CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words – New Version
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh N.P. Basuki Ismael
Peringatan: Santo Andre de Soveral SJ; Beato Bartolomeus dos Martires.
Pekan Biasa XV, Kamis 16 Juli 2026, Warna Liturgi: Hijau
DOMINUS NUMQUAM DORMIT – TUHAN TIDAK PERNAH TIDUR
PENGANTAR
Tahun 2021 menjadi masa yang sangat berat bagi sahabat saya, Pak Irianto. Setelah puluhan tahun mendedikasikan hidupnya bekerja, ia harus menerima kenyataan pahit terkena PHK. Di saat yang sama, ia telah berkomitmen untuk membantu renovasi sebuah panti asuhan dengan membuka tabungan cadangannya. Namun, ketika buku tabungan itu diperiksa, ia terkejut karena hampir seluruh dananya telah habis tak berbekas. Dengan wajah penuh penyesalan, istrinya Ivon mengaku bahwa uang tersebut telah digunakan untuk mengikuti investasi yang ditawarkan teman-teman arisannya. Investasi itu ternyata bodong dan seluruh tabungan masa depan keluarga lenyap seketika. Beban Pak Irianto menjadi berlipat ganda: kehilangan pekerjaan utama sekaligus kehilangan seluruh tabungan keluarga.
Malam itu, suasana rumah dipenuhi keheningan yang mencekam dan menyakitkan. Istrinya menangis tersedu-sedu dan berkali-kali meminta maaf karena merasa telah memperberat penderitaan keluarga. Pak Irianto tentu sangat terpukul, tetapi ia tidak membalas kesalahan itu dengan luapan kemarahan. Dengan suara pelan namun sarat keteguhan iman, ia berkata, “Gusti mboten sare. Tuhan tidak pernah tidur.” Mereka kemudian berlutut, berdoa bersama, dan memohon agar Tuhan menunjukkan jalan terbaik bagi masa depan mereka. Pak Irianto memilih untuk mengampuni secara total daripada menyimpan dendam dan kepahitan. Ia percaya bahwa kehilangan harta duniawi tidak boleh membuat keluarganya kehilangan jangkar iman.
Keesokan harinya, Pak Irianto menceritakan keadaan darurat itu kepada putra tunggalnya yang telah ditahbiskan menjadi seorang imam. Tanpa diduga, Romo tersebut menyampaikan keadaan sang ayah kepada pihak pimpinan panti asuhan. Proyek renovasi yang semula hendak diserahkan kepada kontraktor lain akhirnya dipercayakan kepada Pak Irianto sebagai mandor utama. Setelah pekerjaan itu selesai dengan sangat baik, satu demi satu proyek kecil mulai berdatangan dari sekolah, rumah sakit, dan beberapa keluarga. Penghasilannya memang belum sebesar dahulu, tetapi lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga dengan sangat layak. Pak Irianto semakin yakin bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang tetap berharap penuh kepada-Nya.
Kisah Pak Irianto ini mengingatkan kita pada kekayaan Sabda Tuhan hari ini. Nabi Yesaya mengajak umat untuk tetap teguh berharap kepada Allah di tengah malam gelap kesulitan. Pemazmur bersaksi dengan lantang bahwa Tuhan selalu mendengar jeritan orang yang tertindas. Dan Yesus sendiri mengundang semua yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang serta beristirahat pada-Nya. Tidak semua doa dijawab dengan mukjizat yang dahsyat seketika. Sering kali Tuhan lebih dahulu mengubah hati dan cara pandang kita sebelum Dia mengubah keadaan di sekitar kita. Ketika hati dipenuhi iman, pengampunan, dan pengharapan, Tuhan membuka jalan yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan.
PESAN UTAMA
Nabi Yesaya menegaskan bahwa jalan orang benar menjadi lurus karena ia tetap menaruh harapan kepada Tuhan, bahkan ketika hidup berada dalam masa penantian dan kesesakan. Mazmur meneguhkan iman bahwa Tuhan memandang dari surga, mendengar keluhan umat-Nya, dan tidak pernah menutup telinga terhadap jeritan orang yang berharap kepada-Nya. Dalam Injil, Yesus mengundang semua yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya, sebab hanya Dialah yang mampu memberi kelegaan dan ketenangan sejati. Kuk yang diberikan Kristus bukanlah beban yang menindas, melainkan jalan kasih yang menguatkan langkah orang beriman. Kisah Pak Irianto memperlihatkan bahwa ketika manusia memilih untuk mengampuni, tetap berdoa, dan tidak kehilangan harapan, Tuhan bekerja dengan cara-cara yang sering tidak terduga. Allah mungkin tidak langsung menghilangkan persoalan kita, tetapi Ia selalu memberikan kekuatan untuk menjalaninya dan membuka pintu-pintu baru pada waktu-Nya. Maka, jangan pernah menyerah ketika hidup terasa berat, sebab Dominus Numquam Dormit —Tuhan tidak pernah tidur; Dia selalu bekerja bagi mereka yang tetap percaya dan berharap kepada-Nya.
DEVOSI
Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Santo Andre de Soveral SJ; Beato Bartolomeus dos Martires.
Santo Andre de Soveral SJ adalah imam Yesuit yang gugur sebagai martir pertama di Brasil demi membela iman dan keselamatan kawanannya. Beato Bartolomeus dos Martires adalah Uskup Agung Dominikan yang mendedikasikan hidupnya untuk pembaruan Gereja serta melayani kaum miskin dengan radikal.
PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN
Bacaan Pertama
(Kitab Yesaya 26: 7-9.12.16-19).
Intisari:
Pujian kepada Tuhan benar-benar berkuasa dan dinantikan karena memberi jaminan keselamatan bagi orang-orang benar dan penghakiman untuk dunia.
Romo Willem Pau, Pr (Gereja St. Franciscus Saverius, Kebondalem, Semarang):
Kalimat Kunci Renungan:
Segala keberhasilan hidup merupakan anugerah Allah yang menuntut sikap andap asor dan harapan yang teguh.
Nabi Yesaya mengajarkan kerendahan batin untuk mengakui bahwa setiap karya baik kita adalah milik Tuhan sepenuhnya. Kesadaran ini membebaskan kita dari keangkuhan diri dan melatih kita untuk senantiasa mengandalkan bimbingan ilahi. Nubuat tentang kebangkitan badan memberikan kepastian iman bahwa kematian raga bukanlah akhir dari peziarahan manusia. Santo Agustinus berkata bahwa berharap memiliki dua hal indah, yaitu kemarahan terhadap keadaan yang ada dan keberanian untuk mengubahnya. Oleh karena itu, mari kita terus berserah dalam doa tanpa pernah putus asa di tengah badai kehidupan. Harapan Kristiani sejati tidak bergantung pada keadaan dunia melainkan pada janji Allah yang selalu setia. Semoga kita selalu mampu menjadi pembawa terang dan harapan bagi sesama yang sedang mengalami kesulitan.
TRANSITUS:
(Mazmur 102: 13-14ab.15.16-18.19-21).
Mazmur Tanggapan:
Tuhan memandang ke bumi dari Surga.
Romo Mike Schmitz (The Bible in a Year, Pelayanan Kepemudaan Keuskupan Duluth dan Pastor Mahasiswa di Universitas Minnesota Duluth):
Kalimat Kunci Renungan:
Di tengah kerapuhan raga yang fana, batin kita dipulihkan dengan memandang keagungan Tuhan yang kekal.
Mazmur 102 memandu kita untuk berani mengungkapkan kepedihan raga yang letih di hadapan Allah. Romo Mike mengingatkan bahwa doa yang jujur sering kali dimulai dari ratapan batin yang terdalam. Namun, pemazmur segera mengalihkan pandangannya dari kesedihan diri menuju takhta Allah yang tidak pernah berubah. Pengharapan akan kebangkitan yang dinubuatkan Yesaya memperoleh kekuatannya karena sifat Allah yang setia selamanya. Kristus dalam Injil menjawab jeritan kaum tertindas ini dengan menawarkan kelegaan sejati di dalam pelukan-Nya. Ketika raga dan situasi kita hancur, batin kita tetap aman karena bersandar pada kekekalan kasih-Nya. Mari kita bawa segala beban keputusasaan kita dan biarkan pandangan mata surga memulihkan jiwa kita.
Injil Suci
(Matius 11: 28-30)
Intisari:
Tuhan memiliki kuasa mutlak atas hidup manusia. Saat kesombongan membutuhkan hati, Dia mampu melenyapkan segala yang kita banggakan dalam sekejap mata.
Laurentius Elyas Nugraha (Lumen Mundi, Gereja Santo Athanasius Agung, Karangpanas, Semarang):
Kalimat Kunci Renungan: Kelemahlembutan dan kerendahan batin merupakan kekuatan rohani sejati yang membebaskan jiwa dari beban ego dunia.
Yesus mengajak kita untuk melepaskan keangkuhan hidup demi mengenakan kuk kelemahlembutan yang memerdekakan batin. Melalui kerendahan hati-Nya, kita diajar untuk meruntuhkan hasrat mendominasi demi menemukan ketenangan hidup sejati. Santo Fransiskus de Sales mengajarkan bahwa kelemahlembutan adalah bunga kasih yang matang di dalam jiwa. Lebih lanjut, Santo Bonaventura menegaskan bahwa jiwa yang rendah hati lebih mudah menerima terang Allah daripada kesombongan. Dengan bersandar penuh pada Hati Kristus, raga yang letih lesu dimurnikan kembali dari belenggu kecemasan. Pembentukan batin yang bersahaja ini memampukan kita untuk senantiasa memancarkan kehangatan kasih di tengah dunia. Mari kita singkirkan ego pribadi agar keselamatan yang dijanjikan-Nya bersinar nyata melalui tindakan nyata kita.
Romo A. Joko Purwanto, Pr (Puncta, Gereja St. Yohanes Rasul, Wonogiri):
Kalimat Kunci Renungan: Keutamaan jiwa yang sejati dinilai dari pancaran kelembutan hati dan semangat andap asor.
Melalui film The Karate Kid, kita belajar bagaimana kesabaran Tuan Han dalam melatih Dre Parker menanamkan disiplin batin yang mendalam. Penguasaan diri dan kedewasaan hidup ini membuktikan bahwa semakin tinggi tingkat keilmuan seseorang, ia akan semakin andap asor. Dengan kelemahlembutan dan kerendahan batin yang diajarkan gurunya, Dre akhirnya mampu menumbangkan kesombongan Cheng yang kasar. Karakter mulia ini serupa dengan tanaman padi yang kian berisi bulir-bulirnya justru akan kian merunduk ke bawah. Yesus pun mengundang kita untuk memikul kuk-Nya yang ringan dan belajar langsung dari kelembutan Hati-Nya yang merangkul kelemahan raga kita. Ingatlah sebuah pantun indah: “Tong kosong berbunyi nyaring, air beriak tanda tak dalam; orang sombong merasa sok penting, wajahnya manis tapi hatinya kejam.” Mari kita membalas segala bentuk keangkuhan dunia ini dengan terus menghidupi keheningan kasih dan welas asih sejati kepada sesama.
AC Eko Wahyono (Lectio Divina, Gereja St. Maria Tak Bernoda, Jember):
Kalimat Kunci Renungan: Penyatuan hidup bersama kehendak Kristus mengubah beban dosa menjadi kelegaan batin yang memulihkan.
Nabi Yesaya menyingkapkan janji eskatologis bahwa embun Tuhan ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan arwah kembali dari kuasa maut. Kehidupan batin yang dipulihkan ini mewujud saat kita menyambut undangan Yesus: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati.” Melalui perumpamaan kuk ganda ini, Kristus tidak membiarkan kita memikul beban raga sendirian melainkan berjalan beriringan bersama-Nya. Menggemakan kebenaran ini, katekese dari Santo Yohanes Chrysostomus mengajak kita untuk dengan segenap jiwa memanggul kuk pembebasan tersebut. Langkah ini akan memerdekakan kita dari belenggu ketamakan serta kegelisahan hidup yang ditimbulkan oleh kesombongan ego duniawi. Dengan bersandar penuh pada persatuan kasih-Nya, jiwa kita yang semula letih lesu akan menemukan pelabuhan ketenangan yang sejati. Mari kita singkirkan pemberontakan diri dan membiarkan rahmat Allah menuntun peziarahan iman kita menuju kemenangan kekal.
Ign. Harry Respatyo (Gereja Bunda Maria Ratu, Sukatani, Depok) / Paulus Krissantono (Gereja St. Mikael Kranji) [RAGI]:
Kalimat Kunci Renungan: Menemukan kedamaian di mezbah jiwa merupakan buah dari kerendahan hati untuk bersandar penuh pada Kristus.
Kehidupan rohani mengajak kita memasuki mezbah jiwa yang sunyi guna menemukan kedamaian sejati bersama Allah. Di ruang batin yang paling dalam ini, rintihan dan kerinduan jiwa kita dijawab sepenuhnya oleh kesetiaan kasih Allah. Pertemuan magis tersebut membuahkan refleksi mendalam untuk mengenali segala letih lesu, kekhawatiran raga, serta kecemasan akan masa depan. Menerima ajakan Yesus berarti belajar untuk istahat atau pensiun dari segala bentuk ambisi duniawi yang kerap membelenggu batin. Dengan memikul kuk ganda yang dipasang-Nya, kita diajak untuk berjalan beriringan bersama Kristus yang menopang kelemahan hidup kita. Penyandaran batin yang bersahaja ini menyembuhkan raga dari keputusasaan dan menggantinya dengan kelegaan jiwa yang baru. Melalui teladan Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, mari kita senantiasa memelihara keheningan batin demi mendengarkan sabda-Nya.
Romo Suitbertus Maryanto, O.Carm (Gereja Maria Bunda Karmel, Paroki Tomang, Jakarta Barat):
Kalimat Kunci Renungan: Meletakkan segala kecemasan hidup ke dalam pangkuan Yesus membebaskan jiwa dari beban keletihan yang sia-sia.
Kisah ibu tua pemikul mangga di atas bak truk mengingatkan kita akan kebiasaan memikul beban raga sendirian. Sering kali kita sudah ikut dalam peziarahan bersama Yesus, namun batin kita tetap enggan melepaskan kekhawatiran hidup. Kita pun diundang untuk berani mengakui status letih lesu saat keadaan batin terasa lecek dan babak belur. Mengikuti Yesus berarti bersedia berbagi beban melalui kuk ganda, di mana Kristus sendiri yang menopang bagian terberatnya. Kedekatan yang intim bersama-Nya mengalirkan kedamaian sejati, laksana kehadiran Kristus yang meredakan badai di dalam perahu kehidupan. Oleh karena itu, mari kita buang segala gengsi di hadapan Tuhan dan berani mencurahkan seluruh isi hati kita. Melalui keheningan doa pribadi maupun adorasi, jiwa yang lelah akan selalu menemukan pemulihan serta kelegaan batin yang sejati.
TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING
Romo Y. Gunawan, Pr (Percik Firman, Formator Tahun Orientasi Rohani Keuskupan Agung Semarang, Bumi Jangli Semarang):
Kalimat Kunci Renungan: Keberanian untuk datang dan bersatu bersama Kristus membuahkan kelegaan serta pertolongan sejati dalam memikul kuk kehidupan.
Tuhan Yesus memberikan undangan terbuka dan penuh kasih kepada siapa saja yang tengah letih lesu serta berbeban berat untuk datang bersimpuh pada-Nya. Datang menghadap hadirat-Nya mengisyaratkan ketulusan hati kita untuk memohon kekuatan dan rahmat ilahi demi menyatukan jiwa kita secara mistik dengan Kristus (Manunggaling Kawula Gusti). Lebih dari sekadar pelarian batin, Kristus juga mengajak kita untuk berani memikul kuk perjuangan hidup yang dipasangkan bersama-Nya. Layaknya kuk ganda yang menyatukan dua lembu bajak di ladang, kita tidak pernah ditinggalkan untuk memikul pergumulan hidup duniawi ini sendirian. Melalui ketaatan iman untuk menghidupi perintah-perintah-Nya, pertolongan kasih Allah yang dahulu nyata bagi bangsa pilihan-Nya kini mengalir limpah memulihkan hidup kita. Mari kita lepaskan segala keengganan ego raga dan dengan penuh penyerahan bersedia memanggul kuk kasih-Nya yang menenangkan.
Romo Danang Kuncoro, Pr (Mutiara Batin, Gereja Santa Maria Bunda Pembantu Abadi, Pamanukan, Subang):
Kalimat Kunci Renungan: Sikap bersyukur dan berserah penuh kepada Allah dalam doa mendatangkan keteguhan batin di tengah beban hidup.
Seberat apa pun beban hidup raga yang kita panggul, batin kita diajak untuk tetap belajar bersyukur. Kita perlu menanamkan iman percaya bahwa Tuhan senantiasa menjadi pusat kekuatan serta pengharapan kita yang sejati. Untuk menerima rahmat itu, kita hanya diminta untuk datang mendekat kepada-Nya melalui ketekunan doa-doa kita. Bersamaan dengan itu, mari kita terus berupaya melakukan segala kebaikan sejauh kemampuan raga kita masing-masing. Melalui penyerahan batin yang tulus, Dia berjanji akan senantiasa mengalirkan kelegaan dan sukacita ke dalam jiwa. Tuhan juga akan mengaruniakan penghiburan serta keteguhan batin yang kokoh di tengah badai kehidupan dunia. Kepasrahan iman yang mendalam ini menyadarkan kita kembali bahwa diri kita sungguh amat dicintai oleh-Nya.
Romo Hans Wijaya, Pr (Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, Nusa Dua, Denpasar):
Kalimat Kunci Renungan: Penyerahan beban hidup ke dalam dekapan Kristus membuahkan kelegaan sejati bagi jiwa yang lelah.
Yesus menyampaikan undangan penuh kasih bagi setiap jiwa yang sedang memikul keletihan raga dan beban hidup yang berat. Melalui sapaan hangat-Nya, kita diajak untuk mencicipi kelegaan sejati yang tidak dapat ditawarkan oleh hiburan semu duniawi. Datang kepada Kristus berarti membawa segala beban peziarahan raga kita dengan penuh kepasrahan di dalam doa dan iman. Bersama dengan itu, mari kita tekun belajar dari Yesus dengan meneladani kelembutan dan kerendahan hati-Nya dalam relasi sehari-hari. Dengan mengenakan kuk kasih-Nya, peziarahan iman kita tidak akan pernah terasa menindas melainkan sungguh memerdekakan batin. Kita harus senantiasa percaya pada janji-Nya dan meyakini bahwa bersama Kristus beban hidup kita akan menjadi ringan. Mari kita letakkan seluruh letih lesu ini agar damai sejahtera Allah senantiasa menopang serta memulihkan batin kita.
Romo Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman, Katedral Kristus Raja, Purwokerto):
Kalimat Kunci Renungan: Menemukan kelegaan sejati merupakan buah dari kerendahan hati untuk melepaskan beban ego batin di hadapan Kristus.
Sejatinya, beban terberat yang kerap kali kita panggul bersumber dari keangkuhan ego serta keengganan batin kita untuk mengampuni. Yesus pun menyapa keletihan peziarahan raga kita melalui undangan hangat-Nya untuk datang dan belajar dari kelembutan hati-Nya. Sikap bersahaja ini memampukan kita melayani sesama dengan tulus, bahkan sekadar meluangkan waktu demi mendengarkan keluh kesah mereka. Belajar dari teladan mulia Bunda Teresa, kekuatan pelayanan yang penuh sukacita senantiasa kita timba melalui keheningan doa-doa kita. Di sinilah kita diajak untuk menyadari kembali bahwa nilai hidup sejati kita tidak pernah ditentukan oleh harta duniawi ataupun jabatan melainkan oleh kasih Allah yang melimpah. Keberanian sejati adalah ketika batin kita merasa takut, tetapi kaki kita tetap melangkah maju dalam terang-Nya yang menenangkan. Mari kita serahkan segala kecemasan raga agar kedamaian sejati yang dijanjikan-Nya senantiasa meraja di dalam mezbah jiwa kita.
KATEKESE GEREJA KATOLIK
“Kuk Kristus” dan Makna Berserah diri kepada Allah (KGK 1654, 2013-2015):
Gereja Katolik mengajarkan bahwa kuk yang dipasang Kristus bukanlah suatu paksaan yang merenggut kebebasan manusia, melainkan sebuah hukum kasih (Hukum Baru) yang memerdekakan jiwa dari belenggu dosa.
Dalam memikul kuk tersebut, rahmat Roh Kudus senantiasa dicurahkan untuk menopang raga manusia yang rapuh, sehingga beban penderitaan duniawi diubah menjadi sarana pengudusan batin. Penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah dalam iman (keselarasan hidup aktif dan kontemplatif) memampukan kita menyatukan salib harian kita dengan Salib Kristus demi keselamatan dunia.
LAGU ROHANI
Musik Instrumental: “Nyamanlah Jiwaku” (It Is Well with My _Soul_ / Horatio Spafford)
Pembaca diundang untuk mendengarkan atau menghayati alunan melodi instrumen ini dalam keheningan batin yang khidmat. Musik ini mengingatkan kita bahwa di tengah badai kehidupan yang menghancurkan raga sekalipun, batin kita tetap aman dan nyaman ketika bersandar penuh pada pemulihan Kristus.
NIAT KONKRET
Sebagai wujud nyata buah renungan hari ini, saya berkomitmen untuk:
- Menyediakan waktu hening pribadi selama 5 menit di penghujung hari untuk meletakkan “beban lecek” batin dan kecemasan hidup langsung di hadirat-Nya tanpa gengsi.
- Membiasakan diri memilah dan menahan ucapan (“saring sebelum sharing”) saat batin sedang letih lesu, agar kemarahan atau kelelahan diri tidak terlontar sebagai beban baru bagi orang di sekitar saya.
- Melatih sikap andap asor dengan mengampuni dan mendoakan secara tulus sesama yang pernah mengecewakan, demi melepaskan beban berat dendam dari mezbah jiwa.
LATIHAN SPIRITUAL: NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA
Nata Raga:
Duduklah dengan posisi tegak namun rileks. Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, rasakan aliran udara menghidupkan raga, lalu hembuskan perlahan melalui mulut. Sadari setiap ketegangan di pundak dan tubuh Anda, lalu lepaskan secara sadar bersama embusan napas sebagai simbol penyerahan raga yang letih kepada Sang Pencipta.
Nata Pikir:
Heningkan pikiran dari keriuhan rencana dan kecemasan masa depan. Pusatkan fokus pikiran pada satu kebenaran mutlak: “Dominus Numquam Dormit — Tuhan tidak pernah tidur.” Biarkan pikiran yang lelah ini beristirahat dan bersandar hanya pada kebijaksanaan penyelenggaraan ilahi-Nya.
Nata Rasa:
Masuklah ke dalam ruang batin yang paling sunyi. Akuilah dengan jujur segala luka, kekecewaan, dan “batin lecek” di hadapan-Nya. Rasakan kehangatan kasih Kristus yang memeluk dan memulihkan batin Anda, mengubah kepahitan menjadi kedamaian sejati yang menyejukkan.
DOA HENING
Pembaca Capita Selecta diundang menetap dalam keheningan selama 1–2 menit, memejamkan mata, dan menyatukan napas batin dengan sapaan Kristus yang memulihkan.
Doa Pasrah (Santo Ignatius Loyola): “Ambillah, ya Tuhan, dan terimalah seluruh kemerdekaanku, ingatanku, pikiranku, dan seluruh kehendakku. Segala sesuatu yang ada padaku adalah anugerah-Mu; aku mengembalikannya kepada-Mu untuk dipimpin oleh kehendak-Mu. Berikanlah aku cinta dan rahmat-Mu, karena itu sudah cukup bagiku. Amin.”
PERUTUSAN
Marilah kita kembali ke tengah keluarga, pekerjaan, dan lingkungan sosial kita dengan membawa beban yang telah diringankan oleh Kristus. Kita diutus untuk tidak lagi memikul kecemasan hidup sendirian, melainkan menjadi pembawa kelegaan, kelembutan, serta andap asor bagi sesama yang sedang letih lesu. Jadilah “truk kasih” yang siap menampung dan meringankan beban sesama lewat tindakan welas asih yang nyata.
PENUTUP
(Doa Bapa Kami, Salam Maria, dan Kemuliaan…)
Semoga Allah yang Mahakuasa, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, senantiasa melimpahkan berkat, ketenangan batin, dan kelegaan jiwa bagi kita semua di sepanjang peziarahan iman ini. Amin.
Berkah Dalem, Salam takzim.











