Menyiapkan Jalan Bagi Tuhan – 24 Juni 2026

CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words – New Version
​Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – ​Oleh Basuki Ismael
​Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis
​Rabu, 24 Juni 2026, Warna Liturgi: Putih, ​Peringatan: Santa Maria Guadalupe Garcia Zavala
​Praeparate Viam Domini – Menyiapkan Jalan Bagi Tuhan

PENGANTAR

​Tiga puluh lima tahun lamanya Ibu Maria mengabdikan hidup sebagai guru Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar dalam kesunyian yang bersahaja. Suatu ketika, sebuah kalimat tajam keluar dari lisan beliau dan menghentak kesadaran batin saya: “Profesi guru itu bukan untuk mengejar panggung, melainkan menyiapkan anak didik agar mereka kelak menjadi orang yang besar dan berguna.” Perkataan ini laksana gaung dari padang gurun Yudea.

​Ibu Maria menjadi saksi bagaimana tunas-tunas kecil yang pernah diajarinya kini tumbuh menjadi tokoh-tokoh besar masyarakat, sementara dirinya sendiri tetap tinggal dalam kesederhanaan. Tugas sejarahnya selesai ketika ia berhasil mengantarkan orang lain melangkah lebih jauh.

Hal ini mirip seperti Santo Yohanes Pembaptis yang membaktikan seluruh eksistensinya hanya demi menyiapkan jalan bagi Yesus — Pribadi yang jauh lebih besar dari dirinya. Tugas perutusan suci itu menuntut penyerahan total tanpa sisa, bahkan ketika Yohanes harus menemui akhir hayat yang memilukan: kepalanya dipenggal di atas talam demi tegaknya kebenaran di hadapan sang raja.
Kita pun hari ini dihentak untuk bertanya pada diri sendiri: relakah kita mengecil agar karya Tuhan semakin membesar?

Mengapa Gereja Sangat Menghormati Santo Yohanes Pembaptis

​Gereja sangat menghormati Santo Yohanes Pembaptis karena ia setia mempertahankan kebenaran Allah sampai akhir hidupnya. Ia tidak wafat karena perang atau kejahatan, melainkan karena berani menegur Raja Herodes yang hidup melanggar hukum Tuhan.

Bagi Yohanes, kebenaran tidak kehilangan nilainya hanya karena ditolak banyak orang; ia tetap menyuarakannya meski harus membayar dengan kebebasan dan nyawanya.

Santo Agustinus melukiskannya dengan indah: “Ioannes vox erat; Dominus autem Verbum”—Yohanes adalah suara, sedangkan Tuhan adalah Sabda. Suara Yohanes akhirnya dibungkam oleh pedang Herodes, namun Sabda yang ia tunjukkan tidak pernah dapat dibungkam. Karena keteguhan iman sejak dalam kandungan hingga tetes darah terakhir untuk melaksanakan perutusan “Praeparate viam Domini”, Gereja memberikan penghormatan yang sangat istimewa dengan merayakan hari wafatnya sebagai martir pada 29 Agustus sekaligus hari kelahirannya pada 24 Juni —sebuah kehormatan liturgis yang sangat jarang diberikan kepada para kudus lainnya.

PESAN UTAMA

​Bacaan Pertama mengingatkan bahwa Tuhan telah mengenal, memilih, dan menetapkan panggilan perutusan kita sejak dalam kandungan. Mazmur Tanggapan menegaskan penghiburan iman bahwa tidak ada detail kehidupan manusia yang tercipta secara kebetulan. Bacaan Kedua menunjukkan kebesaran Yohanes Pembaptis yang setia menjadi suara penunjuk jalan menuju Kristus sang Sabda. Injil Suci menegaskan bahwa panggilan Ilahi senantiasa menuntut keberanian untuk merintis pertobatan meskipun penuh tantangan. Maka dari itu, marilah kita belajar rela mengecil agar kemuliaan Tuhan semakin terpancar besar melalui hidup kita.

PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN

Bacaan Pertama
(Kitab Yesaya 49: 1-6)
​Intisari:
Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa.

Rm. Willem Pau, Pr:
Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis membuktikan pentingnya peran Yohanes dalam rencana keselamatan Allah lewat sabda, “Tuhan telah memanggil aku sejak dari kandungan.” Hidupnya diarahkan penuh untuk menjadi suara pembuka jalan Mesias tanpa mencari kemuliaan diri sendiri. Mengutip Santo Agustus, “Yohanes adalah suara, sedangkan Kristus adalah Sabda; suara berlalu, tetapi Sabda tetap tinggal.” Mari bersyukur dan bersedia menjadi suara yang mengarahkan dunia pada Kristus Sang Terang Sejati.

AC Eko Wahyono (Lectio Divina):
Kelahiran Yohanes menyingkapkan pemenuhan janji keselamatan Allah, di mana nama Yohanes (Yohanan) berarti Allah yang berbelas kasih. Ketaatan Zakharia menuliskan “Ioannes est nomen eius” pada batu tulis memproklamasikan misi Yohanes sebagai pendahulu Mesias. Renungan ini memurnikan pemahaman kita tentang arti pilihan Ilahi, yang memanggil kita untuk bersedia tersembunyi, taat dalam sunyi, dan tumbuh kuat di dalam “padang gurun” kehidupan rohani.

TRANSITUS:
(Mazmur 139: 1-3. 13-14ab.14c-15)
Mazmur Tanggapan:
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena misteri kejadianku.

​Allah menyelidiki hati dan mengetahui setiap pikiran terdalam kita secara karib. Setiap detail dari eksistensi hidup kita ditenun dengan sangat ajaib oleh tangan-Nya. Kita tidak akan pernah bisa melarikan diri dari kehadiran kasih-Nya kemanapun pergi. Rasa syukur yang melimpah sudah sepatutnya memenuhi jiwa atas misteri yang indah ini. Mari kita senantiasa memuji Sang Pencipta atas pemeliharaan-Nya yang abadi bagi kita.

​Bacaan Kedua
(Kisah Para Rasul 13: 22-26)
Intisari:
Kedatangan Yesus disiapkan oleh Yohanes.

Laurentius Elyas Nugraha (Lumen Mundi):
Elyas mengingatkan bahaya budaya digital yang memicu pencarian popularitas instan di media sosial. Kehadiran Yohanes Pembaptis menjadi teladan radikal untuk tidak mengedepankan citra diri sendiri. Kita dipanggil mengarahkan sesama kepada Kristus melalui kedalaman hati dan pelayanan tulus. Sukacita sejati ditemukan saat kita setia menjalankan kehendak Allah dalam kesederhanaan. Mari menjadi pelita digital yang menyalakan terang kebenaran dan menolak keangkuhan ego.

Ign. Harry Respatyo / Paulus Krissantono (RAGI):
Gereja merayakan kelahiran Santo Yohanes Pembaptis sebagai fajar penunjuk Terang Kristus yang memegang prinsip: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Kisah penamaannya oleh Zakharia mengajak kita menyadari bahwa identitas sejati hanya ditemukan dalam ketaatan penuh pada rencana-Nya, bukan mencari tepuk tangan dunia. Yohanes mengajarkan bahwa keberanian moral sejati adalah tetap menyuarakan kebenaran Ilahi meskipun kenyamanan diri taruhannya. Keteguhan iman inilah yang menjadikannya panutan abadi bagi setiap saksi Kristus di dunia modern.

​Injil Suci:
(Lukas 1: 57-66.80)
Intisari:
Namanya adalah Yohanes

Rm. A. Joko Purwanto, Pr (Puncta):
Keberhasilan Anggi Wahyuda, seorang disabilitas yang menaklukkan base camp Everest dengan satu kaki pada Mei 2025, membuktikan tidak ada yang mustahil bagi rencana Allah. Hal serupa tampak pada Elisabet dan Zakharia yang lanjut usia; kesetiaan mereka membuahkan mukjizat kelahiran Yohanes. Ketika Zakharia yang bisu menuliskan nama itu di batu tulis, misteri tangan Tuhan terbukti menyertai tumbuh kembang Yohanes di padang gurun sebagai pembuka jalan Sang Terang.

​Rm. Nico Liem Tjay, OMI:
Kisah Zakharia dan Elisabet mengajarkan kekuatan iman serta kesetiaan kepada Tuhan di tengah cobaan dan ketidakpastian. Tuhan bekerja lewat cara tak terduga, dan iman kita diuji dalam perjalanan hidup yang penuh tantangan. Saat dirundung ragu atau putus asa karena keterbatasan, kisah pasutri ini membangkitkan harapan untuk berserah kepada Allah yang mampu menghadirkan damai sejahtera. Mari tetap setia sampai akhir karena rencana-Nya selalu indah: “Kesetiaan adalah pilar yang menguatkan hubungan, menopang beban kehidupan, dan membawa kita melintasi lautan tantangan menuju pulau kedamaian.”

​TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING

Rm. Danang Kuncoro, Pr (Mutiara Batin):
Kelahiran seorang anak senantiasa membawa pancaran sukacita dan harapan baru yang menggetarkan hati keluarga. Melalui pesan hikmat dalam lembar Mutiara Batin hari ini, kita diajak merenungkan keluhuran sebuah awal kehidupan yang diberkati: Kelahiran adalah awal kehidupan. Orangtua dan sanak famili bersuka. Berharap sang bayi meneruskan kebaikan orangtua dan martabat luhur nenek moyang. Selain pertumbuhan budi baiknya, watak kepribadian juga dapat dibanggakan. Bukankah Roh Tuhan ada padanya! Itulah hidup yang memberkati.

Rm. Hans Wijaya, Pr:
Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis mengingatkan kita semua bahwa hidup manusia bukanlah sebuah kebetulan. Melalui renungan bertema “Dipanggil Sejak Dalam Kandungan,” kita disadarkan bahwa Yohanes telah dipersiapkan dan dibentuk oleh Allah bahkan sebelum ia lahir untuk menjadi suara yang menyerukan pertobatan dalam kesederhanaan serta kerendahan hati. Meskipun dikagumi banyak orang, ia tetap memegang komitmen spiritual yang teguh: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Kisah ini membuktikan bahwa Allah gemar bekerja melalui peristiwa sederhana, seperti kelahiran anak dalam keluarga yang taat mengikuti kehendak-Nya. Rahmat Tuhan selalu menyertai panggilan kita masing-masing untuk menjadi terang, saksi, dan pembuka jalan bagi Kristus melalui kata yang meneguhkan, sikap yang jujur, serta tindakan nyata di tengah keluarga dan komunitas.

KATEKESE GEREJA KATOLIK (KGK)

KGK Nomor 523:
Santo Yohanes Pembaptis adalah pendahulu langsung dari Tuhan, yang diutus untuk menyiapkan jalan bagi-Nya. Sebagai “Nabi Allah Yang Mahatinggi”, ia melampaui semua nabi, dan menjadi nabi yang terakhir dari mereka. Ia memulai pewartaan Injil, menyambut Perjanjian Baru di dalam Kristus, dan menjadi jembatan penghubung antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

​MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA

​NATA RAGA:

Saya melatih fisik saya dengan memilih tindakan bersahaja yang menghormati kehadiran Allah hari ini.

NATA PIKIR:

Saya memfokuskan pikiran saya sepenuhnya pada hal-hal murni yang membangun kebaikan sesama.

​NATA RASA:

Saya menjaga hati saya dari penyakit iri hati dengan ikut bersukacita atas kebahagiaan sesama.

​NIAT KONGKRET:

​Hari ini saya akan melakukan satu tindakan nyata untuk membawa orang lain lebih dekat kepada Tuhan, misalnya mengajak seseorang berdoa, membagikan ayat Kitab Suci, atau memberikan kesaksian iman melalui perkataan yang meneguhkan, sikap jujur, dan perbuatan baik yang mendatangkan pertobatan.

DEVOSI

​Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Santo Yohanes Pembaptis, Santa Maria Guadalupe Garcia Zavala.

​Santa Maria Guadalupe Garcia Zavala dengan rendah hati menyiapkan jalan bagi Tuhan melalui pelayanan kasih yang tanpa lelah bagi orang-orang sakit dan miskin.

​LAGU ROHANI PENGANTAR DOA

​Ut Queant Laxis (Gregorian Chant – Madah Pujian Santo Yohanes Pembaptis)

​Be Not Afraid (Catholic Hymn)

DOA HENING

​Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.

​Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.

​Allah Bapa yang Maharahim, aku bersyukur atas teladan iman yang Engkau nyatakan melalui Santo Yohanes Pembaptis. Seperti Engkau telah mengenalnya dan menetapkannya sejak dalam kandungan ibunya, aku percaya Engkau pun mengenal dan mengasihi aku secara pribadi dalam setiap hela napas hidupku hingga hari ini. Tuhan, anugerahkanlah kepadaku kerendahan hati seperti yang dimiliki Yohanes.

Ajarilah aku untuk tidak mencari pujian bagi diriku sendiri, melainkan biarlah seluruh perkataan, sikap, dan seluruh hidupku menjadi sarana yang memuliakan nama-Mu dan menuntun orang lain kepada-Mu.

Ketika dunia mencoba mendikte jalanku, berikanlah aku keberanian untuk tetap setia pada nama dan identitas yang telah Engkau tetapkan bagiku sebagai anak-Mu. Bentuklah aku menjadi pembawa damai dan terang di tengah keluarga dan sesamaku. Santo Yohanes Pembaptis, doakanlah aku. Amin.

​PERUTUSAN

​Kutipan dari L. Elyas Nugraha:
​In veritate ambulate. Caritatem Christi vivite. Pacem Domini afferte. Evangelium annuntiate.
(Hiduplah dalam kebenaran. Hiduplah dalam kasih Kristus. Bawalah damai Tuhan. Wartakanlah Injil).

PENUTUP

​Panggilan terbesar manusia bukan menjadi pusat perhatian melainkan menjadi jembatan bagi sesama menuju Sang Terang. Mari kita setia menyiapkan jalan bagi karya Tuhan dalam kesederhanaan hidup sehari-hari. Amin.*

​Berkah Dalem, Salam Takzim,

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *