Milik Siapakah Hidupku ? – 02 Juni 2026

​CAPITA SELECTA
​Selected Daily Reflections of Divine Words
​Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – ​Oleh Basuki Ismael
​Selasa, 2 Juni 2026 – ​Peringatan Santo Erasmus, Santo Marselinus, Santo Petrus Diakon
Warna Liturgi: Hijau – CUIUS EST VITA MEA?
Milik Siapakah Hidupku ?

PENGANTAR

Ketika orang Farisi menunjukkan sekeping denarius bergambar Kaisar, Yesus menegaskan identitas kita yang sejati. Jika denarius milik Kaisar karena gambarnya, maka manusia adalah milik Allah karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya.

Rasul Petrus mengajak kita bertumbuh dalam rahmat, sementara Mazmur 90 mengingatkan bahwa hidup kita sesaat di hadapan Allah yang kekal.

Pertanyaan mendasarnya bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, melainkan: milik siapakah hidupku ini?

​PESAN UTAMA

Hidup adalah anugerah sekaligus titipan. Meski kita memiliki pekerjaan dan keberhasilan, semuanya bersifat sementara. Yang kekal adalah hubungan kita dengan Allah, Sang Pemilik kehidupan.

Karena membawa gambar Allah, kita dipanggil untuk mengembalikan seluruh hidup melalui iman, pertobatan, dan kesetiaan sehari-hari.

Hidup yang berhasil bukanlah yang mengumpulkan paling banyak, melainkan hidup yang dipersembahkan kembali kepada Tuhan dengan syukur:

“Tuhan, hidup ini milik-Mu. Apa yang Engkau percayakan telah kuusahakan demi kemuliaan- Mu.”

​PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN

​Bacaan Pertama
(Surat Kedua Rasul Petrus 3: 12-15a. 17-18)

Rm. Willem Pau, Pr : Rasul Petrus mengajarkan bahwa menantikan kedatangan Tuhan bukanlah sikap pasif, melainkan panggilan untuk hidup aktif dalam kekudusan dan kesalehan setiap hari.

Kita diajak untuk terus berusaha menjaga hati agar tak bercacat di hadapan Allah, sekaligus waspada terhadap berbagai godaan duniawi yang dapat menyesatkan iman. Pertumbuhan rohani yang sejati tidak mengenal kata cukup, sehingga kita harus terus berupaya memperdalam rahmat melalui doa serta kesetiaan pada hal-hal kecil.

Dengan penuh pengharapan akan langit dan bumi yang baru, marilah kita menjadikan setiap tindakan kasih sebagai langkah konkret menuju kepenuhan hidup bersama Allah.

Mazmur Tanggapan
(Mazmur 90: 2.3-4. 10.14.16)

​Fr. Mike Schmitz dalam The Bible in a Year Study Guide : mengingatkan kita bahwa di hadapan keabadian Allah, hari-hari kita singkat, namun justru dalam keterbatasan waktu itulah, setiap tindakan kasih kita menjadi sangat berharga bagi kekekalan.

​Bacaan Injil
(Markus 12: 13-17)

AC Eko Wahyono (Lectio Divina) : Keping perak dinar bergambar Kaisar Tiberius yang ditunjukkan kepada Yesus menjadi simbol pengakuan bahwa dalam urusan duniawi, manusia memiliki tanggung jawab sosial kepada penguasa yang berdaulat.

Namun, Yesus dengan tegas mengingatkan bahwa manusia tidak hanya memiliki kewajiban kepada negara, karena hakikat diri manusia sendiri telah ditera sebagai gambar dan rupa Allah sejak penciptaan.

Maka, memberikan kepada Allah apa yang menjadi milik-Nya berarti menyerahkan kembali seluruh hidup, hati, dan kesetiaan kita kepada Sang Pencipta yang telah menebus kita dengan harga yang mahal.

Hidup sebagai murid Kristus menuntut kita untuk mampu menyeimbangkan kewajiban sebagai warga negara dengan komitmen rohani yang menempatkan Tuhan sebagai pemilik mutlak atas jiwa kita.

Rm. A. Joko Purwanto, Pr (Puncta) : Yesus menunjukkan integritas luar biasa saat menjawab jebakan politis mengenai kewajiban membayar pajak dengan menegaskan bahwa memenuhi kewajiban sebagai rakyat tidaklah bertentangan dengan kesetiaan kepada Allah.

Kebijaksanaan-Nya mengajarkan kita untuk tetap menjalankan tanggung jawab sosial sebagai wujud tindakan bermoral di hadapan Tuhan. Menjadi murid Kristus berarti mampu menyeimbangkan kewajiban duniawi dengan komitmen rohani tanpa mengabaikan nilai keadilan dan integritas.

​Ign. Harry Respatyo/Paulus Krissantono (RAGI) : Yesus mengajarkan kita untuk menjalankan tanggung jawab duniawi dengan jujur, sekaligus menyerahkan kesetiaan tertinggi hanya kepada Allah sebagai Pemilik hidup kita.

Kesetiaan kepada Tuhan adalah pertumbuhan dinamis yang harus kita pupuk setiap hari melalui doa, kebaikan, dan ketulusan hati. Di usia hidup ini, kita dipanggil untuk menjalankan tugas keseharian dengan penuh syukur, sembari menatap masa depan keabadian dengan hati yang penuh pengharapan.

​Laurentius Elyas Nugraha (Lumen Mundi) : Sabda hari ini mengajak kita menempatkan Allah sebagai pusat kehidupan agar kita mampu menjalankan kewajiban duniawi dengan bijaksana.

Kebenaran menuntut kita untuk hidup jujur, setia, dan tidak terjebak dalam arus kepentingan yang menjauhkan diri dari nilai-nilai Injil.  Kesetiaan kepada Tuhan harus diwujudkan dalam keberanian menjaga integritas dan bertindak adil.

Dengan hati yang berakar pada Kristus, kita dipanggil untuk menghadirkan kebenaran dalam setiap cara hidup kita sehari-hari.

​TRANSITUS : SABDA MENJADI DAGING

​Rm. B.S. Mardiatmadja, SJ : Gambar Allah pada diri manusia menuntut kita untuk memberikan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta dalam setiap dimensi kehidupan.

Melalui kesetiaan pada kewajiban sosial, kita sebenarnya sedang mempraktikkan ketaatan iman kepada Allah yang menghendaki keadilan bagi semua.  Bakti kita kepada negara hanyalah cerminan kecil dari bakti agung yang wajib kita persembahkan kepada Allah pemilik hidup kita.

Dengan demikian, tugas keseharian tidak pernah terpisah dari doa karena keduanya adalah persembahan bakti manusia yang utuh.

Rm. Hans Wijaya, Pr : Yesus menegaskan bahwa kewajiban duniawi seperti membayar pajak wajib dipenuhi sebagai bentuk tanggung jawab sosial, namun posisi Allah tetap sebagai pusat dan pemilik sejati atas hidup kita.

Uang dinar bergambar Kaisar memang harus dikembalikan kepada Kaisar, namun seluruh hati dan kesetiaan kita adalah milik Allah yang menciptakan kita menurut gambar-Nya.

Kita dipanggil untuk terlibat aktif dalam urusan dunia dengan penuh kejujuran tanpa mengorbankan prioritas rohani. Menempatkan Tuhan di atas segalanya berarti menjadikan setiap tugas keseharian sebagai wujud persembahan nyata kepada-Nya.

​Rm. Nico Liem Tjay, OMI : Dalam kehidupan kita setiap hari, ada banyak kejadian di mana kita menjadi pelaku yang mencoba untuk menjebak orang lain atau menjadi korban jebakan orang lain; yang kita dan orang lain inginkan bukanlah kebenaran dan kebaikan yang lebih besar, melainkan mencari celah untuk menjatuhkan satu sama lain.

Disadari atau tidak, kadang kita menjadi korban ‘suruhan’ orang lain untuk menyusahkan sesama.

Mari kita selalu berusaha untuk selalu mengedepankan kasih dan menjadikan Allah sebagai tujuan utama semua tindakan kita.

​MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA

​NATA RAGA :

Melakukan pekerjaan atau kewajiban hari ini dengan penuh tanggung jawab sebagai wujud pelayanan kepada sesama.

NATA PIKIR :

Berusaha untuk tetap bijak dalam bersikap dan tidak membiarkan diri terjebak dalam perdebatan yang memecah belah.

NATA RASA :

Memelihara syukur di tengah kesibukan agar hati tetap tenang dan fokus pada kehendak Allah.

NIAT KONGKRET :

Hari ini, saya akan menuntaskan satu tanggung jawab yang tertunda dengan integritas penuh sebagai persembahan bagi Tuhan.

​DEVOSI

Menghormati Santo Erasmus, Santo Marselinus, Santo Petrus Diakon agar kita dikuatkan dalam iman di tengah tantangan zaman.

​KARTU IMAN

Rm. Nico Liem Tjay, OMI : “Bijaklah dalam bertindak, jujurlah dalam bekerja, dan setialah dalam mencintai Tuhan.

Hidup adalah ladang pengabdian, bukan ajang kompetisi keserakahan. Sing sapa wonge gelem makarya lan mitulungi liyan, uripe bakal ayem tentrem (Siapa saja yang mau bekerja keras dan membantu sesama, hidupnya akan damai dan tenteram).”

DOA HENING

Marilah berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral. Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dalam mewujudkan kasih Allah.

​MUTIARA IMAN

Rm. Danang Kuncoro, Pr : “Iman dan keadilan adalah wajah kemanusiaan yang terberkati. Iman adalah anugerah Kasih Allah yang menyelamatkan.

Keadilan adalah tindakan syukur atas cinta pada Allah dan solidaritas pada sesama. Hidup itu pilihan. Rahmat atau kutuk. Rahmat membimbing pada kebahagiaan dan hidup kekal.

Kutuk adalah tindakan yang merampok uang rakyat, pemeras, penilep pajak.”

PERUTUSAN

In fide vivite. Verbum Dei custodite. Fructus boni afferte. Evangelium testificate.
(Hiduplah dalam iman. Peliharalah Sabda Allah. Hasilkanlah buah kebaikan. Bersaksilah tentang Injil). ​ Berkah Dalem.

Kontributor : Rm. Nico Liem Tjay, OMI

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *