CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words – New Version
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh Basuki Ismael
Kamis, 25 Juni 2026, Warna Liturgi: Hijau,
Peringatan : Santa Febronia, Santo William dari Monte Vergine
Fundamentum Fidei Firmum Esse Debet – Fondasi Iman Harus Kuat
PENGANTAR
Menghitung Kekuatan yang Tidak Terlihat
Tahun 2017, arsitek senior Ibu Nova Tika memimpin rapat penting pembangunan gedung 12 lantai. Proyek besar ini sudah menyelesaikan seluruh gambar kerja, jadwal, dan perhitungan anggaran secara cermat. Sebelum membahas teknis, ia mengawali pertemuan dengan membagikan sebuah kisah arsitektur yang mendalam. Ia menceritakan bangunan megah yang tampak indah namun mengalami penurunan struktur sangat serius. Ternyata penyebab utamanya adalah fondasi bawah yang tidak diperhitungkan secara memadai sejak awal.
Lalu Ibu Nova Tika berkata bahwa bangunan runtuh mulai dari hari orang mengabaikan fondasinya. Suasana rapat seketika menjadi hening mendengar kalimat reflektif yang sangat menohok tersebut. Ia mengusulkan kajian ulang kekuatan tanah karena lokasi proyek merupakan bekas lahan rawa. Sebagian peserta khawatir pemeriksaan ulang akan memperlama waktu dan membengkakkan biaya pembangunan gedung. Namun Ibu Nova Tika tetap teguh pada pendirian demi keamanan jangka panjang seluruh bangunan.
Bagi Ibu Nova Tika, kekuatan fondasi jauh lebih penting daripada sekadar kemegahan fisik bangunan. Di sinilah letak pesan kebenaran Sabda Tuhan yang kita renungkan bersama hari ini. Keruntuhan hidup manusia jarang sekali dimulai dari sebuah ledakan perkara yang besar.
Kehancuran biasanya dimulai ketika seseorang mengabaikan fondasi iman sedikit demi sedikit setiap hari. Mari kita kembali memeriksa ketahanan fondasi rohani kita di hadapan Allah sekarang.
PESAN UTAMA
Bacaan Pertama mengingatkan kita tentang konsekuensi pahit dari ketidaksetiaan rohani. Mazmur mengajak kita untuk memohon belas kasih Allah demi pemulihan jiwa kita. Injil menegaskan bahwa ketaatan sejati terletak pada pelaksanaan kehendak Bapa.
Iman tanpa perbuatan nyata adalah rumah yang rapuh di atas pasir. Kita dipanggil untuk menjadi pelaku sabda, bukan sekadar pendengar yang pasif. Maka dengarkanlah firman-Nya dan laksanakanlah itu dalam ketulusan hati.
PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN
Bacaan Pertama
(Kitab Kedua Raja-Raja 24: 8-17)
Intisari:
Yoyakim, Raja Yehuda diasingkan ke Babel bersama keluarganya. Ia dikenal sebagai raja yang muda dan jahat. Ia juga menyembah berhala dan tidak setia kepada Tuhan.
Rm. Willem Pau, Pr:
Perayaan ulang tahun ke-86 Keuskupan Agung Semarang mengajak kita untuk merenungkan kesetiaan Allah. Peristiwa pahit pembuangan bangsa Yehuda ke Babel menjadi sarana pemurnian iman umat-Nya. Meskipun manusia sering tidak setia, Tuhan senantiasa hadir dan menyertai peziarahan Gereja-Nya. Kita diajak untuk terus berjalan bersama, mendengarkan, dan menghadirkan belas kasih Kristus. Semoga sejarah panjang ini mendorong kita semakin setia menjadi saksi kasih bagi sesama.
Rm. B.S. Mardiatmadja, SJ:
Setiap anak, sejak kecil diajari untuk BERTINDAK BAGI BAPAK: bukan semau-maunya saja demi kesenangan sendiri. Dosa itu bukan sekedar berbuat apa-apa, tetapi berjalan dan melangkah TIDAK SESUAI DENGAN PENGUTUSAN ALLAH, yang bertindak sering kali bahkan bertentangan dengan arah langkah dari ketentuan Allah yang mahabijak.
Bertindak tepat adalah: melakukan tindakan yang benar, selaras dengan pesan Tuhan-baik. Mari memohon agar senantiasa mencari Kehendak Allah dan melaksanakannya, serta melangkah sesuai dengan Rencana Kebijaksanaan Bapa.
AC Eko Wahyono (Lectio Divina):
Yesus mengadili setiap orang berdasarkan ketaatan nyata pada sabda-Nya. Berseru nama Tuhan atau mengadakan mukjizat menjadi sia-sia tanpa pelaksanaan kasih sejati. Nabi palsu (false prophet)dan kemunafikan hanya meluhurkan diri sendiri serta menjauhkan jiwa dari keselamatan. Sebaliknya, pelaku firman yang setia diumpamakan seperti orang bijaksana dengan fondasi batu karang. Menjadikan Kristus landasan hidup membuat kita tetap berdiri kokoh saat badai pencobaan melanda.
TRANSITUS:
(Mazmur 79: 1-2.3-5.8.9)
Mazmur Tanggapan:
Demi kemuliaan nama-Mu, ya Tuhan, bebaskanlah kami.
Umat Allah menangis meratapi kehancuran kota suci akibat dosa mereka.
Fr. Mike Schmitz (The Bible in a Year): mengingatkan bahwa Allah mengizinkan penderitaan untuk menyadarkan kita. Pembuangan adalah konsekuensi dari pilihan kita yang menjauh dari kasih-Nya. Namun, Allah yang maharahim tidak pernah membuang umat-Nya secara permanen. Pengakuan dosa dan permohonan ampun adalah awal dari pemulihan jiwa.
Injil Suci
(Matius 7: 21-29)
Intisari:
Taat pada perintah Tuhan menjadi kunci seseorang menerima keselamatan. Yesus memberi penekanan melakukan hal-hal besar tidak cukup untuk menerima keselamatan.
Laurentius Elyas Nugraha (Lumen Mundi):
Iman Kristiani sejati tidak berhenti pada kata-kata melainkan hidup yang dibentuk Sabda Allah. Menjadikan Kristus batu karang kehidupan memberi kita kekuatan saat menghadapi berbagai badai pencobaan dunia. Sebaliknya, kehancuran Yerusalem membuktikan bahwa hidup tanpa kehendak Tuhan pasti akan mudah runtuh. Di zaman digital, kita dipanggil untuk membangun kedalaman batin rohani, bukan sekadar menampilkan citra keagamaan luar. Mari kita setia mendengarkan firman dan dengan tulus melaksanakannya melalui karya kasih yang nyata.
Rm. A. Joko Purwanto, Pr (Puncta):
Kisah perjumpaan dengan Pak koster yang setia mengepel lantai di malam hari mengajarkan bahwa mencari surga tidaklah mudah. Kita tidak bisa sekadar mengandalkan litani jasa, penampilan religius, atau seruan kata-kata di hadapan Tuhan. Pelayanan besar dan khotbah megah menjadi sia-sia jika hati kita tidak sungguh melakukan kehendak Bapa. Yesus mengisyaratkan dua kunci utama keselamatan yang tak terpisahkan, yaitu mendengarkan sekaligus melakukan sabda. Mari kita miliki pengorbanan dan ketulusan hati untuk setia melaksanakan seluruh firman-Nya sampai tuntas.
Paulus Krissantono/Ign. Harry Respatyo (RAGI):
Benang merah kedua bacaan hari ini menegaskan bahwa firman Tuhan itu kekal dan menuntut perbuatan nyata. Iman sejati tidak cukup di mulut saja, melainkan harus dibuktikan lewat tindakan kasih dan kerendahan hati. Kisah tragis pembuangan Raja Yoyakhin menjadi peringatan keras akibat membangun pondasi iman di atas pasir ketidaksetiaan. Di era modern ini, kita jangan sampai menjadi manusia digital yang gemar memposting sabda tetapi enggan melaksanakannya. Mari kita waspadai berhala digital halus yang bisa menyingkirkan waktu doa dan kehadiran Tuhan dalam hati.
TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING
Rm. Danang Kuncoro, Pr (Mutiara Batin):
Kekuatan hidup yang sejati bersumber dari pelaksanaan kehendak Allah melalui tindakan kebaikan nyata. Kita juga diajak untuk memiliki kebijaksanaan hidup dengan selalu memperlakukan orang lain seperti diri sendiri. Selain itu, kekudusan hidup memerlukan kesadaran diri yang mendalam sebagai manusia berdosa. Jiwa yang kudus senantiasa berjuang untuk menjaga integritas batin agar tidak berlaku koruptif. Mari kita pegang prinsip penuntun arah ini demi keselamatan peziarahan iman kita.
Rm. Hans Wijaya, Pr:
Iman sejati tidak diukur dari kata-kata melainkan lewat ketaatan nyata pada kehendak Bapa. Yesus menegur penampilan religius luar jika batin kita ternyata menjauh dari kesetiaan-Nya. Perumpamaan rumah di atas batu mengajak kita membangun fondasi hidup berdasarkan pelaksanaan sabda. Ketaatan kecil setiap hari seperti kejujuran dan kesabaran akan membuat rumah rohani kita kokoh. Ketika badai pencobaan datang melanda, kesetiaan pada firman Tuhan yang menjaga kita tetap teguh.
Rm. Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman):
Hidup orang beriman tidak serta-merta dibebaskan dari aneka konflik dan badai persoalan dunia. Kualitas rohani kita baru akan teruji saat menghadapi krisis batin, fitnah, maupun sakit penyakit. Berdiri di atas batu karang berarti tunduk taat pada firman Allah agar tidak mudah kecewa. Ingatlah bahwa rumah terbaik justru dibangun di tempat penghuninya belajar saling menguatkan saat badai tiba. Ketertundukan hati pada kehendak-Nya inilah yang memastikan kehidupan kita senantiasa aman dalam pelukan Tuhan.
KATEKESE GEREJA KATOLIK (KGK)
KGK Nomor 142-143 :
Melalui wahyu-Nya, Allah menyampaikan sabda yang menuntut ketaatan iman manusia. Ketaatan iman ini berarti manusia menyerahkan seluruh akal budi dan kehendaknya secara bebas kepada Allah yang mewahyukan Diri.
MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA
NATA RAGA:
Saya akan melangkah dan bertindak melakukan kebaikan nyata bagi sesama hari ini.
NATA PIKIR:
Saya mau menyelaraskan segala rencana kerja saya dengan kehendak dan sabda Tuhan.
NATA RASA:
Saya merasa damai dan kokoh karena mengandalkan Kristus sebagai batu karang hidup saya.
NIAT KONGKRET:
Hari ini saya akan melayani sesama dengan tulus tanpa mencari pujian.
DEVOSI:
Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Santa Febronia, Santo William dari Monte Vergine.
Santa Febronia adalah seorang ragi iman yang mempertahankan kesetiaan dan ketaatan radikal kepada Kristus hingga akhir hayatnya melalui jalan kemartiran yang suci.
LAGU ROHANI PENGANTAR DOA
Lagu Rohani dalam Gregorian: Attende Domine
Lagu Rohani dalam Bahasa Inggris: Lord I Need (Matt Maher)
DOA HENING:
Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.
Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.
Ya Bapa, karuniakanlah kami kerendahan hati untuk selalu mendengarkan sabda-Mu dan kekuatan untuk melaksanakannya dengan setia dalam karya kami sehari-hari. Amin.
PERUTUSAN
”Non omnis qui dicit mihi, ‘Domine, Domine’, intrabit in regnum caelorum, sed qui facit voluntatem Patris mei.”
(Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku).
PENUTUP
Semoga renungan hari ini meneguhkan kita untuk menjadi pelaku sabda yang sejati. Tuhan memberkati peziarahan iman dan seluruh karya pelayanan kita. Amin.
Berkah Dalem, Salam Takzim,










