskan hukum yang paling utama ketika menerima pertanyaan dari seorang ahli Taurat. Iman itu tentang menjalin hubungan dengan Tuhan dan orang lain.
Laurentius Elyas Nugraha (Lumen Mundi): mengutip Santo Agustinus yang menyatakan, “Ama Deum et fac quod vis” — “Kasihilah Allah dan lakukanlah apa yang engkau kehendaki.”
Ketika hati sungguh berakar pada kasih kepada Allah, maka pikiran, keputusan, dan tindakan manusia akan diarahkan kepada kebaikan.
Caritas Dei fundamentum vitae — kasih kepada Allah adalah dasar kehidupan, sebab dari kasih itulah lahir seluruh sikap hidup yang benar di hadapan Tuhan maupun sesama.
Katekismus Gereja Katolik (KGK 1822) pun mengajarkan bahwa kasih adalah kebajikan ilahi dengan mana kita mengasihi Allah di atas segala sesuatu demi Diri-Nya sendiri, dan sesama kita seperti diri kita sendiri karena kasih pada Allah.
Rm. A. Joko Purwanto, Pr (Puncta): merefleksikan lompatan besar kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) melalui kacamata iman.
Persoalan teknologi mutakhir pada hakikatnya adalah persoalan moral, spiritual, dan martabat manusia, yang kegunaannya sangat bergantung pada kesucian penggunanya. Melalui jawaban Yesus kepada ahli Taurat, kita diingatkan agar kemajuan teknologi modern ini senantiasa diletakkan dalam bingkai hukum kasih.
Teknologi harus digunakan untuk melayani sesama, khususnya mereka yang lemah dan tersingkir, demi memuliakan Allah dan menjaga keluhuran martabat manusia.
TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING
Rm. B. S. Mardiatmadja, SJ: Seluruh umat Allah diundang untuk secara bebas menyambut Kasih dan membagikan Cinta, sehingga semua diperkenalkan dengan Allah yang penuh belas kasih demi persaudaraan semua yang diciptakan oleh Yang Mahacinta.
Dengan demikian, kita dipadukan satu sama lain dengan TUHAN, YANG ADALAH KASIH.
Dalam suasana itu segala sesuatu dipersatukan oleh Yang Kasih. Oleh karena itu, mari kita sering menyampaikan doa untuk mensyukuri Kasih Sayang Ilahi dan berbagi cintakasih dalam hidup bersama dalam keluarga, paguyuban, dan cintakasih di seluruh ciptaan.
Rm. Hans Wijaya, Pr : membawakan renungan mendalam bertajuk “Kasih yang Menjadi Dasar Segala Sesuatu”.
Beliau menegaskan bahwa pertanyaan ahli Taurat dalam Injil hari ini bukan sekadar soal hukum, melainkan menyangkut inti kehidupan rohani kita. Yesus tidak memberikan aturan baru, melainkan menegaskan kembali fondasi kasih yang sering kali kita lupakan.
Kasih kepada Allah menuntut penyerahan seluruh diri secara total — meliputi pikiran, tenaga, dan kehendak —sementara kasih kepada sesama menuntut kemampuan mendalam untuk memandang orang lain sebagai pribadi yang berharga dan dicintai oleh Allah.
Yesus memuji pemahaman ahli Taurat tersebut, namun sekaligus melayangkan tantangan halus: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah,” yang menjadi cermin bagi kita bahwa sering kali kita baru sebatas mengerti teori kebenaran rohani tetapi belum sepenuhnya melangkah untuk menghidupinya.
Ketika kita berani menjadikan kasih sebagai kompas utama dari setiap keputusan hidup kita, kita tidak lagi sekadar berdiri di ambang pintu, melainkan sungguh masuk dan menghadirkan Kerajaan Allah secara nyata di tengah dunia.
Rm. Nico Liem Tjay, OMI : memberikan untaian pesan batin yang mendalam mengenai perwujudan konkret dari hukum kasih.
Setiap orang dipanggil untuk menjalankan dan melaksanakan ajaran Tuhan dalam kehidupan nyata secara setia, selaras dengan tugas khusus serta panggilan hidup masing-masing. Kita tidak akan pernah bisa mengasihi Allah yang tidak kelihatan, jika pada saat yang sama kita menutup mata dan tidak mengasihi sesama yang jelas-jelas kelihatan hidup di sekitar kita; sebab ketika kita mulai melayani sesama dengan tulus, di situlah kita sedang menyembah Allah.
Seberat apa pun kondisi dan tantangan hidup yang harus kita pikul, sebagai murid-murid Yesus yang setia kita tetap diutus untuk menjalankan hukum kasih tanpa syarat, karena kasih itulah yang menjadi dasar utama dari segala sesuatu.
Tak akan ada artinya segala hal besar yang kita perjuangkan dan miliki di dunia yang fana ini, apabila kita tidak memiliki kasih yang hidup dan menolak untuk membagikannya secara nyata dalam relasi kehidupan sehari-hari.
MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA
NATA RAGA:
Melakukan satu tindakan kasih yang nyata dan konkret hari ini dengan memilih secara sengaja satu orang di sekitar kita untuk dibantu, didengarkan keluh kesahnya, atau didoakan secara tulus.
Melatih fisik kita untuk bergerak meringankan beban sesama.
NATA PIKIR:
Secara disiplin memeriksa motivasi nalar kita sebelum bertindak dengan mengajukan pertanyaan kritis ke dalam diri: “Apakah keputusan atau perbuatan ini lahir dari ketulusan kasih atau sekadar digerakkan oleh ego dan kepentingan pribadi?”
NATA RASA:
Membangun kebiasaan rohani untuk mengasihi diri sendiri secara sehat.
Menjaga kedamaian batin agar tidak mudah dirusak oleh ambisi duniawi, sehingga ruang rasa kita senantiasa dipenuhi oleh sukacita sebagai pribadi yang telah lebih dahulu dikasihi oleh Allah.
NIAT KONGKRET:
Hari ini saya akan meluangkan waktu 10 menit untuk mendoakan atau menyapa seseorang yang selama ini hubungannya kurang baik dengan saya, sebagai perwujudan nyata dari hukum kasih tanpa mencari validasi dari orang lain.
DEVOSI:
Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Santo Fransiskus Caracciolo, Santo Quirinus dari Sescia
yang kita peringati hari ini.
(Hening sejenak…)
Ya Santo Fransiskus Caracciolo yang mengorbankan kemewahan demi cinta pada Sakramen Mahakudus, dan Santo Quirinus yang teguh mempertahankan iman hingga martir, doakanlah kami agar setia pada lorong keselamatan Tuhan.
KARTU IMAN
Rm. Nico Liem Tjay, OMI: Cinta dan kasih sayang sejati selalu dimulai dari dalam rumah kita sendiri.
Ingatlah selalu bahwa keagungan cinta bukanlah diukur dari seberapa banyak perkara besar yang sanggup kita perbuat, melainkan dari seberapa besar ketulusan cinta yang kita curahkan di dalam perbuatan itu.
Maka, jadilah pemberi yang terbaik dengan senyuman yang tulus, karena Allah sangat mengasihi setiap orang yang sudi berbagi dengan penuh sukacita.
DOA HENING:
Marilah berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan dengan murni, dijauhkan dari jerat keduniawian, dan mampu menjadi teladan dalam menggembalakan umat menuju persatuan kasih.
Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dalam mewujudkan kasih Allah di tengah masyarakat.
MUTIARA IMAN
Rm. Danang Kuncoro, Pr: Aku diajari dan belajar berusaha mengamini, kendati kadang sulit dan tak masuk akal. Berbagi berkat dan mengulurkan tangan bagi yang lebih menderita itu sama saja dengan taat dan mencintai Allah.
Untungnya apa untukku?
Jiwaku lebih tenang. Hatiku bergembira.
Hidupku berada dalam jalan-Nya.
PERUTUSAN
Deum toto corde diligite. In caritate vivite. Proximum diligite. Evangelium annuntiate. (Kasihilah Allah dengan segenap hati. Hiduplah dalam kasih. Kasihilah sesama. Wartakanlah Injil.) – L. Elyas Nugraha. Berkah Dalem.
Salam Takzim
Kontributor:
Rm. B.S. Mardiatmadja, SJ
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
Rm. Danang Kuncoro, Pr
Rm. Hans Wijaya, Pr
Rm. Nico Liem Tjay, OMI
Rm. Willem Pau, Pr
Fr. Mike Schmitz
AC Eko Wahyono
Ign. Harry Respatyo
L. Elyas Nugraha
Paulus Krissantono







