CAPITA SELECTA
Selected Daily Reflections of Divine Words – New Version
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh N.P. Basuki Ismael
Pekan Biasa XIV, Jumat, 10 Juli 2026, Warna Liturgi: Hijau
Peringatan Para Santo dari Roma:
Santo Felix; Santo Filipus; Santo Januarius; Santo Martialis; Santo Silvanus, Santo Vitalis
Prudentes Sicut Serpentes et Simplices Sicut Columbae
Tulus Seperti Merpati Di Tengah Serigala
1. PENGANTAR
Ziarah batin hari ini mengajak raga dan pikiran kita untuk menyadari beratnya medan perutusan murid Kristus di tengah dunia. Yesus memberikan peringatan yang sangat realistis bahwa kita diutus laksana domba ke tengah kawanan serigala. Dunia yang dipenuhi kebebalan sering kali menolak kebenaran dan berusaha untuk membinasakan iman kita yang murni.
Namun, tantangan ini bukan alasan untuk mundur atau menjadi takut dalam mewartakan kasih-Nya. Kita dipanggil untuk tetap tegap melangkah membawa damai sejahtera dengan penuh penyerahan diri. Kuncinya terletak pada kecerdasan batin untuk membaca tanda zaman dan ketulusan raga untuk melayani.
Kisah inspirasi hari ini mengalir dari keteguhan umat beriman yang berani hidup kudus di tengah lingkungan yang memusuhi iman. Di tengah tekanan sosial yang korup, mereka memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan duniawi. Mereka memakai kecerdikan pikiran untuk menghindari jebakan dosa tanpa harus kehilangan kesucian rasa.
Seperti seruan nabi Hosea, mereka menyadari bahwa pertobatan sejati mengalirkan pemulihan dari Allah yang rahim. Mazmur tanggapan membimbing mereka untuk selalu berseru memohon belas kasihan-Nya yang tak terbatas. Pada akhirnya, ketulusan hati yang tanpa pamrih menjadi senjata paling ampuh dalam meruntuhkan kebebalan serigala dunia.
Melalui permenungan liturgi hari ini, kita dihantar untuk masuk ke dalam kedalaman disposisi batin yang matang. Tuhan tidak pernah menjanjikan jalan perutusan yang mulus tanpa hambatan bagi para rasul-Nya. Roh Kudus sendiri yang akan memberikan kekuatan bicara saat raga kita dihadapkan pada pengadilan dunia. Kesetiaan bertahan sampai pada kesudahan adalah ukuran sejati dari kematangan iman seorang murid.
Mari kita satukan raga, pikir, dan rasa untuk menyambut tugas perutusan ini dengan berani. Hanya melalui ketulusan yang utuh, kita layak menjadi benteng kasih Allah yang hidup bagi sesama.
2. PESAN UTAMA
Nabi Hosea (14: 2-10) menyampaikan seruan pertobatan yang penuh cinta dari Allah kepada umat Israel yang rapuh. Tuhan rindu untuk memulihkan kedegilan hati mereka dan melimpahkan kembali berkat-Nya bagai embun yang menyejukkan.
Pemazmur (51: 3-4.8-9.12-13.14.17) berseru untuk memohon pengampunan dosa dengan hati yang hancur dan tulus di hadapan-Nya. Sinar wajah Allah menjadi sumber pemulihan rohani utama yang menciptakan kembali hati yang murni dan baru.
Tuhan Yesus di dalam (Matius 10: 16-23) mengutus para murid untuk cerdik seperti ular dan tulus seperti burung merpati. Roh Kudus diyakini akan senantiasa menuntun dan memberikan kekuatan bagi kita yang setia bertahan hingga akhir.
Maka marilah kita senantiasa menjaga ketulusan hati laksana merpati dan kecerdikan pikiran laksana ular di tengah tantangan perutusan dunia.
3. DEVOSI
Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Para Santo dari Roma: Santo Felix; Santo Filipus; Santo Januarius; Santo Martialis; Santo Silvanus, Santo Vitalis.
Para Santo dari Roma adalah para martir kudus yang dengan teguh mempertahankan iman mereka dan dengan berani menumpahkan darah mereka di Roma demi Kristus. Mereka lebih memilih kemuliaan abadi di surga daripada kompromi duniawi di bawah penganiayaan.
4. PEMANDU BACAAN: HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN
Bacaan Pertama
(Nubuat Hosea 14: 2-10)
Intisari:
Seruan pertobatan kepada Israel adalah seruan cinta dari Tuhan, karena Tuhan sendiri tidak mau kehilangan bangsa yang sudah dipilih-Nya untuk ambil bagian dalam sejarah keselamatan.
Romo B.S. Mardiatmadja, SJ (Jakarta): Kalimat Kunci Renungan: Allah Menjaga
Melalui Kitab Hosea, kita diingatkan bahwa pasang surut hidup umat senantiasa dijaga oleh Yang Mahakuasa. Kemurahan hati Allah yang amat melindungi ini menjadi dasar kokoh bagi seluruh alam semesta. Melalui Injil, kita kemudian disadarkan akan pengutusan untuk menyiarkan belas kasih dan perlindungan-Nya di tengah dunia. Oleh sebab itu, kita semua perlu memohon iman yang mendalam akan kebaikan hati Tuhan tersebut. Mari kita senantiasa bersyukur atas perlindungan Allah dan mempercayakan diri seutuhnya kepada-Nya.
Romo Mike Schmitz (Pelayanan Kepemudaan Keuskupan Duluth dan Kapelan Newman Center Universitas Minnesota Duluth, AS):
Kalimat Kunci Renungan: Kasih Allah yang memulihkan menuntut kita untuk meninggalkan berhala keduniawian.
Romo Mike Schmitz mengingatkan bahwa penggalan akhir Kitab Hosea merupakan undangan intim untuk kembali kepada Tuhan. Pertobatan yang sejati baru dimulai saat manusia berhenti mencari keselamatan pada kekuatan politik maupun berhala buatan sendiri. Allah rindu menyembuhkan segala kebebalan hati kita serta memberikan rahmat kasih-Nya secara cuma-cuma kepada umat. Kita diundang untuk berakar kuat di dalam Dia laksana pohon aras Lebanon yang bertumbuh dengan subur. Mari kita bawa kata-kata penyesalan yang jujur di hadapan takhta kerahiman-Nya demi pemulihan jiwa kita.
Romo Willem Pau, Pr (Gereja St. Franciscus Saverius, Kebondalem, Semarang):
Kalimat Kunci Renungan: Pertobatan sejati menyembuhkan raga dan memulihkan hubungan kita dengan Allah.
Tuhan merindukan kepulangan umat-Nya dengan janji kasih yang menyembuhkan segala kedegilan batin. Allah berjanji menjadi seperti embun yang menumbuhkan keindahan hidup rohani kita yang sempat layu. Kita diajak untuk melepaskan segala keterikatan berhala duniawi yang menjauhkan raga dari kekudusan. Jalan Tuhan adalah lurus dan hanya orang benar yang dapat berjalan di atasnya. Mari kita buka pikiran untuk menyambut rahmat pemulihan-Nya dengan penuh rasa syukur.
AC Eko Wahyono (Lectio Divina, Gereja Santa Maria Tak Bernoda, Jember):
Kalimat Kunci Renungan: Merenungkan Sabda Tuhan menumbuhkan buah-buah pertobatan dalam tindakan nyata.
Metode Lectio Divina menuntun rasa kita untuk menangkap kerinduan Allah akan keselamatan jiwa manusia. Sabda hari ini mengingatkan kita untuk kembali kepada Tuhan dengan membawa ucapan syukur yang tulus. Allah akan melimpahkan berkat melimpah laksana pohon zaitun yang subur bagi umat-Nya. Jangan biarkan kekerasan pikiran menutup pintu rahmat pengampunan yang disediakan oleh Tuhan Yesus. Mari kita wujudkan pemulihan rohani ini dalam relasi kasih yang damai dengan sesama.
TRANSITUS
(Mazmur 51: 3-4.8-9.12-13.14.17)
Mazmur Tanggapan:
Mulutku mewartakan puji-pujian kepada-Mu, ya
Tuhan.
Romo Mike Schmitz (Pelayanan Kepemudaan Keuskupan Duluth dan Kapelan Newman Center Universitas Minnesota Duluth, AS):
Kalimat Kunci Renungan: Pengakuan dosa yang jujur akan membongkar hati kita bagi pemulihan Allah.
Melalui ketukan Mazmur, Romo Mike Schmitz menggarisbawahi bahwa hancur hati dan remuk redam adalah satu-satunya persembahan yang dikehendaki Allah. Mazmur ini melambangkan titik balik di mana seorang pendosa berhenti menyembunyikan kegelapannya di hadapan takhta ilahi. Kita diingatkan bahwa pengampunan sejati menuntut keberanian mutlak untuk mengakui segala kelemahan kita tanpa pembelaan diri. Allah tidak pernah meninggalkan jiwa yang memohon hati yang murni dan pembaruan batin yang teguh. Mari kita izinkan belas kasih-Nya memulihkan sukacita keselamatan yang sempat hilang akibat jerat dosa kita.
Injil Suci
(Matius 10: 16-23)
Intisari:
Perutusan dari Tuhan ke tengah dunia adalah perutusan yang tidak mudah karena ada serigala yang senantiasa mengintai dan hendak membinasakan.
AC Eko Wahyono (Lectio Divina, Kolom Injil):
Kalimat Kunci Renungan: Ketulusan merpati dan kecerdikan ular memandu langkah kesaksian kita.
Yesus memperingatkan para murid bahwa tugas perutusan bersaksi di tengah dunia laksana domba di tengah serigala yang penuh bahaya. Menghadapi situasi sulit ini, kita dituntut cerdik seperti ular untuk terus kreatif menemukan cara baru sekaligus menjaga keutuhan iman. Sebaliknya, ketulusan merpati mengajar kita untuk tidak menyimpan dendam ataupun amarah meski didera ketidakadilan dan penolakan sekitar. Kita tidak perlu khawatir karena Roh Bapa sendiri yang akan bekerja dan berbicara melalui hati nurani kita pada saatnya. Mari kita teguh bertahan dalam kebenaran Injil sampai akhir demi menyongsong janji keselamatan sejati dari Tuhan.
Romo Samuel Anton Situmorang, O.Carm (Gereja Maria Bunda Karmel, Tomang, Jakarta Barat):
Kalimat Kunci Renungan: Kesaksian yang kredibel dan keteguhan bertahan adalah bukti penyertaan Roh.
Yesus mengutus kita seperti domba di tengah serigala sehingga kita wajib cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Di tengah berbagai ancaman perpecahan sosial, hambatan rumah ibadah, hingga diskriminasi jabatan, murid Kristus harus tetap waspada dan kuat bertahan. Kita dipanggil untuk memberikan kesaksian hidup yang kredibel serta mengesankan bagi sesama tanpa perlu dikuasai oleh rasa takut. Saat menghadapi situasi kritis, kita tidak berjalan sendiri karena Roh Pengibur senantiasa hadir dan berbicara menggantikan kekhawatiran kita. Percayalah bahwa Tuhan selalu berada di pihak kita dan setiap jiwa yang setia bertahan sampai akhir pasti diselamatkan.
Laurentius Elyas Nugraha (Lumen Mundi, Gereja Santo Athanasius Agung, Karangpanas, Semarang):
Kalimat Kunci Renungan: Kekuatan Roh Kudus memampukan para rasul awam bersaksi dalam kerapuhan.
Yesus mengingatkan bahwa bahaya duniawi akan selalu mengintai langkah perutusan setiap murid-Nya. Namun, kita tidak berjalan sendiri karena Roh Bapa akan berbicara melalui mulut kita. Kehadiran kita di tengah masyarakat wajib memancarkan kedamaian tanpa menyimpan rasa dendam batin. Jangan takut menghadapi penolakan dunia selama kita tetap setia memegang kebenaran iman Katolik. Mari kita menjadi saksi kasih yang tangguh dengan menjaga kemurnian raga dan pikiran.
Romo A. Joko Purwanto, Pr (Puncta, Gereja St. Yohanes Rasul, Wonogiri):
Kalimat Kunci Renungan: Kecerdikan dan ketulusan adalah perisai utama dalam menghadapi tantangan zaman.
Tuhan menghendaki para murid memiliki kecerdikan ular untuk membaca situasi medan perutusan mereka. Namun, kecerdikan itu harus diimbangi dengan ketulusan merpati agar tidak jatuh dalam kelicikan. Kuasa rohani yang kita terima bertugas untuk menegakkan martabat manusia di tengah ketidakadilan. Bertahan dalam penderitaan demi nama Yesus akan mendatangkan keselamatan abadi bagi jiwa kita. Laksanakan tugas pelayanan ini dengan penuh tanggung jawab, sukacita, dan keteguhan batin seutuhnya.
Paulus Krisantono (Gereja St. Mikael, Kranji) / Ign. Harry Respatyo [RAGI]:
Kalimat Kunci Renungan: Menjadi ragi di tengah masyarakat menuntut ketahanan iman yang dewasa.
Komunitas beriman dipanggil untuk menjadi ragi yang membawa perubahan baik di lingkungan sekitar. Kita harus siap menghadapi gesekan sosial tanpa harus kehilangan identitas sebagai murid Kristus. Pikiran yang jernih membantu kita untuk tetap bersikap bijaksana saat menghadapi intimidasi dunia. Salurkan kebaikan secara konsisten sebagai bentuk kesaksian hidup yang menggerakkan hati sesama manusia. Mari kita persembahkan raga ini sebagai sarana kehadiran Kerajaan Allah yang membawa damai.
TRANSITUS: SABDA MENJADI DAGING
Romo Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman, Katedral Kristus Raja, Purwokerto):
Kalimat Kunci Renungan: Tuhan membawa kita ke dalam air yang bermasalah untuk membersihkan kita.
Menjalankan tugas perutusan dari Tuhan tidak selamanya mulus karena kita harus siap menghadapi realitas bahaya dan penolakan keras yang justru sering kali datang dari orang terdekat. Menghadapi situasi pelik ini, Yesus tidak meminta kita menjadi penakut melainkan membekali kita dengan strategi yang sangat indah untuk cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Kecerdikan ini menuntut kita menggunakan akal sehat, intelektual, dan strategi yang efektif untuk menguasai keadaan tanpa harus menipu atau merugikan sesama. Sementara itu, ketulusan merpati menjaga hati kita agar tetap murni dan bebas dari akar kepahitan dengan senantiasa bersandar penuh pada bimbingan kuasa Roh Kudus. Sadarilah bahwa Tuhan terkadang membawa kita ke dalam air yang penuh masalah bukan untuk menenggelamkan hidup kita, melainkan demi membersihkan dan memurnikan jiwa kita.
Romo Danang Kuncoro, Pr (Mutiara Batin, Gereja Santa Maria Bunda Pembantu Abadi, Pamanukan, Subang):
Kalimat Kunci Renungan: Keteguhan bertahan dalam kebaikan adalah buah kematangan rasa bersama Kristus.
Tindakan bersaksi dengan lemah lembut membawa keteduhan batin di tengah badai penolakan duniawi. Kita diingatkan bahwa ketulusan merpati akan memenangkan hati yang keras laksana batu karang. Karunia ketabahan yang kita terima bertugas memurnikan pikiran dari keputusasaan yang melemahkan iman. Melalui untaian doa harian, mari mohon kekuatan agar raga ini mampu setia sampai akhir. Tanggapan iman yang hidup ini akan mengalirkan sukacita sejati dalam membagikan berkat-Nya.
Romo Hans Wijaya, Pr (Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, Nusa Dua, Denpasar):
Kalimat Kunci Renungan: Bela rasa Kristus membentengi raga kita dari ancaman serigala dunia.
Yesus mengutus kita dengan pesan untuk selalu waspada namun tetap memelihara kesederhanaan hati. Perutusan di tengah tantangan menuntut kesiapan pikiran untuk selalu mengandalkan petunjuk Roh Kudus. Kuasa kasih yang kita bagikan harus mampu menyembuhkan luka batin sesama yang terpinggirkan. Jangan simpan kepahitan saat pelayanan kasih kita disalahpahami oleh lingkungan tempat tinggal kita. Mari melangkah dengan rendah hati demi memancarkan damai sejahtera Kristus dalam peziarahan hidup.
5. KATEKESE GEREJA KATOLIK (KGK)
KGK Nomor 1808:
“Keutamaan keteguhan adalah keutamaan moral yang menjamin kemantapan dalam kesulitan dan ketekunan dalam mengejar kebaikan. Keutamaan ini memperkuat ketetapan hati untuk bertahan terhadap godaan-godaan dan mengatasi rintangan-rintangan dalam kehidupan moral. Keutamaan keteguhan memampukan orang untuk mengatasi rasa takut, bahkan ketakutan akan kematian, serta menghadapi pencobaan-pencobaan dan penganiayaan.”
6. MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA
NATA RAGA:
Saya mau menjaga sikap tubuh yang tenang, sopan, dan tidak membalas dengan kekerasan saat menghadapi kemarahan orang lain hari ini.
NATA PIKIR:
Saya menggunakan akal budi dengan cerdik untuk menghindari perdebatan yang sia-sia dan fokus pada solusi yang mendatangkan damai.
NATA RASA:
Saya menjaga kemurnian batin agar tetap tulus mengasihi tanpa menyimpan dendam ketika kebaikan saya ditolak oleh lingkungan.
NIAT KONKRET
Hari ini saya akan mendoakan dan menyapa dengan ramah satu orang yang selama ini bersikap kurang baik atau memusuhi saya.
7. LAGU ROHANI PENGANTAR DOA
Pembaca dipersilakan untuk memilih Musik Instrumentalia yang tenang.
8. DOA HENING
Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.
Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.
Ya Tuhan Yesus Kristus, anugerahkanlah kepada kami roh keberanian dan ketabahan dalam menjalankan tugas perutusan-Mu di tengah dunia.
Murnikanlah raga, pikir, dan rasa kami agar kami mampu bersikap cerdik laksana ular namun tetap tulus laksana burung merpati.
Jangan biarkan kami menjadi takut menghadapi serigala-serigala duniawi, melainkan penuhilah mulut kami dengan puji-pujian yang memancarkan kebenaran-Mu.
Jagalah kesetiaan kami agar kami mampu bertahan sampai akhir demi kemuliaan nama-Mu yang kudus. Amin.
9. PERUTUSAN
“Estote ergo prudentes sicut serpentes et simplices sicut columbae.” (Matthaeus 10:16)
Artinya: “Sebab itu, hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”
10. PENUTUP
Peziarahan batin mengingatkan kita bahwa perutusan di tengah dunia menuntut keteguhan iman dan ketulusan hati yang murni. Mari kita melangkah hari ini dengan berani membagikan kasih Kristus tanpa pernah takut pada tantangan zaman.
Berkah Dalem, Salam Takzim.










