CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words – New Version
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh N.P. Basuki Ismael
Pesta Santo Yakobus Rasul
Sabtu, 25 Juli 2026, Warna Liturgi: Merah
Peringatan: Santo Kristoforus
Servus Paratus, Vas Fidele – PELAYAN YANG SIAP, BEJANA YANG KUAT
PENGANTAR
Dalam setiap komunitas, hampir selalu ada orang-orang yang tidak gemar menjadi pusat perhatian. Mereka tidak sibuk mencari pujian, tidak berlomba tampil paling depan, bahkan sering kali memilih diam. Namun justru ketika dibutuhkan, merekalah yang pertama berkata, “Saya siap.”
Saya teringat seorang sahabat, Pak Dahar. Beliau adalah pribadi yang cerdas, rendah hati, dan menjadi salah satu pilar penting keberhasilan beberapa kali reuni kami. Di dalam grup komunitas, beliau hampir tidak pernah banyak berbicara. Namun setiap kali kami bertemu secara langsung dan meminta pendapat dan bantuannya, jawabannya hampir selalu sama: “Siap.” Tidak banyak kata, tidak banyak janji, tetapi selalu hadir ketika dibutuhkan. Kehadirannya membuat banyak orang merasa tenang karena tahu ada pribadi yang dapat diandalkan.
Begitulah kiranya para pelayan sejati. Mereka tidak mencari sorotan, tetapi menghadirkan kekuatan. Mereka tidak mengejar kedudukan, tetapi menghidupi tanggung jawab. Dunia sering mengingat mereka yang paling keras bersuara, tetapi Tuhan justru memakai mereka yang diam, setia, dan rela mengorbankan dirinya demi sesama.
PESAN UTAMA BACAAN
Sabda Tuhan hari ini memperlihatkan dua jalan yang sangat berbeda: jalan ambisi dan jalan pelayanan.
Dalam Injil (Mat. 20:20-28), permohonan ibu Yakobus dan Yohanes lahir dari kerinduan agar anak-anaknya memperoleh tempat terhormat. Yesus tidak memadamkan semangat mereka, tetapi memurnikannya. Kemuliaan sejati tidak diperoleh dengan duduk di tempat tertinggi, melainkan dengan meminum cawan pengorbanan dan menjadi pelayan bagi banyak orang. Santo Yakobus kemudian membuktikan bahwa murid sejati tidak hanya berani bercita-cita besar, tetapi juga rela menyerahkan hidupnya sebagai martir.
Bacaan pertama (2Kor. 4:7-15) melengkapi pesan itu. Rasul Paulus menyebut kita hanyalah bejana tanah liat yang rapuh. Namun justru melalui kerapuhan itulah kuasa Allah bersinar. Kita mungkin lemah, terluka, bahkan sering jatuh, tetapi selama kita tetap setia, kehidupan Kristus akan semakin nyata melalui diri kita.
Mazmur 126 meneguhkan harapan tersebut: mereka yang menabur dengan cucuran air mata akan menuai dengan sorak-sorai. Tidak ada pelayanan yang dilakukan dengan kasih yang akan sia-sia di hadapan Tuhan.
Karena itu, Pesta Santo Yakobus Rasul mengajak kita mengubah ukuran kebesaran. Jangan bertanya, “Di mana aku akan ditempatkan?” tetapi, “Siapa yang dapat aku layani?” Jangan mengejar penghormatan, tetapi kejarlah kesetiaan. Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak terutama mencari orang yang paling terkenal, melainkan orang yang paling siap berkata dengan rendah hati dan sepenuh hati:
“Tuhan, saya siap.”
DEVOSI
Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Santo Yakobus Rasul; Santo Kristoforus.
Santo Yakobus Rasul adalah salah satu dari kedua belas rasul pilihan Yesus, kakak dari Yohanes, serta anak nelayan dari pasangan Zebedeus dan Salome yang dipanggil Tuhan di tepi Danau Galilea.
Santo Kristhoporus adalah seorang santo yang dikenal dalam tradisi Kristen sebagai pelindung para pelancong, di mana namanya berasal dari bahasa Yunani Christophoros yang berarti “pembawa Kristus”.
PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN
Bacaan Pertama
(Surat Kedua Rasul Paulus Kepada Jemaat di Korintus: 4: 7-15)
Intisari:
Harta pelayanan ada di dalam bejana tanah liat yang mesti dijaga dengan penuh kesungguhan supaya tidak jatuh dan kemudian pecah
Paulus Krissantono (Gereja St. Mikael, Kranji, Bekasi) / Ign. Harry Respatyo (Gereja Maria Bunda Ratu, Sukatani, Depok) {RAGI}:
Intisari Renungan:
Sebagai bejana tanah liat yang siap meminum cawan pelayanan, kehormatan sejati kita di hadapan Allah bukanlah mengejar kedudukan duniawi, melainkan kesiapan untuk memikul pengorbanan Kristus di tengah ujian kehidupan.
Renungan:
Pesta Santo Yakobus Rasul menantang ambisi alamiah kita yang sering kali mendambakan posisi tinggi, kenyamanan, dan pengakuan, sebagaimana tercermin dalam permohonan ibu anak-anak Zebedeus.
Yesus meluruskan pola pikir tersebut dengan menegaskan bahwa kebesaran sejati diukur dari kerelaan menjadi pelayan (diakonos) dan kesiapan meminum cawan penderitaan demi Injil.
Semangat pengorbanan ini selaras dengan bacaan pertama (2 Korintus 4:7-15) yang mengingatkan bahwa kita hanyalah bejana tanah liat yang rapuh, namun justru di dalam kelemahan itulah kuasa Allah terpancar luar biasa sehingga kita tidak binasa meski ditindas dan dihempaskan.
Teladan Santo Yakobus mengajarkan kita untuk bertransformasi dari pencari kehormatan diri menjadi pelayan yang setia sampai akhir, menjadikan setiap penderitaan kecil sehari-hari sebagai jalan agar kehidupan Yesus nyata dalam tubuh fana kita.
Semoga perayaan ini meneguhkan kita untuk terus melayani sesama dengan ketulusan hati yang mendalam di tengah dunia yang penuh tantangan.
Romo Willem Pau, Pr (Gereja St. Franciscus Saverius, Kebondalem, Semarang):
Intisari Renungan:
Kelemahan dan kerapuhan kita sebagai bejana tanah liat bukanlah penghalang, melainkan sarana utama bagi Allah untuk menyatakan kekuatan serta kuasa kebangkitan-Nya secara nyata.
Renungan:
Rasul Paulus menegaskan bahwa rahmat Injil yang agung dititipkan dalam diri kita yang rapuh, agar terbukti bahwa sumber segala keselamatan dan kekuatan sejati murni berasal dari Allah semata.
Berbagai pencobaan, penderitaan, dan keterbatasan hidup yang kita alami tidaklah bermakna kesia-siaan, melainkan kesempatan emas untuk semakin bersandar penuh kepada Tuhan yang setia menopang.
Melalui kesetiaan menanggung salib di tengah pergumulan sehari-hari, hidup kita memancarkan dimensi misioner yang mampu menguatkan iman sesama dan menghadirkan kasih Kristus.
Sejalan dengan teladan Santa Teresa dari Lisieux, kesucian sejati bukanlah menuntut ketiadaan kelemahan, melainkan kerelaan menyerahkan segenap kerapuhan diri agar Allah leluasa berkarya memancarkan kemuliaan-Nya.
L. Elyas Nugraha (Lumen Mundi, Gereja Santo Athanasius Agung, Karangpanas, Semarang):
Intisari Renungan:
Kelemahan kita sebagai bejana tanah liat yang rapuh justru menjadi sarana bagi Allah untuk menyatakan kuasa kebangkitan-Nya secara nyata melalui jalan pengorbanan dan pelayanan.
Renungan:
Rasul Paulus menegaskan bahwa rahmat Injil yang agung dititipkan dalam diri kita yang rapuh bagaikan bejana tanah liat, agar terbukti bahwa sumber segala kekuatan sejati murni berasal dari Allah semata (Thesaurus hanc habemus in vasis fictilibus, ut sublimitas sit potentiae Dei et non ex nobis — 2 Korintus 4:7).
Berbagai pencobaan dan penderitaan hidup bukanlah tanda kesia-siaan, melainkan kesempatan emas untuk bersandar penuh kepada Tuhan agar hidup Yesus semakin nyata terpancar melalui diri kita (Sic et mortificatio Iesu in corpore nostro circumfertur, ut et vita Iesu in corpore nostro manifestetur — 2 Korintus 4:10).
Sebagaimana Santa Teresia Benedikta dari Salib (Edith Stein) menegaskan, salib yang dipersatukan dengan Kristus tidak pernah berakhir dalam kehancuran, melainkan menjadi jalan menuju kehidupan baru dan kemenangan Allah (Crux Christi est via ad vitam et victoriam).
Melalui kesetiaan menanggung salib di tengah pergumulan sehari-hari, hidup kita memancarkan dimensi misioner yang menghadirkan kasih Kristus serta menguatkan iman sesama (Ut et gratia redundans per multos gratiarum actionem abundet in gloriam Dei — 2 Korintus 4:15).
TRANSITUS:
(Mazmur 126: 1-2ab. 2cd-3.4-5.6)
Mazmur Tanggapan:
Yang menabur dengan mencucurkan air mata akan menuai dengan bersorak-sorai.
Romo Mike Schmitz (The Bible in a Year, Pelayanan Kepemudaan Keuskupan Duluth dan Pastor Mahasiswa di Universitas Minnesota, Duluth):
Intisari Renungan:
Air mata kesabaran dan pergumulan yang ditabur dalam iman akan dituai kembali dalam sorak-sorai sukacita yang dianugerahkan oleh Allah.
Renungan:
Dalam refleksinya melalui The Bible in a Year, Romo Mike Schmitz kerap mengingatkan bahwa perjalanan iman umat Allah sering kali melewati padang gurun ujian dan air mata yang menguji ketekunan kita.
Mazmur 126 melukiskan kelepasan umat dari pembuangan, di mana pemulihan yang dikerjakan Tuhan terasa bagaikan mimpi indah yang mengubah ratapan menjadi gelak tawa serta puji-pujian.
Perjalanan menabur benih dengan mencucurkan air mata mengajarkan kita bahwa setiap penderitaan dan pengorbanan di dalam Tuhan tidak pernah sia-sia, melainkan proses pembentukan hati.
Pada akhirnya, janji kesetiaan Allah akan digenapi secara sempurna ketika kita pulang membawa berkas-berkas tuaian dengan sorak-sorai kemenangan ilahi yang melimpah.
Injil Suci
(Matius 20: 20-28)
Intisari:
Tuhan mendengar permohonan Ibu Yakubus, sekalipun maksudnya belum mengerti saat itu. Namun seiring waktu, permohonan tersebut menjadi jalan bagi Yakobus dan Yohanes untuk menyerahkan hidup mereka secara utuh sebagai martir demi mewartakan Kristus.
Romo Agustinus Suyadi, O.Carm (Pastor Kepala Paroki Tomang, Gereja Maria Bunda Karmel, Jakarta Barat):
Intisari Renungan:
Tempat yang memuliakan:
Kehormatan sejati di hadapan Allah diraih bukan melalui ambisi mengejar kedudukan duniawi, gengsi, atau kekuasaan, melainkan dengan merendahkan diri dan melayani sesama secara tulus seperti Kristus.
Renungan:
Romo Agustinus Suyadi, O. Carm dalam video renungan harian menguraikan tiga poin penting di hari Pesta Santo Yakobus Rasul.
Pertama adalah salah tafsir para murid terhadap misi Yesus ke Yerusalem, di mana Ibu Salome bersama Yakobus dan Yohanes memohon agar kedua anaknya dapat duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus di dalam Kerajaan-Nya.
Kesalahan tafsir ini terjadi karena hati mereka masih terpaku pada kemenangan duniawi, dikuasai oleh gengsi, ambisi, serta keinginan masuk dalam “ring satu”, sehingga kehendak Allah tertutupi oleh motivasi duniawi.
Poin kedua: menyoroti berebut kedudukan, yang memicu kemarahan para murid lain terhadap Yakobus dan Yohanes karena mereka dianggap mencuri start dengan melobi Yesus melalui ibunya.
Kemarahan tersebut sejatinya terjadi bukan karena mereka lebih paham, melainkan karena mereka memiliki ambisi dan gengsi yang sama untuk memperebutkan posisi strategis. Hal ini menunjukkan bagaimana perebutan jabatan demi kehormatan pribadi kerap menimbulkan ketegangan dan pertengkaran, padahal jabatan di dalam Gereja sebagai salah satu contoh sejatinya adalah sebuah penderitaan dan pengorbanan demi kebaikan serta keselamatan sesama.
Poin ketiga: meluruskan arah. Yesus tidak menyalahkan ambisi maupun kerinduan mereka untuk menjadi yang terdekat, melainkan menempatkan kualitas jabatan itu ke dalam konteks pelayanan.
Kehormatan sejati bukanlah soal di deretan kursi mana seseorang duduk—apakah di depan atau di belakang—melainkan bagaimana seseorang itu duduk, yakni dengan mengambil posisi sebagai budak atau pelayan yang tulus.
Sebagaimana Yesus merelakan diri menderita, disiksa, dihina, dan wafat di kayu salib, Allah Bapa kemudian membangkitkan serta menganugerahkan kemuliaan sejati kepada-Nya karena kesetiaan-Nya sebagai hamba.
Romo A. Joko Purwanto, Pr (Puncta, Gereja St. Yohanes Rasul, Wonogiri):
Intisari Renungan:
Menolak godaan ambisi kekuasaan yang menghalalkan segala cara seperti Sengkuni, kita dipanggil untuk meneladani Kristus dengan siap menjadi pelayan yang tulus dan mengabdi bagi kesejahteraan sesama.
Renungan:
Pesta Santo Yakobus Rasul mengingatkan kita akan bahaya godaan kekuasaan dan ambisi duniawi yang kerap membutakan mata, sebagaimana digambarkan dalam kisah kelam Sengkuni dan Duryudana yang menghalalkan segala cara demi tahta.
Sikap gila kuasa ini juga tampak pada ambisi insani—seperti permohonan ibu anak-anak Zebedeus—yang sering kali memandang jabatan sebagai sarana untuk memperkaya diri dan menindas rakyat dengan tangan besi.
Yesus dengan tegas meluruskan pola pikir tersebut dengan menyatakan bahwa kebesaran sejati bukanlah soal berkuasa, melainkan kerelaan untuk menjadi pelayan dan hamba bagi sesama.
Teladan Santo Yakobus bersama Sang Guru membimbing kita untuk bertransformasi dari pengejar kedudukan egois menjadi pelayan yang tulus demi mengabdi bagi masyarakat.
AC Eko Wahyono (Lectio Divina, Gereja St. Maria Tak Bernoda, Jember):
Intisari Renungan:
Kemuliaan dalam Kerajaan Allah dicapai bukan melalui kekuasaan atau ambisi duniawi, melainkan melalui kerendahan hati untuk melayani sesama dan kesediaan memikul cawan pengorbanan demi Kristus.
Renungan:
Mengikuti jalan Tuhan menuntut kita untuk meninggalkan cara berpikir dunia yang mengagungkan kedudukan, sebab ukuran kebesaran di hadapan Allah diukur dari kerelaan menjadi pelayan bagi sesama.
Teladan Santo Yakobus Rasul menegaskan bahwa cawan penderitaan dan pengorbanan yang disatukan dengan Kristus bukanlah akhir, melainkan jalan sejati menuju kemenangan dan kemuliaan ilahi (Per crucem ad gloriam).
Sebagaimana ditegaskan dalam semangat sicut Filius hominis non venit ministrari sed ministrare et dare animam suam redemptionem pro multis, hidup seorang murid Kristus dipanggil untuk memberikan diri sepenuhnya dalam kasih yang rela berkorban.
Dengan merendahkan diri dan melayani tanpa pamrih, kita mempersembahkan hidup kita seturut kehendak-Nya (fiat voluntas tua) agar rahmat keselamatan terpancar luas bagi banyak orang.
TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING
Romo Danang Kuncoro, Pr (Mutiara Batin, Gereja Santa Maria Bunda Pembantu Abadi, Pamanukan, Subang):
Intisari Renungan:
Kesiapsediaan hidup di jalan Tuhan menuntut keberanian untuk rela menderita demi nama-Nya, mengasihi sesama, serta tekun berbuat adil bersama keluarga dalam kehangatan kasih dan kesetiaan Allah.
Renungan:
Berjalan di jalan Tuhan berarti siap sedia merangkul komitmen sejati yang memungkin kita juga rela menderita demi nama-Nya di tengah dinamika kehidupan.
Allah yang adalah Kasih dan Kesetiaan senantiasa mengasihi hamba-hamba-Nya yang berani belajar mengasihi sesama dan tekun berbuat adil.
Mengasihi dan tetap setia bersama keluarga di setiap langkah perjalanan hidup merupakan wujud nyata dari sukacita sejati yang dianugerahkan Tuhan.
Melalui ketulusan hidup berkeluarga dalam kasih dan keadilan, kita merefleksikan kehadiran Allah yang memimpin setiap langkah menuju terang-Nya.
Romo Hans Wijaya, Pr (Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, Nusa Dua, Denpasar):
Intisari Renungan:
Kemuliaan sejati tidak ditemukan dalam ambisi mengejar kedudukan duniawi, melainkan lahir dari kesediaan untuk menjadi pelayan yang merendahkan diri dan menyerahkan hidup bagi sesama.
Renungan:
Pesta Santo Yakobus mengingatkan kita bahwa panggilan menjadi murid bukanlah jalan menuju kehormatan duniawi, melainkan jalan pengorbanan di mana kemuliaan sejati lahir dari kesediaan melayani bersama Kristus.
Sebagai bejana tanah liat yang rapuh, kerentanan dan kelemahan kita bukanlah alasan untuk mundur, melainkan wadah di mana kuasa Allah dan rahmat-Nya bekerja paling kuat.
Dengan meneladani Santo Yakobus yang rela menderita dan menjadi martir, kita dipanggil untuk meninggalkan pencarian gengsi serta menyerahkan hidup sepenuhnya demi Injil.
Hari ini kita diajak untuk melayani dengan rendah hati, menerima kelemahan sebagai ruang karya Allah, dan tetap setia dalam tugas-tugas kecil yang membentuk hati yang siap bagi kemuliaan-Nya.
Romo Y. Gunawan, Pr (Percik Firmam, Formator Tahun Rohani Keuskupan Agung Semarang, Bumi Jangli, Karangpanas):
Intisari Renungan:
Totalitas mengikuti Yesus menuntut kita untuk melampaui segala ambisi duniawi, serta berani menyerahkan hidup secara utuh melalui jalan pelayanan, pengorbanan, dan kesetiaan mutlak kepada-Nya.
Renungan:
Pesta Santo Yakobus Rasul membuka mata kita pada luhurnya kasih serta pengorbanan orang tua, seperti ketulusan Ibu Salome yang senantiasa mendoakan dan mempersembahkan anak-anaknya agar menemukan kebahagiaan sejati di dalam Tuhan.
Di balik permohonan manusiawi akan kedudukan terhormat, Yesus membimbing kita untuk mengalihkan orientasi hidup dari ambisi prestise duniawi menuju kesiapan meminum cawan penderitaan demi kemuliaan ilahi.
Perjalanan hidup Santo Yakobus menegaskan bahwa totalitas iman tidak berhenti pada angan-angan, melainkan diwujudkan secara nyata melalui keberanian mewartakan Injil hingga tuntas dan kesetiaan memegang teguh komitmen hingga menjadi martir pertama di antara para rasul.
Refleksi mendalam hari ini mengetuk batin kita untuk mengenang kembali jasa serta curahan kasih ibu yang membentuk kita, merenungkan langkah nyata untuk berbakti dan membahagiakannya, serta mengevaluasi secara jujur seberapa total kita mengikuti jejak Sang Guru di tengah pelbagai tantangan zaman ini.
Romo Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman, Katedral Kristus Raja, Purwokerto):
Intisari Renungan:
Kepemimpinan sejati menuntut kerendahan hati yang radikal melalui kesiapan memikul salib, mengutamakan sesama, serta melayani dengan kasih murni di tengah dunia digital yang serba instan.
Renungan:
Pemimpin Kristiani yang sejati dipanggil untuk meneladani Kristus dengan siap memikul salib dan memberikan diri secara total demi kepentingan sesama, bukan demi pencapaian atau pengakuan pribadi.
Di tengah derasnya arus dunia digital dan kehidupan yang serba instan, kita diajak untuk menata rasa dan terus bertanya: apakah kita ingin tampil besar atau sungguh-sungguh menjadi besar di mata Tuhan melalui ketulusan hati?
Filosofi kepemimpinan Jawa— Mangku (ngemong dan merawat dengan penuh kasih), Nylondohi (merendah serta menyapa lebih dulu untuk berdamai), dan Ndlosori (hidup dalam kesederhanaan)—menjadi panduan nyata untuk menghadirkan kasih Allah yang merangkul.
Melalui pembaharuan ini, kita senantiasa diingatkan untuk terus melayani dengan kelembutan, kerendahan hati, dan cinta kasih yang tulus di mana pun kita diutus.
KATEKISMUS GEREJA KATOLIK (KGK)
Katekese Katolik (KGK) sebagai dasar untuk renungan hari ini adalah:
KGK 618:
Setiap orang beriman dipanggil untuk memikul salib mereka setiap hari dan mengambil bagian dalam misteri penderitaan Kristus, karena tidak ada jalan lain menuju keselamatan selain jalan salib.KGK 2028:
Peranan rahmat Allah dan kebebasan manusia terjalin erat dalam kehidupan moral, di mana manusia dipanggil untuk bekerja sama dengan rahmat ilahi agar menghasilkan buah-buah kebaikan yang sejati.
MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA
Nata Raga:
Menjaga kedisiplinan dan kerapuhan diri sebagai bejana tanah liat dengan siap sedia memikul salib setiap hari, tekun berbuat adil, serta merawat kesehatan tubuh agar siap menderita demi nama Tuhan.
Nata Pikir: Mengarahkan akal budi untuk memahami bahwa ukuran Allah berbeda dari dunia, sehingga berbagai kesulitan, penderitaan, dan salib kehidupan dipandang bukan sebagai kehancuran, melainkan jalan pemurnian serta kemenangan ilahi.
Nata Rasa:
Merawat ketulusan hati bersama keluarga dan sesama dalam kasih serta kesetiaan, mengubah air mata penyesabaran dan pergumulan menjadi sorak-sorai sukacita melalui pelayanan yang disertai pengorbanan.
NIAT KONGKRET:
Nata Raga:
Hari ini saya akan melakukan satu tindakan pelayanan fisik bagi anggota keluarga tanpa mengeluh dan dengan kerendahan hati.
Nata Pikir:
Hari ini saya akan melatih pikiran untuk memandang setiap kesulitan atau hambatan kecil sebagai kesempatan untuk bersandar penuh kepada Tuhan.
Nata Rasa:
Hari ini saya akan memilih untuk merespons situasi yang tidak menyenangkan dengan kesabaran, serta membagikan satu kata penguatan atau senyuman kasih kepada sesama.
LAGU ROHANI PENGANTAR DOA
Lagu atau Musik Instrumentalia yang hening dan teduh
DOA HENING:
Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.
Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.
PERUTUSAN
Per crucem ad gloriam ambula fideliter. Christum in humilitate et caritate sequere. Aliis servire ne desinas. In Domino victoriam invenies.
Berjalanlah dengan setia melalui jalan salib menuju kemuliaan. Ikutilah Kristus dalam kerendahan hati dan kasih. Jangan pernah berhenti melayani sesama. Di dalam Tuhan engkau akan menemukan kemenangan sejati.
DOA PENUTUP
Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah memanggil kami untuk hidup sebagai bejana tanah liat yang siap memikul salib demi kemuliaan-Mu. Ajarilah kami untuk senantiasa berjalan di jalan pelayanan dan pengorbanan dengan hati yang taat serta penuh kesetiaan. Kuatkanlah kami agar tidak mencari kehormatan bagi diri sendiri, melainkan membagikan kasih dan keadilan bersama keluarga serta sesama. Bimbinglah langkah kami hari ini agar setiap pergumulan dan air mata hidup ini Engkau ubah menjadi sorak-sorai kemenangan ilahi.
Amin.
Berkah Dalem, Salam Takzim.











