Oleh : Bruno Giussani yang merenungkan Pesan Paus Leo XIV untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60. Bruno Giussani adalah penulis buku “Our Minds Under Siege. How to Avoid Being Manipulated in the Age of Artificial Intelligence” (Scheidegger & Spiess, akan terbit Juni 2026)
Berapa banyak algoritma yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita? Berapa banyak sensor? Berapa banyak layar?
Berinteraksi dengan layar dan berbagai antarmuka digital telah menjadi aktivitas utama bagi hampir semua dari kita. Namun, berapa banyak dari interaksi tersebut benar-benar merupakan hasil pilihan kita? Lebih dari sekadar kebiasaan, hal ini kini menjadi suatu kondisi. Masyarakat kita semakin terstruktur di sekitar algoritma dan jaringan digital yang membentuk cara dan dinamika kehidupan.
Hal ini tidak terjadi melalui perdebatan publik, keputusan politik, atau proses demokratis, melainkan sebagai konsekuensi tidak langsung—meskipun bukan kebetulan—dari mekanisme komersial dan adopsi teknologi yang sering kali tanpa kritik dan tergesa-gesa, yang pada akhirnya mendefinisikan ulang ranah sosial, ekonomi, dan budaya.
“Algoritmisasi” kehidupan ini memunculkan pertanyaan mendasar: siapa yang mengendalikan sistem-sistem ini? Nilai dan logika apa yang mereka bawa, dan mana yang mereka singkirkan? Apa dampaknya terhadap otonomi kita sebagai manusia? Dan apakah kita masih mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, atau kita mulai terbiasa hidup di dunia di mana jawabannya sudah tertanam dalam kode komputer yang mengelilingi kita?
Dalam pesannya untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 (17 Mei), Paus Leo XIV menyatakan bahwa tantangan kita “bukanlah teknologi, melainkan antropologis.” Dengan satu kalimat sederhana ini, ia menangkap kedalaman persoalan, kegelisahan, dan tanggung jawab yang harus kita rasakan di tengah kemajuan teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan (AI).
Banyak orang masih menganggap teknologi ini sekadar alat untuk menyederhanakan dan mempercepat proses. Namun, dalam dua dekade terakhir—awalnya perlahan lalu semakin cepat—teknologi ini telah menjadi platform: arsitektur tak terlihat tempat kita beroperasi dan “hidup,” serta semakin menentukan kemampuan kita untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan profesional.
Kemunculan AI generatif beberapa tahun terakhir semakin mempercepat pergeseran ini—menggantikan logika manusia dengan logika teknologi. Kini muncul pula “agen AI”: sistem dengan tingkat otonomi lebih tinggi yang mampu menyelesaikan tugas kompleks tanpa instruksi rinci. Sementara itu, neuroteknologi yang berinteraksi langsung dengan otak manusia juga mulai terlihat di cakrawala.
Hal ini menunjukkan masa depan yang tidak terlalu jauh, di mana manusia dan entitas buatan akan hidup berdampingan, berinteraksi, dan berkembang bersama. Perkembangan ini secara bertahap mendefinisikan ulang apa yang dianggap “normal” dan dapat diterima, sekaligus membentuk lanskap moral dan etika masyarakat kita.
Algoritma pada dasarnya tidak netral. Ia dirancang untuk mengoptimalkan tujuan tertentu, sering kali ekonomi (keuntungan, keterlibatan, efisiensi, persaingan), dan kadang juga tujuan politik atau budaya. Dengan cara ini, algoritma mengubah standar tentang apa yang dianggap benar, diinginkan, atau diperlukan—bahkan mengubah “pilar-pilar dasar peradaban manusia.”
Batas antara yang dapat diterima dan tidak bergeser bukan karena pilihan sadar, melainkan karena adaptasi kita terhadap apa yang dibuat mudah, terlihat, dan bernilai oleh teknologi. Dengan demikian, masyarakat secara perlahan “diprogram ulang” oleh algoritma.
Pertanyaan utamanya adalah: siapa yang menentukan aturan dalam masyarakat baru ini? Jika dinamika sosial, ekonomi, dan bahkan etika semakin ditentukan oleh sistem otomatis yang dikendalikan oleh segelintir perusahaan besar atau pemerintah, ruang apa yang tersisa bagi pilihan individu dan kolektif?
Bagaimana keadilan, kesetaraan, dan martabat dapat dijamin jika keputusan diambil oleh mesin yang cara kerjanya tidak dipahami oleh sebagian besar manusia? Proses ini bukanlah takdir yang tak terelakkan, tetapi sesuatu yang harus dipahami, dikritisi, dan jika perlu, dilawan.
Paus menegaskan bahwa setiap manusia memiliki panggilan yang unik dan tak tergantikan, yang terbentuk dari pengalaman hidupnya dan terwujud dalam interaksi dengan orang lain. Dalam ruang komunikasi inilah kemanusiaan kita tampak dan diakui. Namun, justru di ruang ini pula mesin-mesin mulai masuk—menjadi perantara antara kita dan orang lain, bahkan antara kita dan realitas dunia.
Dalam dunia yang mengutamakan produktivitas, kecepatan, dan keuntungan, AI generatif menawarkan sesuatu yang sangat menggoda: kemampuan untuk menyerahkan tugas berpikir, belajar, menilai, menulis, dan mengambil keputusan kepada mesin.
Namun, ketergantungan ini berpotensi melemahkan kemampuan mental dan emosional kita. Semakin banyak orang mungkin akan terbiasa mengikuti sistem yang tidak pernah mengalami kehidupan nyata—tidak mengenal penderitaan maupun kebahagiaan—dan hanya mengonsumsi “pikiran yang tidak benar-benar dipikirkan.”
Seperti dikatakan penulis Prancis Georges Bernanos pada 1944, bahaya bukan terletak pada banyaknya mesin, melainkan pada semakin banyaknya orang yang, sejak kecil, hanya menginginkan apa yang bisa diberikan oleh mesin.
Karena itu, kita harus menjaga “wajah dan suara manusia,” seperti yang diingatkan Paus. Artinya, kita harus mempertahankan dimensi kemanusiaan kita yang unik dan khas.
Setiap orang memiliki pengalaman berbeda dalam berinteraksi dengan AI. Ada yang merasa diperkaya, ada pula yang merasa terguncang. Namun, sangat kecil kemungkinan AI dapat berkembang secara aman dan bermanfaat tanpa upaya bersama yang sadar.
Oleh karena itu, kita semua—baik ahli teknologi maupun pemula, pendukung maupun skeptis—memiliki tanggung jawab yang sama: menuntut teknologi yang melayani manusia dan kebenaran, bukan sebaliknya; melindungi kebebasan, kesetaraan, dan penilaian manusia; serta menyadari bahwa tidak semua hal dapat dijawab oleh algoritma, dan tidak semua yang bisa dihitung adalah benar atau baik.
Kita juga harus memastikan bahwa inovasi diukur berdasarkan martabat setiap manusia—dan tidak pernah melupakan bahwa di balik setiap algoritma, aplikasi, dan layar, selalu ada wajah dan suara sesama manusia.
Sumber : https://www.vaticannews.va/










