CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words – New Version
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh N.P. Basuki Ismael
Pekan Biasa XIV, Rabu 8 Juli 2026, Warna Liturgi: Hijau
Peringatan: Santo Paus Adrianus III; Santo Aquila; Beato Paus Eugenius III, Santa Priscilla
Quaerere Faciem Eius, Accipere Potestatem Eius – Mencari Wajah-NYA, Menerima Kuasa-NYA
PENGANTAR
Dalam peziarahan batin ini, kita sering kali merasa kehilangan arah di tengah gemuruh kesibukan dunia modern. Jiwa kita yang haus merindukan sebuah pelabuhan tenang untuk bersandar dan memperbarui kekuatan rohani.
Keadaan ini membawa ingatan saya kembali pada kenangan masa kecil yang begitu mendalam di kota Pati. Sejak saya duduk di bangku kelas satu SMP Keluarga pada tahun 1974 hingga kelas tiga, setiap jam 5 pagi saya selalu melewati rumah Bapak Widyo Sumantoro, seorang katekis dari Gereja Santo Yusup Pati.
Rutinitas subuh itu selalu diwarnai oleh sapaan yang hangat. Saya selalu menyapa beliau, “Sugeng enjing, Pak Widyo.” Dan beliau dengan penuh keramahan menyapa balik, “Arep tindak pasar?” Saya pun menjawab, “Njih, Pak Widyo. Sugeng tindak Grejo.” Pak Widyo sangat tahu bahwa setiap pagi saya naik becak untuk mengantar Ibu membuka toko kain di Pasar Puri Pati. Hubungan akrab itu berlanjut pada akhir pekan; hanya pada hari Sabtu dan Minggu saya bertemu Pak Widyo di dalam Gereja, dan beliau selalu setia duduk di bangku yang sama—di bangku paling depan sebelah kanan—untuk mencari wajah Tuhan sebelum liturgi dimulai. Beliau selalu menegaskan kepada saya bahwa pencarian batin yang tekun adalah kunci utama ketahanan rohani kita. Dari sanalah mengalir sukacita sejati yang tidak mampu dibeli dengan materi duniawi.
Melalui teladan tersebut, kita dihantar untuk merenungkan kebenaran Sabda Tuhan dalam liturgi hari ini.
Nabi Hosea mengingatkan bahaya keruntuhan iman ketika manusia mulai berpaling dan menyembah berhala modern. Pemazmur dengan penuh kelembutan mengajak kita semua untuk senantiasa mencari wajah Tuhan dengan hati tulus. Puncak dari pencarian iman ini mewujud nyata dalam kisah panggilan para murid di dalam Injil. Yesus tidak hanya memanggil mereka untuk datang, tetapi juga mengutus mereka dengan otoritas rohani. Kesetiaan dalam mencari kehadiran Allah ternyata membuka pintu bagi mengalirnya kuasa pelayanan yang sejati.
Kita diajak untuk menyadari bahwa tugas perutusan di tengah masyarakat menuntut kesiapan batin yang matang. Tanpa kedekatan yang akrab dengan Sang Guru, segala aktivitas pelayanan kita akan menjadi hampa. Kuasa rohani yang kita terima melalui sakramen harus diwujudkan dalam tindakan kasih nyata.
Dunia saat ini sangat merindukan kehadiran para saksi iman yang tangguh, jujur, dan berani. Mari kita tanggapi panggilan khusus ini dengan penuh tanggung jawab di lingkungan kita masing-masing. Semoga pencarian kita akan wajah Tuhan membuahkan berkat kesembuhan bagi sesama yang terlantar.
PESAN UTAMA
Nabi Hosea menegaskan pentingnya menabur keadilan demi menuai kasih setia dalam pencarian kehadiran Tuhan. Pemazmur mengajak seluruh umat beriman untuk bermegah di dalam nama-Nya yang kudus dan mencari kekuatan Allah. Melalui Injil Matius, Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberikan mereka kuasa penuh atas roh-roh jahat. Para rasul kemudian diutus secara khusus untuk mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat kepada domba yang hilang. Kuasa rohani yang luar biasa ini tetap diwariskan kepada setiap orang yang setia hingga saat ini. Kita semua kini dipanggil untuk menjadi pekerja ladang-Nya yang membawa pemulihan batin di tengah tantangan zaman.
Maka marilah kita senantiasa mencari wajah Tuhan agar layak menerima kuasa-Nya untuk melayani sesama dengan penuh kasih setia.
DEVOSI
Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Santo Paus Adrianus III; Santo Aquila; Beato Paus Eugenius III; Santa Priscilla.
Hari ini kita memperingati para kudus yang dengan berani menjaga kesetiaan iman, menegakkan perdamaian, serta membaktikan seluruh hidup mereka demi tegaknya kebenaran Injil Kristus di dunia. Teladan keteguhan hati mereka menginspirasi kita semua untuk tetap menjadi saksi kasih Allah yang hidup dan bergerak aktif di tengah masyarakat.
PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN
Bacaan Pertama (Nubuat Hosea 10: 1-3,7-8.12)
Intisari: Israel mendapat tempat yang istimewa di hadirat Tuhan sehingga perlu ada kasih setia yang diusahakan dalam pencarian akan kehadiran Tuhan.
Romo Willem Pau, Pr (Gereja St. Franciscus Saverius, Kebondalem, Semarang): Nabi Hosea menggambarkan Israel sebagai pohon anggur yang subur, namun kelimpahan dari Allah justru dipakai untuk memperbanyak mezbah berhala. Hati umat menjadi terbagi antara menyembah Allah dan mengandalkan kekuatan sendiri. Di zaman modern, hati kita pun kerap terikat pada “berhala baru” seperti harta, kekuasaan, atau kenyamanan yang membuat relasi dengan Tuhan mengering. Romo Willem mengajak kita untuk “membuka tanah baru”, yaitu hati kita sendiri yang harus diolah melalui pertobatan, doa, Sabda, dan sakramen agar tidak keras. Mengutip doa Santo Ignatius dari Loyola: “Ambillah, ya Tuhan, dan terimalah seluruh kebebasanku, ingatanku, pengertianku, dan seluruh kehendakku,” kita diajak menyerahkan seluruh hidup total kepada-Nya. Belum terlambat untuk memperbarui hati dan mulai menabur benih keadilan serta kasih setia demi panen sukacita dalam Kerajaan Allah.
AC Eko Wahyono (Lectio Divina, Gereja Santa Maria Tak Bernoda, Jember): Kasih setia Tuhan menghendaki tanggapan iman yang murni dari lubuk hati terdalam. Melalui metode Lectio Divina, kita merenungkan kisah Yesus yang memanggil kedua belas rasul-Nya dengan landasan iman baru yang berakar pada ikatan perjanjian Allah dengan Abraham. Dalam tugas pengutusan-Nya, Yesus memberikan kuasa rohani yang dalam tata dunia sekarang bermakna bahwa kita diundang untuk berpartisipasi mewujudkan kesejahteraan umum (bonum commune). Sebagaimana diajarkan dalam Konsili Vatikan II (Gaudium et Spes, 26), kesejahteraan umum memungkinkan setiap anggota masyarakat mencapai kesempurnaan hidup secara lebih penuh. Meskipun awalnya perutusan berfokus pada domba-domba yang hilang dari umat Israel, pasca-kebangkitan, tugas ini meluas kepada seluruh bangsa di dunia. Santo Yohanes Chrysostomus mengingatkan bahwa para murid diutus hanya setelah mereka memperoleh manfaat penuh dari tinggal bersama-Nya setiap hari dan menyaksikan kuasa-Nya. Kita semua kini dipanggil dan diutus untuk bertindak atas nama-Nya, membawa Kabar Sukacita: “Appropinquavit regnum caelorum” — Kerajaan Surga sudah dekat.
TRANSITUS: (Mazmur 105: 2-3,4-5.6-7)
Mazmur Tanggapan: Carilah selalu wajah Tuhan.
Romo Mike Schmitz (The Bible in a Year, Pelayanan Kepemudaan Keuskupan Duluth dan Pastoran Mahasiswa Universitas Minnesota Duluth): Mengingat perbuatan ajaib Tuhan di masa lalu meneguhkan iman untuk melangkah maju. Pemazmur mengajak kita bernyanyi dan bermegah dalam nama Tuhan yang kudus sepanjang hidup. Romo Mike mengingatkan bahwa ingatan suci akan penyertaan Allah adalah perisai rohani kita. Manusia modern mudah cemas karena sering melupakan mukjizat kecil yang terjadi setiap hari. Mencari kekuatan Tuhan berarti bersedia untuk melepaskan kendali ego diri atas masa depan kita. Anak-anak Abraham dipanggil untuk mengenali bahwa penghakiman Allah berlaku di seluruh bumi. Mari kita arahkan pandangan batin hanya kepada-Nya agar damai sejati menetap.
Injil Suci (Matius 10: 1-7)
Intisari: Para murid diberi kuasa yang luar biasa, karena mereka dipanggil secara khusus. Kuasa itu juga diwariskan kepada siapa pun yang sampai saat ini setia kepada-Nya.
Laurentius Elyas Nugraha (Lumen Mundi, Gereja Santo Athanasius Agung, Karangpanas, Semarang): Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit; setiap orang beriman dipanggil untuk menjadi saksi Kristus melalui keteladanan hidup. Yesus memanggil kedua belas rasul dan mengutus mereka untuk mewartakan Kerajaan Allah. Mereka tidak hanya menerima tugas, tetapi juga kuasa untuk menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, dan menghadirkan tanda-tanda keselamatan. Perutusan ini menunjukkan bahwa karya Allah selalu bergerak keluar, menjangkau manusia yang membutuhkan harapan dan pembaruan hidup. Dalam semangat Injil ini kita mengenal ungkapan: “Messis quidem multa, operarii autem pauci.” — “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” Kita dipanggil untuk menjadi pekerja dalam tuaian Tuhan yang besar. Dunia membutuhkan pribadi yang mampu menghadirkan damai, persatuan, dan pengharapan. Ketika kita setia menjalankan tugas kecil dengan kasih yang besar, Kerajaan Allah bertumbuh. Melalui Sakramen Baptis, setiap orang beriman mengambil bagian dalam misi Kristus. Pewartaan Injil tidak selalu melalui mimbar, tetapi melalui keteladanan hidup yang jujur, penuh kasih, dan setia. Mari kita tanggapi perutusan ini dengan berdoa: “Adveniat Regnum Tuum” — “Datanglah Kerajaan-Mu,” seraya mewujudkannya dalam tindakan nyata.
Romo A. Joko Purwanto, Pr (Puncta, Gereja St. Yohanes Rasul, Wonogiri): Kesiapan untuk diutus menuntut kerendahan hati untuk menerima bimbingan penuh dari Sang Guru. Belajar dari dinamika perutusan di Keuskupan Agung Semarang pada akhir Juni 2026 kemarin—di mana di satu sisi Gereja bersyukur atas tahbisan empat imam baru namun di sisi lain berdukacita atas berpulangnya Romo Andreas Setya Budi Sambodo, Pr (“Rama Buset”) — kita diingatkan bahwa ladang Tuhan selalu dinamis. Tuhan yang memanggil, Tuhan pula yang melengkapi; yang satu datang yang lain pergi untuk tugas pelayanan di ladang-Nya. Yesus memberikan arahan yang spesifik kepada kedua belas rasul-Nya untuk pergi kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel dan mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Tugas perutusan ini bukanlah proyek pribadi, melainkan bagian dari karya agung penyelamatan Allah. Keterlibatan Gereja untuk saling membantu antar-keuskupan di daerah pelosok membuktikan bahwa kuasa dan kasih Tuhan selalu menyertai kita. Mari kita melangkah dengan optimisme iman dan menyambut ketukan hati-Nya untuk siap mewartakan Injil ke seluruh dunia.
Ign. Harry Respatyo (Gereja Bunda Maria Ratu, Sukatani Depok) / Paulus Krissantono (Gereja Santo Mikael, Kranji) (RAGI): Integritas rasul awam menjadi kesaksian paling kuat di tengah kompleksitas dunia modern. Melalui perenungan hari ini, RAGI memperlihatkan benang merah yang kuat antara seruan Nabi Hosea untuk menabur keadilan dan pengutusan kedua belas murid oleh Yesus. Di satu sisi, kita diingatkan untuk memeriksa hati kita dari “mezbah-mezbah modern” seperti kekhawatiran berlebih atau kebanggaan masa lalu yang menggeser posisi Tuhan. Kita diundang untuk mencangkul kembali “tanah hati” yang mengeras lewat pertobatan agar benih firman bisa tumbuh. Di sisi lain, kita diutus untuk membawa kabar bahwa “Kerajaan Sorga sudah dekat”. Frasa ini bukan sekadar bicara jarak waktu akhir zaman, melainkan hadirnya pemerintahan Allah yang nyata dalam diri Yesus, mengalirnya kuasa untuk mematahkan belenggu kegelapan, serta panggilan mengubah arah hidup secara radikal (metanoia). Mencari Tuhan adalah komitmen seumur hidup. Di dalam lingkungan keluarga, tetangga, atau komunitas, kita dipanggil untuk menjadi utusan yang membawa damai, tutur kata menyejukkan, dan hidup penuh integritas.
Romo Samuel Anton Situmorang, O.Carm (Gereja Maria Bunda Karmel, Tomang, Jakarta Barat): Melalui renungan hari ini, kita diajak untuk melihat dua rahasia besar dalam perutusan para murid. Pertama, Yesus mengutus kedua belas rasul-Nya secara bertahap, dimulai dari lingkungan terdekat yaitu bangsa Yahudi (umat Israel), dan belum saatnya menyimpang ke jalan bangsa lain yang belum mengenal Allah. Setelah misi di antara sesama bangsa Yahudi yang mau bertobat ini berjalan, barulah kelak setelah kebangkitan-Nya, Yesus memerintahkan mereka untuk pergi mengajar ke seluruh bangsa di dunia. Kedua, pilihan Yesus atas kedua belas rasul menunjukkan bahwa Tuhan tidak memilih orang-orang yang tanpa dosa. Kita melihat kontras tajam antara dua rasul yang berdosa: Rasul Petrus dan Rasul Yudas Iskariot. Petrus melakukan dosa besar dengan menyangkal Gurunya, namun ia mau bertobat dengan sungguh-sungguh. Atas pertobatan itulah Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas batu karang, dan di akhir hidupnya, Petrus memilih disalib dengan kepala di bawah sebagai wujud penyesalan dan rasa hormat yang mendalam kepada Kristus. Sebaliknya, Yudas Iskariot membiarkan dirinya jatuh dalam dosa keserakahan hingga menjual Yesus; ia tidak mau bertobat dan justru mengakhiri hidupnya dengan tragis dalam penyesalan yang terlambat. Contoh menarik lainnya adalah Rasul Filipus, seorang murid yang jujur dan praktis, namun sering kali membutuhkan bukti nyata dalam imannya—seperti saat ia bertanya tentang bagaimana memberi makan lima ribu orang atau meminta Yesus menunjukkan Bapa. Melalui Filipus, kita diajak untuk menyadari bahwa Yesus dengan sabar mendidik dan memakai setiap kerapuhan watak manusia untuk dijadikan pewarta Kerajaan Surga yang tangguh di tengah dunia.
TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING
Romo Danang Kuncoro, Pr (Mutiara Batin, Gereja Santa Maria Bunda Pembantu Abadi, Pamanukan, Subang): Pengakuan tulus akan kerapuhan diri mempermudah masuknya rahmat penguatan dari Tuhan. Melalui Mutiara Batin hari ini, kita diajak untuk merenungkan dengan penuh rasa kagum betapa Allah yang Mahakuasa sudi mempercayakan pemeliharaan dan keberlanjutan kebaikan ciptaan-Nya kepada manusia yang penuh dengan keterbatasan. Rahasia perutusan ini menyingkapkan betapa mulianya martabat manusia di hadapan-Nya. Alangkah indahnya panggilan, perutusan, dan kepercayaan yang Tuhan letakkan di atas pundak kita. Para murid yang dipilih Yesus bukanlah orang-orang yang sempurna tanpa cacat cela, namun Tuhan justru memakai kerapuhan insani tersebut untuk menyatakan keagungan rencana-Nya. Tanggapan atas kepercayaan ilahi ini harus diwujudkan dengan mengabdikan seluruh hidup secara tulus dan penuh sukacita, dimulai dari lingkup yang paling mendasar, yaitu lewat pelayanan nyata dan melalui keluarga kita masing-masing. Jangan pernah takut terhadap keterbatasan fisik, karena ketika kita menyerahkan diri sebagai tanah yang siap dibentuk, kuasa kasih-Nya akan senantiasa menguatkan dan memampukan kita menjadi pemelihara kehidupan yang sejati.
Romo Hans Wijaya, Pr (Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, Nusa Dua, Denpasar): Belas kasih Kristus harus menggerakkan kita untuk turun tangan mendatangi yang menderita. Hari ini Yesus tidak hanya memanggil, tetapi juga memberikan kuasa kepada para murid untuk menyembuhkan, menguatkan, dan memulihkan. Kuasa rohani ini bukan berasal dari kemampuan pribadi, melainkan dari kedekatan yang intim dengan Yesus. Sangat menarik bahwa Yesus mengutus mereka pertama-tama kepada “domba-domba yang hilang dari umat Israel”, yang artinya misi pelayanan kita harus selalu dimulai dari lingkungan yang paling dekat: keluarga, tempat kerja, dan komunitas sehari-hari. Tugas untuk menyembuhkan orang sakit berarti menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah melalui pengampunan, perhatian, dan kesediaan untuk mendengarkan sesama yang sedang lelah atau kecewa. Mari kita wujudkan bela rasa Kristus melalui tindakan nyata harian, karena setiap perjumpaan adalah kesempatan suci untuk membawa pemulihan dan menghadirkan Kerajaan-Nya di dunia.
Romo Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman, Katedral Kristus Raja, Purwokerto): Sakramen Baptis memberikan kita meterai rohani untuk menjadi utusan Kristus yang berani. Melalui Kartu Iman hari ini, kita diingatkan bahwa para rasul yang dipilih Yesus adalah nelayan, pemungut cukai, dan orang-orang sederhana yang penuh dengan kelemahan serta keterbatasan. Namun, ketika mereka meng-iya-kan panggilan Yesus, “Mari, ikutlah Aku,” jawaban setia itulah yang seketika mengubah total jalan hidup mereka. Panggilan-Nya untuk mewartakan Cinta Kasih Bapa di surga selalu melampaui segala keterbatasan manusiawi kita. Dalam perjalanan hidup ini, kita sering kali merasa tidak layak atau tidak cukup mampu ketika dihadapkan pada sebuah tanggung jawab besar. Namun, ada perspektif baru yang menguatkan: kita dipanggil dan diutus bukan dengan tangan kosong, melainkan dilengkapi dengan bekal kuasa ilahi untuk mengusir roh jahat dan melenyapkan segala penyakit. Kuasa rohani ini bermanifestasi dalam kemampuan kita melawan arus negatif zaman. Otoritas tersebut bukan untuk kesombongan diri, melainkan sebagai sarana menghadirkan tanda-tanda kehadiran Allah yang memulihkan di tengah dunia. Tuhan mengenal seluruh hidup kita, mempercayai kita, dan mengutus kita ke tengah keluarga, tempat kerja, sekolah, lingkungan, dan masyarakat. Di sanalah kita dipanggil untuk menjadi saksi kasih-Nya yang hidup.
KATEKESE GEREJA KATOLIK (KGK)
KGK Nomor 858: “Para murid adalah orang-orang yang diutus oleh Yesus. Di dalam perutusan mereka, mereka bertindak atas nama-Nya dan dengan kuasa-Nya. Yesus sendiri adalah Dia yang diutus oleh Bapa. Melalui pelayanan para rasul, Kristus sendiri melanjutkan misi-Nya di dunia untuk menyembuhkan, membebaskan, dan mewartakan kedatangan Kerajaan Allah kepada seluruh umat manusia.”
MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA
NATA RAGA: Saya mendisiplinkan fisik untuk melangkah dengan mendatangi dan membantu sesama yang membutuhkan pertolongan hari ini.
NATA PIKIR: Saya memusatkan pikiran pada firman Tuhan dan menjauhkan egoisme yang dapat merusak ketulusan persaudaraan.
NATA RASA: Saya membuka batin agar senantiasa peka untuk merasakan tuntunan bimbingan ilahi dalam setiap karya pelayanan harian.
NIAT KONGKRET: Hari ini saya akan melakukan pemeriksaan batin pada malam hari untuk mengenali “berhala” yang masih menguasai hatiku, lalu mengambil langkah nyata untuk mengutamakan Tuhan, serta menyapa dan mendengarkan keluh kesah seorang rekan kerja dengan penuh perhatian tanpa menghakimi.
LAGU ROHANI PENGANTAR DOA
Musik Instrumentalia: Seek Ye First (Versi Gitar / Piano / Selo yang Syahdu).
DOA HENING:
Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.
Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.
Ya Tuhan Yesus Kristus, Engkau memanggil dan mengutus para murid-Mu untuk mewartakan Kerajaan Allah. Bangkitkanlah dalam diri kami semangat untuk menjadi saksi Injil dalam kehidupan sehari-hari, serta kurniakanlah kepada kami ketekunan batin untuk selalu mencari wajah-Mu dalam doa.
Olahlah hatiku agar menjadi tanah yang subur bagi Sabda-Mu.
Ampunilah aku jika sering kali hatiku bercabang dan kurang mengandalkan-Mu di tengah kelimpahan berkat.
Tuhan, Engkau telah memilihku menjadi murid-Mu. Ambillah dan pergunakanlah apa yang dapat aku persembahkan, walau sangat sederhana dan tak pantas.
Selidikilah hatiku dan lembutkanlah setiap bagian yang mulai mengeras oleh karena kekhawatiran atau keangkuhan hidup.
Penuhilah jiwa kami dengan otoritas kasih-Mu agar kami mampu menghadirkan kasih, damai, dan pengharapan bagi sesama, serta berani melangkah melayani mereka yang terlantar demi tegaknya Kerajaan-Mu di bumi. Amin.
PERUTUSAN
“Quaerere Faciem Dei, Servire Populo Eius” — Carilah wajah Allah terlebih dahulu, maka engkau akan dimampukan untuk melayani umat-Nya dengan penuh kuasa kasih.
PENUTUP
Peziarahan iman yang sejati selalu mempertemukan keheningan doa batin dengan keberanian bertindak nyata di tengah tantangan masyarakat. Mari kita melangkah hari ini sebagai utusan Kristus yang tangguh dengan membawa damai dan pemulihan bagi sesama.
Berkah Dalem, Salam Takzim.










