CAPITA SELECTA
Refleksi Harian Pilihan dari Sabda Ilahi – Versi Baru
Serial Nata Raga, Nata Pikir, Nata Rasa – Oleh Basuki Ismael
Pekan Biasa XIII, Minggu, 28 Juni 2026, Warna Liturgi: Hijau
Peringatan Wajib Santo Ireneus dari Lyons, Uskup dan Martir.
Peringatan : Beato Sabas Ji Hwang
Proximum Recipere Sicut Christum Recipere – Menyambut Sesama Seperti Menyambut Yesus
PENGANTAR
Sejak reuni akbar tahun 2001 pasca berpisah tahun 1981 di Mertoyudan, rumah transit kami sering menjadi tempat berbincang hangat para Romo, sahabat, dan saudara.
Menyediakan tempat istirahat yang adem di tengah peziarahan mereka selalu mendatangkan sukacita rohani tanpa kami pernah meminta upah dari Tuhan. Suguhan kopi pahit, singkong goreng, serta menu khas sambal terasi Juana dan Pecel Madiun racikan almarhumah istri saya selalu menguatkan tali persaudaraan. Kisah pelayanan sederhana ini selaras dengan ketulusan perempuan Sunem yang membangun kamar atas layak demi menyambut abdi Allah, Nabi Elisa. Melalui hormat yang tulus tanpa pamrih tersebut, pintu mukjizat yang menghidupkan kembali harapan baru akhirnya dibuka lebar bagi keluarganya.
Sekarang di usia senja saat anak-anak sudah mandiri, pintu rumah kami tetap hangat terbuka bagi para yunior yang membutuhkan konfirmasi atau pandangan kedua (second opinion). Saya memilih untuk lebih banyak diam dan mendengarkan dengan penuh perhatian, bertanya ulang jika kurang jelas, serta berjanji ikut mendoakan pergumulan mereka.
Sementara itu, Injil hari ini menegaskan upah rohani bagi setiap orang yang bersedia menyambut utusan Kristus dengan hati yang tulus. Yesus mengingatkan bahwa siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya. Upah sejati dari setiap pengorbanan kecil demi nama Tuhan tersebut mewujud nyata dalam bentuk limpahan damai, sukacita, dan berkat bagi isi rumah.
Mengikuti Kristus secara utuh menuntut kita untuk menomorsatukan Dia secara mutlak di atas segala kelekatan duniawi, karier, maupun kenyamanan harta benda.
Berbagai kekhawatiran serta ketakutan terhadap cemoohan orang lain sesungguhnya merupakan salib nyata yang harus kita pikul dalam ziarah iman ini. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa mengikuti Kristus bukanlah sebuah jalan karier yang cemerlang melainkan sebuah jalan salib menuju pemurnian batin.
Oleh karena itu, mari kita jadikan ketaatan radikal ini sebagai inti terdalam dari setiap tindakan hidup sehari-hari. Kita semua diundang untuk senantiasa memiliki hati yang terbuka bagi kehadiran Allah yang menyapa melalui diri sesama.
PESAN UTAMA
Bacaan hari ini mengajak kita menghidupi semangat keramahtamahan kristiani secara radikal. Perempuan Sunem membuktikan ketulusan melayani abdi Allah membuka gerbang mukjizat kehidupan. Mazmur mengukuhkan kesetiaan kita untuk senantiasa mewartakan kasih Tuhan yang kekal.
Rasul Paulus mengingatkan status baru kita sebagai hamba kebenaran melalui pembaptisan. Akhirnya Yesus menjanjikan upah kelimpahan berkat bagi penyambut sesama yang kecil.
Kedekatan sejati dengan Allah mewujud nyata dalam ketulusan perhatian harian kita.
Maka sambutlah sesama dengan kasih yang tulus agar damai, sukacita, dan berkat melimpah atas rumah kita.
HIKMAT DARI GURU UMAT BERIMAN
BACAAN PERTAMA
(Kitab Kedua Raja-Raja 4: 8-11.14-16a)
Intisari:
Orang itu adalah abdi Allah yang kudus, biarlah ia masuk ke sana.
Rm. Willem Pau, Pr: Perempuan kaya dari Sunem memberikan teladan keramahtamahan sejati dengan tulus melayani Nabi Elisa tanpa mengharapkan balasan. Melalui perantaraan sang nabi, Allah menjawab kerinduan batin terdalam perempuan itu dengan menjanjikan anugerah seorang putra. Kisah luhur ini mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu menghargai setiap kebaikan kecil yang lahir dari kasih tanpa pamrih. Rumah, keluarga, dan hati kita dipanggil untuk senantiasa menjadi tempat yang hangat di mana Kristus disambut. Ketika kita membuka pintu bagi sesama, kita sedang membuka jalan bagi penyelenggaraan Ilahi yang melampaui harapan.
Rm. B.S. Mardiatmadja, SJ:
Renungan ini menegaskan bahwa landasan terdalam dari segala bentuk cinta kasih dalam keluarga, persahabatan, maupun komunitas adalah kasih sayang Allah Tritunggal yang menciptakan dan menyelenggarakan hidup kita. Melalui tuntunan Kitab Kedua Raja-Raja, kita diajak untuk senantiasa mensyukuri dan meneguhkan dasar-dasar kehidupan berkeluarga serta persaudaraan manusiawi yang mempersatukan umat Allah. Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma turut menggambarkan bagaimana cinta kasih antar sahabat dan paguyuban mampu memperdalam hubungan lahir batin yang erat hingga ke anak cucu. Selanjutnya, Bacaan Injil mengingatkan bahwa kasih kepada orang tua dan keluarga semestinya diperluas menjadi persahabatan yang subur di tengah masyarakat luas. Sebagai wujud tanggapan atas rahmat tersebut, kita diundang untuk terus mendorong diri dalam doa syukur demi keutuhan keluarga, para sahabat, serta kerja sama yang harmonis dalam hidup bermasyarakat.
AC Eko Wahyono (Lectio Divina): Keramahtamahan konkrit perempuan Sunem menyediakan kamar atas menegaskan keluhuran hati dalam menyambut utusan Tuhan. Santo Agustinus mengaitkan tindakan nabi membungkuk menyembuhkan anak mati dengan inkarnasi radikal Yesus Kristus. Tuntutan untuk mengutamakan Kristus di atas ikatan keluarga mengundang kita menjadikan Kabar Sukacita sebagai tolok ukur tertinggi. Setiap murid diajak untuk setia memikul salib penderitaan demi memperluas persaudaraan kasih di tengah rupa-rupa tekanan duniawi. Pemberian secangkir air sejuk bagi sesama yang kecil membuktikan bahwa Kerajaan Allah dibangun melalui tindakan-tindakan sederhana.
PERALIHAN I
(Mazmur 89: 2-3.16-17.18-19)
Mazmur Tanggapan:
Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selamanya.
Inspirasi dari Fr. Mike Schmitz dalam The Bible in a Year):
Kasih setia Tuhan merupakan dasar kokoh yang menopang seluruh sejarah keselamatan manusia. Fr. Mike Schmitz mengingatkan bahwa menyanyikan pujian ini berarti mempercayai kesetiaan Allah dalam segala situasi. Ketika realitas hidup tampak berat, janji-janji Tuhan tetap berdiri teguh tak tergoyahkan. Kita dipanggil untuk berjalan dalam terang wajah-Nya dengan penuh sukacita dan sorak-sorai iman. Kesetiaan Allah inilah yang memampukan kita untuk terus menyebarkan kebaikan kepada sesama.
BACAAN KEDUA
(Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma 6: 3-4.8-11)
Intisari:
Kita telah dikuburkan bersama Kristus oleh pembaptisan, supaya kita hidup dalam hidup yang baru.
Laurentius Elyas Nugraha (Lumen Mundi):
Yesus mengajarkan bahwa setiap tindakan penerimaan terhadap sesama merupakan perwujudan nyata dari penerimaan kita terhadap diri-Nya sendiri. Kasih kepada sesama adalah cerminan dari iman yang hidup, karena di mana ada kasih, di situ Allah hadir. Kita dipanggil untuk hidup sebagai hamba kebenaran dengan senantiasa menunjukkan belas kasih dalam setiap tindakan harian. Kekudusan sejati sering kali justru terpancar melalui kesetiaan pada perkara kecil dan perhatian tulus kepada sesama. Janganlah mendahulukan apa pun dalam hidup ini melebihi kasih kita kepada Kristus.
Fr. Mike Schmitz (The Bible in a Year):
Rasul Paulus memaparkan tipologi mendalam yang menghubungkan hidup baru pasca-pembaptisan dengan keramahtamahan rohani. Sebagaimana perempuan Sunem menyediakan ruang fisik yang baru, pembaptisan menyediakan ruang batin bagi Kristus. Kematian terhadap dosa membebaskan diri kita dari belenggu keegoisan yang menghambat pelayanan kasih. Hidup bagi Allah menuntut penyerahan diri total untuk menyambut rahmat baru dengan sukacita. Ketulusan menyambut utusan Tuhan menjadi buah nyata dari manusia baru yang telah dibebaskan.
INJIL SUCI
(Matius 10: 37-42)
Intisari:
Barang siapa tidak memikul salibnya, ia tidak layak bagi-Ku. Barang siapa menyambut kamu, ia menyambut Aku.
Rm. Y. Gunawan, Pr:
Renungan ini mengingatkan kita bahwa Salib, yang dulunya merupakan lambang penghinaan, kini menjadi tanda kemenangan yang jaya dan pohon keselamatan kita. Melalui Injil, Yesus memanggil setiap murid untuk dengan radikal memeluk salib zaman ini dan mengikuti jejak langkah-Nya menuju Golgota. Paus Fransiskus membandingkan pohon Salib yang memberi kehidupan ini dengan pohon pengetahuan yang membinasakan, seraya menegaskan bahwa pengorbanan Kristus membebaskan manusia dari kesombongan dan egoisme. Misteri kasih Ilahi yang mendalam ini tidak dapat dipahami sepenuhnya secara akal, melainkan bisa dirasakan secara mendalam melalui doa yang rendah hati dan pertobatan yang tulus. Pada akhirnya, sebagai umat Katolik yang telah dibaptis, kita ditantang untuk merefleksikan pergumulan kita saat ini dan berdiri dengan bangga sebagai pengikut setia Kristus yang tersalib.
Rm. A. Joko Purwanto, Pr (Puncta):
Bulan mutasi tugas para imam menjadi wujud nyata dari pembuktian komitmen total janji imamat. Mengikuti Kristus menuntut kesediaan radikal untuk menempatkan kehendak-Nya di atas rupa-rupa kenyamanan ego pribadi kita. Salib pelayanan dapat datang dari keharusan untuk meninggalkan kedekatan keluarga maupun beratnya tantangan medan tugas baru. Namun, Yesus menjanjikan upah surgawi yang melimpah bagi setiap hamba yang setia memikul salibnya. Mari kita terus memelihara kesetiaan iman dengan senantiasa memprioritaskan Tuhan di atas segala-galanya.
Ign. Harry Respatyo / Paulus Krissantono (RAGI): Perempuan Sunem menginspirasi kita bahwa melayani Tuhan tidak selalu harus melalui hal-hal yang besar atau spektakuler. Sikap tulus membuka pintu rumah dan berbagi tumpangan bagi sesama merupakan wujud nyata iman yang hidup. Rasul Paulus menjembatani keutamaan ini dengan mengingatkan bahwa pembaptisan telah mematikan keegoisan diri kita demi hidup baru. Memikul salib berarti kesetiaan untuk tetap mengasihi dan berbuat baik meskipun harus mengorbankan kenyamanan pribadi. Mari kita senantiasa menghadirkan Kristus di tengah dunia melalui pemberian secangkir air sejuk berupa perhatian yang tulus.
PERALIHAN II: SABDA MENJADI DAGING
Rm. Danang Kuncoro, Pr (Mutiara Batin): Tuhan senantiasa menjanjikan ziarah hidup yang dipenuhi oleh kelimpahan sukacita, kegembiraan, serta berkat. Namun, kenyataan duniawi kerap kali menyuguhkan doa yang tak terkabulkan hingga harapan yang berujung menjadi khayalan semata. Rupa-rupa badai hidup seperti kandasnya rumah tangga, kekurangan materi, dan masa depan suram sering membayangi peziarahan batin kita. Walau dirundung penderitaan berat, kita diajak untuk tetap setia menyerahkan seluruh hidup ke dalam rencana Allah. Kepasrahan radikal demi kegembiraan keluarga dan sesama inilah yang justru menjadi sumber sukacita sejati bagi kita.
Rm. Hans Wijaya, Pr: Yesus menawarkan logika terbalik yang membebaskan batin dari belenggu kecemasan duniawi. Ketika kita berani mengutamakan Tuhan, kita justru dimampukan untuk mengasihi keluarga secara tulus tanpa pamrih. Memikul salib harian bukanlah tanda penolakan melainkan sebuah kesempatan berjalan lebih dekat dengan-Nya. Menyerahkan seluruh hidup pada cetakan rencana Ilahi akan mendatangkan kepuasan jiwa yang sejati. Mari kita bagikan sukacita serta kebebasan iman ini kepada sesama di sepanjang peziarahan.
Rm. Nico Liem Tjay, OMI (Kartu Iman): Mengikuti Kristus secara utuh menuntut kita untuk menomorsatukan Dia secara mutlak di atas segalanya. Banyak di antara kita yang didera ketakutan kehilangan relasi keluarga, karier cemerlang, hingga rupa-rupa harta benda. Berbagai kekhawatiran serta ketakutan terhadap cemoohan sesama sesungguhnya merupakan salib nyata dalam peziarahan kita. Paus Fransiskus sendiri mengingatkan bahwa mengikuti Kristus bukanlah sebuah karier melainkan sebuah jalan salib. Mari kita jadikan iman yang radikal ini sebagai inti terdalam dari setiap tindakan hidup sehari-hari.
KATEKESE GEREJA KATOLIK (KGK)
KGK Nomor 1822: Kasih merupakan kebajikan ilahi yang membuat kita mengasihi Allah di atas segala sesuatu dan mengasihi sesama demi Allah. Kasih merupakan jiwa dari seluruh kehidupan kristiani dan menjadi tanda nyata kehadiran Kristus dalam diri orang beriman.
MENERAPKAN NATA RAGA, NATA PIKIR, NATA RASA
NATA RAGA:
Saya melatih tubuh untuk sigap melayani dan menyambut sesama dengan senyuman yang ramah.
NATA PIKIR:
Saya mengarahkan pikiran untuk selalu melihat pancaran kehadiran Kristus di dalam diri setiap orang.
NATA RASA:
Saya membuka kelembutan hati untuk merasakan kedamaian dan sukacita dalam berbagi tanpa pamrih.
NIAT KONKRET:
Hari ini saya akan mendengarkan sesama yang membutuhkan perhatian dengan tulus sebagai wujud menyambut Yesus.
DEVOSI
Marilah kita memberi penghormatan dan berdoa kepada pelindung Nama Baptis atau Krisma:
Santo Ireneus dari Lyons, Uskup dan Martir, Beato Sabas Ji Hwang.
Santo Ireneus adalah pembela iman sejati yang mengajarkan bahwa kemuliaan Allah terpancar penuh ketika manusia hidup dalam kasih persaudaraan yang utuh demi menyambut Kristus.
LAGU ROHANI PENGANTAR DOA
Lagu Instrumental
DOA HENING
Marilah kita berdoa bagi Paus, Kardinal, Uskup, Imam, serta seluruh Reksa Pastoral agar mereka senantiasa dikuatkan dalam mewartakan Sabda Tuhan.
Kita berdoa untuk Anggota Komunitas dan Pembaca Capita Selecta agar selalu sehat dan mendapatkan inspirasi dari bacaan hari ini dalam mewujudkan kasih Allah.
Ya Tuhan Yesus, penuhilah batin kami dengan belas kasih agar kami senantiasa dimampukan untuk menyambut dan melayani sesama yang kecil dengan ketulusan hati yang murni demi memuliakan nama-Mu. Amin.
PERUTUSAN
Kenalilah Kristus dalam sesama. Hiduplah dalam kasih setiap hari. Tunjukkan belas kasih kepada semua orang. Sebarkan damai Kristus di mana pun berada – L. Elyas Nugraha.
PENUTUP
Ziarah iman hari ini mengundang kita untuk senantiasa mengutamakan Kristus dalam pelayanan nyata harian. Semoga ketulusan hati kita membuka lebar pintu kelimpahan damai, sukacita, dan berkat bagi sesama. Amin.
Berkah Dalem, Salam Takzim










